Saturday, October 17, 2009

MENGAPA JABATAN MENTERI CUKUP STRATEGIS PADA 2009-2014?

Sesudah pagi tanggal 20 Oktober 2009, tanggal Pelantikan Presiden RI dan Wapres Terpilih di gedung DPR/MPR, akan banyak kandidat menteri berdebar-debar menunggu pengumuman oleh Presiden SBY. Diperkirakan pada 21 Oktober, SBY akan mengumumkan susunan kabinet. sejumlah menteri lama akan digeser, dan sejumlah nama baru akan masuk.

Jika tidak ada perubahan konstitusi, maka SBY tidak akan jadi presiden lagi sejak 2014. Maka pertarungan ke kursi Presiden akan terbuka lebar bagi kandidat-kandidat baru, termasuk tokoh-tokoh pimpinan parpol.

Nah, bagi tokoh-tokoh baru yang potensial --namun belum cukup terkenal di pentas nasional-- menjadi penting untuk meraih "posisi/jabatan antara", sebelum maju jadi kandidat RI-1 pada 2014. Apakah "jabatan antara" itu? Jawabannya: Menteri.

Saya melihatnya dari sudut public relations dan promosi. Jika Anda terpilih jadi menteri, Anda akan punya peluang untuk dipublikasikan (baca: diiklankan atau kampanye) secara gratis oleh media selama lima tahun ke depan. Apalagi, jika selama lima tahun ke depan Anda bisa membuat beberapa kebijakan gebrakan, ditambah lagi kunjungan-kunjungan yang cukup sering ke daerah (kunjungan gratis karena difasilitasi anggaran menteri).

Oleh karena itu, dalam perspektif demikian, jabatan menteri 2009-2014 bukanlah sekadar "pembantu presiden." Ya, ia memang pembantu presiden, tetapi jabatan pembantu presiden yang bisa menjadi batu tumpuan ke posisi RI-1 (atau minimal RI-2).

Maka jabatan menteri saat ini punya arti strategis. Bukan jabatan ecek-ecek. Maka, menjadi makin menarik menyaksikan nama-nama yang akan bertengger di susunan kabinet SBY-Boediono. Dadu baru saja diputar, dan permainan akan bergulir makin menarik.

Masalahnya, apakah permainan ini punya implikasi positif pada kepentingan dan nasib rakyat banyak, atau sekadar hanya jadi pemainan untuk kepentingan sempit atau kepentingan kelompok kecil elite saja di tampuk kekuasaan, itu akan menjadi persoalan kita semua.

Selamat berjuang!
Satrio Arismunandar

Tuesday, October 13, 2009

DILEMA SEORANG JURNALIS

Oleh Satrio Arismunandar

Saya beberapa kali sering ditanya, apa yang harus dilakukan seorang jurnalis, jika ia berhadapan dengan pilihan yang berkaitan dengan momen mati-hidup seseorang. Tetapi, di sisi lain, momen itu juga berpeluang mengangkat nama sang jurnalis untuk menjadi seorang “jurnalis besar.”

Saya ambil contoh yang ekstrem: Misalkan, Anda adalah seorang jurnalis. Suatu ketika, ada seseorang mau bunuh diri di depan Anda, dengan cara loncat dari gedung, sedangkan saat itu Anda sebagai jurnalis sedang memegang kamera yang sudah "on", siap mengambil gambar. Nah, dalam situasi itu, apa yang akan Anda lakukan?

Jawaban saya sederhana: Ada dua pilihan, masing-masing dengan konsekuensi tersendiri..

Pilihan pertama, Anda biarkan orang itu bunuh diri, dan Anda mendapat gambar eksklusif saat orang itu meloncat dari gedung, Berkat gambar luar biasa itu, Anda akan jadi jurnalis yang terkenal dan top deh, liputan Anda memecahkan rating tontonan, dan Anda akan merasa hebat dan bangga. Tapi, saat itu Anda mungkin tidak lagi layak menyebut diri "manusiawi."

Pilihan kedua: Anda berusaha menolong orang itu dan mencegahnya bunuh diri. Jika Anda memilih menolong orang itu dan batal mendapat gambar hebat, Anda mungkin tidak dipuji sebagai jurnalis pemecah rating. Anda tetap jadi jurnalis yang biasa-biasa saja seperti sebelumnya. Tetapi Anda patut bersyukur, Anda masih tetap layak disebut sebagai manusia, karena Anda menghargai kehidupan dan nyawa manusia lain di atas ketenaran dan sukses duniawi.

Saya tak hendak mengajari Anda tentang mana pilihan yang benar dan baik. Silahkan Anda pilih sendiri....

Jakarta, 13 Oktober 2009

Monday, October 12, 2009

PANDUAN MELIPUT PERISTIWA TRAUMATIK, BOM JW MARRIOTT DAN RITZ CARLTON

Peristiwa Bom di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton yang terjadi pagi 17 Juli 2009 dapat dikategorikan sebagai peristiwa traumatik.Peristiwa traumatik dapat menimbulkan stres psikologis baik bagi korban, keluarga korban, orang-orang yang berada di sekitar kejadian, maupun jurnalis dan orang-orang yang melihat, mendengar peristiwa tersebut melalui media massa.

Anda sebagai jurnalis, ditugaskan ke lokasi untuk melakukan peliputan. Pada saat itu korban masih bergulat dengan penderitaannya dengan menyelamatkan diri dan harta bendanya. Pada saat seperti itu, apakah kita harus mengutamakan tugas jurnalistik lebih dulu atau mendahulukan ikut menolong korban?

Naluri kemanusiaan kitalah yang akan menentukan, saat mana kita perlu mengutamakan kerja dan saat mana kita ikut membantu korban. Ada beberapa hal yang sepatutnya diperhatikan pers, khususnya media televisi, dalam meliput peristiwa traumatik.

(1) Mengutamakan keselamatan Keinginan mengejar berita, yang eksklusif sekalipun, sebaiknya tetap tidak sampai melupakan faktor keselamatan. Saat kita meliput korban pengeboman, misalnya, pastikan bahwa posisi kita sendiri pada saat meliput, memotret atau mengambil gambar, relatif aman.

(2) Perhatian dan peka terhadap kondisi psikologis sumber berita Menteri yang sedang menyampaikan kebijakan pemerintah, pengusaha yang sedang memperkenalkan produk baru, mahasiswa yang mengekspresikan kemarahannya terhadap para koruptor, atau korban perkosaan atau warga yang tertimpa bencana alam, kondisi psikologisnya pasti berbeda. Situasi akan menentukan cara wartawan menghadapi narasumber. Ingatlah, mereka korban. Perlakuan tidak simpatik dari jurnalis dapat membuat korban menjadi makin tertekan.

(3) Menghargai sikap korban Tidak semua korban bisa dan mau berhadapan dengan wartawan. Entah karena penderitaan yang masih dialaminya atau tidak ingin membuat masalahnya jadi sangat meluas, atau mungkin saja korban bukannya tidak mau, tapi waktu dan tempat tidaklah tepat. Wartawan harus menghargai sikap itu.

(4) Memperkenalkan diri dengan jelas Sebutkan identitas diri Anda secara jelas sebelum memulai wawancara, sekalipun tape recorder dan kamera yang kita bawa menunjukkan identitas media kita. "Saya wartawan dari Koran A, Radio B atau TV C. Saya ingin mewawancara menulis tentang..."

Identitas lengkap perlu disampaikan agar korban tahu apa yang akan dilakukannya serta implikasi yang mungkin timbul akibatnya. Tidak semua orang mau masalah dan penderitaannya diungkap di media massa. Kita harus menghargai korban yang tidak mau diwawancarai karena mungkin takut dikenal pelaku kejahatan.

(5) Memberikan pengertian kepada korban Untuk korban kasus-kasus peristiwa traumatik, keengganan terhadap wartawan bukan hanya soal waktu yang tidak tepat. Mungkin mereka khawatir akan dikenali para pelaku dan menjadi sasaran berikutnya. Jika memang informasinya sangat dibutuhkan dan penting dalam kasus tersebut, berikan jaminan kepada korban bahwa identitasnya akan dirahasiakan, entah dengan menyamarkan nama atau wajahnya akan dibuat kabur. Wartawan berhak merahasiakan narasumber dari pihak manapun.

(6) Memulai dengan ungkapan simpatiUntuk membuka suatu wawancara, mulailah dengan ungkapan simpati.Seringkali, pernyataan "Saya ikut prihatin dengan yang Ibu/Bapak hadapi" bisa menjadi pembukaan yang bagus untuk melanjutkan pertanyaan menggali keseharian korban selama ini. Pastikan bahwa apa yang akan kita tulis tidak akan menambah penderitaannya, tapi justru sebaliknya. Ungkapan yang simpatik dan berempati kepada korban akan mempermudah wartawan mendapatkan informasi tentang suatu peristiwa.

(7) Tidak mulai dengan pertanyaan sulit Setelah suatu kejadian hebat, korban tentu saja masih trauma. Mungkin hanya sedikit orang yang benar-benar terbiasa dengan situasi buruk semacam itu. Karena itulah, sodorkan pertanyaan awal dengan materi yang ringan. Bukalah wawancara dengan pertanyaan, "Bagaimana kondisi BapakIIbu/Saudara/ i sekarang?" Setelah itu, bobot pertanyaan mulai ditingkatkan. Ibarat olahraga, ini semacam pemanasan (warming up). Pertanyaan semacam ini dapat menciptakan suasana akrab antara wartawan dan korban sebagai narasumber.

(8) Menghindari pertanyaan mencecar Cara bertanya dengan mencecar mungkin pantas diberikan kepada pejabat yang sedang menyampaikan kebijakan baru. Namun cara itu tidak sepatutnya diterapkan terhadap korban peristiwa traumatik. Sebaiknya kita tidak bersikap seperti polisi menginterogasi seorang tersangka. Kita bisa menggali informasi dengan cara yang lebih sopan dan baik dengan pertanyaan seperti: "Di mana Anda saat terjadinya tragedi?" Pertanyaan ini akan memberikan kesan seolah korban dijadikan saksi mata dan bukan tersangka.

(9) Banyak mendengarkan, bukan berbicara Dengarkan apa yang diungkapkan narasumber. Kesalahan terbesar yang sering dilakukan wartawan adalah berbicara terlalu banyak selama wawancara. Harus selalu diingat, wawancara diperlukan untuk menggali sedalam mungkin informasi dari narasumber, bukan sebaliknya. Bisa saja wartawan berbicara lebih panjang, bila itu dapat membantu korban menangkap maksud pertanyaan atau menggali informasi lebih dalam. Terkadang narasumber ingin mengungkapkan perasaannya atas peristiwa yang menimpanya, dan itu dapat membantunya meringankan penderitaan atau kepedihan.

(10) Berhati-hati menyela pembicaraan Bisa jadi jawaban yang diberikan korban keluar dari konteks atau melantur ke mana-mana. Bila ingin menyela kita harus mempertimbangkan banyak hal. Wartawan bisa mengingatkan korban dengan cara mengatakan, "Maaf Pak, maksud saya......" Cara menyela yang tidak tepat bisa membuyarkan konsentrasi narasumber, atau membuatnya tidak menghargai kita. Yang lebih buruk adalah bila narasumber akhirnya tidak bersedia untuk melanjutkan wawancara atau tidak mau memberikan informasi lagi.

(11) Mengetahui saat mulai dan berhenti Kita tahu kapan wawancara dimulai, bisa diteruskan, dan kapan harus berhenti. Pada saat korban tak mau berkomentar dan mengatakan "Kami masih berduka," kita harus cukup arif menghentikan pertanyaan. Patutkah kita, mengajukan pertanyaan "Bagaimana perasaan Ibu atas musibah ini?"

Saat korban mulai menangis dan tak karuan, patutkah kita terus memberondongnya dengan pertanyaan? Sikap ini berlaku tidak hanya saat mengajukan pertanyaan. Bila membawa kamera, sebaiknya wartawan tidak mengambil gambar korban atau narasumber dalam keadaan berduka, terluka ataupun tertekan.

(12) Menyampaikan terima kasih Sampaikan terima kasih kepada narasumber yang telah kita wawancarai. Narasumber akan merasa sangat dihargai bila wartawan mengatakan hal ini. Kerjasama narasumber dalam membagi informasi pada saat terjadinya suatu tragedi amatlah bernilai.

(13) Memanfaatkan sumber alternatif Bila korban dalam kondisi tidak siap menghadapi wawancara, wartawan tidak harus duduk berdiam diri atau apalagi sampai ikut larut dalam kesedihan. Wartawan bisa menyiasatinya dengan menggali informasi dari narasumber lain yang berkaitan dengan korban tersebut.

Jika ingin mendapatkan data tentang profil korban, cobalah melakukan riset. Kalaupun tidak ditemukan, galilah dari kantor tempat korban bekerja. Untuk korban meninggal akibat penyakit, tanyalah kepada dokter yang merawatnya. Oleh karena tidak terlibat secara emosi, narasumber alternatif ini mungkin bisa menjelaskan secara lebih objektif. Kalau pun terpaksa, berbicaralah dengan salah satu anggota keluarganya yang terlihat lebih tegar.

Memuat Foto dan Penayangan Gambar

Seringkali gambar maupun foto dalam media cetak, memiliki implikasi yang sama besarnya dengan kata-kata. Jurnalis dapat menyampaikan pesan moral melalui foto dan rekaman gambar di televisi. Sebaliknya perlu diingat, gambar itu bisa membekas dan menancap di benak pemirsa dalam kurun waktu yang lama, dengan akibat yang bisa baik bisa pula buruk.

Berikut ini adalah beberapa kiat dalam menampilkan foto dan tayangan gambar yang baik:

1. Tanyakan dengan hati-hati, apakah korban mengalami trauma dengan sorot lampu atau suara blitz kamera.

2. Hati-hati menyalakan pemantik api. Mungkin narasumber merasa trauma dengan suara pemantik atau dengan api dan asap yang ditimbulkan dari batang rokok.

3. Perhitungkan dengan seksama, apakah korban masih trauma saat melihat kamera televisi dan kamera foto berukuran besar. Sebaiknya kameraman atau fotografer menyiapkan kamera cadangan yang lebih kecil.

4. Tayangkan gambar atau foto yang benar-benar mencerminkan esensi berita. Terkadang satu gambar bisa bermakna ganda. Misalnya foto pengungsi yang kelaparan, bisa menimbulkan rasa risih, tetapi juga mampu menarik simpati pembaca atau pemirsa dengan memunculkan daya tarik yang lebih kuat. Juga apabila kita bercerita soal pencari suaka yang sedang menuntut kehidupan yang lebih layak.

5. Tayangkan gambar yang benar-benar mempunyai relasi kuat dengan naskah berita. Penayangan gambar yang kurang sesuai bisa menumbuhkan asosiasi yang kurang baik bagi pembaca.

6. Periksalah ketepatan caption gambar. Ada baiknya melakukan konfirmasi silang kepada reporter yang sama-sama meliput. Dengan demikian, bias persepsi bisa dihindari.

7. Jangan mengulang-ulang tayangan foto dan gambar. Selain membuat bosan pembaca dan pemirsa, ia juga dapat memunculkan cap stereotipikal. Penisbatan cap buruk semacam ini patut dihindari.

8. Hati-hati ketika mengedit gambar. Teknologi mutakhir bisa membuat seseorang melakukan cropping (rekayasa). Salah-salah, foto dan gambar yang diedit bisa menghilangkan nilai jurnalistiknya.

9. Pilih gambar yang tidak menampilkan korban kekerasan secara vulgar. Kita perlu berhati-hati karena seringkali batas antara nilai jurnalistik dan eksploitasi adalah garis tipis.

Kiat menghadapi narasumber

1. Memperkenalkan diri dengan jelas dan sopan. Hindari kesan angkuh dan tidak simpati saat berbicara. Kesan awal akan menentukan pola komunikasi kita selanjutnya dengan narasumber.

2. Berpakaianlah dengan sopan atau setidaknya tidak menimbulkan persepsi negatif dari narasumber.

3. Hindari "jurnalisme keroyokan" dalam melakukan wawancara. Narasumber yang masih trauma bisa merasa menjadi pesakitan dengan perlakuan yang kurang simpati.

4. Jika narasumber yang masih trauma menolak diwawancara, bersikaplah arif. Katakan simpati Anda untuk mereka, dan berikan kartu nama. Suatu hari, jika sudah merasa lega, dia pasti akan menghubungi. Atau sebaliknya, jika Anda datang lagi kepadanya, dia akan mengingat Anda dan menerima dengan tangan terbuka.

5. Bilamana diperlukan, ajaklah dokter atau ahli medis untuk menemani wawancara. Dengan begitu narasumber merasa tenang dan nyaman.

6. Hati-hati menggunakan kata-kata seperti "korban", "tragedi", "cobaan", atau "ujian hidup." Intinya, pilih kata-kata yang menenangkan dan tidak cepat memberi label "trauma" pada para korban.

Sumber: http://www.pulih.%20or.id/?lang=

Jumat, 17 Juli 2009