Tuesday, November 30, 2010
MEMAHAMI PROSES PENULISAN TIGA TAHAP (Untuk Praktisi Humas)
Oleh Satrio Arismunandar
Sebagai staf Humas atau karyawan kantoran, Anda harus mengerjakan berbagai penugasan komunikasi di sepanjang karir Anda, baik yang bersifat lisan ataupun tertulis.
Beberapa tugas itu hanya menjadi rutinitas biasa sehari-hari, seperti sekadar menulis beberapa kalimat di kertas atau mengetikkan pesan e-mail singkat.
Beberapa tugas lain bersifat lebih kompleks, yang membutuhkan refleksi, riset, dan persiapan dokumen yang cermat.
Begitu ada kebutuhan untuk membuat pesan komunikasi, staf Humas yang belum berpengalaman biasanya terdorong untuk langsung menulis. Namun, pendekatan langsung yang terburu-buru ini mungkin justru tidak efektif, dan akhirnya malah memakan waktu lama.
Sebaliknya, jika Anda mau meluangkan waktu beberapa menit untuk merencanakan dengan benar, bisa jadi Anda justru menghemat waktu dan bisa menciptakan pesan yang lebih efektif.
Untuk tujuan itu, di sini kita mempelajari proses penulisan efektif, yang bisa dibagi dalam tiga tahapan utama, yang masing-masing nanti bisa dirinci lebih jauh. Tiga tahapan utama itu adalah:
1. Perencanaan pesan bisnis (planning)
2. Penulisan pesan bisnis (writing)
3. Penuntasan pesan bisnis (completing)
I. Perencanaan pesan bisnis
Perencanaan pesan bisnis ini bisa dibagi lagi dalam empat langkah:
Analisis Situasi: Yaitu merumuskan tujuan Anda dan mengembangkan profil audiens, yang akan membaca pesan Anda.
Pengumpulan Informasi: Sesudah merasa pasti tentang tujuan dan profil audiens, Anda menetapkan kebutuhan-kebutuhan audiens, lalu mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk memuaskan kebutuhan audiens tersebut.
Memilih Medium yang Tepat: Sesudah informasi terkumpul, Anda memilih medium yang terbaik untuk menyampaikan pesan tersebut. Misalnya, apakah pesan itu cukup disampaikan secara lisan, atau tertulis, atau menggunakan media elektronik (audio-visual).
Mengorganisasikan Informasi: Sesudah melakukan tiga langkah di atas, Anda siap mengorganisasikan informasi. Caranya adalah dengan merumuskan gagasan utama, membatasi cakupannya, memilih pendekatan langsung atau tak-langsung, dan membuat outline (jabaran pokok) kontennya.
II. Penulisan pesan bisnis
Sesudah merencanakan pesan yang mau disampaikan, Anda harus menyesuaikan diri (beradaptasi) pada audiens dengan sensitivitas (kepekaan), gaya, dan keterampilan dalam berhubungan dengan mereka.
Bersikaplah peka pada kebutuhan audiens antara lain dengan mengadopsi sikap santun, menekankan aspek positif, dan menggunakan bahasa yang bebas-bias.
Bangunlah hubungan yang kuat dengan audiens, dengan menetapkan kredibilitas Anda dan memproyeksikan citra perusahaan Anda.
Kendalikan gaya Anda dengan menggunakan nada akrab (conversational tone), bahasa yang sederhana, dan suara yang pas.
Dari sini, Anda sudah siap untuk menyusun pesan. Pilihlah kata-kata yang kuat, yang akan membantu menciptakan kalimat-kalimat efektif dan mengembangkan paragraf-paragraf yang utuh.
III. Penuntasan pesan bisnis
Merevisi Pesan: Setelah menulis rancangan (draft) pertama, revisilah pesan itu dengan mengevaluasi konten, meninjau lagi kemudahan dibaca (readability), dan kemudian mengedit dan menulis ulang sampai pesan Anda benar-benar ringkas dan jelas. Tata bahasa dari pesan itu harus benar, tanda bacanya tepat, dan formatnya efektif.
Memproduksi Pesan: Gunakan unsur-unsur desain yang efektif dan tata letak (perwajahan) yang tepat, agar tampilan pesan itu menarik, bersih, dan profesional.
Periksa Dulu Pesan Sebelum Didistribusikan (Proofread): Periksa ulang rancangan terakhir untuk menghindari kesalahan dalam perwajahan, pengejaan, ataupun kemungkinan problem-problem mekanis lain.
Distribusikan Pesan: Sampaikan pesan Anda dengan menggunakan medium yang dipilih. Pastikan semua dokumen dan file yang relevan telah berhasil didistribusikan.
Mengoptimalkan Waktu Penulisan
Semakin sering Anda mempraktikkan proses penulisan tiga-tahap ini, proses itu akan terasa makin intuitif dan otomatis. Manakala Anda sudah makin akrab dengan proses tersebut, Anda akan mampu membuat pesan dengan lebih cepat dan lebih mudah. Anda juga akan lebih mampu dalam membagi waktu untuk setiap tugas, selama sebuah proyek penulisan.
Sebagai sebuah aturan umum, cobalah menggunakan kira-kira separuh waktu Anda untuk perencanaan –untuk merumuskan tujuan, mengenal audiens, mendalami materi atau subyek yang akan disampaikan, menyeleksi media yang mau digunakan, dan pengorganisasian.
Cobalah untuk menggunakan tak lebih dari seperempat waktu Anda, untuk penulisan dokumen Anda.
Gunakan seperempat waktu lain yang masih tersisa untuk penuntasan proyek penulisan, sehingga Anda tidak melompati tahapan penuntasan yang penting, seperti melakukan revisi, memproduksi, pemeriksaan ulang terakhir (proofreading), dan pendistribusian.
Tentu saja, pembagian waktu ini akan berubah signifikan, tergantung pada proyeknya. Misalnya, jika Anda memang sudah menguasai materi yang mau disampaikan dengan sangat baik, tahapan perencanaan mungkin bisa dipersingkat, tidak perlu sampai memakan separuh waktu Anda.
Sebaliknya, jika Anda memilih untuk menyampaikan pesan melalui perangkat multimedia yang kompleks, tahapan penuntasan pesan mungkin akan memakan waktu jauh lebih lama. Upaya-upaya sederhana, seperti penggunaan pesan seketika dan memo internal, membutuhkan waktu lebih singkat dan tidak butuh banyak energi, ketimbang laporan yang panjang, situs web, dan proyek-proyek canggih lainnya.
Menyesuaikan Diri dengan Audiens
Staf humas harus bisa beradaptasi dengan audiensnya, dalam berkomunikasi dan menyampaikan pesan.
Disadari atau tidak, audiens akan menyambut setiap pesan yang datang dengan pertanyaan, ”Apa urusannya dengan saya?”
Jika audiens yang Anda tuju menganggap pesan itu tidak tertuju pada mereka, atau tidak menawarkan sesuatu yang menarik atau penting bagi mereka, mereka tidak akan terdorong untuk memperhatikan pesan Anda.
Dengan menyesuaikan cara berkomunikasi Anda pada kebutuhan dan ekspektasi audiens, ada peluang lebih besar bahwa pesan Anda akan diterima.
Menekankan Aspek Positif
Di sepanjang karir Anda, Anda akan diminta mengkomunikasikan berita-berita buruk, mungkin puluhan atau ratusan kali. Bagaimanapun, ada perbedaan besar antara menyampaikan berita negatif dan bersikap negatif.
Ketika nada pesan Anda negatif, Anda telah memberi tekanan yang tidak perlu pada hubungan-hubungan bisnis, yang bisa membuat orang mengambil jarak terhadap Anda dan ide-ide Anda.
Jika Anda menghadapi situasi yang berpotensi negatif, carilah jalan untuk melunakkan pukulan negatif tadi atau menekankan aspek-aspek positif dari situasi.
Misalnya, ketika maskapai penerbangan Alaska Airlines menerapkan tambahan biaya bagi barang bawaan berat, dalam upaya mengurangi cedera bagi petugas pembawa bagasi, maskapai itu mempresentasikan perubahan biaya itu kepada para penumpang dengan poster yang berbunyi ”Kemasan Ringan & Hemat.”
Dengan mempresentasikan situasi tersebut sebagai sebuah peluang untuk menghemat uang, ketimbang sebagai tambahan biaya perjalanan, Alaska Airlines berusaha memelihara hubungan positif dengan para pelanggannya.
Jangan pernah menyembunyikan atau menghindar dari berita negatif, namun cobalah untuk selalu melihat aspek-aspek positif, yang akan memperkuat hubungan baik dengan audiens Anda.
Kurang baik: Tidak mungkin memperbaiki mobil Anda hari ini.
Lebih baik: Mobil Anda akan siap hari Selasa. Sambil menunggu hari Selasa, apakah Anda mau menggunakan mobil pengganti?
Kurang baik: Kami minta maaf atas ketidaknyamanan yang Anda alami selama renovasi.
Lebih baik: Renovasi yang sekarang berlangsung akan membantu kami melayani Anda dengan lebih baik.
Kurang baik: Kita menyia-nyiakan Rp 300 juta iklan di majalah itu.
Lebih baik: Investasi iklan Rp 300 juta kita tidak impas; ayo analisis pengalaman ini dan terapkan hasilnya untuk kampanye di masa mendatang.
Ketika Anda menganggap perlu untuk mengeritik atau mengoreksi, jangan terfokus pada kesalahan orang lain. Hindari rujukan ke kegagalan, problem, atau kekurangan. Sebaliknya fokuslah pada apa yang bisa ditingkatkan oleh orang bersangkutan.
Kurang baik: Problem di departemen ini adalah kegagalan dalam mengontrol biaya.
Lebih baik: Kinerja departemen ini dapat ditingkatkan dengan memperketat kontrol biaya.
Kurang baik: Anda mengisi formulir pesanan secara keliru.
Lebih baik: Coba periksa preferensi warna Anda di formulir itu agar kami dapat memproses pesanan Anda.
Jika Anda mencoba membujuk audiens untuk membeli sebuah produk, membayar tagihan, atau melakukan pelayanan terhadap Anda, tekankan apa manfaatnya bagi mereka. Jangan terfokus pada mengapa Anda ingin mereka melakukan sesuatu. Individu yang melihat kemungkinan untuk memperoleh keuntungan personal lebih mungkin untuk menanggapi permintaan Anda secara positif.
Kurang baik: Saya sudah mengerjakan proposal ini selama enam bulan, dan saya berharap waktu enam bulan itu tidak terbuang sia-sia.
Lebih baik: Proposal ini menunjukkan, bisa terwujud potensi penghematan Rp 30 milyar untuk seluruh perusahaan, tanpa harus mem-PHK satu pun karyawan.
Kurang baik: Kami membutuhkan sumbangan Anda untuk Yayasan Anak Indonesia.
Lebih baik: Anda dapat membantu anak-anak memperoleh teman baru dan membangun rasa percaya diri mereka, melalui sumbangan Anda pada Yayasan Anak Indonesia.
Secara umum, cobalah untuk menyatakan pesan Anda tanpa menggunakan kata-kata yang menyakiti hati atau menimbulkan kemarahan audiens Anda. Gunakan eufemisme untuk kata-kata yang memiliki konotasi tidak menyenangkan.
Anda tetap bisa jujur tanpa perlu bersikap kasar. Bahasa yang lembut memang tidak akan mengubah fakta, namun akan membuat fakta itu lebih mudah diterima.
Kurang baik: Barang murahan
Lebih baik: Barang ekonomis.
Kurang baik: Mobil bekas.
Lebih baik: Mobil jual-ulang
Kurang baik: Gagal
Lebih baik: Kinerja kurang
Kurang baik: Tua renta
Lebih baik: Warga senior
Kurang baik: Palsu
Lebih baik: Imitasi
Di sisi lain, jangan menggunakan eufemisme yang terlalu ekstrem. Jika kata yang digunakan terlalu subtil (kabur maknanya), orang tidak akan tahu apa yang Anda maksudkan.
Pada akhirnya, orang akan menanggapi lebih baik terhadap pesan yang jujur dan disampaikan dengan integritas, ketimbang pesan yang terlalu banyak bunga-bunga yang sebetulnya bermakna kosong.
Depok, November 2010
Sumber:
Disadur secara bebas dari Bovee, Courtland L., dan John V. Thill. 2005. Business Communication Today. Eight Edition. Pearson Education International.
MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)
Oleh Satrio Arismunandar
Apakah konvergensi media itu?
Kata “konvergensi” sering digunakan untuk merujuk ke berbagai proses yang berbeda, sehingga terkadang menimbulkan kebingungan. Konvergensi media adalah penggabungan atau menyatunya saluran-saluran keluar (outlet) komunikasi massa, seperti media cetak, radio, televisi, Internet, bersama dengan teknologi-teknologi portabel dan interaktifnya, melalui berbagai platform presentasi digital.
Dalam perumusan yang lebih sederhana, konvergensi media adalah bergabungnya atau terkombinasinya berbagai jenis media, yang sebelumnya dianggap terpisah dan berbeda (misalnya, komputer, televisi, radio, dan suratkabar), ke dalam sebuah media tunggal.
Gerakan konvergensi media tumbuh berkat adanya kemajuan teknologi akhir-akhir ini, khususnya dari munculnya Internet dan digitisasi informasi. Konvergensi media ini menyatukan ”tiga-C” (computing, communication, dan content).
Jika dijabarkan di level perusahaan, maka konvergensi ini menyatukan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang informasi (komputer), jejaring telekomunikasi, dan penyedia konten (penerbit buku, suratkabar, majalah, stasiun TV, radio, musik, film, dan hiburan).
Berilah contoh sederhana tentang konvergensi media!
Contoh yang mudah kita lihat adalah salah satu produknya, sebagai hasil perkembangan terkini pada teknologi mobile. Handphone yang Anda miliki sekarang bisa melakukan fungsi kalkulator, juga bisa untuk menonton siaran TV, mendengarkan siaran radio, membaca suratkabar online, menerima dan mengirim e-mail, memotret, merekam suara, merekam gambar video, selain tentunya untuk menelepon dan mengirim SMS.
Pengombinasian fungsi-fungsi dari beberapa piranti ke dalam satu mekanisme ini disebut juga konvergensi piranti (device convergence).
Tolong dijabarkan lebih lanjut, seperti apa sebetulnya konvergensi media itu?
Konvergensi media memungkinkan para profesional di bidang media massa untuk menyampaikan berita dan menghadirkan informasi dan hiburan, dengan menggunakan berbagai macam media.
Komunikasi yang sudah dikonvergensikan menyediakan berbagai macam alat untuk penyampaian berita, dan memungkinkan konsumen untuk memilih tingkat interaktivitasnya, seraya mereka bisa mengarahkan sendiri penyampaian kontennya.
Konvergensi media memungkinkan audiens (khalayak) media massa untuk berinteraksi dengan media massa dan bahkan mengisi konten media massa. Audiens sekarang dapat mengontrol kapan, di mana dan bagaimana mereka mengakses dan berhubungan dengan informasi, dalam berbagai jenisnya.
Jurnalisme konvergensi melibatkan kerjasama antara jurnalis media cetak, media siar, dan media Web (online) untuk menghasilkan berita terbaik yang dimungkinkan, dengan menggunakan berbagai sistem penyampaian (delivery).
Konvergensi telah terjadi pada dua aspek utama: teknologi dan industri.
Pada aspek teknologi: Konten kreatif telah dikonversikan ke dalam bentuk–bentuk digital standar-industri, untuk disampaikan melalui jejaring pita lebar (broadband) atau tanpa-kabel (wireless), untuk ditampilkan di berbagai komputer atau piranti-piranti seperti-komputer, mulai dari telepon seluler sampai PDA (personal digital assistant), hingga ke alat perekam video digital (DVR, digital video recorder) yang terhubung ke pesawat televisi.
Pada aspek industri: Perusahaan-perusahaan yang melintasi spektrum bisnis, mulai dari perusahaan media ke telekomunikasi sampai teknologi, telah menyatu dan membentuk aliansi-aliansi strategis, untuk mengembangkan model-model bisnis baru, yang dapat meraih keuntungan dari ekspektasi konsumen yang sedang tumbuh terhadap konten media yang disesuaikan dengan permintaan (on-demand).
Sejumlah analis industri memandang, konvergensi media ini menandai memudarnya ”media lama” seperti media cetak dan media siar, serta bangkitnya ”media baru,” yang perkembangannya masih berlangsung dinamis saat ini.
Coba jelaskan makna konvergensi media sebagai sebuah strategi ekonomi!
Konvergensi media adalah sebuah strategi ekonomi, di mana perusahaan-perusahaan komunikasi mencari keuntungan finansial, dengan mengupayakan agar berbagai media yang mereka miliki bisa bekerja bersama. Strategi ini merupakan produk dari tiga unsur:
Pertama, konsentrasi perusahaan, di mana jumlah perusahaan besar semakin sedikit, tetapi tiap perusahaan itu justru memiliki semakin banyak properti media.
Kedua, digitisasi (digitization), di mana konten media diproduksi dalam bahasa komputer yang universal, sehingga dengan demikian mudah diadaptasikan untuk digunakan di media apapun.
Ketiga, deregulasi pemerintah, yang semakin memberi kelonggaran pada konglomerasi media untuk memiliki berbagai jenis media (misalnya, stasiun TV, radio, dan suratkabar) di pasar yang sama. Deregulasi ini mengizinkan perusahaan pembawa konten (seperti, pemasok TV kabel) untuk menguasai penghasil konten (misalnya, saluran-saluran TV khusus).
Strategi ini memungkinkan perusahaan untuk mengurangi biaya tenaga kerja, administratif, dan material, serta boleh menggunakan konten media yang sama melintasi berbagai saluran keluar (outlet) media.
Juga, untuk menarik iklan yang semakin meningkat, dengan menawarkan transaksi paket (package deal) dan belanja satu-tempat (one-stop shopping) kepada para pengiklan bagi sejumlah platform media. Ditambah lagi, untuk meningkatkan pengenalan merek (brand recognition) dan loyalitas merek (brand loyalty) di kalangan audiens lewat promosi-silang (cross-promotion) dan penjualan-silang (cross-selling).
Pada saat yang sama, mereka secara signifikan meninggikan tembok penghalang bagi para pelaku bisnis baru yang mencoba masuk ke pasar media, dan dengan demikian membatasi kompetisi terhadap perusahaan-perusahaan yang sudah berkonvergensi.
Berilah contoh konvergensi perusahaan (corporate convergence)!
Secara historis, perusahaan-perusahaan komunikasi sebenarnya telah lama membentuk rantai kepemilikan suratkabar dan jejaring stasiun-stasiun radio dan TV, untuk mewujudkan banyak keuntungan dari sinergi tersebut. Dalam hal ini, konvergensi dapat dipandang sebagai ekspansi dan intensifikasi, yang berangkat dari logika berpikir yang sama.
Tren konvergensi dimulai pada tahun 1980-an dengan sinergi. Perusahaan-perusahaan yang merupakan penyedia konten, seperti studio film dan perusahaan rekaman, membeli saluran-saluran distribusi, seperti TV kabel. Dengan munculnya teknologi digital, sinergi ini lalu berubah menjadi konvergensi, sebuah visi tentang satu perusahaan yang menyediakan semua layanan yang bisa dibayangkan.
Contoh terbesar konvergensi perusahaan adalah merger tahun 2001, antara ”media baru” AOL (American Online) dengan ”media lama” Time Warner. Pada saat itu, merger tersebut tampaknya merupakan ide yang baik. Hampir 60 persen rumah tangga Amerika memiliki komputer, dan setiap orang memiliki televisi.
Para pendukung konvergensi, yang sangat antusias, membayangkan masa depan di mana setiap rumah tangga akan memiliki koneksi pita-lebar berkecepatan tinggi ke Internet, yang menyediakan TV interaktif, video sesuai-permintaan, majalah online, e-mail, dan jelajah Web (Web surfing).
Time Warner menguasai konten, dengan deretan majalah, film, dan program-program televisi yang dimilikinya. Sedangkan AOL memiliki saluran ke lebih dari 20 juta tempat tinggal di Amerika. Namun, merger itu kemudian menjadi bencana ketika harga saham perusahaan jatuh lebih dari 60 persen dalam tahun-tahun berikutnya. Kerugiannya begitu besar, sehingga ”AOL” secara resmi dihapus dari nama perusahaan pada 2003.
Mengapa konvergensi perusahaan tersebut gagal?
Salah satu alasannya bersifat teknis. Orang Amerika ternyata lamban dalam mengadopsi koneksi pita-lebar berkecepatan tinggi, yang diperlukan untuk terjadinya konvergensi. Alasan lain adalah pemilihan waktu yang tidak tepat. Merger itu terjadi tak lama sebelum saham-saham perusahaan yang terkait dengan Internet berguguran, sehingga menguras habis modal potensial yang dibutuhkan untuk memajukan proses ke arah konvergensi yang diidamkan.
Faktor ketiga, terkait dengan kekeliruan dalam membaca psikologi konsumen. Hanya karena seseorang bisa terkoneksi ke Internet melalui AOL, tidaklah lantas berarti ia ingin menyaksikan liputan CNN atau menonton film-film Warner Brothers atau membaca majalah Time. Tidak ada hubungan mendasar antara konten dan saluran distribusi.
Jenis konvergensi lain adalah konvergensi operasional. Bagaimana hal itu terjadi?
Konvergensi operasional terjadi ketika pemilik dari beberapa properti media dalam satu pasar mengombinasikan operasi-operasi media yang terpisah tersebut ke dalam satu usaha tunggal. Misalnya, di Florida, Amerika, saluran berita televisi WFLA, suratkabar Tampa Tribune, dan media online TBO.com mengoperasikan sebuah departemen pemberitaan (news) yang terkonvergensi.
Di Lawrence, Kansas, Amerika, konvergensi terjadi ketika Lawrence Journal-World mengombinasikan fungsi-fungsi pelaporan berita dari suratkabar, situs web suratkabar tersebut, dan saluran berita kabel lokalnya. Jika peraturan kepemilikan silang media terus diperlonggar, tren konvergensi operasional semacam ini mungkin akan terus meningkat.
Apa untung-ruginya konvergensi operasional?
Keuntungan dari konvergensi jenis ini cukup jelas. Ia menghemat uang karena –ketimbang mempekerjakan staf pemberitaan yang terpisah untuk setiap media—pengoperasian bisa lebih murah ketika mempekerjakan reporter yang sama untuk tiga media sekaligus: suratkabar, situs Web, dan stasiun TV. Sebagai tambahan, setiap media itu bisa mempromosikan mitra-mitra medianya. TV berita dapat mendorong pembaca untuk mengunjungi situs web atau membeli suratkabarnya (versi cetak).
Tentu saja, ada sisi yang memberatkan juga. Reporter yang dipekerjakan memerlukan tambahan pelatihan untuk bisa menguasai berbagai media. Hal ini menimbulkan beberapa kontroversi di kalangan reporter media cetak, yang enggan disuruh membawa-bawa kamera video dan perekam suara, sebagai bagian dari peralatan liputan.
Lebih lanjut, banyak juga pengeritik yang khawatir bahwa pengoperasian yang terkonvergensi ini berarti berkurangnya independensi dan keragaman bentuk jurnalisme. Beberapa di antara mereka menyimpulkan, walaupun konvergensi operasional mungkin bagus untuk perusahaan-perusahaan media, itu mungkin tidak bagus buat konsumen media. ***
Daftar Pustaka
Straubhaar, Joseph, dan Robert LaRose. 2002. Media Now: Communications Media in the Information Age. Third Edition. Belmont: Wadsworth Group.
Dominick, Joseph R. 2005. The Dynamics of Mass Communications: Media in the Digital Age. 8th Edition. New York: McGraw Hill.
http://sites.actx.edu/~gibson_j/what_is_media_convergence.htm, diunduh pada 18 November 2010.
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/1425043/media-convergence, diunduh pada 18 November 2010.
http://www.thecanadianencyclopedia.com/index.cfm?PgNm=TCE&Params=A1ARTA0009695, diunduh pada 18 November 2010.
http://uk.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090221083606AAGTeZY
Jakarta, November 2010
* Satrio Arismunandar adalah Produser Eksekutif di Divisi News Trans TV, dosen Ilmu Komunikasi di FISIP UI dan President University, dan saat ini sedang menempuh studi S-3 Ilmu Filsafat di FIB UI.
Blog: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com
HP : 0819 0819 9163
Alinea tambahan, tidak ada di makalah asli:
Tantangan Konvergensi untuk Media Islam:
Tantangan teknologi:
Konvergensi media menuntut kemampuan untuk menguasai teknologi media, yang berkembang sangat pesat.
Konsekuensinya, harus ada penyiapan sumberdaya manusia yang memadai, untuk penguasaan teknologi tersebut.
Tantangan permodalan:
Teknologi baru dan canggih identik dengan kebutuhan akan modal untuk bisa memiliki dan menggunakan teknologi baru tersebut.
Artinya, jauh-jauh hari harus ada penggalangan modal,untuk menyambut era konvergensi media yang dinamis itu.
Tantangan wacana:
Perkembangan konvergensi media, dengan lahirnya jenis-jenis media baru ataupun multimedia, memberi peluang kreatif bagi perluasan dakwah Islam.
Tetapi pada saat yang sama, peluang serupa juga dimanfaatkan pihak luar, untuk menghadirkan propaganda atau wacana tandingan terhadap nilai-nilai Islam.
Generasi muda Islam harus bisa memanfaatkan konvergensi media justru untuk merebut peluang dakwah yang ada.
MEDIA ISLAM, MEDIA ISLAMI, DAN PERBEDAANNYA DENGAN MEDIA LAIN
Oleh Satrio Arismunandar
Dalam konstelasi media yang begitu luas sekarang, ada segmen atau kategori yang dinamakan sebagai ”media Islam,” atau ada juga yang menyebut ”media Islami.” Sayangnya, kajian akademis tentang ”media Islam” dan atau ”media Islami” ini belum cukup meluas. Tulisan ini berupaya memberikan kategorisasi yang lebih jelas tentang apa itu ”media Islam” dan atau ”media Islami,” serta perbedaannya dengan media lain.
Sebelumnya, perlu kejelasan apakah ada perbedaan antara media Islam dan media Islami. Bagi sebagian kalangan, dua sebutan itu mungkin berarti sama saja, alias tidak ada beda antara media Islam dan media Islami. Tetapi saya akan mencoba membedakan makna antara keduanya, untuk memperjelas kategorisasi bagi pengkajian lebih lanjut. Saya akan mulai dengan media Islam dulu.
Kata “Islam” menunjukkan suatu identitas, untuk membedakan satu dengan yang lain. Orang Islam jelas tidak sama dengan orang Kristen, Hindu, Buddha, dan seterusnya. Agar bisa disebut sebagai orang Islam, orang itu minimal harus sudah mengucapkan kalimat syahadat, mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.
Dengan analogi semacam itu, media yang menyandang nama “media Islam” tentunya juga harus memiliki ciri atau syarat tertentu, yang membedakannya dengan berbagai media lain.
Persyaratan Media Islam
Syarat pertama, untuk bisa disebut sebagai “media Islam,” media itu harus dimiliki oleh orang Islam. Atau, jika kepemilikannya bersifat kolektif (misalnya, saham perusahaan media bersangkutan sudah diperjualbelikan untuk umum di bursa efek), mayoritas saham harus dimiliki oleh orang Islam. Syarat ini sangat logis. Tentunya sangat absurd, jika media yang dimiliki orang beragama Yahudi disebut sebagai media Islam.
Syarat kedua, media itu sedikit banyak harus mengemban misi dakwah, yakni misi mengagungkan agama Allah, menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam, memajukan dan mencerdaskan umat Islam, dan sebagainya.
Adanya misi dakwah ini bukan berarti media itu harus semata-mata diisi dengan kumpulan kotbah agama atau kutipan ayat kitab suci Al-Quran dan hadist Nabi. Perwujudan misi “dakwah” bisa sangat luas. Misi mencerdaskan dan memajukan umat Islam, misalnya, bisa dilakukan dengan berbagai format media. Di sini, sudah masuk unsur kreativitas pengelola media dalam mengemas misi dakwahnya.
Jadi, media Islam bebas menyajikan dan mengupas topik apa saja. Mulai dari topik yang spesifik berkaitan dengan agama, sampai topik yang terkait dengan ilmu pengetahuan, teknologi, sastra, seni-budaya, sosial-ekonomi, politik, hankam, dan lain-lain. Semua itu bisa dijadikan topik, asalkan semua itu dilandasi dengan niat dakwah. Jadi, misi media Islam bukan semata-mata komersial, bukan cuma mengejar profit sebanyak-banyaknya.
Syarat ketiga, media Islam harus menerapkan aturan, etika, dan nilai-nilai ajaran Islam, dalam menjalankan bisnis perusahaan media dan aktivitas keredaksian (editorial). Islam tidak mengenal prinsip ”tujuan menghalalkan cara.” Jika syarat kedua tadi berkaitan dengan niat (misi) dan tujuan ketika mendirikan media, maka syarat ketiga ini berkaitan dengan cara mencapai tujuan tersebut.
Etika dan nilai-nilai Islam yang harus diterapkan di sini mencakup dua aspek: aspek bisnis dalam menjalankan usaha media, dan aspek yang berkaitan dengan sisi keredaksian (editorial).
Dalam aspek bisnis, misalnya, media Islam tidak membabi buta dalam mencari keuntungan. Contohnya, tidak semua iklan, betapapun besar nilainya, akan diterima. Harus ada kriteria, iklan mana yang boleh atau tidak-boleh dimuat di media Islam. Media Islam akan menolak mengiklankan semua hal yang secara jelas dan tegas diharamkan oleh Islam.
Jadi, tidak akan ada iklan minuman keras atau makanan yang mengandung daging babi di media Islam. Soal iklan rokok, ada yang tegas mengharamkan, ada juga yang menganggapnya makruh. Namun, apapun yang dipilih, iklan rokok juga bukan sesuatu yang dianjurkan karena dampak negatifnya pada kesehatan.
Media Islam juga harus menerapkan peraturan ketenagakerjaan yang adil dan manusiawi buat para buruhnya. Jangan sampai tenaga buruh diperas seenaknya dan diupah di bawah standar upah minimum yang layak. Sistem kerjanya juga harus memberi kesempatan karyawan untuk melaksanakan ibadah sholat, dan lain-lain.
Kebebasan Pers Menurut Perspektif Islam
Selanjutnya, dalam aspek keredaksian, terdapat persinggungan antara etika yang dilandasi ajaran Islam dan ”etika jurnalistik universal” yang dianut oleh berbagai media di dalam dan luar negeri. Di Indonesia, kita kenal etika jurnalistik yang dikeluarkan organisasi profesi seperti AJI (Aliansi Jurnalis Independen), PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia), atau gabungan sejumlah organisasi profesi, yakni KEWI (Kode Etik Wartawan Indonesia).
Secara prinsip umum, etika jurnalistik yang berlandaskan ajaran Islam tidak berbeda dengan etika jurnalistik yang dianut AJI, PWI, dan IJTI. Etika jurnalistik yang dianut media Islam juga melarang pemberian suap, praktik amplop buat jurnalis, penyiaran kabar bohong, pemberitaan yang tidak akurat, penyalahgunaan profesi jurnalis untuk memeras narasumber, dan sebagainya.
Namun, ada bedanya. Misalnya, dalam cara memandang kebebasan pers. Jurnalis di mana-mana umumnya sangat mementingkan kebebasan pers. Kebebasan pers adalah prasyarat bagi terwujudnya fungsi media untuk memberi informasi, mendidik masyarakat, menghibur, dan melakukan kritik sosial.
Fungsi yang terakhir ini mencakup peran sebagai watchdog (anjing pengawas) terhadap penguasa. Jika tidak ada kebebasan pers, tentu pers hanya akan jadi alat penguasa. Tanpa kebebasan, media tidak bisa berperan dalam sistem demokrasi, di mana media sering disebut sebagai pilar keempar sesudah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Namun, kebebasan pers itu juga bisa menjurus ke wujud yang ekstrem. Dalam penerapan “kebebasan pers yang universal” itu, misalnya, tiap warga negara dianggap bebas menerbitkan media apa saja, termasuk media yang mengeksploitasi seks, kekerasan, dan sebagainya sebagai bahan jualannya. Penerbitan semacam Playboy dan Popular, yang mengumbar aurat dianggap sah-sah saja. Toh memang ada segmen pembaca tertentu yang menggemari dan selalu mengonsumsinya.
Contoh lain, sejumlah media di Eropa Barat beberapa waktu lalu pernah memuat karikatur Nabi Muhammad SAW dalam format yang melecehkan. Hal ini mereka lakukan di bawah payung ”kebebasan pers” dan ”kebebasan berekspresi,” yang dianggap sebagai bagian dari hak-hak asasi manusia. Terjadi kehebohan besar dan aksi protes massa di berbagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, akibat pemuatan karikatur kontroversial ini.
Nah, dalam hal-hal semacam inilah terdapat perbedaan antara media Islam dan media lain. Bagi media Islam, pengertian “kebebasan pers” dan “kebebasan berekspresi” bukanlah kebebasan yang liar semau-maunya, bukan kebebasan demi kebebasan itu sendiri. Melainkan, kebebasan yang luas dalam berkreasi melalui media, sebagai sarana dakwah dan wujud pengabdian kepada Allah SWT.
Pelayanan kepentingan publik, yang sudah jadi kredo jurnalisme universal, adalah bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Jadi, tidak ada ceritanya media Islam memuat konten yang cabul, yang mempromosikan gaya hidup homoseksualitas, yang melecehkan Nabi Muhammad SAW atau keluarganya, dan lain-lain, yang justru menjauhkan pembacanya dari ajaran Allah SWT.
Media Islami
Cukup jelas tentang media Islam, kini kita membahas media Islami. Kalau kata “Islam” menunjukkan identitas, maka kata “Islami” menunjukkan suatu sifat atau ciri yang merujuk ke identitas “Islam.” Orang Islam yang sepenuhnya patuh, tunduk pada Allah dan Rasul-Nya, dan mengimplementasikan ajaran Islam pada seluruh aspek kehidupannya, akan menunjukkan ciri-ciri Islami. Yaitu, ciri-ciri itu terlihat mulai dari caranya bergaul dengan tetangga, cara berkata-kata, cara memimpin, sampai cara memperlakukan suami/istri.
Namun, ciri Islami ini mungkin tidak terwujud dalam seluruh aspek kehidupan. Misalnya, kita mungkin pernah bertemu orang yang pantang minum bir atau minuman beralkohol lain. Ia juga pantang makan daging babi, anjing, dan semua makanan yang jelas dan tegas diharamkan dalam Islam. Orang itu bahkan rajin berpuasa Senin-Kamis. Tetapi orang itu ternyata sangat kikir, tidak pernah mau berzakat atau berinfaq pada fakir miskin. Jadi, perilakunya terhadap makanan terkesan “Islami,” tetapi perilaku kikirnya jelas “tidak Islami.”
Orang Islam yang sepenuhnya melaksanakan ajaran Islam, pastilah akan menunjukkan ciri-ciri Islami dalam seluruh cara hidupnya. Sebaliknya, orang yang menunjukkan ciri Islami tidak otomatis berarti orang itu adalah orang Islam. Karena, bisa jadi “ciri Islami” itu tidak berangkat dari ajaran Islam sebagai landasannya.
Ciri-ciri itu lebih terlihat pada tampilan, pada permukaan, tetapi tampilan tidak selalu mencerminkan esensi. Dalam kasus orang yang pantang makan daging babi dan menenggak minuman beralkohol, misalnya, bisa jadi dia melakukan itu karena alasan kesehatan semata-mata (daging babi mengandung banyak lemak, sedangkan minuman beralkohol merusak ginjal). Jadi, niatnya sekadar mengikuti instruksi dokter, bukan karena untuk mematuhi ajaran Islam. Banyak orang non-Muslim bahkan berpantang daging sama sekali, menjadi vegetarian, karena pertimbangan kesehatan.
Dengan analogi tersebut, dapat dikatakan bahwa media Islam itu identik atau seharusnya identik dengan media Islami. Tetapi, sebaliknya, media ”Islami” belum tentu bisa dikategorikan sebagai media Islam, karena boleh jadi ciri ”Islami” itu hanya pada salah satu atau sebagian aspek saja. Kalau seluruh aspeknya sudah ”Islami,” maka barulah ia bisa disamakan dengan media Islam.
Misalnya, ada sebuah media yang menolak memasang iklan minuman keras, makanan yang mengandung daging babi, dan hal-hal lain yang diharamkan dalam Islam. Dalam pemberitaannya juga menolak mempromosikan hal-hal yang terlarang dalam Islam (pornografi, seks bebas, gaya hidup homoseksual, dan sebagainya). Bisa dibilang, bahwa dalam aspek kebijakan pemasangan iklan dan aspek kebijakan redaksional, media itu ”Islami.” Tetapi media ”Islami” itu bukan media Islam, karena tidak dimiliki oleh orang Islam.
Demikianlah sekadar sumbangan saya, dalam upaya memberi kategorisasi yang lebih jelas, untuk membedakan antara media Islam, media Islami, dan media lainnya. Semoga kategorisasi ini bisa bermanfaat bagi pengkajian akademis lebih lanjut tentang media Islam.
Depok, November 2010
* Satrio Arismunandar adalah Produser Eksekutif di Divisi News Trans TV, dosen Ilmu Komunikasi di FISIP UI dan President University, dan saat ini sedang menempuh studi S-3 Ilmu Filsafat di FIB UI. Ini adalah makalah yang dipresentasikan dalam training di Majalah sabili, Minggu, 28 November 2010
Blog: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com
HP : 0819 0819 9163
Dalam konstelasi media yang begitu luas sekarang, ada segmen atau kategori yang dinamakan sebagai ”media Islam,” atau ada juga yang menyebut ”media Islami.” Sayangnya, kajian akademis tentang ”media Islam” dan atau ”media Islami” ini belum cukup meluas. Tulisan ini berupaya memberikan kategorisasi yang lebih jelas tentang apa itu ”media Islam” dan atau ”media Islami,” serta perbedaannya dengan media lain.
Sebelumnya, perlu kejelasan apakah ada perbedaan antara media Islam dan media Islami. Bagi sebagian kalangan, dua sebutan itu mungkin berarti sama saja, alias tidak ada beda antara media Islam dan media Islami. Tetapi saya akan mencoba membedakan makna antara keduanya, untuk memperjelas kategorisasi bagi pengkajian lebih lanjut. Saya akan mulai dengan media Islam dulu.
Kata “Islam” menunjukkan suatu identitas, untuk membedakan satu dengan yang lain. Orang Islam jelas tidak sama dengan orang Kristen, Hindu, Buddha, dan seterusnya. Agar bisa disebut sebagai orang Islam, orang itu minimal harus sudah mengucapkan kalimat syahadat, mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.
Dengan analogi semacam itu, media yang menyandang nama “media Islam” tentunya juga harus memiliki ciri atau syarat tertentu, yang membedakannya dengan berbagai media lain.
Persyaratan Media Islam
Syarat pertama, untuk bisa disebut sebagai “media Islam,” media itu harus dimiliki oleh orang Islam. Atau, jika kepemilikannya bersifat kolektif (misalnya, saham perusahaan media bersangkutan sudah diperjualbelikan untuk umum di bursa efek), mayoritas saham harus dimiliki oleh orang Islam. Syarat ini sangat logis. Tentunya sangat absurd, jika media yang dimiliki orang beragama Yahudi disebut sebagai media Islam.
Syarat kedua, media itu sedikit banyak harus mengemban misi dakwah, yakni misi mengagungkan agama Allah, menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam, memajukan dan mencerdaskan umat Islam, dan sebagainya.
Adanya misi dakwah ini bukan berarti media itu harus semata-mata diisi dengan kumpulan kotbah agama atau kutipan ayat kitab suci Al-Quran dan hadist Nabi. Perwujudan misi “dakwah” bisa sangat luas. Misi mencerdaskan dan memajukan umat Islam, misalnya, bisa dilakukan dengan berbagai format media. Di sini, sudah masuk unsur kreativitas pengelola media dalam mengemas misi dakwahnya.
Jadi, media Islam bebas menyajikan dan mengupas topik apa saja. Mulai dari topik yang spesifik berkaitan dengan agama, sampai topik yang terkait dengan ilmu pengetahuan, teknologi, sastra, seni-budaya, sosial-ekonomi, politik, hankam, dan lain-lain. Semua itu bisa dijadikan topik, asalkan semua itu dilandasi dengan niat dakwah. Jadi, misi media Islam bukan semata-mata komersial, bukan cuma mengejar profit sebanyak-banyaknya.
Syarat ketiga, media Islam harus menerapkan aturan, etika, dan nilai-nilai ajaran Islam, dalam menjalankan bisnis perusahaan media dan aktivitas keredaksian (editorial). Islam tidak mengenal prinsip ”tujuan menghalalkan cara.” Jika syarat kedua tadi berkaitan dengan niat (misi) dan tujuan ketika mendirikan media, maka syarat ketiga ini berkaitan dengan cara mencapai tujuan tersebut.
Etika dan nilai-nilai Islam yang harus diterapkan di sini mencakup dua aspek: aspek bisnis dalam menjalankan usaha media, dan aspek yang berkaitan dengan sisi keredaksian (editorial).
Dalam aspek bisnis, misalnya, media Islam tidak membabi buta dalam mencari keuntungan. Contohnya, tidak semua iklan, betapapun besar nilainya, akan diterima. Harus ada kriteria, iklan mana yang boleh atau tidak-boleh dimuat di media Islam. Media Islam akan menolak mengiklankan semua hal yang secara jelas dan tegas diharamkan oleh Islam.
Jadi, tidak akan ada iklan minuman keras atau makanan yang mengandung daging babi di media Islam. Soal iklan rokok, ada yang tegas mengharamkan, ada juga yang menganggapnya makruh. Namun, apapun yang dipilih, iklan rokok juga bukan sesuatu yang dianjurkan karena dampak negatifnya pada kesehatan.
Media Islam juga harus menerapkan peraturan ketenagakerjaan yang adil dan manusiawi buat para buruhnya. Jangan sampai tenaga buruh diperas seenaknya dan diupah di bawah standar upah minimum yang layak. Sistem kerjanya juga harus memberi kesempatan karyawan untuk melaksanakan ibadah sholat, dan lain-lain.
Kebebasan Pers Menurut Perspektif Islam
Selanjutnya, dalam aspek keredaksian, terdapat persinggungan antara etika yang dilandasi ajaran Islam dan ”etika jurnalistik universal” yang dianut oleh berbagai media di dalam dan luar negeri. Di Indonesia, kita kenal etika jurnalistik yang dikeluarkan organisasi profesi seperti AJI (Aliansi Jurnalis Independen), PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia), atau gabungan sejumlah organisasi profesi, yakni KEWI (Kode Etik Wartawan Indonesia).
Secara prinsip umum, etika jurnalistik yang berlandaskan ajaran Islam tidak berbeda dengan etika jurnalistik yang dianut AJI, PWI, dan IJTI. Etika jurnalistik yang dianut media Islam juga melarang pemberian suap, praktik amplop buat jurnalis, penyiaran kabar bohong, pemberitaan yang tidak akurat, penyalahgunaan profesi jurnalis untuk memeras narasumber, dan sebagainya.
Namun, ada bedanya. Misalnya, dalam cara memandang kebebasan pers. Jurnalis di mana-mana umumnya sangat mementingkan kebebasan pers. Kebebasan pers adalah prasyarat bagi terwujudnya fungsi media untuk memberi informasi, mendidik masyarakat, menghibur, dan melakukan kritik sosial.
Fungsi yang terakhir ini mencakup peran sebagai watchdog (anjing pengawas) terhadap penguasa. Jika tidak ada kebebasan pers, tentu pers hanya akan jadi alat penguasa. Tanpa kebebasan, media tidak bisa berperan dalam sistem demokrasi, di mana media sering disebut sebagai pilar keempar sesudah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Namun, kebebasan pers itu juga bisa menjurus ke wujud yang ekstrem. Dalam penerapan “kebebasan pers yang universal” itu, misalnya, tiap warga negara dianggap bebas menerbitkan media apa saja, termasuk media yang mengeksploitasi seks, kekerasan, dan sebagainya sebagai bahan jualannya. Penerbitan semacam Playboy dan Popular, yang mengumbar aurat dianggap sah-sah saja. Toh memang ada segmen pembaca tertentu yang menggemari dan selalu mengonsumsinya.
Contoh lain, sejumlah media di Eropa Barat beberapa waktu lalu pernah memuat karikatur Nabi Muhammad SAW dalam format yang melecehkan. Hal ini mereka lakukan di bawah payung ”kebebasan pers” dan ”kebebasan berekspresi,” yang dianggap sebagai bagian dari hak-hak asasi manusia. Terjadi kehebohan besar dan aksi protes massa di berbagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, akibat pemuatan karikatur kontroversial ini.
Nah, dalam hal-hal semacam inilah terdapat perbedaan antara media Islam dan media lain. Bagi media Islam, pengertian “kebebasan pers” dan “kebebasan berekspresi” bukanlah kebebasan yang liar semau-maunya, bukan kebebasan demi kebebasan itu sendiri. Melainkan, kebebasan yang luas dalam berkreasi melalui media, sebagai sarana dakwah dan wujud pengabdian kepada Allah SWT.
Pelayanan kepentingan publik, yang sudah jadi kredo jurnalisme universal, adalah bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Jadi, tidak ada ceritanya media Islam memuat konten yang cabul, yang mempromosikan gaya hidup homoseksualitas, yang melecehkan Nabi Muhammad SAW atau keluarganya, dan lain-lain, yang justru menjauhkan pembacanya dari ajaran Allah SWT.
Media Islami
Cukup jelas tentang media Islam, kini kita membahas media Islami. Kalau kata “Islam” menunjukkan identitas, maka kata “Islami” menunjukkan suatu sifat atau ciri yang merujuk ke identitas “Islam.” Orang Islam yang sepenuhnya patuh, tunduk pada Allah dan Rasul-Nya, dan mengimplementasikan ajaran Islam pada seluruh aspek kehidupannya, akan menunjukkan ciri-ciri Islami. Yaitu, ciri-ciri itu terlihat mulai dari caranya bergaul dengan tetangga, cara berkata-kata, cara memimpin, sampai cara memperlakukan suami/istri.
Namun, ciri Islami ini mungkin tidak terwujud dalam seluruh aspek kehidupan. Misalnya, kita mungkin pernah bertemu orang yang pantang minum bir atau minuman beralkohol lain. Ia juga pantang makan daging babi, anjing, dan semua makanan yang jelas dan tegas diharamkan dalam Islam. Orang itu bahkan rajin berpuasa Senin-Kamis. Tetapi orang itu ternyata sangat kikir, tidak pernah mau berzakat atau berinfaq pada fakir miskin. Jadi, perilakunya terhadap makanan terkesan “Islami,” tetapi perilaku kikirnya jelas “tidak Islami.”
Orang Islam yang sepenuhnya melaksanakan ajaran Islam, pastilah akan menunjukkan ciri-ciri Islami dalam seluruh cara hidupnya. Sebaliknya, orang yang menunjukkan ciri Islami tidak otomatis berarti orang itu adalah orang Islam. Karena, bisa jadi “ciri Islami” itu tidak berangkat dari ajaran Islam sebagai landasannya.
Ciri-ciri itu lebih terlihat pada tampilan, pada permukaan, tetapi tampilan tidak selalu mencerminkan esensi. Dalam kasus orang yang pantang makan daging babi dan menenggak minuman beralkohol, misalnya, bisa jadi dia melakukan itu karena alasan kesehatan semata-mata (daging babi mengandung banyak lemak, sedangkan minuman beralkohol merusak ginjal). Jadi, niatnya sekadar mengikuti instruksi dokter, bukan karena untuk mematuhi ajaran Islam. Banyak orang non-Muslim bahkan berpantang daging sama sekali, menjadi vegetarian, karena pertimbangan kesehatan.
Dengan analogi tersebut, dapat dikatakan bahwa media Islam itu identik atau seharusnya identik dengan media Islami. Tetapi, sebaliknya, media ”Islami” belum tentu bisa dikategorikan sebagai media Islam, karena boleh jadi ciri ”Islami” itu hanya pada salah satu atau sebagian aspek saja. Kalau seluruh aspeknya sudah ”Islami,” maka barulah ia bisa disamakan dengan media Islam.
Misalnya, ada sebuah media yang menolak memasang iklan minuman keras, makanan yang mengandung daging babi, dan hal-hal lain yang diharamkan dalam Islam. Dalam pemberitaannya juga menolak mempromosikan hal-hal yang terlarang dalam Islam (pornografi, seks bebas, gaya hidup homoseksual, dan sebagainya). Bisa dibilang, bahwa dalam aspek kebijakan pemasangan iklan dan aspek kebijakan redaksional, media itu ”Islami.” Tetapi media ”Islami” itu bukan media Islam, karena tidak dimiliki oleh orang Islam.
Demikianlah sekadar sumbangan saya, dalam upaya memberi kategorisasi yang lebih jelas, untuk membedakan antara media Islam, media Islami, dan media lainnya. Semoga kategorisasi ini bisa bermanfaat bagi pengkajian akademis lebih lanjut tentang media Islam.
Depok, November 2010
* Satrio Arismunandar adalah Produser Eksekutif di Divisi News Trans TV, dosen Ilmu Komunikasi di FISIP UI dan President University, dan saat ini sedang menempuh studi S-3 Ilmu Filsafat di FIB UI. Ini adalah makalah yang dipresentasikan dalam training di Majalah sabili, Minggu, 28 November 2010
Blog: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com
HP : 0819 0819 9163
MEDIA ISLAM ATAU MEDIA ISLAMI? (Republika, 30 November 2010)
Dalam konstelasi media yang begitu luas sekarang, ada segmen yang dinamakan ”media Islam” dan atau ”media Islami.” Sayangnya, kajian akademis tentang media ini belum cukup banyak. Tulisan ini berupaya memberikan kategorisasi yang lebih jelas tentang apa itu ”media Islam” dan atau ”media Islami,” serta perbedaannya dengan media lain.
Ada yang menganggap, media Islam dan media Islami sepenuhnya identik. Tetapi penulis akan mencoba membedakan makna antara keduanya.
Kata “Islam” menunjukkan suatu identitas. Agar bisa disebut sebagai orang Islam, seseorang minimal harus sudah mengucapkan kalimat syahadat, mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.
”Media Islam” tentu juga harus memiliki syarat tertentu, yang membedakannya dengan media lain. Syarat pertama, media itu harus dimiliki oleh orang Islam. Jika kepemilikannya bersifat kolektif (misalnya, saham perusahaan media itu sudah diperjualbelikan untuk umum di bursa efek), mayoritas saham harus dimiliki orang Islam.
Syarat kedua, media itu sedikit banyak harus mengemban misi dakwah, yakni misi mengagungkan agama Allah, menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam, memajukan dan mencerdaskan umat Islam, dan sebagainya. Ini bukan berarti media itu harus semata-mata diisi dengan kumpulan kotbah agama.
Perwujudan misi dakwah bisa sangat luas, tergantung kreativitas pengelolanya. Media Islam bebas menyajikan topik apa saja, mulai dari yang spesifik berkaitan dengan agama sampai topik lain, asalkan dilandasi niat dakwah. Jadi, misi media Islam bukan semata-mata komersial.
Syarat ketiga, media Islam harus menerapkan etika dan nilai-nilai ajaran Islam, dalam menjalankan bisnis perusahaan dan aktivitas keredaksian. Jika syarat kedua berkaitan dengan niat dan tujuan, maka syarat ketiga ini berkaitan dengan cara mencapai tujuan.
Dalam aspek bisnis, misalnya, media Islam tidak membabi buta mencari keuntungan. Tidak semua iklan, betapapun besar nilainya, akan diterima. Media Islam akan menolak mengiklankan semua hal yang diharamkan oleh Islam. Jadi, tidak akan ada iklan minuman keras atau makanan yang mengandung daging babi di media Islam.
Kebebasan Pers Menurut Islam
Dalam aspek keredaksian, ada persinggungan antara etika yang dilandasi ajaran Islam dan ”etika jurnalistik universal” yang dianut berbagai media lain. Etika jurnalistik yang dianut media Islam juga melarang pemberian suap, praktik amplop buat jurnalis, penyiaran kabar bohong, dan sebagainya.
Namun, ada beda dalam cara memandang kebebasan pers, yang merupakan prasyarat penting bagi terwujudnya fungsi media, untuk memberi informasi, mendidik masyarakat, menghibur, dan melakukan kritik sosial.
Kebebasan pers itu bisa menjurus ke wujud ekstrem. Misalnya, tiap warga dianggap bebas menerbitkan media apa saja, termasuk yang mengeksploitasi seks. Penerbitan semacam Playboy dan Popular, yang mengumbar aurat dianggap sah-sah saja. Toh memang ada segmen pembaca tertentu yang menggemari dan mengonsumsinya.
Contoh lain, sejumlah media Eropa beberapa waktu lalu pernah memuat karikatur Nabi Muhammad SAW dalam format yang melecehkan. Hal ini dilakukan di bawah payung ”kebebasan pers” dan ”kebebasan berekspresi,” yang dianggap sebagai bagian dari hak-hak asasi manusia.
Nah, dalam hal semacam inilah terdapat perbedaan antara media Islam dan media lain. Bagi media Islam, pengertian “kebebasan pers” dan “kebebasan berekspresi” bukanlah kebebasan yang liar, bukan kebebasan demi kebebasan itu sendiri. Melainkan, kebebasan yang luas dalam berkreasi melalui media, sebagai sarana dakwah dan wujud pengabdian kepada Allah SWT.
Pelayanan kepentingan publik, yang sudah jadi kredo jurnalisme universal, adalah bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Jadi, tidak ada ceritanya media Islam memuat konten yang cabul, pelecehan terhadap Rasulullah, dan lain-lain, yang justru menjauhkan pembacanya dari ajaran Islam.
Media Islami
Kalau kata “Islam” menunjukkan identitas, maka kata “Islami” menunjukkan suatu sifat atau ciri yang merujuk ke identitas “Islam.” Orang Islam yang mengimplementasikan ajaran Islam pada seluruh aspek kehidupannya, akan menunjukkan ciri-ciri Islami.
Namun, bisa terjadi, ciri Islami ini tidak terwujud dalam seluruh aspek kehidupan. Misalnya, ada orang yang pantang makan daging babi dan semua makanan yang diharamkan dalam Islam. Tetapi orang itu ternyata sangat kikir, tidak pernah mau berzakat pada fakir miskin. Jadi, perilakunya terhadap makanan terkesan “Islami,” tetapi perilaku kikirnya jelas “tidak Islami.”
Selain itu, orang yang menunjukkan ciri Islami tidak otomatis berarti dia orang Islam, karena bisa jadi “ciri Islami” itu tidak berangkat dari ajaran Islam sebagai landasannya. Ciri-ciri itu lebih terlihat pada tampilan, tetapi tampilan tidak selalu mencerminkan esensi.
Orang yang pantang makan daging babi mungkin melakukan itu hanya karena instruksi dokter (daging babi mengandung banyak lemak). Ia bukan berniat mematuhi ajaran Islam. Banyak orang non-Muslim bahkan berpantang daging sama sekali, menjadi vegetarian, karena pertimbangan kesehatan.
Dengan analogi itu, dapat dikatakan bahwa media Islam itu identik dengan media Islami. Sebaliknya, media ”Islami” belum tentu bisa dikategorikan sebagai media Islam. Kalau seluruh aspeknya sudah ”Islami,” barulah ia bisa disamakan dengan media Islam. Misalnya, ada media yang kebijakan redaksionalnya terkesan ”Islami,” tetapi media itu bukan media Islam, karena tidak dimiliki oleh orang Islam.
Demikianlah, semoga tulisan pendek ini dapat menjelaskan perbedaan antara media Islam, media Islami, dan media lainnya.
Depok, November 2010
*Satrio Arismunandar adalah Produser Eksekutif di Divisi News Trans TV.
Blog: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com
HP : 0819 0819 9163
Ada yang menganggap, media Islam dan media Islami sepenuhnya identik. Tetapi penulis akan mencoba membedakan makna antara keduanya.
Kata “Islam” menunjukkan suatu identitas. Agar bisa disebut sebagai orang Islam, seseorang minimal harus sudah mengucapkan kalimat syahadat, mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.
”Media Islam” tentu juga harus memiliki syarat tertentu, yang membedakannya dengan media lain. Syarat pertama, media itu harus dimiliki oleh orang Islam. Jika kepemilikannya bersifat kolektif (misalnya, saham perusahaan media itu sudah diperjualbelikan untuk umum di bursa efek), mayoritas saham harus dimiliki orang Islam.
Syarat kedua, media itu sedikit banyak harus mengemban misi dakwah, yakni misi mengagungkan agama Allah, menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam, memajukan dan mencerdaskan umat Islam, dan sebagainya. Ini bukan berarti media itu harus semata-mata diisi dengan kumpulan kotbah agama.
Perwujudan misi dakwah bisa sangat luas, tergantung kreativitas pengelolanya. Media Islam bebas menyajikan topik apa saja, mulai dari yang spesifik berkaitan dengan agama sampai topik lain, asalkan dilandasi niat dakwah. Jadi, misi media Islam bukan semata-mata komersial.
Syarat ketiga, media Islam harus menerapkan etika dan nilai-nilai ajaran Islam, dalam menjalankan bisnis perusahaan dan aktivitas keredaksian. Jika syarat kedua berkaitan dengan niat dan tujuan, maka syarat ketiga ini berkaitan dengan cara mencapai tujuan.
Dalam aspek bisnis, misalnya, media Islam tidak membabi buta mencari keuntungan. Tidak semua iklan, betapapun besar nilainya, akan diterima. Media Islam akan menolak mengiklankan semua hal yang diharamkan oleh Islam. Jadi, tidak akan ada iklan minuman keras atau makanan yang mengandung daging babi di media Islam.
Kebebasan Pers Menurut Islam
Dalam aspek keredaksian, ada persinggungan antara etika yang dilandasi ajaran Islam dan ”etika jurnalistik universal” yang dianut berbagai media lain. Etika jurnalistik yang dianut media Islam juga melarang pemberian suap, praktik amplop buat jurnalis, penyiaran kabar bohong, dan sebagainya.
Namun, ada beda dalam cara memandang kebebasan pers, yang merupakan prasyarat penting bagi terwujudnya fungsi media, untuk memberi informasi, mendidik masyarakat, menghibur, dan melakukan kritik sosial.
Kebebasan pers itu bisa menjurus ke wujud ekstrem. Misalnya, tiap warga dianggap bebas menerbitkan media apa saja, termasuk yang mengeksploitasi seks. Penerbitan semacam Playboy dan Popular, yang mengumbar aurat dianggap sah-sah saja. Toh memang ada segmen pembaca tertentu yang menggemari dan mengonsumsinya.
Contoh lain, sejumlah media Eropa beberapa waktu lalu pernah memuat karikatur Nabi Muhammad SAW dalam format yang melecehkan. Hal ini dilakukan di bawah payung ”kebebasan pers” dan ”kebebasan berekspresi,” yang dianggap sebagai bagian dari hak-hak asasi manusia.
Nah, dalam hal semacam inilah terdapat perbedaan antara media Islam dan media lain. Bagi media Islam, pengertian “kebebasan pers” dan “kebebasan berekspresi” bukanlah kebebasan yang liar, bukan kebebasan demi kebebasan itu sendiri. Melainkan, kebebasan yang luas dalam berkreasi melalui media, sebagai sarana dakwah dan wujud pengabdian kepada Allah SWT.
Pelayanan kepentingan publik, yang sudah jadi kredo jurnalisme universal, adalah bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Jadi, tidak ada ceritanya media Islam memuat konten yang cabul, pelecehan terhadap Rasulullah, dan lain-lain, yang justru menjauhkan pembacanya dari ajaran Islam.
Media Islami
Kalau kata “Islam” menunjukkan identitas, maka kata “Islami” menunjukkan suatu sifat atau ciri yang merujuk ke identitas “Islam.” Orang Islam yang mengimplementasikan ajaran Islam pada seluruh aspek kehidupannya, akan menunjukkan ciri-ciri Islami.
Namun, bisa terjadi, ciri Islami ini tidak terwujud dalam seluruh aspek kehidupan. Misalnya, ada orang yang pantang makan daging babi dan semua makanan yang diharamkan dalam Islam. Tetapi orang itu ternyata sangat kikir, tidak pernah mau berzakat pada fakir miskin. Jadi, perilakunya terhadap makanan terkesan “Islami,” tetapi perilaku kikirnya jelas “tidak Islami.”
Selain itu, orang yang menunjukkan ciri Islami tidak otomatis berarti dia orang Islam, karena bisa jadi “ciri Islami” itu tidak berangkat dari ajaran Islam sebagai landasannya. Ciri-ciri itu lebih terlihat pada tampilan, tetapi tampilan tidak selalu mencerminkan esensi.
Orang yang pantang makan daging babi mungkin melakukan itu hanya karena instruksi dokter (daging babi mengandung banyak lemak). Ia bukan berniat mematuhi ajaran Islam. Banyak orang non-Muslim bahkan berpantang daging sama sekali, menjadi vegetarian, karena pertimbangan kesehatan.
Dengan analogi itu, dapat dikatakan bahwa media Islam itu identik dengan media Islami. Sebaliknya, media ”Islami” belum tentu bisa dikategorikan sebagai media Islam. Kalau seluruh aspeknya sudah ”Islami,” barulah ia bisa disamakan dengan media Islam. Misalnya, ada media yang kebijakan redaksionalnya terkesan ”Islami,” tetapi media itu bukan media Islam, karena tidak dimiliki oleh orang Islam.
Demikianlah, semoga tulisan pendek ini dapat menjelaskan perbedaan antara media Islam, media Islami, dan media lainnya.
Depok, November 2010
*Satrio Arismunandar adalah Produser Eksekutif di Divisi News Trans TV.
Blog: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com
HP : 0819 0819 9163
Sunday, November 28, 2010
Umat Islam Jangan Terjebak pada Romantisme Masa Lalu
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Telah diketahui oleh umat Islam bahkan dunia Barat pun kini sebagian mulai mengakui,bahwa berkat Islamlah kini sains dan teknologi yang sedemikian canggihnya ini bermula. Berkat umat Islam yang terinspirasi oleh ayat-ayat Alquran tentang perintah untuk memahami segala ciptaan Allah, maka ditemukanlah dasar-dasar sains modern.
Peradaban Islam menjadi mata rantai emas dalam perkembangan keilmuan manusia. Dan kini buahnya dipetik oleh dunia barat. Tetapi sayangnya banyak ilmuan di dunia barat yang tidak memahami hakekat ilmu(yaitu bertujuan untuk semakin mengagungi Allah), sehingga ilmu sains modern kini buahnya menjadi malapetaka bagi manusia.
Tentu bagi umat Islam, patut berbangga terhadap kenyataan bahwa "Islamlah yang mengarunia Sains modern kepada dunia". Akan tetapi jangan sampai terjebak pada romantisme masa lalu, merasa lebih hebat karena asal/tonggak sains modern berawal dari umat Islam tetapi tidak melakukan apa-apa pada masa sekarang. Jangan sampai pula kebanggan terhadap Alquran tidak dibarengi dengan studi dan kerja keras, karena hanya akan menyuburkan aplologisme saja (Dr. Ziauddin Sardar).
Kebutuhan saat ini adalah meletakan dasar pemikiran Islam secara jelas dan bukan kebanggaan sementara dari hasil karya para pendahulu yang kemudian dibuai keindahan dalam stagnasi, sehingga Islam dianggap sebagai anchronistic religion.
Kini saatnya bagi umat Islam untuk bekerja keras melakukan studi dalam berbagai bidang keilmuan dengan dilandasi tuntunan Islam yang berpedoman pada Alquran dan Hadis, sebagaimana kerja keras yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Kini saatnya pula tidak lagi ada dikotomi ilmu, semua ilmu berasal dari Yang Maha Mengetahui.
Kebutuhan saat ini adalah meletakan dasar pemikiran Islam secara jelas dan bukan kebanggaan sementara dari hasil karya para pendahulu yang kemudian dibuai keindahan dalam stagnasi, sehingga Islam dianggap sebagai anchronistic religion.
Kini saatnya bagi umat Islam untuk bekerja keras melakukan studi dalam berbagai bidang keilmuan dengan dilandasi tuntunan Islam yang berpedoman pada Alquran dan Hadis, sebagaimana kerja keras yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Kini saatnya pula tidak lagi ada dikotomi ilmu, semua ilmu berasal dari Yang Maha Mengetahui.
(Sumber: Suara Masjid)
Keilmuan Sains Dan Teknologi Dalam Alquran
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Bertolak dari beberapa ayat alquran antara lain surah AnNahl 79 dan Al An'am 38, Sayid Abul A'la A Maududy berkesimpulan bahwa Alquran adalah tuntunan yang lengkap dari seluruh hajat manusia sepanjang perjalanan hidupnya. Menurut identifikasi kenyataan yang dilakukan oleh Imam AlGhazali , dari seluruh ayat-ayat Alquran, kurang lebih 12% nya adalah ayat yang berkaitan langsung dengan keilmuan, yaitu 763 ayat.
Dengan demikian kita tahu, betapa intensnya Alquran mendorong ummat Islam untuk menekuni sains dan teknologi, demi kemaslahatan umat. Hanya perlu diingat, bahwa yang dimaksud bukan berarti alquran merupakan ensiklopedi bagi seluruh ilmu, tetapi seperti yang dinyatakan oleh Syekh Nadim Al-Jisri, bahwa seluruh dasar atau prinsip hak dan khair, satu pun tak ada yang dialpakan oleh Alquran. kaitan dengan ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. berkata: "Alquran itu lahirnya indah, batinnya dalam, tidak pernah sirna keajaibannya, tidak pernah habis kegharibannya dan tidak pernah tersingkap tabir kegelapan kecuali dengannya."
Dalam membuka tabir kegelapan sain dan teknologi, Alquran sering mengambil term perintah tidak langsung, yaitu perintah ibadah. Jadi berorientasi problem (problem oriented). Misalnya, dengan perintah shalat yang di waktu-waktu, Alquran menjadi animator bagi Abu Yunus Al Misry untuk menemukan astrolobe yang sekaligus menuju perkembangan jam; dan Ibnu AlSyatir menemukan teori heliosentris jauh sebelum Copernicuss. Dengan perintah menghadap ka'bah waktu menjalankan shalat. Al Idrisy menemukan kompas. Dengan perintah hajj ke baitullah Abbas Bin Fernas Al Andalusy membuat kapal terbang jauh sebelum Wright bersaudara dari AS, yaitu dua ratus tahun setelah wafat Rasulullah saw.
Dengan demikian kita tahu, betapa intensnya Alquran mendorong ummat Islam untuk menekuni sains dan teknologi, demi kemaslahatan umat. Hanya perlu diingat, bahwa yang dimaksud bukan berarti alquran merupakan ensiklopedi bagi seluruh ilmu, tetapi seperti yang dinyatakan oleh Syekh Nadim Al-Jisri, bahwa seluruh dasar atau prinsip hak dan khair, satu pun tak ada yang dialpakan oleh Alquran. kaitan dengan ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. berkata: "Alquran itu lahirnya indah, batinnya dalam, tidak pernah sirna keajaibannya, tidak pernah habis kegharibannya dan tidak pernah tersingkap tabir kegelapan kecuali dengannya."
Dalam membuka tabir kegelapan sain dan teknologi, Alquran sering mengambil term perintah tidak langsung, yaitu perintah ibadah. Jadi berorientasi problem (problem oriented). Misalnya, dengan perintah shalat yang di waktu-waktu, Alquran menjadi animator bagi Abu Yunus Al Misry untuk menemukan astrolobe yang sekaligus menuju perkembangan jam; dan Ibnu AlSyatir menemukan teori heliosentris jauh sebelum Copernicuss. Dengan perintah menghadap ka'bah waktu menjalankan shalat. Al Idrisy menemukan kompas. Dengan perintah hajj ke baitullah Abbas Bin Fernas Al Andalusy membuat kapal terbang jauh sebelum Wright bersaudara dari AS, yaitu dua ratus tahun setelah wafat Rasulullah saw.
(Dicuplik dari artikel Drs. Muchttob dengan judul "Relativitas Penafsiran Al-Qur'an Lewat Sains")
Baca Selengkapnya tentang Islam dan Ilmu Pengetahuan
Baca Selengkapnya tentang Islam dan Ilmu Pengetahuan
Bahasa Arab dan Timbul Tenggelamnya Peradaban Islam
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Bahasa Arab dan Ilmu Pengetahuan
oleh: Hakiki MahfuzhBahasa Arab adalah alat pembedah yang terbesar dalam sejarah pengembangan ilmu pengetahuan di dalam Islam. Puncak kejayaan Islam di bidang Ilmu Pengetahuan, terjadi pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid dari dinasti Abasyiyah. Bahasa Arab pada waktu itu tidak saja dipelajari oleh ummat Islam yang kitab sucinya diturunkan dengan bahasa tersebut, tetapi juga dipelajari oleh setiap orang yang berhasrat kepada ilmu pengetahuan dari berbagai sekte dan agama.
Untuk menangkap pesan-pesan Alquran sebagai kitab teks paradigmanya, maka kemampuan ummat Islam akan bahasa Arab sangat berpengaruh juga terhadap keberhasilan memahami ajaran-ajarannya. Oleh sebab itu, sebenarnya umat Islam baik bangsa Arab atau bukan (ajam), tidak dapat dipisahkan dengan bahasa Arab, sekalipun Arab tidak selamanya Islami.
Akar Sejarah
Tidak disangsikan, bahwa ummat Islam untuk mencapai pemikiran ilmiah dan filosofis, memperoleh inspirasi dari ayat-ayat Alquran. Banyak ayat Alquran yang mengisyaratkan kepada penggunaan akal ikiran dalam rangka pengembangan Ilmu Pengetahuan ini. Sebagai contoh, (QS. 2: 164, 219)(QS. 30: 21)(QS. 37: 138, 155) dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menyuruh untuk mempergunakan akal pikiran.Dalam sejarah, abad ke 6 -13 M merupakan babak kebangkitan ilmu pengetahuan, sekaligus bangkitnya suatu peradaban baru. Pada waktu itu Eropa sedang tenggelam dalam kegelap-gulitaan yang sangat pekat(The Dark Middleage). Mulai abad itu pula bermunculan para cendekiawan muslim dalam berbagai disiplin ilmu. Mereka mengadakan penafsiran dan justifikasi atas karya-karya besar sarjana Yunani, seperti: Plato, Socrates, Aristoteles, Democritos dan lainnya, sehingga bisa terungkap dan terpelihara dari kemungkinan dilupakan orang atau kepunahan. Kerja keras inilah yang pada akhirnya dapat membentuk satu bangunan khazanah intelektual muslim sendiri.
Para yuris yang tesis-tesis mereka sampai sekarang masih aktual dan mungkin sampai pada masa yang akan datang diwakili oleh: Ahmad bin Hanbal, Malik bin Annas, Abu Hanifah dan Syafi'ie (Empat aliran Mazhab).
Selain itu muncul, Al-Kindi, filsuf yang terkenal dengan teori keterhinggaan masa alamnya. AL Farabi, astronom dan matematikawan. AlKhawarizmi penggali teori aljabar. Ibnu Sina penulis terbesar tentang kedokteran (ALqanun fi attib = Canon). Az Zahel penemu peredaran planit. Ibnu Khaldun filsuf sejarah, ekonom, sosiolog, dan cendekiwan lainnya. Karya-karya mereka semua ditulis dalam bahasa arab.
Kejayaan ilmu pengetahuan mulai redup sinarnya dengan runtuhnya kota Baghdad(pusat ilmu pengetahuan di Timur) oleh Jengis Khan(1152-1227M). Kemudian semakin hancur di tangan cucunya Hulagu Khan (1217-1265M), yang dalam waktu singkat mendatangkan bencana ke seluruh dunia Islam. Kota-kota yang merupakan pusat ilmu pengetahuan dengan perpustakaan yang memuat literatur-literatur berbahasa Arab, dibumi-hanguskan.
Dampak dari jatuhnya kota Baghdad, berabad-abad dunia Islam merosot sampai akhirnya dibangunkan kembali oleh ekspedis napoleon Bonaparte. Rifa'ah Al-Tahtawi adalah orang yang cukup berjasa di awal kebangkitan kembali dunia Islam (Islamic Revivalisme).
Lalu Abad ke-18 lahir pembaharu dalam pemikiran Islam atas komando gerakan Wahabiyah yang disponsori oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab. Abad ke-19, muncul Jammaludin Al Afghani, berusaha dengan mengadakan purifikasi terhadap ajaran Islam yang waktu itu terjadi singkretis dengan ajaran lain. Temanya mengajak umat kembali kepada Alquran dan Hadis secara murni. Rosyid Ridho, juga demikian . Baru Muhammad Abduh, kembali mencuatkan penggunaan akal pikiran untuk mengembalikan ilmu pengetahuan dengan terobosan-terobosan baru melalui Al-Azhar.
Bahasa Arab kembali diperhatikan oleh dunia internasional, ketika seorang sastrawan berkebangsaan mesir, Naquib Mahfouz menerima hadiah nobel atas karya sastera Arabnya. Peristiwa ini merupakan pertama kalinya di dunia Arab dan dunia Islam lainnya, sesudah bahasa Arab tenggelam dari perhatian dunia Internasional.
(disadur dari Majalah Suara Masjid Juni 1993. Penulis adalah Mahasiswa Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga)
Wednesday, November 24, 2010
Kumpulan Hadits Tentang Tanda-Tanda Akan Terjadinya Hari Kiamat
Apa saja tanda-tanda telah dekat waktu kiamat? Dari hadist-hadist shahih kita bisa mendapatkan informasi mengenai tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat. Diantara tanda-tanda yang tersebut dalam hadist yaitu:
2.Ketika ilmu telah diangkat oleh Allah.Allah mematikan semua manusia yang berilmu. Sehingga tinggalah didunia orang-orang yang Jahil saja. Yaitu saat manusia tidak lagi memperdulikan tentang ilmu agama maupun kemanusian. Manusia sudah tidak ada lagi yang menyebut nama Allah. Manusia sudah terbiasa membunuh sampai-sampai tidak tahu lagi untuk apa dia membunuh. Dengan diangkatnya ilmu dari peradaban manusia, maka manusia berada pada posisi yang lebih rendah dari binatang. Mabuk-mabukan dan Zina menjadi kebiasan manusia.
3. Ketika manusia sudah bosan hidup. Tandanya setiap orang yang melewati suatu kuburan berdoa agar lekas mati lalu masuk kubur.
2. Matahari terbit dari barat
3. Waktu semakin cepat, sehari serasa sejam.
Tanda-tanda besar:
1. Turunnya Isa Al Masih
2. Munculnya Al masih Dajjal (dajjal terbesar). Sedangkan Dajjal kecil telah muncul sejak zaman Rasulullah saw, yaitu para pembohong yang mengaku nabi.
3. Turunya Ya'juj dan Ma'juj
4. Terjadi perang besar antara 2 bangsa yang paling besar.
Terlepas dari tanda-tanda kiamat tersebut, sebenarnya yang lebih patut kita selalu ingat adalah kiamat kecil yang selalu menghampiri manusia yaitu kematian. Kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan mati. Mungkin banyak diantara kita menyaksikan keluarga, teman atau tetangga yang tiba-tiba meninggal dunia, padahal beberapa jam sebelumnya masih sempat bersenda gurau dengan kita.Dan yang pasti kita semua akan mati. Orang yang beriman yakin bahwa setelah kematian akan ada kehidupan setelahnya. Sehingga sebelum kematian itulah kita harus telah mengumpulkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.
Tanda-tanda dari kehidupan manusia
1. Ketika manusia kesulitan mencari orang yang akan diberi zakat atau sedekah dari hartanya. Ini menandakan suatu masa ketika manusia telah mencapai kemakmurannya. Semua manusia telah memberantas kemiskinan. Kemiskinan telah terhapus dari dunia.2.Ketika ilmu telah diangkat oleh Allah.Allah mematikan semua manusia yang berilmu. Sehingga tinggalah didunia orang-orang yang Jahil saja. Yaitu saat manusia tidak lagi memperdulikan tentang ilmu agama maupun kemanusian. Manusia sudah tidak ada lagi yang menyebut nama Allah. Manusia sudah terbiasa membunuh sampai-sampai tidak tahu lagi untuk apa dia membunuh. Dengan diangkatnya ilmu dari peradaban manusia, maka manusia berada pada posisi yang lebih rendah dari binatang. Mabuk-mabukan dan Zina menjadi kebiasan manusia.
3. Ketika manusia sudah bosan hidup. Tandanya setiap orang yang melewati suatu kuburan berdoa agar lekas mati lalu masuk kubur.
![]() |
| ilustrasi |
Tanda-tanda dari Alam:
1. Sering terjadi gempa dan bencana Alam2. Matahari terbit dari barat
3. Waktu semakin cepat, sehari serasa sejam.
Tanda-tanda besar:
1. Turunnya Isa Al Masih
2. Munculnya Al masih Dajjal (dajjal terbesar). Sedangkan Dajjal kecil telah muncul sejak zaman Rasulullah saw, yaitu para pembohong yang mengaku nabi.
3. Turunya Ya'juj dan Ma'juj
4. Terjadi perang besar antara 2 bangsa yang paling besar.
Terlepas dari tanda-tanda kiamat tersebut, sebenarnya yang lebih patut kita selalu ingat adalah kiamat kecil yang selalu menghampiri manusia yaitu kematian. Kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan mati. Mungkin banyak diantara kita menyaksikan keluarga, teman atau tetangga yang tiba-tiba meninggal dunia, padahal beberapa jam sebelumnya masih sempat bersenda gurau dengan kita.Dan yang pasti kita semua akan mati. Orang yang beriman yakin bahwa setelah kematian akan ada kehidupan setelahnya. Sehingga sebelum kematian itulah kita harus telah mengumpulkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.
Hadits Shahih Bukhari: Tanda Kiamat
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُ صَدَقَتَهُ وَحَتَّى يَعْرِضَهُ فَيَقُولَ الَّذِي يَعْرِضُهُ عَلَيْهِ لَا أَرَبَ لِي
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ النَّبِيلُ أَخْبَرَنَا سَعْدَانُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُجَاهِدٍ حَدَّثَنَا مُحِلُّ بْنُ خَلِيفَةَ الطَّائِيُّ قَالَ سَمِعْتُ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ
كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا يَشْكُو الْعَيْلَةَ وَالْآخَرُ يَشْكُو قَطْعَ السَّبِيلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا قَطْعُ السَّبِيلِ فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكَ إِلَّا قَلِيلٌ حَتَّى تَخْرُجَ الْعِيرُ إِلَى مَكَّةَ بِغَيْرِ خَفِيرٍ وَأَمَّا الْعَيْلَةُ فَإِنَّ السَّاعَةَ لَا تَقُومُ حَتَّى يَطُوفَ أَحَدُكُمْ بِصَدَقَتِهِ لَا يَجِدُ مَنْ يَقْبَلُهَا مِنْهُ ثُمَّ لَيَقِفَنَّ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْ اللَّهِ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ حِجَابٌ وَلَا تَرْجُمَانٌ يُتَرْجِمُ لَهُ ثُمَّ لَيَقُولَنَّ لَهُ أَلَمْ أُوتِكَ مَالًا فَلَيَقُولَنَّ بَلَى ثُمَّ لَيَقُولَنَّ أَلَمْ أُرْسِلْ إِلَيْكَ رَسُولًا فَلَيَقُولَنَّ بَلَى فَيَنْظُرُ عَنْ يَمِينِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ ثُمَّ يَنْظُرُ عَنْ شِمَالِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ فَلْيَتَّقِيَنَّ أَحَدُكُمْ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ الْحَجَّاجِ بْنِ حَجَّاجٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي عُتْبَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُحَجَّنَّ الْبَيْتُ وَلَيُعْتَمَرَنَّ بَعْدَ خُرُوجِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ
تَابَعَهُ أَبَانُ وَعِمْرَانُ عَنْ قَتَادَةَ وَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ شُعْبَةَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُحَجَّ الْبَيْتُ وَالْأَوَّلُ أَكْثَرُ سَمِعَ قَتَادَةُ عَبْدَ اللَّهِ وَعَبْدُ اللَّهِ أَبَا سَعِيدٍ
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا الْيَهُودَ حَتَّى يَقُولَ الْحَجَرُ وَرَاءَهُ الْيَهُودِيُّ يَا مُسْلِمُ هَذَا يَهُودِيٌّ وَرَائِي فَاقْتُلْهُ
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ الْأَعْرَجِ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا التُّرْكَ صِغَارَ الْأَعْيُنِ حُمْرَ الْوُجُوهِ ذُلْفَ الْأُنُوفِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ
حَدَّثَنِي يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا خُوزًا وَكَرْمَانَ مِنْ الْأَعَاجِمِ حُمْرَ الْوُجُوهِ فُطْسَ الْأُنُوفِ صِغَارَ الْأَعْيُنِ وُجُوهُهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ
تَابَعَهُ غَيْرُهُ عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ
حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ فَيَكُونَ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا رَآهَا النَّاسُ آمَنَ مَنْ عَلَيْهَا فَذَاكَ حِينَ
{ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ }
أَخْبَرَنَا دَاوُدُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ أَخْبَرَنَا أَنَسٌ قَالَ
لَأُحَدِّثَنَّكُمْ حَدِيثًا لَا يُحَدِّثُكُمُوهُ أَحَدٌ بَعْدِي سَمِعْتُهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ وَإِمَّا قَالَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِلْخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُ صَدَقَتَهُ وَحَتَّى يَعْرِضَهُ فَيَقُولَ الَّذِي يَعْرِضُهُ عَلَيْهِ لَا أَرَبَ لِي
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ النَّبِيلُ أَخْبَرَنَا سَعْدَانُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُجَاهِدٍ حَدَّثَنَا مُحِلُّ بْنُ خَلِيفَةَ الطَّائِيُّ قَالَ سَمِعْتُ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ
كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا يَشْكُو الْعَيْلَةَ وَالْآخَرُ يَشْكُو قَطْعَ السَّبِيلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا قَطْعُ السَّبِيلِ فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكَ إِلَّا قَلِيلٌ حَتَّى تَخْرُجَ الْعِيرُ إِلَى مَكَّةَ بِغَيْرِ خَفِيرٍ وَأَمَّا الْعَيْلَةُ فَإِنَّ السَّاعَةَ لَا تَقُومُ حَتَّى يَطُوفَ أَحَدُكُمْ بِصَدَقَتِهِ لَا يَجِدُ مَنْ يَقْبَلُهَا مِنْهُ ثُمَّ لَيَقِفَنَّ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْ اللَّهِ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ حِجَابٌ وَلَا تَرْجُمَانٌ يُتَرْجِمُ لَهُ ثُمَّ لَيَقُولَنَّ لَهُ أَلَمْ أُوتِكَ مَالًا فَلَيَقُولَنَّ بَلَى ثُمَّ لَيَقُولَنَّ أَلَمْ أُرْسِلْ إِلَيْكَ رَسُولًا فَلَيَقُولَنَّ بَلَى فَيَنْظُرُ عَنْ يَمِينِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ ثُمَّ يَنْظُرُ عَنْ شِمَالِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ فَلْيَتَّقِيَنَّ أَحَدُكُمْ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ الْحَجَّاجِ بْنِ حَجَّاجٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي عُتْبَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُحَجَّنَّ الْبَيْتُ وَلَيُعْتَمَرَنَّ بَعْدَ خُرُوجِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ
تَابَعَهُ أَبَانُ وَعِمْرَانُ عَنْ قَتَادَةَ وَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ شُعْبَةَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُحَجَّ الْبَيْتُ وَالْأَوَّلُ أَكْثَرُ سَمِعَ قَتَادَةُ عَبْدَ اللَّهِ وَعَبْدُ اللَّهِ أَبَا سَعِيدٍ
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا الْيَهُودَ حَتَّى يَقُولَ الْحَجَرُ وَرَاءَهُ الْيَهُودِيُّ يَا مُسْلِمُ هَذَا يَهُودِيٌّ وَرَائِي فَاقْتُلْهُ
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ الْأَعْرَجِ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا التُّرْكَ صِغَارَ الْأَعْيُنِ حُمْرَ الْوُجُوهِ ذُلْفَ الْأُنُوفِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ
حَدَّثَنِي يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا خُوزًا وَكَرْمَانَ مِنْ الْأَعَاجِمِ حُمْرَ الْوُجُوهِ فُطْسَ الْأُنُوفِ صِغَارَ الْأَعْيُنِ وُجُوهُهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ
تَابَعَهُ غَيْرُهُ عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ
حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ فَيَكُونَ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا رَآهَا النَّاسُ آمَنَ مَنْ عَلَيْهَا فَذَاكَ حِينَ
{ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ }
أَخْبَرَنَا دَاوُدُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ أَخْبَرَنَا أَنَسٌ قَالَ
لَأُحَدِّثَنَّكُمْ حَدِيثًا لَا يُحَدِّثُكُمُوهُ أَحَدٌ بَعْدِي سَمِعْتُهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ وَإِمَّا قَالَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِلْخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ
Hadits Shahih Muslim: Tanda Kiamat
حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ اللَّهُ اللَّهُ
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا طَلَعَتْ مِنْ مَغْرِبِهَا آمَنَ النَّاسُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ فَيَوْمَئِذٍ
{ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا }
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَدْعُو الرَّجُلُ ابْنَ عَمِّهِ وَقَرِيبَهُ هَلُمَّ إِلَى الرَّخَاءِ هَلُمَّ إِلَى الرَّخَاءِ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَخْرُجُ مِنْهُمْ أَحَدٌ رَغْبَةً عَنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ فِيهَا خَيْرًا مِنْهُ أَلَا إِنَّ الْمَدِينَةَ كَالْكِيرِ تُخْرِجُ الْخَبِيثَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَنْفِيَ الْمَدِينَةُ شِرَارَهَا كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِيَّ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو
و حَدَّثَنِي أُمَيَّةُ بْنُ بِسْطَامَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا رَوْحٌ عَنْ سُهَيْلٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَزَادَ فَقَالَ أَبِي إِنْ رَأَيْتَهُ فَلَا تَقْرَبَنَّهُ
حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي ابْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ح و حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ جَدِّي حَدَّثَنِي عُقَيْلُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّهُ قَالَ قَالَ ابْنُ الْمُسَيَّبِ أَخْبَرَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا و قَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ حَوْلَ ذِي الْخَلَصَةِ وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدُهَا دَوْسٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ بِتَبَالَةَ
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ
و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَخْرُجَ رَجُلٌ مِنْ قَحْطَانَ يَسُوقُ النَّاسَ بِعَصَاهُ
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لِابْنِ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ اللَّهُ اللَّهُ
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا طَلَعَتْ مِنْ مَغْرِبِهَا آمَنَ النَّاسُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ فَيَوْمَئِذٍ
{ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا }
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَدْعُو الرَّجُلُ ابْنَ عَمِّهِ وَقَرِيبَهُ هَلُمَّ إِلَى الرَّخَاءِ هَلُمَّ إِلَى الرَّخَاءِ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَخْرُجُ مِنْهُمْ أَحَدٌ رَغْبَةً عَنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ فِيهَا خَيْرًا مِنْهُ أَلَا إِنَّ الْمَدِينَةَ كَالْكِيرِ تُخْرِجُ الْخَبِيثَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَنْفِيَ الْمَدِينَةُ شِرَارَهَا كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِيَّ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو
و حَدَّثَنِي أُمَيَّةُ بْنُ بِسْطَامَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا رَوْحٌ عَنْ سُهَيْلٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَزَادَ فَقَالَ أَبِي إِنْ رَأَيْتَهُ فَلَا تَقْرَبَنَّهُ
حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي ابْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ح و حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ جَدِّي حَدَّثَنِي عُقَيْلُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّهُ قَالَ قَالَ ابْنُ الْمُسَيَّبِ أَخْبَرَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا و قَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ حَوْلَ ذِي الْخَلَصَةِ وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدُهَا دَوْسٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ بِتَبَالَةَ
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ
و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَخْرُجَ رَجُلٌ مِنْ قَحْطَانَ يَسُوقُ النَّاسَ بِعَصَاهُ
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لِابْنِ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ
Mendidik Anak Agar Mengenal Allah
Mendidik anak merupakan kewajiban setiap orang tua. Baik dan buruknya akhlak anak, tergantung pada budi pekerti yang ditanamkan oleh orang tua. Anak adalah amanat bagi kedua orang tua dan hatinya yang suci merupakan potensi dasar bagi perkembangan akhlak yang baik.
Apabila ia dididik dan dibiasakan pada kebaikan, maka ia akan tumbuh dengan kebaikan itu, dan insyaAllah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika dibiasakan untuk berbuat kejahatan serta dibiarkan tanpa pengawasan, pendidikan dan pengarahan dari orang tua, maka ia akan berperangai dan berperilaku buruk.
Apabila ia dididik dan dibiasakan pada kebaikan, maka ia akan tumbuh dengan kebaikan itu, dan insyaAllah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika dibiasakan untuk berbuat kejahatan serta dibiarkan tanpa pengawasan, pendidikan dan pengarahan dari orang tua, maka ia akan berperangai dan berperilaku buruk.
Sebagai panduan bagaimana orang tua maupun guru dalam mendidik anak menjadi anak yang sholeh, buku dengan judul 'Ayo Mengenal Allah' dapat dan layak menjadi rujukan.
Judul buku: Ayo Mengenal Allah (Pendekatan Psikologis Bagi Anak).
Penulis: Sutrisna Sumadi dan Rafi'udin
Penerbit: PT. Mutiara Sumber Widya
Tahun : 2002
Hadits-hadits Larangan Meramal dan mempercayainya
Kumpulan Hadits Larangan Meramal dan Mempercayainya
Dalam hadits-hadits berikut disebutkan bahwa ramalan adalah salah satu dari perbuatan yang dilarang dalam Islam. Seseorang yang mendatangi peramal lalu membenarkan (mempercayainya) akan mengakibatkan tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari (dalam matan yang lain disebutkan "sungguh telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW).Kepada Nabi saw. ditanyakan tentang peramal nasib, Nabi menjawab," Mereka tidak punya kudrat sedikitpun". Para sahabat masih mengemukakan:" Tetapi sewaktu-waktu mereka menyampaikan sesuatu perkara dan nantinya terbukti benar". Rasulullah menjelaskan bahwa para syetan saling mendukung sesama mereka sehingga sampai ke al'Anan untuk mendengarkan para malaikat membicarakan perintah Allah.
Mengenai upaya syetan untuk mendengar perintah Allah tersebut, dijelaskan dalam QS.As Shaffat Yaitu:
) وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ (7) لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَى وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ (8) دُحُورًا وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ (9) إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ
7. dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, 8. syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.
9. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal,
10. akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.
Shahih Bukhori
بَاب الْكِهَانَةِ
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي امْرَأَتَيْنِ مِنْ هُذَيْلٍ اقْتَتَلَتَا فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى بِحَجَرٍ فَأَصَابَ بَطْنَهَا وَهِيَ حَامِلٌ فَقَتَلَتْ وَلَدَهَا الَّذِي فِي بَطْنِهَا فَاخْتَصَمُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى أَنَّ دِيَةَ مَا فِي بَطْنِهَا غُرَّةٌ عَبْدٌ أَوْ أَمَةٌ فَقَالَ وَلِيُّ الْمَرْأَةِ الَّتِي غَرِمَتْ كَيْفَ أَغْرَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ لَا شَرِبَ وَلَا أَكَلَ وَلَا نَطَقَ وَلَا اسْتَهَلَّ فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ امْرَأَتَيْنِ رَمَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى بِحَجَرٍ فَطَرَحَتْ جَنِينَهَا فَقَضَى فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِغُرَّةٍ عَبْدٍ أَوْ وَلِيدَةٍ وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي الْجَنِينِ يُقْتَلُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ بِغُرَّةٍ عَبْدٍ أَوْ وَلِيدَةٍ فَقَالَ الَّذِي قُضِيَ عَلَيْهِ كَيْفَ أَغْرَمُ مَا لَا أَكَلَ وَلَا شَرِبَ وَلَا نَطَقَ وَلَا اسْتَهَلَّ وَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ
نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاسٌ عَنْ الْكُهَّانِ فَقَالَ لَيْسَ بِشَيْءٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَا أَحْيَانًا بِشَيْءٍ فَيَكُونُ حَقًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنْ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا مِنْ الْجِنِّيِّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ فَيَخْلِطُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ
قَالَ عَلِيٌّ قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ مُرْسَلٌ الْكَلِمَةُ مِنْ الْحَقِّ ثُمَّ بَلَغَنِي أَنَّهُ أَسْنَدَهُ بَعْدَهُ
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي امْرَأَتَيْنِ مِنْ هُذَيْلٍ اقْتَتَلَتَا فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى بِحَجَرٍ فَأَصَابَ بَطْنَهَا وَهِيَ حَامِلٌ فَقَتَلَتْ وَلَدَهَا الَّذِي فِي بَطْنِهَا فَاخْتَصَمُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى أَنَّ دِيَةَ مَا فِي بَطْنِهَا غُرَّةٌ عَبْدٌ أَوْ أَمَةٌ فَقَالَ وَلِيُّ الْمَرْأَةِ الَّتِي غَرِمَتْ كَيْفَ أَغْرَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ لَا شَرِبَ وَلَا أَكَلَ وَلَا نَطَقَ وَلَا اسْتَهَلَّ فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ امْرَأَتَيْنِ رَمَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى بِحَجَرٍ فَطَرَحَتْ جَنِينَهَا فَقَضَى فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِغُرَّةٍ عَبْدٍ أَوْ وَلِيدَةٍ وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي الْجَنِينِ يُقْتَلُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ بِغُرَّةٍ عَبْدٍ أَوْ وَلِيدَةٍ فَقَالَ الَّذِي قُضِيَ عَلَيْهِ كَيْفَ أَغْرَمُ مَا لَا أَكَلَ وَلَا شَرِبَ وَلَا نَطَقَ وَلَا اسْتَهَلَّ وَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ
نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاسٌ عَنْ الْكُهَّانِ فَقَالَ لَيْسَ بِشَيْءٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَا أَحْيَانًا بِشَيْءٍ فَيَكُونُ حَقًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنْ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا مِنْ الْجِنِّيِّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ فَيَخْلِطُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ
قَالَ عَلِيٌّ قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ مُرْسَلٌ الْكَلِمَةُ مِنْ الْحَقِّ ثُمَّ بَلَغَنِي أَنَّهُ أَسْنَدَهُ بَعْدَهُ
Shahih Muslim
بَاب تَحْرِيمِ الْكَهَانَةِ وَإِتْيَانِ الْكُهَّانِ
و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْكُهَّانَ كَانُوا يُحَدِّثُونَنَا بِالشَّيْءِ فَنَجِدُهُ حَقًّا قَالَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ الْحَقُّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقْذِفُهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ وَيَزِيدُ فِيهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ
حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَعْيَنَ حَدَّثَنَا مَعْقِلٌ وَهُوَ ابْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ عُرْوَةَ أَنَّهُ سَمِعَ عُرْوَةَ يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ
سَأَلَ أُنَاسٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْكُهَّانِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسُوا بِشَيْءٍ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ أَحْيَانًا الشَّيْءَ يَكُونُ حَقًّا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنْ الْجِنِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ قَرَّ الدَّجَاجَةِ فَيَخْلِطُونَ فِيهَا أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ
و حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَ رِوَايَةِ مَعْقِلٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى الْعَنَزِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ صَفِيَّةَ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
و حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْكُهَّانَ كَانُوا يُحَدِّثُونَنَا بِالشَّيْءِ فَنَجِدُهُ حَقًّا قَالَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ الْحَقُّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقْذِفُهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ وَيَزِيدُ فِيهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ
حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَعْيَنَ حَدَّثَنَا مَعْقِلٌ وَهُوَ ابْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ عُرْوَةَ أَنَّهُ سَمِعَ عُرْوَةَ يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ
سَأَلَ أُنَاسٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْكُهَّانِ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسُوا بِشَيْءٍ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ أَحْيَانًا الشَّيْءَ يَكُونُ حَقًّا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنْ الْجِنِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ قَرَّ الدَّجَاجَةِ فَيَخْلِطُونَ فِيهَا أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ
و حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَ رِوَايَةِ مَعْقِلٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى الْعَنَزِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ صَفِيَّةَ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Musnad Ahmad
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عَوْفٍ قَالَ حَدَّثَنَا خِلَاسٌ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَالْحَسَنِ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ صَفِيَّةَ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ لَمْ يُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ صَفِيَّةَ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ لَمْ يُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا
Shahih Ibnu Hiban
كتاب الكهانة والسحر
أخبرنا أبو عروبة ، حدثنا محمد ، وعبدان الحراني ، قالا : حدثنا الحسن بن محمد بن أعين ، حدثنا معقل بن عبيد الله ، عن الزهري ، أخبرني يحيى بن عروة ، أنه سمع عروة ، يقول : قالت عائشة : سأل أناس رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الكهان (1) ، فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ليسوا بشيء » ، قالوا : يا رسول الله ، إنهم يحدثون أحيانا بالشيء يكون حقا قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « تلك الكلمة من الجن يحفظها ، فيقذفها في أذن وليه ، فيخلطون فيها أكثر من مائة كذبة »
__________
(1) الكاهن : الذي يتعاطى الخبر عن الكائنات في مستقبل الزمان ويدعي معرفة الأسرار
أخبرنا أبو عروبة ، حدثنا محمد ، وعبدان الحراني ، قالا : حدثنا الحسن بن محمد بن أعين ، حدثنا معقل بن عبيد الله ، عن الزهري ، أخبرني يحيى بن عروة ، أنه سمع عروة ، يقول : قالت عائشة : سأل أناس رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الكهان (1) ، فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ليسوا بشيء » ، قالوا : يا رسول الله ، إنهم يحدثون أحيانا بالشيء يكون حقا قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « تلك الكلمة من الجن يحفظها ، فيقذفها في أذن وليه ، فيخلطون فيها أكثر من مائة كذبة »
__________
(1) الكاهن : الذي يتعاطى الخبر عن الكائنات في مستقبل الزمان ويدعي معرفة الأسرار
Ciri Cendekiawan Bernafaskan Islam
Dalam Istilah Alquran, cendekiawan yang bernafaskan Islam disebut dengan istilah Ulul-Albab. Yakni mereka yang mempunyai akal, daya pikir, daya tanggap yang peka, daya banding yang tajam, daya analisa yang tepat, daya cipta yang orisinil, dan semua itu dalam rangka bertakwa kepada Allah SWT.
Belasan ayat Alquran memanggil daya observasi ulul-albab supaya memperhatikan apa yang terjadi dalam lingkungannya, dari lingkungan yang dekat sampai lingkungan yang luas di luar angkasa. Untuk menanggapi segala nikmat Ilahi di penjuru alam semesta, di atas dan di dalam bumi yang penuh berisikan sumber rizki. Menanggapi langit yang gemerlap dihiasi oleh matahari, bulan dan bintang. Menanggapi pertukaran malam dan siang, meneliti dan merenungkan kejadian bumi dan langit.
Belasan ayat Alquran memanggil daya observasi ulul-albab supaya memperhatikan apa yang terjadi dalam lingkungannya, dari lingkungan yang dekat sampai lingkungan yang luas di luar angkasa. Untuk menanggapi segala nikmat Ilahi di penjuru alam semesta, di atas dan di dalam bumi yang penuh berisikan sumber rizki. Menanggapi langit yang gemerlap dihiasi oleh matahari, bulan dan bintang. Menanggapi pertukaran malam dan siang, meneliti dan merenungkan kejadian bumi dan langit.
Semua itu dinamakan "tanda-tanda kebesaran Ilahi untuk ulul-albaab". Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang Ulul Albaab, Yaitu mereka yang mengingat Allah sambil berdiri, sedang duduk dan berbaring, dan merenungkan tentang penciptaan langit dan bumi, (sambil berkata) "Wahai Rabb kami, Engkau tidak jadikan itu semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah mereka dari azab neraka". (ali-Imran 190-191).
Begitulah reaksi seorang Ulul-Albaab atau Cendekiwan yang bernafaskan Islam setelah menyaksikan, memikirkan dan merenungkan apa yang ada dan berlaku di sekelilingnya sebagai tanda kebesaran Ilahi.
(Dicuplik kemudian disadur dari Ceramah Mohammad Natsir yang dipublikasikan dalam majalah Suara Masjid bulan Agustus 1989)
Monday, November 22, 2010
Apa itu Generasi Ulil Albaab?
Setidaknya dalam Alquran, kata Ulil Albaab dapat dijumpai dalam 7 ayat, yaitu dalam Albaqarah ayat 197 dan 179, Ali Imran ayat 7 dan 190, Almaidah ayat 100, Ibrahim ayat 52, ArRa'd 19.
Dalam kitab tafsir Jalalain, kata ulil albaab diartikan sebagai orang-orang yang berakal. Sedangkan dalam tafsir abd. Rahim Haris ulil albaab berarti orang yang mempergunakan akalnya secara sempurna. Dari ayat-ayat tersebut dapat dipahami bahwa yang dapat mengerti, memahami dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah swt adalah ulil albaab.
Dalam kitab tafsir Jalalain, kata ulil albaab diartikan sebagai orang-orang yang berakal. Sedangkan dalam tafsir abd. Rahim Haris ulil albaab berarti orang yang mempergunakan akalnya secara sempurna. Dari ayat-ayat tersebut dapat dipahami bahwa yang dapat mengerti, memahami dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah swt adalah ulil albaab.
Ulil albaab adalah orang-orang yang mempergunakan nalarnya untuk memikirkan dan merenungkan bukti-bukti ciptaan Allah yang kemudian dari bukti itu dijadikan sebagai ilmu pengetahuan untuk mengenal Allah, yang hasilnya menjabarkan ilmu dalam bentuk amal perbuatan sehari-hari sesuai tuntunan Allah.
Rahim Haris menjelaskan bahwa ulil albaab adalah insan-insan pemikir dan cendekiawan-cendekiawan yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
- Zikrullah (selalu mengingat Allah)
- Tafakur Terhadap ciptaan Allah
- Tunduk Kepada Allah
- Mencari ridhi Ilahi
(sumber: SM 1989, hlm.31)
Pentingnya Semangat Ulil-Albaab Bagi Kemajuan Islam
Alkisah, setiap subuh seperti biasanya, Bilal mengumandangkan azdan di Masjid Nabawi. Begitu terdengar adzan biasanya Rasulullah saw akan segera masuk masjid. Tetapi pada suatu subuh sekalipun adzan telah selesai, Nabi belum juga muncul di masjid, sehingga membuat Bilal bertanya-tanya. Setelah menunggu beberapa saat, Nabi tak muncul, maka Bilal pun pergi ke rumah Nabi yang terletak di samping masjid itu.
Setelah tiga kali, tak terdengar jawaban, Bilal mencoba membuka pintu karena khawatir nabi saw sakit. Pintu pun terbuka, dan didapatinya Nabi sedang menangis. Air matanya menetes melalui pipinya. Karuan saja Bilal menjadi kaget dan bertanya kalau-kalau Nabi sakit. Tapi nabi menggelengkan kepala. "Tapi kenapa Engkau menangis ya Rasulullah?" desak Bilal. Rasul pun menjawab, bahwasanya barusan telah turun ayat, yang kalau direnungkan, kata Nabi, mampu mengubah dunia ini.
Ayat yang dimaksud Nabi itu, kini tertulis di dalam Alqur`an surat Ali-Imran ayat 190 dan seterusnya. Dua ayat 190-191:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata,"Ya Rabb kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."
Menurut ahli sejarah, para ilmuwan muslim terdahulu giat melakukan penelitian dan pencarian ilmu terdorong oleh ayat tersebut. Sehingga ditemukanlah sejumlah ilmu alam modern seperti matematika, fisika, optik dan sebagainya yang didorong oleh ayat tersebut.
Dengan semangat mengamalkan perintah Allah, ilmuwan muslim generasi awal telah melahirkan ilmu-ilmu baru, disamping menterjemahkan ilmu-ilmu yang ada ke dalam bahasa Arab seraya membersihkan unsur syirik dan takhayulnya. Dunia pun menemukan dirinya dalam peradaban Islam yang gemilang.
Pada masa ini, semangat ulil-albaab itu perlu direaktualisasikan kembali perannya. Semua ilmuwan muslim hendaklah menjadi Ulil-Albaab dalam rangka mengejar ketertinggalannya dalam bidang iptek dari negara yang lebih maju. Sebab sesungguhnya ethos keilmuwan muslim sesungguhnya terletak pada karakter sang ulil albaab ini yang tajam daya pikirnya sekaligus kuat zikirnya.
(Dicuplik dari SM 1994)
Setelah tiga kali, tak terdengar jawaban, Bilal mencoba membuka pintu karena khawatir nabi saw sakit. Pintu pun terbuka, dan didapatinya Nabi sedang menangis. Air matanya menetes melalui pipinya. Karuan saja Bilal menjadi kaget dan bertanya kalau-kalau Nabi sakit. Tapi nabi menggelengkan kepala. "Tapi kenapa Engkau menangis ya Rasulullah?" desak Bilal. Rasul pun menjawab, bahwasanya barusan telah turun ayat, yang kalau direnungkan, kata Nabi, mampu mengubah dunia ini.
Ayat yang dimaksud Nabi itu, kini tertulis di dalam Alqur`an surat Ali-Imran ayat 190 dan seterusnya. Dua ayat 190-191:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata,"Ya Rabb kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."
Menurut ahli sejarah, para ilmuwan muslim terdahulu giat melakukan penelitian dan pencarian ilmu terdorong oleh ayat tersebut. Sehingga ditemukanlah sejumlah ilmu alam modern seperti matematika, fisika, optik dan sebagainya yang didorong oleh ayat tersebut.
Dengan semangat mengamalkan perintah Allah, ilmuwan muslim generasi awal telah melahirkan ilmu-ilmu baru, disamping menterjemahkan ilmu-ilmu yang ada ke dalam bahasa Arab seraya membersihkan unsur syirik dan takhayulnya. Dunia pun menemukan dirinya dalam peradaban Islam yang gemilang.
Pada masa ini, semangat ulil-albaab itu perlu direaktualisasikan kembali perannya. Semua ilmuwan muslim hendaklah menjadi Ulil-Albaab dalam rangka mengejar ketertinggalannya dalam bidang iptek dari negara yang lebih maju. Sebab sesungguhnya ethos keilmuwan muslim sesungguhnya terletak pada karakter sang ulil albaab ini yang tajam daya pikirnya sekaligus kuat zikirnya.
(Dicuplik dari SM 1994)
Psikologi Beragama: Jadikan Hidup Lebih Santun
Dalam beragama tidak bisa dihindari dan dipungkiri bahwa kita akan berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini sesungguhnya modal bagi terciptanya kehidupan yang lebih hidup. Penuh dinamika. Meskipun, pada kenyataannya banyak di antara kita yang saling membenci, mencaci bahkan memusuhi, hanya karena berbeda keyakinan atau pandangan.
Cara kita menjalankan agama, akan mempengaruhi cara kita menjalani kehidupan. Di sinilah tantangan kita, umat beragama, untuk bisa menghadirkan agama yang mampu menjadikan hidup ini lebih nyaman dan santun. Bagaimana caranya?
Jawaban dari pertanyaan tersebut disajikan dengan bagus dalam buku yang berjudul: Psikologi Beragama (Menjadikan Hidup Lebih Nyaman dan Santun), yang ditulis oleh Komaruddin Hidayat, seorang penulis bestseller buku: Psikologi Kematian. Buku ini diterbitkan oleh Hikmah (PT Mizan Publika) tahun 2007.
"Agama bisa buas di tangan manusia yang menjadikan doktrin atau ideologi tertutup, apalagi senjata pembunuh. Padahal agama adalah penawar rasa dan penumbuh iman. Ia mampu membentuk pengertian serta cinta kepada sesama yang mengangkat peradaban." (Putu Wijaya)
Cara kita menjalankan agama, akan mempengaruhi cara kita menjalani kehidupan. Di sinilah tantangan kita, umat beragama, untuk bisa menghadirkan agama yang mampu menjadikan hidup ini lebih nyaman dan santun. Bagaimana caranya?
Jawaban dari pertanyaan tersebut disajikan dengan bagus dalam buku yang berjudul: Psikologi Beragama (Menjadikan Hidup Lebih Nyaman dan Santun), yang ditulis oleh Komaruddin Hidayat, seorang penulis bestseller buku: Psikologi Kematian. Buku ini diterbitkan oleh Hikmah (PT Mizan Publika) tahun 2007.
"Agama bisa buas di tangan manusia yang menjadikan doktrin atau ideologi tertutup, apalagi senjata pembunuh. Padahal agama adalah penawar rasa dan penumbuh iman. Ia mampu membentuk pengertian serta cinta kepada sesama yang mengangkat peradaban." (Putu Wijaya)
Friday, November 19, 2010
PERAN RISET DI DIVISI NEWS TRANS TV
Apakah riset itu?
Secara umum, riset dapat dirumuskan sebagai pencarian pengetahuan atau setiap penyelidikan sistematis terhadap fakta-fakta yang ada.
Riset adalah proses mengumpulkan, menganalisis, dan menerjemahkan informasi atau data secara sistematis, untuk menambah pemahaman kita terhadap suatu fenomena tertentu yang menarik perhatian kita.
Dilihat dari jenis data yang diolah, ada dua jenis riset:
Riset primer: Mengumpulkan data yang sebelumnya tidak ada. Data itu, misalnya, dikumpulkan dari subyek riset dan hasil eksperimen.
Riset sekunder: Merangkum, membandingkan, dan atau mensintesiskan hasil riset yang sudah ada. Artinya, riset sekunder itu memanfaatkan hasil riset primer.
Dalam ilmu-ilmu sosial dan kemudian juga dalam disiplin-disiplin lain, dua metode riset berikut ini dapat diterapkan, tergantung pada hal-hal yang menjadi materi subyek, serta tujuan diadakannya riset tersebut.
Riset kualitatif (memahami perilaku manusia dan alasan-alasan yang menentukan perilaku tersebut)
Riset kuantitatif (penyelidikan empiris yang sistematis terhadap hal-hal dan fenomena yang bersifat kuantitatif, serta hubungan-hubungan di antara mereka).
Mengapa riset penting?
Dalam konteks kerja jurnalistik di media elektronik, seperti Trans TV, riset menjadi penting karena berbagai manfaat yang dapat diperoleh:
1. Menambah pemahaman kita terhadap sebuah topik.
2. Mempermudah menentukan arah dan sudut pandang peliputan.
3. Menjadi pemandu bagi kita dalam memulai peliputan.
4. Menjadi alat pembantu dalam pengambilan gambar.
Jenis-jenis riset di Divisi News Trans TV
Dilihat dari pihak yang melakukan riset, secara garis besar terdapat dua macam riset yang dilakukan di Divisi News Trans TV. Dua macam riset ini berbeda dalam hal-hal yang diriset, jenis data yang diolah, dan tujuan diadakannya riset tersebut.
Pertama, riset yang dilakukan oleh staf RCD (Research Creative Development).
Kedua, riset yang dilakukan oleh para pengelola program di masing-masing program, baik bulletin maupun magazine. Pengelola program di sini bisa produser, asisten produser, reporter, camera person, atau PA (production assistant).
Riset oleh Staf RCD
Riset yang dilakukan oleh staf RCD secara umum bertujuan mendukung kinerja Divisi News dalam pencapaian target rating/share, yang telah ditetapkan oleh pimpinan Trans TV. Target rating/share itu sendiri biasanya diputuskan dalam rapat kerja tahunan Trans TV. RCD juga diminta mengevaluasi dan membantu pengembangan program yang sudah ada, serta perencanaan program-program baru.
Mempertimbangkan tujuan tersebut, maka yang dijadikan obyek riset oleh staf RCD adalah kinerja setiap program, yang bernaung di bawah Divisi News.
Ukuran keberhasilan tiap program ini sangat jelas dan terukur, yaitu besarnya angka rating/share yang diperoleh. Data rating/share semua program ini secara berkala dipasok oleh lembaga pemeringkat dari luar, yakni AGB Nielsen Media Research Indonesia, kepada Trans TV (dan stasiun-stasiun TV lain) selaku klien.
Dengan demikian, riset yang dilakukan oleh staf RCD pada dasarnya adalah riset sekunder, karena RCD tidak menghitung sendiri angka rating/share tersebut. Data rating/share yang diolah RCD adalah hasil riset/survei yang sudah ada, yang dilakukan oleh AGB Nielsen.
Untuk setiap program, pertanyaan yang bisa diajukan, misalnya:
Mengapa rating/share program itu naik? Mengapa pula turun?
Apakah kenaikan atau penurunan rating/share itu lebih dipengaruhi faktor internal (kemasan atau kualitas tayangan) atau faktor eksternal (tayangan TV kompetitor)?
Jika lebih dipengaruhi faktor internal, apa saja yang mempengaruhi? (pilihan host, talent, nara sumber, kualitas gambar, slot penayangan, narasi, alur cerita, pilihan lagu/backsound, pilihan topik/tema, dan sebagainya)
Pembenahan apa saja yang bisa dilakukan, untuk memperbaiki kinerja program tersebut di masa mendatang?
Tayangan program seperti apa, yang tampaknya menjadi tren atau sedang digemari khalayak penonton?
Dan lain-lain.
Riset oleh Pengelola Program
Riset yang dilakukan oleh pengelola program terutama bertujuan mendukung kinerja program bersangkutan, dalam pencapaian target rating/share yang telah ditetapkan pimpinan Divisi News Trans TV. Jadi, cakupannya lebih terbatas ketimbang riset yang dilakukan staf RCD.
Karena tujuan yang sifatnya lebih terbatas tersebut, obyek riset pengelola program umumnya adalah hal-hal konkret, yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan operasional liputan. Ini terutama dirasakan untuk program-program magazine.
Hal-hal konkret itu, misalnya:
Dukungan content untuk pemilihan topik liputan episodik yang tepat, yang disesuaikan dengan segmen penonton yang dituju pada slot program bersangkutan.
Pemilihan narasumber, host, talent yang tepat, yang diperkirakan akan menghasilkan paket tayangan yang berkualitas.
Informasi untuk pemilihan lokasi dan waktu liputan yang tepat. Termasuk di sini perhitungan waktu, biaya, teknis-peralatan yang dibutuhkan, gangguan cuaca, dan potensi-potensi permasalahan lain di lapangan.
Logikanya, jika dukungan content lengkap dan pelaksanaan operasional liputan dapat berlangsung dengan baik, hal ini akan menghasilkan materi liputan yang memadai dan gambar yang baik. Hal-hal terebut akan berdampak pada kualitas program/tayangan yang dibuat (post-production), dan pada akhirnya, hasilnya akan tercermin pada angka rating/share program tersebut. Angka rating/share akan tinggi manakala penonton puas dengan tayangan tersebut.
Seperti juga riset yang dilakukan staf RCD, sebagian besar riset yang dilakukan pengelola program adalah riset sekunder. Informasi atau data yang dikumpulkan, dirangkum, diolah, dan dianalisis, adalah data yang tersedia secara meluas, terbuka, dan prinsipnya bisa diakses siapa saja di media massa. Data itu bisa diperoleh antara lain dari suratkabar, majalah, brosur, buku, situs web, blog, siaran pers, dan sebagainya.
Berkat perkembangan yang pesat dari media online, mayoritas riset yang dilakukan adalah secara online (banyak media cetak yang juga sudah go online). Selain praktis, riset semacam ini juga murah, menghemat banyak biaya dan waktu, dan tidak memerlukan mobilitas pengelola media.
Hasil penjelajahan dari berbagai situs, surat kabar, atau info lain dirangkum menjadi outline atau TOR liputan, yang berisi latar belakang masalah, arah liputan, kebutuhan gambar dan grafis, serta nara sumber yang diperlukan.
Tentu saja, tidak semua hal bisa diriset melalui media online. Tak jarang, media online hanya menyediakan informasi yang terbatas, sehingga pengelola program harus mencari tambahan informasi dari sumber-sumber lain.
Atau, bisa jadi juga, media online menyediakan informasi lama yang belum di-update, sehingga informasi itu tidak sesuai dengan kondisi lapangan, dan tidak bisa diandalkan.
Ketika sebuah situs kuliner pada tahun 2008 memberitakan tentang sebuah restoran A, yang menyediakan menu istimewa B, bisa jadi restoran itu sekarang sudah tutup dan penutupannya tidak diberitakan. Kalau tanpa mengecek lebih dahulu, si reporter langsung tergesa-gesa berangkat meliput, bisa jadi dia hanya membuang-buang waktu, uang, dan tenaga secara sia-sia, karena terpaksa pulang tanpa hasil.
Ada beberapa langkah, yang bisa dilakukan untuk mengatasi kekurangan informasi di media online itu, antara lain:
(1) Meminta bantuan kontributor atau koresponden Trans TV di daerah, untuk mengecek atau mengkonfirmasikan informasi tertentu. Mereka juga bisa diminta bantuan untuk membuat janji liputan dengan nara sumber, dan sebagainya.
(2) Menggunakan jasa tenaga fixer. Fixer adalah orang luar, bukan karyawan Trans TV, yang menawarkan jasa untuk membantu sebuah liputan. Mereka biasanya sudah punya kontak dengan beberapa nara sumber tertentu di daerah domisilinya, dan bisa membantu mencarikan nara sumber yang tepat untuk liputan topik-topik tertentu. Tentu saja, jasa ini harus dibayar (menambah biaya liputan).
(3) Melakukan riset lapangan sendiri untuk melihat lokasi, menemui dan mewawancarai nara sumber (pra-liputan), mengecek biaya operasional, kebutuhan alat, dan sebagainya. Melakukan riset lapangan sendiri adalah yang terbaik, sebab reporter dan camera person adalah yang paling tahu tentang topik liputan dan konsep tayangan yang mau dibuat.
Contoh riset oleh pengelola program:
Liputan untuk program Jelang Siang (magazine). Program ini berdurasi 30 menit, terbagi dalam 3 segmen, masing-masing segmen sekitar 7 menit (diselingi oleh dua commercial break, yang total break memakan durasi sekitar 9 menit).
Format program sudah jelas, yakni tiap segmen akan membahas isu yang berbeda, namun ada benang merah yang menghubungkan setiap segmen, sehingga setiap episode tampil secara utuh.
Misalnya, sudah dipilih topik tentang wisata di Aceh.
Segmen 1: Lokasi dan obyek wisata di Aceh.
Segmen 2: Kerajinan/seni budaya Aceh.
Segmen 3: Kuliner khas Aceh.
Nah, dari arahan yang sudah jelas ini, periset langsung mencari obyek wisata, kerajinan/seni budaya, dan kuliner yang akan diliput, serta nara sumber di Aceh yang bisa dihubungi. Tugas liputan semacam ini relatif sederhana, nara sumbernya juga terbuka dan mudah diakses, sehingga tidak terlalu membutuhkan bantuan koresponden atau fixer.
Sebaliknya, bantuan akan dibutuhkan untuk liputan yang lebih rumit dan berisiko, misalnya, liputan investigatif tentang peredaran senjata ilegal atau jaringan peredaran ganja di Aceh.
Jakarta, November 2010
Satrio Arismunandar HP: 081908199163
Produser Eksekutif, Divisi News Trans TV
Secara umum, riset dapat dirumuskan sebagai pencarian pengetahuan atau setiap penyelidikan sistematis terhadap fakta-fakta yang ada.
Riset adalah proses mengumpulkan, menganalisis, dan menerjemahkan informasi atau data secara sistematis, untuk menambah pemahaman kita terhadap suatu fenomena tertentu yang menarik perhatian kita.
Dilihat dari jenis data yang diolah, ada dua jenis riset:
Riset primer: Mengumpulkan data yang sebelumnya tidak ada. Data itu, misalnya, dikumpulkan dari subyek riset dan hasil eksperimen.
Riset sekunder: Merangkum, membandingkan, dan atau mensintesiskan hasil riset yang sudah ada. Artinya, riset sekunder itu memanfaatkan hasil riset primer.
Dalam ilmu-ilmu sosial dan kemudian juga dalam disiplin-disiplin lain, dua metode riset berikut ini dapat diterapkan, tergantung pada hal-hal yang menjadi materi subyek, serta tujuan diadakannya riset tersebut.
Riset kualitatif (memahami perilaku manusia dan alasan-alasan yang menentukan perilaku tersebut)
Riset kuantitatif (penyelidikan empiris yang sistematis terhadap hal-hal dan fenomena yang bersifat kuantitatif, serta hubungan-hubungan di antara mereka).
Mengapa riset penting?
Dalam konteks kerja jurnalistik di media elektronik, seperti Trans TV, riset menjadi penting karena berbagai manfaat yang dapat diperoleh:
1. Menambah pemahaman kita terhadap sebuah topik.
2. Mempermudah menentukan arah dan sudut pandang peliputan.
3. Menjadi pemandu bagi kita dalam memulai peliputan.
4. Menjadi alat pembantu dalam pengambilan gambar.
Jenis-jenis riset di Divisi News Trans TV
Dilihat dari pihak yang melakukan riset, secara garis besar terdapat dua macam riset yang dilakukan di Divisi News Trans TV. Dua macam riset ini berbeda dalam hal-hal yang diriset, jenis data yang diolah, dan tujuan diadakannya riset tersebut.
Pertama, riset yang dilakukan oleh staf RCD (Research Creative Development).
Kedua, riset yang dilakukan oleh para pengelola program di masing-masing program, baik bulletin maupun magazine. Pengelola program di sini bisa produser, asisten produser, reporter, camera person, atau PA (production assistant).
Riset oleh Staf RCD
Riset yang dilakukan oleh staf RCD secara umum bertujuan mendukung kinerja Divisi News dalam pencapaian target rating/share, yang telah ditetapkan oleh pimpinan Trans TV. Target rating/share itu sendiri biasanya diputuskan dalam rapat kerja tahunan Trans TV. RCD juga diminta mengevaluasi dan membantu pengembangan program yang sudah ada, serta perencanaan program-program baru.
Mempertimbangkan tujuan tersebut, maka yang dijadikan obyek riset oleh staf RCD adalah kinerja setiap program, yang bernaung di bawah Divisi News.
Ukuran keberhasilan tiap program ini sangat jelas dan terukur, yaitu besarnya angka rating/share yang diperoleh. Data rating/share semua program ini secara berkala dipasok oleh lembaga pemeringkat dari luar, yakni AGB Nielsen Media Research Indonesia, kepada Trans TV (dan stasiun-stasiun TV lain) selaku klien.
Dengan demikian, riset yang dilakukan oleh staf RCD pada dasarnya adalah riset sekunder, karena RCD tidak menghitung sendiri angka rating/share tersebut. Data rating/share yang diolah RCD adalah hasil riset/survei yang sudah ada, yang dilakukan oleh AGB Nielsen.
Untuk setiap program, pertanyaan yang bisa diajukan, misalnya:
Mengapa rating/share program itu naik? Mengapa pula turun?
Apakah kenaikan atau penurunan rating/share itu lebih dipengaruhi faktor internal (kemasan atau kualitas tayangan) atau faktor eksternal (tayangan TV kompetitor)?
Jika lebih dipengaruhi faktor internal, apa saja yang mempengaruhi? (pilihan host, talent, nara sumber, kualitas gambar, slot penayangan, narasi, alur cerita, pilihan lagu/backsound, pilihan topik/tema, dan sebagainya)
Pembenahan apa saja yang bisa dilakukan, untuk memperbaiki kinerja program tersebut di masa mendatang?
Tayangan program seperti apa, yang tampaknya menjadi tren atau sedang digemari khalayak penonton?
Dan lain-lain.
Riset oleh Pengelola Program
Riset yang dilakukan oleh pengelola program terutama bertujuan mendukung kinerja program bersangkutan, dalam pencapaian target rating/share yang telah ditetapkan pimpinan Divisi News Trans TV. Jadi, cakupannya lebih terbatas ketimbang riset yang dilakukan staf RCD.
Karena tujuan yang sifatnya lebih terbatas tersebut, obyek riset pengelola program umumnya adalah hal-hal konkret, yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan operasional liputan. Ini terutama dirasakan untuk program-program magazine.
Hal-hal konkret itu, misalnya:
Dukungan content untuk pemilihan topik liputan episodik yang tepat, yang disesuaikan dengan segmen penonton yang dituju pada slot program bersangkutan.
Pemilihan narasumber, host, talent yang tepat, yang diperkirakan akan menghasilkan paket tayangan yang berkualitas.
Informasi untuk pemilihan lokasi dan waktu liputan yang tepat. Termasuk di sini perhitungan waktu, biaya, teknis-peralatan yang dibutuhkan, gangguan cuaca, dan potensi-potensi permasalahan lain di lapangan.
Logikanya, jika dukungan content lengkap dan pelaksanaan operasional liputan dapat berlangsung dengan baik, hal ini akan menghasilkan materi liputan yang memadai dan gambar yang baik. Hal-hal terebut akan berdampak pada kualitas program/tayangan yang dibuat (post-production), dan pada akhirnya, hasilnya akan tercermin pada angka rating/share program tersebut. Angka rating/share akan tinggi manakala penonton puas dengan tayangan tersebut.
Seperti juga riset yang dilakukan staf RCD, sebagian besar riset yang dilakukan pengelola program adalah riset sekunder. Informasi atau data yang dikumpulkan, dirangkum, diolah, dan dianalisis, adalah data yang tersedia secara meluas, terbuka, dan prinsipnya bisa diakses siapa saja di media massa. Data itu bisa diperoleh antara lain dari suratkabar, majalah, brosur, buku, situs web, blog, siaran pers, dan sebagainya.
Berkat perkembangan yang pesat dari media online, mayoritas riset yang dilakukan adalah secara online (banyak media cetak yang juga sudah go online). Selain praktis, riset semacam ini juga murah, menghemat banyak biaya dan waktu, dan tidak memerlukan mobilitas pengelola media.
Hasil penjelajahan dari berbagai situs, surat kabar, atau info lain dirangkum menjadi outline atau TOR liputan, yang berisi latar belakang masalah, arah liputan, kebutuhan gambar dan grafis, serta nara sumber yang diperlukan.
Tentu saja, tidak semua hal bisa diriset melalui media online. Tak jarang, media online hanya menyediakan informasi yang terbatas, sehingga pengelola program harus mencari tambahan informasi dari sumber-sumber lain.
Atau, bisa jadi juga, media online menyediakan informasi lama yang belum di-update, sehingga informasi itu tidak sesuai dengan kondisi lapangan, dan tidak bisa diandalkan.
Ketika sebuah situs kuliner pada tahun 2008 memberitakan tentang sebuah restoran A, yang menyediakan menu istimewa B, bisa jadi restoran itu sekarang sudah tutup dan penutupannya tidak diberitakan. Kalau tanpa mengecek lebih dahulu, si reporter langsung tergesa-gesa berangkat meliput, bisa jadi dia hanya membuang-buang waktu, uang, dan tenaga secara sia-sia, karena terpaksa pulang tanpa hasil.
Ada beberapa langkah, yang bisa dilakukan untuk mengatasi kekurangan informasi di media online itu, antara lain:
(1) Meminta bantuan kontributor atau koresponden Trans TV di daerah, untuk mengecek atau mengkonfirmasikan informasi tertentu. Mereka juga bisa diminta bantuan untuk membuat janji liputan dengan nara sumber, dan sebagainya.
(2) Menggunakan jasa tenaga fixer. Fixer adalah orang luar, bukan karyawan Trans TV, yang menawarkan jasa untuk membantu sebuah liputan. Mereka biasanya sudah punya kontak dengan beberapa nara sumber tertentu di daerah domisilinya, dan bisa membantu mencarikan nara sumber yang tepat untuk liputan topik-topik tertentu. Tentu saja, jasa ini harus dibayar (menambah biaya liputan).
(3) Melakukan riset lapangan sendiri untuk melihat lokasi, menemui dan mewawancarai nara sumber (pra-liputan), mengecek biaya operasional, kebutuhan alat, dan sebagainya. Melakukan riset lapangan sendiri adalah yang terbaik, sebab reporter dan camera person adalah yang paling tahu tentang topik liputan dan konsep tayangan yang mau dibuat.
Contoh riset oleh pengelola program:
Liputan untuk program Jelang Siang (magazine). Program ini berdurasi 30 menit, terbagi dalam 3 segmen, masing-masing segmen sekitar 7 menit (diselingi oleh dua commercial break, yang total break memakan durasi sekitar 9 menit).
Format program sudah jelas, yakni tiap segmen akan membahas isu yang berbeda, namun ada benang merah yang menghubungkan setiap segmen, sehingga setiap episode tampil secara utuh.
Misalnya, sudah dipilih topik tentang wisata di Aceh.
Segmen 1: Lokasi dan obyek wisata di Aceh.
Segmen 2: Kerajinan/seni budaya Aceh.
Segmen 3: Kuliner khas Aceh.
Nah, dari arahan yang sudah jelas ini, periset langsung mencari obyek wisata, kerajinan/seni budaya, dan kuliner yang akan diliput, serta nara sumber di Aceh yang bisa dihubungi. Tugas liputan semacam ini relatif sederhana, nara sumbernya juga terbuka dan mudah diakses, sehingga tidak terlalu membutuhkan bantuan koresponden atau fixer.
Sebaliknya, bantuan akan dibutuhkan untuk liputan yang lebih rumit dan berisiko, misalnya, liputan investigatif tentang peredaran senjata ilegal atau jaringan peredaran ganja di Aceh.
Jakarta, November 2010
Satrio Arismunandar HP: 081908199163
Produser Eksekutif, Divisi News Trans TV
Thursday, November 18, 2010
Bersedekah Dengan Melestarikan Alam - Hadits
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
مامن مسلم يغرس غرسا أو يزرع فيأكل منه طير أو إنسان أو بهيمة الا كان له به صدقة
(متفق عليه)
Artinya:
Rasulullah saw bersabda: "Tidaklah seorang muslim yang menancapkan batang pohon atau menanam suatu tanaman, kemudian (buah/hasilnya) dimakan oleh burung atau manusia atau binatang, melainkan (pekerjaan itu) menjadi sedekah bagainya." (HR. Bukhari Muslim)
Hadits tersebut di atas mendorong umat Islam untuk melakukan suatu usaha yang mengandung manfaat, walaupun nampaknya hanya pekerjaan yang kecil dan sepele.
Melestarikan lingkungan dalam rangka memakmurkan bumi adalah perbuatan terpuji dan bernilai tinggi di sisi Allah. Hal yang paling pokok dari setiap usaha manusia, hendaknya berdasarkan iman sehingga memperoleh nilai ibadah yakni kebaikan dunia dan akherat sekaligus.
Sebagaimana pepatah jawa:
Kalau kita menanam padi maka kita akan menuai padi dan rumputnya, tetapi siapa yang menanam rumput jangan berharap akan menuai padi.
(Sumber: Suara Masjid 1989)
Baca Juga: Hadits-hadits perintah melestarikan alam
Aktualisasi Hukum Islam - Buku
Bagaimanakah kondisi dan situasi hukum Islam dalam kehidupan umat Islam pada masa kini? Pertanyaan in penting, menurut hemat penulisnya, untuk mengingatkan terutama umat Islam sendiri tentang realita empiris kontemporer dari hukum Islam. Kebanyakan umat Islam lebih tertarik dan berbicara pada tataran ideal, ius constituendum, hukum yang dicitakan. Banyak umat Islam menyimpulkan betapa baiknya apa yang diidealkan sebagai 'hukum ekonomi Islam', namun ketika ditanya dimanakah hal itu dapat ditemukan di muka bumi ini, jawabannya kemungkinan besar adalah pengakuan bahwa itulah yang sedang diperjuangkan.
Perjuangan untuk mewujudkan dan membumikan hukum Islam inilah yang menjadi fokus dan perhatian umat Islam. Bagaimana itu dapat dilakukan, disinilah istilah aktualisasi itu muncul dan menjadi signifikan. Bagi mereka yang mengusung ide aktualisasi adalah suatu kenyataan bahwa 'hukum Islam' pada saat ini, karena banyak faktor telah menjadi tidak aktual, outdated, ketinggalan zaman, hingga tidak menjawab tuntutan masyarakat kini dan menjawab tantangan zaman sekarang.
Buku yang berjudul "Aktualisasi Hukum Islam Tekstual dan Kontekstual" ini merupakan kumpulan tulisan berbagai tokoh. Berbagai tulisan dalam buku ini mencoba menyinggung sebagian dari faktor-faktor yang menjadi sebab 'Hukuk Islam' tidak aktual di zaman ini.
Judul Buku: Aktualisasi Hukum Islam Tekstual dan Kontekstual
Penyusun: Dr. Akhmad Mujahidin, M.Ag
Penerbit: Program Pasca Sarjana UIN SUSKA RIAU
Tahun: 2007
Thursday, November 11, 2010
Joke Politik - SBY dan Obama di Jamuan Kenegaraan
Pada hari pertama kunjungannya ke Indonesia, Obama dan istrinya Michelle dijamu oleh SBY, dalam jamuan kenegaraan di Istana Merdeka. Acara itu dihadiri banyak pejabat tinggi kedua negara. Sesuai protokoler diplomatik, sebelum santapan, Obama berdiri dan memberi sambutan singkat. Ia berterimakasih atas keramah-tamahan tuan rumah, dan lalu sedikit menyinggung masa kecilnya, yang sempat dihabiskan di Menteng, Jakarta.
Sesudah Obama duduk kembali, kini giliran SBY. Namun, berbeda dengan Obama yang cuma berbasa-basi singkat, SBY tidak sadar keasyikan bercerita panjang. Mulai dari pengalamannya ikut kursus kemiliteran di Fort Benning, sampai sekolah komando di Fort Leavenworth, Kansas, AS. Juga, tentang anaknya, Kapten Agus Harimurti, yang sekarang juga disekolahkan di AS.
Michelle, yang mulai jemu dan gelisah, berbisik pada suaminya: ”Aduuhh, kenapa sih dia bercerita panjang lebar begitu? Aku sudah kelaparan nih!”
Obama balas berbisik pada istrinya: ”Ssst, sudah bagus dia tidak mengajak kita menyanyi bersama. Kamu ’kan tahu, aku sama sekali nggak hapal lagu-lagu karangannya!” ***
Sesudah Obama duduk kembali, kini giliran SBY. Namun, berbeda dengan Obama yang cuma berbasa-basi singkat, SBY tidak sadar keasyikan bercerita panjang. Mulai dari pengalamannya ikut kursus kemiliteran di Fort Benning, sampai sekolah komando di Fort Leavenworth, Kansas, AS. Juga, tentang anaknya, Kapten Agus Harimurti, yang sekarang juga disekolahkan di AS.
Michelle, yang mulai jemu dan gelisah, berbisik pada suaminya: ”Aduuhh, kenapa sih dia bercerita panjang lebar begitu? Aku sudah kelaparan nih!”
Obama balas berbisik pada istrinya: ”Ssst, sudah bagus dia tidak mengajak kita menyanyi bersama. Kamu ’kan tahu, aku sama sekali nggak hapal lagu-lagu karangannya!” ***
Tuesday, November 9, 2010
Paradigma Integrasi-Interkoneksi dalam Memahami Hadis Nabi (buku)
Kajian teks keagamaan dewasa ini sesungguhnya tidak bisa berdiri sendiri, melainkan perlu melibatkan disiplin ilmu lain, sebab problem sosial keagamaan semakin komleks, sementara Islam yang bersumber dari ajaran Alquran dan hadis harus juga berdialog dengan realitas dan perkembangan zaman. Oleh sebab itu, paradigma interkoneksi keilmuan menjadi sebuah keniscayaan sejarah, sehingga analisis dan kesimpulan yang diambil dari teks keagamaan (baca: Alquran dan Hadis) bisa lebih dialektis dan komprehensif, serta akomodatif terhadap perkembangan masyarakat.
Dalam buku ini, penulisnya mencoba memberikan tawaran baru, bagaimana cara memahami hadis (fiqh al hadis) dengan paradigma integrasi interkoneksi, yakni pendekatan sosiologis, historis dan antropologis, disertai dengan contoh masing-masing.
Judul buku: Paradigma Integrasi-Interkoneksi dalam Memahami Hadis Nabi
Penulis: Dr. Abdul Mustaqim, M.Ag., DKK
Penerbit: TERAS, Yogyakarta
Tahun : 2009
Dalam buku ini, penulisnya mencoba memberikan tawaran baru, bagaimana cara memahami hadis (fiqh al hadis) dengan paradigma integrasi interkoneksi, yakni pendekatan sosiologis, historis dan antropologis, disertai dengan contoh masing-masing.
Penulis: Dr. Abdul Mustaqim, M.Ag., DKK
Penerbit: TERAS, Yogyakarta
Tahun : 2009








