Monday, December 27, 2010

Mengajari Anak Menjadi Kreatif Dengan Paper Modeling

Kreatif tidak datang dengan sendirinya. Kreatif memerlukan latihan yang cukup panjang. Agar anak menjadi kreatif perlu diberikan latihan-latihan untuk menjadikannya ke arah kreatif. Salah satu alternatif menjadikan anak kreatif adalah dengan mengajari anak agar membuat mainannya sendiri. Jangan biasakan untuk membelikan mainan yang instan.

Dengan selembar kertas, ajari anak untuk membuat mainannya. Latihlah anak untuk membuat paper modeling. Download template papar model berikut ini, lalu print dengan kertas minimal A4 80 gram. Siapkan gunting dan lem. Bimbing anak agar memotong setiap bagian dari gambar yang telah diprint, lalu bimbing juga untuk merangkainya.


Cara Membuat paper modeling:


1.Print Gambar dan siapkan Cutter, Gunting, Lem.














2. Potong Bagian demi bagian
















3. Rangkai tiap bagian

















Berikut adalah beberapa contoh hasil dari paper modeling yang dibuat oleh para paper modeler.






Sunday, December 26, 2010

Cara Memprediksi Minat Bakat Anak Kita

Keberhasilan anak dalam menjalani kehidupan adalah dambaan setiap orangtua. Sebagai orang tua sudah seharusnya untuk mendukung dan mendorong anak agar melakukan kegiatan yang positif.

Mengetahui minat dan bakat anak adalah salah satu upaya orang tua sebagai bentuk dukungannya terhadap anak. Dengan mengetahui atau memprediksi minat dan bakat anak, orang tua akan lebih mudah mengarahkan dan membimbing anak sesuai dengan pribadinya, sehingga anak akan terarah langkahnya sesuai dengan minat dan bakatnya.

Untuk mengetahui "siapa" anak kita tidaklah gampang. Ini adalah sebuah proses. Dengan mengetahui sejak dini minat, bakat dan kapasitas anak-anak kita, sebagai orang tua maupun guru kita tentu saja akan sangat terbantu dalam mendukung keberhasilan mereka.

Untuk memprediksi arah minat anak Silahkan download file berikut ini, Ikuti langkah-langkah dan penjelasannya.




Sunday, December 19, 2010

Game Quraish, Upaya Merubah Imej Buruk Islam

Pernahkah Anda mendengar game yang satu ini? Game Quraish, bisa dibilang game strategi versi Islam. Diproduksi untuk menyaingin pola permainan versi Barat. Kini, sebuah perusahaan video game mulai memproduksi permainan yang menceritakan sejarah Islam. Game tersebut digulirkan sebagai alternatif dari game asal Barat yang umumnya mengkonotasikan kaum Muslim dan simbol-simbol Arab dengan ekstrimisme dan kekerasan.

Afkar Media, perusahaan yang memproduk permainan ini menyebutkan bahwa game ini dinamakan Al-Quraisy mengambil nama kabilah yang merupakan kabilah Rasulullah saw. Afkar Media yang berkedudukan di Damaskus juga menyebutkan, “Permainan ini rencananya mulai bisa didapatkan di pasaran pada bulan September yang akan datang. Ini adalah permainan strategi yang menceritakan kisah ratusan tahun pertama dalam sejarah Islam, yang melibatkan empat kelompok yakni kelompok Badui, Arab, Persia dan Romawi.


Informasi yang ditulis oleh Christian Science Monitor edisi Senin (6/5) menyebutkan, permainan ini mempunyai sejumlah opsi. Antara lain, si pemain bisa menjadi pemimpin salah satu pasukan dari empat kelompok tersebut, atau memilih menjadi salah satu tokoh sejarah terkenal dalam fase dakwah Islam pertama. Misi yang dikejar oleh pemain adalah, membangun jalan perdagangan, mencari sumber air dan mengamankannya, membangun pasukan dan mengatur strategi perang, serta membebaskan para tawanan.

Video game Al-Quraisy adalah satu di antara permainan yang sudah dipasarkan di Timur Tengah, dan merupakan sarana yang cepat memberi pengaruh pada pemikiran penggunanya. Ridhwan Qashimiya, Direktur Afkar Media mengatakan, “Permainan Al-Quraish ini akan membantu masyarakat barat untuk memahami rekan mereka di Timur. Melalui permainan ini kami ingin menjelaskan bahwa peradaban seperti ini memang pernah ada sebagai peradaban yang real dan berdasarkan ketuhanan.”

Sebelum ini, telah ada video game serupa dengan judul Tahta Al-Hishar (Di bawah Embargo). Menurut produsernya, seperti dikutip Christian Science Monitor, strategi permainan ini adalah untuk mengimbangi sejumlah permainan video game produk Barat. Isinya tentang penggambaran pertikaian di Palestina dari sudut pandang kaum Muslimin dan bangsa Arab. Sejumlah nama tokoh Arab dan Islam juga ada dalam game tersebut.

Game ini diawali dengan pemandangan seorang warga Israel Baruch Goldstein yang telah membunuh 27 orang Palestina yang sedang shalat di masjid Al-Haram Al-Ibrahimy, Al-khalil, pada 25 Februari 1994. Goldstein digambarkan sedang tertawa saat melontarkan tembakan ke arah masjid hingga menewaskan jamaah shalat subuh yang sedang sujud. Ketika itulah, seorang pemuda Palestina bernama Ahmad merebut senjata Goldstein dan berlangsunglah perang melawan Israel.
(Copas dari: http://blackyellows.multiply.com/)


Bagi Anda yang mau mencoba mungkin bisa mendownload file game ini lewat link berikut ini, hasil browsing search engine. Tapi kami tidak menjamin apakah link ini masih aktif atau tidak.

http://rapidshare.com/files/268822275/Quraish.part1.rar
http://rapidshare.com/files/268821487/Quraish.part2.rar
http://rapidshare.com/files/268822644/Quraish.part3.rar
http://rapidshare.com/files/268822340/Quraish.part4.rar
http://rapidshare.com/files/268821485/Quraish.part5.rar
http://rapidshare.com/files/268831464/Quraish.part6.rar
http://rapidshare.com/files/268830561/Quraish.part7.rar

Game Islam Mewarnai (Untuk Anak-anak)

Game Online Anak Mewarnai

Keterangan: Ini adalah sebuah game online untuk balita. Game ini mengajarkan anak untuk mewarnai sebuah objek. Dengan game ini diharapkan anak lebih berkembang dalam hal pencitraan dan komposisi warna. Pilih Warna di bagian bawah. Klik kiri mouse.


Siapa Snouck Hurgronje dan Apa Pengaruhnya di Nusantara

Umat Islam Indonesia sudah pasti tidak pernah lupa nama Snouck Hurgronje, sehingga para cendekiawan (Muslim) yang sering berpikiran aneh dan skeptis terhadap Islam dan Ummat Islam dengan cepat saja oleh kalangan masyarakat Islam disebut sebagai anak buah Snouck Hurgronye.

Sebagai kolonialis (penjajah), pemerintah Belanda memerlukan Inlandsch politiek yakni kebijaksanaan mengenai pribumi. Selama ini memang pemerintah Kolonial Belanda menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar penduduk Nusantara adalah beragama Islam.

Adanya pelbagai perlawanan terhadap pemerintah penjajah dinilai tidak lepas sikap yang terkandung dalam ajaran Islam. Munculnya perlawanan seperti Paderi yang dipelopori oleh Imam Bonjol (1821-1827), perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh dengan tampilnya Tjoet Nyak Dien, Teuku Umar (1873-1830) suatu bukti bahwa perlawan terhadap Belanda yang tampil adalah tokoh-tokoh yang taat beragama Islam, yang oleh orang Belanda disebut fanatik.

Wednesday, December 15, 2010

Pengaruh Orientalisme: Islam sebagai 'Kambing Hitam'

Akses Orientalisme tidak hanya dalam bidang pemikiran, tetapi juga berbagai kebijaksanaan Pemerintahan Barat, media massa, Penerbitan dan Perguruan Tinggi secara menyeluruh. Bahkan untuk memuluskan pemikiran mereka agar diterima tidak jarang cara-cara teror dilakukan. Di dalam bukunya, Covering Islam, How The Media and the Experts Determine, How We See the rest of the World, Edward Said menulis begitu panjang lebar bagaimana Barat dengan segenap perangkat yang ada melakukan penjungkirbalikan terhadap Dunia Islam secara menyeluruh.

Dalam buku tersebut Edward secara spesifik mengangkat isu-isu komtemporer, yakni tanggapan-tanggapan Barat umumnya dan Amerika Serikat khususnya terhadap perasaan dunia Islam sejak permulaan tahun tujuh puluhan hingga 1981.

Bagi Edward, yang juga seorang orientalis Barat, ada satu konsensus tentang “Islam”, semacam kambing hitam untuk pola-pola politik, sosial dan ekonomi dunia yang baru yang kebetulan tidak kita sukai.

Baca Selengkapnya Artikel ini dalam PDF.

Tuesday, December 14, 2010

DZIKIR KEPADA ALLAH

Para pengunjung situs yang dimuliakan Allah SWT, di dalam Alqur^an Allah SWT menghendaki kita untuk menjadi orang yang MUFARRIDUN, yakni orang yang selalu mengingat Allah SWT di manapun kita berada dan dalam keadaan apapun.

Allah berFirman di dalam Surat Al-Ahzab 41-42 : "Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan Dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya setiap pagi dan petang."

Kemudian Rosululloh SAW juga bersabda di dalam Hadits sebagai berikut : "Maukah aku beritahukan kepada kalian amalan yang paling baik dan paling suci di mata Raja (=Allah) kalian, dan lebih baik daripada menginfakkan emas dan uang serta lebih baik daripada berperang di Jalan Allah ?" Yaitu : Dzikir kepada Allah SWT".

Lebih lanjut di dalam Hadits-hadits Rosululloh SAW diterangkan Bacaan-bacaan dan Faedah bacaan tersebut bagi kita sebagai manusia yang beriman, yakni diantaranya sebagai berikut :

1. Barang Siapa yang membaca : "Subhanallah, Walhamdulillah, Walaailaahaillallah, Wallahu Akbar", maka orang itu akan ditanamkan oleh Allah SWT pohon buah-buahan yang banyak di dalam Syurga.

2. Barang Siapa yang membaca : "Subhanallah Wabihamdih" sebanyak 100 kali, maka orang itu akan dihapuskan dosa-dosanya sebanyak buih yang ada di lautan.

3. Barang Siapa yang membaca : "Asyhadu An-Laailaahaillallah, Wahdahu Lasyariikalah Wa-asyhadu anna Muhammadan 'Abduhu Warosuuluh", maka orang itu akan dibukakan 8 Pintu Syurga, sehingga ia dapat masuk syurga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.

4. Barang Siapa yang membaca : "Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah", maka orang itu dibukakan salah satu pintu Syurga untuknya.

5. Barang Siapa yang membaca : "Asyhadu An-Laailaahaillallah", maka orang itu diberikan Kunci Syurga oleh Allah SWT.

6. Barang Siapa yang membaca : "Laa Ilaaha Illallah Al-Malikul Haqqul Mubiin", maka orang itu apabila meninggal dunia ia tidak akan merasa seram di dalam kubur (=alam barzakh), sehingga ia aman dan sentosa di dalam kubur.

7. Barang Siapa yang membaca : Sayyidul Istighfar yaitu "Allahumma Anta Robbi Laailahailla Anta Kholaqtani Wa ana 'Abduka Wa ana 'Ala 'Ahdika Wawa'dika Mastatho'tu A'udzubika Min Syarrima Shona'tu Abu ulaka Bini'matika 'Alaiyya Wa abu-u Bidzambi Faghfirli Fainnahu Laa Yaghfirudz Dzunuba Illa Anta", maka :

a. Jika dibaca siang hari (sesudah Subuh), kemudian ia meninggal dunia sebelum Sore (sebelum 'Ashar), maka ia pasti akan termasuk "Ahli Syurga".

b. Jika dibaca malam hari (sesudah Maghrib), kemudian ia meninggal dunia sebelum pagi (sebelum Subuh), maka ia pasti akan termasuk "Ahli Syurga".

8. Barang Siapa yang membaca : "Alhamdulillah", akan dipenuhi timbangan Amal Solehnya.

9. Barang Siapa yang membaca : "Allahumma Sholli 'Ala Muhammad Wa 'Ala Aali Muhammad Wa 'Ala Ahli Baitihi" sebanyak 100 kali setiap hari, maka akan didatangkan/dikabulkan kepada orang itu sebanyak 70 hajat (maksud - niat - atau do'a mengenai hal-hal dunia) segera di dunia ini, dan di datangkan/dikabulkan kepada orang itu sebanyak 30 hajat (maksud - niat - atau do'a tentang akhirat) di akhirat kelak.

10. Barang Siapa yang membaca : Sholawat Nariyah sebanyak 11 kali setiap hari sesudah Sholat 'Ashar, maka akan dimurahkan, dilapangkan dan dilimpahkan Rezekinya di dunia ini dengan tiada putus-putusnya, serta diberikan Rezeki yang berlimpah pula di Akhirat kelak.

Friday, December 3, 2010

PARLEMEN IBLIS

Di dalam sejarah kesusasteraan Islam, adalah seorang pujangga besar yang terkenal bernama DR. Muhammad Iqbal. Beliau melukiskan apa yang menjadi kekhawatirannya tentang suatu kondisi masyarakat dunia yang bernuansa jahiliyah (bodoh dan kelam) dengan goresannya yang berjudul "Parlemen Iblis".

Digambarkan dalam karangan sejenis prosa tersebut, bahwasannya Iblis beserta kolega-kolega dan para pembantunya sedang berkumpul dalam suatu majelis permusyawaratan. Mereka tengah membahas keadaan dunia, bahaya-bahaya yang mengancam serta keadaan-keadaan yang ditakutkan akan menghancurkan kerajaan Iblis dan eksistensi para syetan serta kepentingan-kepentingan mereka yang telah mereka tetapkan, putuskan dan jalankan selama ini.

Maka bersidanglah mereka dengan mengemukakan pendapat-pendapat dan hal-hal sebagai berikut :

Salah satu dari mereka berpendapat bahwa telah muncul bahaya dari ide-ide baru tentang demokrasi dan sistem pemerintahan republik.

Anggota yang lain angkat bicara : "Tidak usahlah khawatir dengan hal itu, karena itu cuma sekedar selimut tebal (kedok) dari sistem kerajaan (monarchi). Sebenarnya kita jugalah yang mendorong sistem kerajaan menjadi sistem republik, mengingat mulai munculnya kesadaran akan harga diri yang dapat mendorong manusia untuk berontak dari sistem yang telah kita paksakan selama ini. Tentu saja bila itu terjadi akan sangat berbahaya bagi kepemimpinan yang sedang berada di tangan kita. Oleh sebab itu, tipuan tersebut terpaksa kita lakukan melalui "demokrasi" dan "sistem republik" ! Sebenarnya hakikat monarchi tidak hanya sebatas pada seorang raja yang memegang kekuasaan penuh saja melainkan juga merupakan cara hidup (way of life) dimana penguasa (raja) menghisap rakyatnya dan memperbudak manusia atas manusia. Bukankah saudara tahu, bahwasannya sistem republik yang ada sekarang ini cuma luarnya saja, tetapi inti dalamnya adalah lebih kejam dan lebih kelam dari bathinnya seorang Zhengis Khan !"

Anggota yang lain lagi berpendapat : "Ketua Majelis Yth, Walaupun pemimpin-pemimpin dunia tersebut merupakan para eksekutifmu yang setia tetapi aku mulai tidak percaya pada kemampuan dan kecakapan mereka ! Sekarang ini saja si Samiri yang menganut agama Yahudi yang pada hakekatnya duplikat agama Mazdak (=Tokoh Sosialis Parsi yang terkenal) telah hampir meruntuhkan pondasi dunia bersama pengikut-pengikutnya yang telah melengserkan raja-raja dengan hujatan dan kepalan tangan mereka. Dulu kita memang menganggap enteng bahaya sosialisme ini, tetapi kenyataannya sekarang telah berkembang menjadi suatu ancaman yang besar bagi kita para syetan. Saya khawatir Ketua Majelis Yth, dunia yang selama ini Tuan perintah akan berbalik 180 derajat dari apa yang kita harapkan dan idam-idamkan !"

"Mendengar pembicaraan-pembicaraan dan opini-opini anggotanya ini maka Ketua Majelis (yakni Iblis) memberikan sambutannya : "Aku ini masih memegang kendali dunia dan masih dapat mengendalikannya menurut kehendakku ! Kalian akan tercengang bila aku berbisik ke telinga-telinga para pemimpin politik dunia itu maka mereka akan kehilangan kesadaran mereka sehingga mereka mau menuruti perintah-perintahku ! Adapun bahaya sosialisme yang kalian takutkan itu, Percayalah bahwa keretakan hubungan dan perselisihan antara manusia dengan manusia tak akan pernah bisa disembuhkan dengan resep "logika Mazdak" ataupun "filsafat Sosialisme". Aku sama sekali tidak takut dengan budak-budak sosialisme tersebut. Satu-satunya bahaya yang aku takutkan adalah bahaya dari umat yang selalu ruku' dan sujud kepada Allah SWT, yang badannya selalu jauh dari tempat tidur (karena jarang tidur nyenyak di malam hari) dan air matanya selalu mengalir di waktu fajar (subuh) karena takutnya kepada tuhannya dan rindunya untuk bertemu."

"Jadi, bagi kita bangsa syetan, jelas bahwa islamlah bahaya hari esok dan bukan sosialisme ! Saya juga tahu, bahwa Umat Islam saat ini banyak yang telah menyia-nyiakan Al-qur'an yang merupakan petunjuk bagi mereka. Mereka telah gila akan harta benda, mereka terlena hingga berlomba-lomba mengejar kemegahan dan kekayaan dunia. Fikiran dan faham seperti itu telah berkembang di tengah-tengah sebagian kelompok para cendikiawan muslim itu sendiri dalam bentuk "Sekularisme" atau Faham yang memisahkan antara agama dengan negara dengan dalih bahwa agama adalah soal pribadi yang tak ada kaitannya dengan masyarakat apalagi dengan bangsa dan negara. Agama itu kini hampir tinggal keyakinan, ibadah dan budi pekerti semata yang tak ada sangkut-pautnya dengan politik dan pemerintahan. Saya tahu itu semua !"

"Namun demikian saya tetap khawatir bila suatu saat nanti umat ini akan mengoyak-ngoyak zaman keemasan kita dan membangunkan manusia dari keterlelapannya untuk kembali kepada Agama Islam yang sebenar-benarnya sebagaimana yang dibawa oleh Muhammad. Sebagai Ketua Majelis, saya ingatkan agar semua anggota parlemen yang terhormat ini berhati-hati dan waspada terhadap umat dan agama Muhammad ini. Revolusi manakah yang dapat menandingi revolusi Islam, dan pemberontakan manakah yang lebih dahsyat dari dicetuskannya Ideologi Islam, baik dalam bentuk pikiran dan perbuatan. Oleh Karena itu, berjuanglah anggota majelis Yth sekuat tenagamu agar ajaran Islam itu tetap terselubung dari mata dan hati manusia."

"Bergembiralah Saudara-saudaraku ! Bahwa kenyataannya, saat ini Umat Islam sebagian besar masih lemah-lemah imannya, masih bodoh-bodoh, dan masih bisa diadu domba. Nina bobokanlah kaum muslimin ini agar mereka tetap tidur nyenyak. Awas! Jangan sampai mereka sempat terbangun, karena bila sampai terbangun maka seluruh mantera-mantera, jimat-jimat dan sihir-sihir kita akan dapat dilumpuhkan bahkan dihancurkan dengan kalimat-kalimat : Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir mereka yang amat sakti itu !"

"Lalaikanlah mereka Wahai Majelis Yth ! dari mengerjakan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat agar mereka tidak memperoleh Wibawa Besar untuk memimpin dunia. Adalah suatu keuntungan besar buat kita para syetan bila Umat Islam tidak memegang tampuk pimpinan dan kekuasaan di dunia sehingga mereka rela meninggalkan atau menyerahkannya kepada umat lain selain Umat Islam."

"Dan bisikanlah terus mereka agar menganggap bahwa kehidupan ini tidak bermanfaat sama sekali selain hanya ibadah ritual saja. Celakalah dan Binasalah kita semua kaum syetan seandainya Umat Muhammad ini sempat terbangun untuk mengontrol dan mengawasi serta mengamati perilaku kehidupan dunia serta perkembangannya. Begitulah Saudara-saudaraku !"

Kemudian Iblis Sang Ketua Majelis bertanya : "Bagaimana pendapatku dan usul-usulku yang telah aku kemukakan tadi saudara-saudaraku Para Anggota Majelis Yth ?"

Maka serentak Para Anggota Majelis menjawab : "Setuju! Setuju!! Setuju!!!"

"Baiklah kalau begitu..., terimakasih atas dukungan, kepercayaan dan kesepakatan suara dari saudara-saudara Anggota Majelis Yth", kata Iblis.

Akhirnya Iblis Sang Ketua Majelis menutup Sidang : "Dengan ini saya nyatakan bahwa Sidang Majelis Syetan saya tutup !" Tok! tok!, suara palu sidang diketok sebanyak 2 kali... Lantas diikuti dengan Tepuk tangan dan Sorak sorai Anggota Parlemen sambil mereka meriakkan Yel-yel : "Hidup Iblis ! Hidup Iblis !! Viva Iblis dari dahulu hingga Kiamaaaaat....!!!"

This Story was Retold by : M. Shobrie H.W., SE CPTr CPHR.

Tuesday, November 30, 2010

MEMAHAMI PROSES PENULISAN TIGA TAHAP (Untuk Praktisi Humas)


Oleh Satrio Arismunandar

Sebagai staf Humas atau karyawan kantoran, Anda harus mengerjakan berbagai penugasan komunikasi di sepanjang karir Anda, baik yang bersifat lisan ataupun tertulis.

Beberapa tugas itu hanya menjadi rutinitas biasa sehari-hari, seperti sekadar menulis beberapa kalimat di kertas atau mengetikkan pesan e-mail singkat.
Beberapa tugas lain bersifat lebih kompleks, yang membutuhkan refleksi, riset, dan persiapan dokumen yang cermat.

Begitu ada kebutuhan untuk membuat pesan komunikasi, staf Humas yang belum berpengalaman biasanya terdorong untuk langsung menulis. Namun, pendekatan langsung yang terburu-buru ini mungkin justru tidak efektif, dan akhirnya malah memakan waktu lama.

Sebaliknya, jika Anda mau meluangkan waktu beberapa menit untuk merencanakan dengan benar, bisa jadi Anda justru menghemat waktu dan bisa menciptakan pesan yang lebih efektif.

Untuk tujuan itu, di sini kita mempelajari proses penulisan efektif, yang bisa dibagi dalam tiga tahapan utama, yang masing-masing nanti bisa dirinci lebih jauh. Tiga tahapan utama itu adalah:

1. Perencanaan pesan bisnis (planning)
2. Penulisan pesan bisnis (writing)
3. Penuntasan pesan bisnis (completing)

I. Perencanaan pesan bisnis

Perencanaan pesan bisnis ini bisa dibagi lagi dalam empat langkah:
Analisis Situasi: Yaitu merumuskan tujuan Anda dan mengembangkan profil audiens, yang akan membaca pesan Anda.

Pengumpulan Informasi: Sesudah merasa pasti tentang tujuan dan profil audiens, Anda menetapkan kebutuhan-kebutuhan audiens, lalu mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk memuaskan kebutuhan audiens tersebut.

Memilih Medium yang Tepat: Sesudah informasi terkumpul, Anda memilih medium yang terbaik untuk menyampaikan pesan tersebut. Misalnya, apakah pesan itu cukup disampaikan secara lisan, atau tertulis, atau menggunakan media elektronik (audio-visual).

Mengorganisasikan Informasi: Sesudah melakukan tiga langkah di atas, Anda siap mengorganisasikan informasi. Caranya adalah dengan merumuskan gagasan utama, membatasi cakupannya, memilih pendekatan langsung atau tak-langsung, dan membuat outline (jabaran pokok) kontennya.

II. Penulisan pesan bisnis

Sesudah merencanakan pesan yang mau disampaikan, Anda harus menyesuaikan diri (beradaptasi) pada audiens dengan sensitivitas (kepekaan), gaya, dan keterampilan dalam berhubungan dengan mereka.

Bersikaplah peka pada kebutuhan audiens antara lain dengan mengadopsi sikap santun, menekankan aspek positif, dan menggunakan bahasa yang bebas-bias.
Bangunlah hubungan yang kuat dengan audiens, dengan menetapkan kredibilitas Anda dan memproyeksikan citra perusahaan Anda.

Kendalikan gaya Anda dengan menggunakan nada akrab (conversational tone), bahasa yang sederhana, dan suara yang pas.
Dari sini, Anda sudah siap untuk menyusun pesan. Pilihlah kata-kata yang kuat, yang akan membantu menciptakan kalimat-kalimat efektif dan mengembangkan paragraf-paragraf yang utuh.

III. Penuntasan pesan bisnis


Merevisi Pesan: Setelah menulis rancangan (draft) pertama, revisilah pesan itu dengan mengevaluasi konten, meninjau lagi kemudahan dibaca (readability), dan kemudian mengedit dan menulis ulang sampai pesan Anda benar-benar ringkas dan jelas. Tata bahasa dari pesan itu harus benar, tanda bacanya tepat, dan formatnya efektif.

Memproduksi Pesan: Gunakan unsur-unsur desain yang efektif dan tata letak (perwajahan) yang tepat, agar tampilan pesan itu menarik, bersih, dan profesional.
Periksa Dulu Pesan Sebelum Didistribusikan (Proofread): Periksa ulang rancangan terakhir untuk menghindari kesalahan dalam perwajahan, pengejaan, ataupun kemungkinan problem-problem mekanis lain.

Distribusikan Pesan: Sampaikan pesan Anda dengan menggunakan medium yang dipilih. Pastikan semua dokumen dan file yang relevan telah berhasil didistribusikan.

Mengoptimalkan Waktu Penulisan


Semakin sering Anda mempraktikkan proses penulisan tiga-tahap ini, proses itu akan terasa makin intuitif dan otomatis. Manakala Anda sudah makin akrab dengan proses tersebut, Anda akan mampu membuat pesan dengan lebih cepat dan lebih mudah. Anda juga akan lebih mampu dalam membagi waktu untuk setiap tugas, selama sebuah proyek penulisan.

Sebagai sebuah aturan umum, cobalah menggunakan kira-kira separuh waktu Anda untuk perencanaan –untuk merumuskan tujuan, mengenal audiens, mendalami materi atau subyek yang akan disampaikan, menyeleksi media yang mau digunakan, dan pengorganisasian.

Cobalah untuk menggunakan tak lebih dari seperempat waktu Anda, untuk penulisan dokumen Anda.
Gunakan seperempat waktu lain yang masih tersisa untuk penuntasan proyek penulisan, sehingga Anda tidak melompati tahapan penuntasan yang penting, seperti melakukan revisi, memproduksi, pemeriksaan ulang terakhir (proofreading), dan pendistribusian.

Tentu saja, pembagian waktu ini akan berubah signifikan, tergantung pada proyeknya. Misalnya, jika Anda memang sudah menguasai materi yang mau disampaikan dengan sangat baik, tahapan perencanaan mungkin bisa dipersingkat, tidak perlu sampai memakan separuh waktu Anda.

Sebaliknya, jika Anda memilih untuk menyampaikan pesan melalui perangkat multimedia yang kompleks, tahapan penuntasan pesan mungkin akan memakan waktu jauh lebih lama. Upaya-upaya sederhana, seperti penggunaan pesan seketika dan memo internal, membutuhkan waktu lebih singkat dan tidak butuh banyak energi, ketimbang laporan yang panjang, situs web, dan proyek-proyek canggih lainnya.

Menyesuaikan Diri dengan Audiens


Staf humas harus bisa beradaptasi dengan audiensnya, dalam berkomunikasi dan menyampaikan pesan.
Disadari atau tidak, audiens akan menyambut setiap pesan yang datang dengan pertanyaan, ”Apa urusannya dengan saya?”
Jika audiens yang Anda tuju menganggap pesan itu tidak tertuju pada mereka, atau tidak menawarkan sesuatu yang menarik atau penting bagi mereka, mereka tidak akan terdorong untuk memperhatikan pesan Anda.
Dengan menyesuaikan cara berkomunikasi Anda pada kebutuhan dan ekspektasi audiens, ada peluang lebih besar bahwa pesan Anda akan diterima.

Menekankan Aspek Positif


Di sepanjang karir Anda, Anda akan diminta mengkomunikasikan berita-berita buruk, mungkin puluhan atau ratusan kali. Bagaimanapun, ada perbedaan besar antara menyampaikan berita negatif dan bersikap negatif.

Ketika nada pesan Anda negatif, Anda telah memberi tekanan yang tidak perlu pada hubungan-hubungan bisnis, yang bisa membuat orang mengambil jarak terhadap Anda dan ide-ide Anda.

Jika Anda menghadapi situasi yang berpotensi negatif, carilah jalan untuk melunakkan pukulan negatif tadi atau menekankan aspek-aspek positif dari situasi.

Misalnya, ketika maskapai penerbangan Alaska Airlines menerapkan tambahan biaya bagi barang bawaan berat, dalam upaya mengurangi cedera bagi petugas pembawa bagasi, maskapai itu mempresentasikan perubahan biaya itu kepada para penumpang dengan poster yang berbunyi ”Kemasan Ringan & Hemat.”

Dengan mempresentasikan situasi tersebut sebagai sebuah peluang untuk menghemat uang, ketimbang sebagai tambahan biaya perjalanan, Alaska Airlines berusaha memelihara hubungan positif dengan para pelanggannya.

Jangan pernah menyembunyikan atau menghindar dari berita negatif, namun cobalah untuk selalu melihat aspek-aspek positif, yang akan memperkuat hubungan baik dengan audiens Anda.

Kurang baik: Tidak mungkin memperbaiki mobil Anda hari ini.
Lebih baik: Mobil Anda akan siap hari Selasa. Sambil menunggu hari Selasa, apakah Anda mau menggunakan mobil pengganti?

Kurang baik: Kami minta maaf atas ketidaknyamanan yang Anda alami selama renovasi.
Lebih baik: Renovasi yang sekarang berlangsung akan membantu kami melayani Anda dengan lebih baik.

Kurang baik: Kita menyia-nyiakan Rp 300 juta iklan di majalah itu.
Lebih baik: Investasi iklan Rp 300 juta kita tidak impas; ayo analisis pengalaman ini dan terapkan hasilnya untuk kampanye di masa mendatang.

Ketika Anda menganggap perlu untuk mengeritik atau mengoreksi, jangan terfokus pada kesalahan orang lain. Hindari rujukan ke kegagalan, problem, atau kekurangan. Sebaliknya fokuslah pada apa yang bisa ditingkatkan oleh orang bersangkutan.

Kurang baik: Problem di departemen ini adalah kegagalan dalam mengontrol biaya.
Lebih baik: Kinerja departemen ini dapat ditingkatkan dengan memperketat kontrol biaya.

Kurang baik: Anda mengisi formulir pesanan secara keliru.
Lebih baik: Coba periksa preferensi warna Anda di formulir itu agar kami dapat memproses pesanan Anda.

Jika Anda mencoba membujuk audiens untuk membeli sebuah produk, membayar tagihan, atau melakukan pelayanan terhadap Anda, tekankan apa manfaatnya bagi mereka. Jangan terfokus pada mengapa Anda ingin mereka melakukan sesuatu. Individu yang melihat kemungkinan untuk memperoleh keuntungan personal lebih mungkin untuk menanggapi permintaan Anda secara positif.

Kurang baik: Saya sudah mengerjakan proposal ini selama enam bulan, dan saya berharap waktu enam bulan itu tidak terbuang sia-sia.
Lebih baik: Proposal ini menunjukkan, bisa terwujud potensi penghematan Rp 30 milyar untuk seluruh perusahaan, tanpa harus mem-PHK satu pun karyawan.

Kurang baik: Kami membutuhkan sumbangan Anda untuk Yayasan Anak Indonesia.
Lebih baik: Anda dapat membantu anak-anak memperoleh teman baru dan membangun rasa percaya diri mereka, melalui sumbangan Anda pada Yayasan Anak Indonesia.

Secara umum, cobalah untuk menyatakan pesan Anda tanpa menggunakan kata-kata yang menyakiti hati atau menimbulkan kemarahan audiens Anda. Gunakan eufemisme untuk kata-kata yang memiliki konotasi tidak menyenangkan.
Anda tetap bisa jujur tanpa perlu bersikap kasar. Bahasa yang lembut memang tidak akan mengubah fakta, namun akan membuat fakta itu lebih mudah diterima.

Kurang baik: Barang murahan
Lebih baik: Barang ekonomis.

Kurang baik: Mobil bekas.
Lebih baik: Mobil jual-ulang

Kurang baik: Gagal
Lebih baik: Kinerja kurang

Kurang baik: Tua renta
Lebih baik: Warga senior

Kurang baik: Palsu
Lebih baik: Imitasi

Di sisi lain, jangan menggunakan eufemisme yang terlalu ekstrem. Jika kata yang digunakan terlalu subtil (kabur maknanya), orang tidak akan tahu apa yang Anda maksudkan.

Pada akhirnya, orang akan menanggapi lebih baik terhadap pesan yang jujur dan disampaikan dengan integritas, ketimbang pesan yang terlalu banyak bunga-bunga yang sebetulnya bermakna kosong.

Depok, November 2010

Sumber:
Disadur secara bebas dari Bovee, Courtland L., dan John V. Thill. 2005. Business Communication Today. Eight Edition. Pearson Education International.

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)


Oleh Satrio Arismunandar

Apakah konvergensi media itu?


Kata “konvergensi” sering digunakan untuk merujuk ke berbagai proses yang berbeda, sehingga terkadang menimbulkan kebingungan. Konvergensi media adalah penggabungan atau menyatunya saluran-saluran keluar (outlet) komunikasi massa, seperti media cetak, radio, televisi, Internet, bersama dengan teknologi-teknologi portabel dan interaktifnya, melalui berbagai platform presentasi digital.

Dalam perumusan yang lebih sederhana, konvergensi media adalah bergabungnya atau terkombinasinya berbagai jenis media, yang sebelumnya dianggap terpisah dan berbeda (misalnya, komputer, televisi, radio, dan suratkabar), ke dalam sebuah media tunggal.

Gerakan konvergensi media tumbuh berkat adanya kemajuan teknologi akhir-akhir ini, khususnya dari munculnya Internet dan digitisasi informasi. Konvergensi media ini menyatukan ”tiga-C” (computing, communication, dan content).

Jika dijabarkan di level perusahaan, maka konvergensi ini menyatukan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang informasi (komputer), jejaring telekomunikasi, dan penyedia konten (penerbit buku, suratkabar, majalah, stasiun TV, radio, musik, film, dan hiburan).

Berilah contoh sederhana tentang konvergensi media!


Contoh yang mudah kita lihat adalah salah satu produknya, sebagai hasil perkembangan terkini pada teknologi mobile. Handphone yang Anda miliki sekarang bisa melakukan fungsi kalkulator, juga bisa untuk menonton siaran TV, mendengarkan siaran radio, membaca suratkabar online, menerima dan mengirim e-mail, memotret, merekam suara, merekam gambar video, selain tentunya untuk menelepon dan mengirim SMS.

Pengombinasian fungsi-fungsi dari beberapa piranti ke dalam satu mekanisme ini disebut juga konvergensi piranti (device convergence).

Tolong dijabarkan lebih lanjut, seperti apa sebetulnya konvergensi media itu?

Konvergensi media memungkinkan para profesional di bidang media massa untuk menyampaikan berita dan menghadirkan informasi dan hiburan, dengan menggunakan berbagai macam media.

Komunikasi yang sudah dikonvergensikan menyediakan berbagai macam alat untuk penyampaian berita, dan memungkinkan konsumen untuk memilih tingkat interaktivitasnya, seraya mereka bisa mengarahkan sendiri penyampaian kontennya.

Konvergensi media memungkinkan audiens (khalayak) media massa untuk berinteraksi dengan media massa dan bahkan mengisi konten media massa. Audiens sekarang dapat mengontrol kapan, di mana dan bagaimana mereka mengakses dan berhubungan dengan informasi, dalam berbagai jenisnya.

Jurnalisme konvergensi melibatkan kerjasama antara jurnalis media cetak, media siar, dan media Web (online) untuk menghasilkan berita terbaik yang dimungkinkan, dengan menggunakan berbagai sistem penyampaian (delivery).

Konvergensi telah terjadi pada dua aspek utama: teknologi dan industri.

Pada aspek teknologi: Konten kreatif telah dikonversikan ke dalam bentuk–bentuk digital standar-industri, untuk disampaikan melalui jejaring pita lebar (broadband) atau tanpa-kabel (wireless), untuk ditampilkan di berbagai komputer atau piranti-piranti seperti-komputer, mulai dari telepon seluler sampai PDA (personal digital assistant), hingga ke alat perekam video digital (DVR, digital video recorder) yang terhubung ke pesawat televisi.

Pada aspek industri: Perusahaan-perusahaan yang melintasi spektrum bisnis, mulai dari perusahaan media ke telekomunikasi sampai teknologi, telah menyatu dan membentuk aliansi-aliansi strategis, untuk mengembangkan model-model bisnis baru, yang dapat meraih keuntungan dari ekspektasi konsumen yang sedang tumbuh terhadap konten media yang disesuaikan dengan permintaan (on-demand).

Sejumlah analis industri memandang, konvergensi media ini menandai memudarnya ”media lama” seperti media cetak dan media siar, serta bangkitnya ”media baru,” yang perkembangannya masih berlangsung dinamis saat ini.

Coba jelaskan makna konvergensi media sebagai sebuah strategi ekonomi!


Konvergensi media adalah sebuah strategi ekonomi, di mana perusahaan-perusahaan komunikasi mencari keuntungan finansial, dengan mengupayakan agar berbagai media yang mereka miliki bisa bekerja bersama. Strategi ini merupakan produk dari tiga unsur:

Pertama, konsentrasi perusahaan, di mana jumlah perusahaan besar semakin sedikit, tetapi tiap perusahaan itu justru memiliki semakin banyak properti media.
Kedua, digitisasi (digitization), di mana konten media diproduksi dalam bahasa komputer yang universal, sehingga dengan demikian mudah diadaptasikan untuk digunakan di media apapun.

Ketiga, deregulasi pemerintah, yang semakin memberi kelonggaran pada konglomerasi media untuk memiliki berbagai jenis media (misalnya, stasiun TV, radio, dan suratkabar) di pasar yang sama. Deregulasi ini mengizinkan perusahaan pembawa konten (seperti, pemasok TV kabel) untuk menguasai penghasil konten (misalnya, saluran-saluran TV khusus).

Strategi ini memungkinkan perusahaan untuk mengurangi biaya tenaga kerja, administratif, dan material, serta boleh menggunakan konten media yang sama melintasi berbagai saluran keluar (outlet) media.

Juga, untuk menarik iklan yang semakin meningkat, dengan menawarkan transaksi paket (package deal) dan belanja satu-tempat (one-stop shopping) kepada para pengiklan bagi sejumlah platform media. Ditambah lagi, untuk meningkatkan pengenalan merek (brand recognition) dan loyalitas merek (brand loyalty) di kalangan audiens lewat promosi-silang (cross-promotion) dan penjualan-silang (cross-selling).

Pada saat yang sama, mereka secara signifikan meninggikan tembok penghalang bagi para pelaku bisnis baru yang mencoba masuk ke pasar media, dan dengan demikian membatasi kompetisi terhadap perusahaan-perusahaan yang sudah berkonvergensi.

Berilah contoh konvergensi perusahaan (corporate convergence)!


Secara historis, perusahaan-perusahaan komunikasi sebenarnya telah lama membentuk rantai kepemilikan suratkabar dan jejaring stasiun-stasiun radio dan TV, untuk mewujudkan banyak keuntungan dari sinergi tersebut. Dalam hal ini, konvergensi dapat dipandang sebagai ekspansi dan intensifikasi, yang berangkat dari logika berpikir yang sama.

Tren konvergensi dimulai pada tahun 1980-an dengan sinergi. Perusahaan-perusahaan yang merupakan penyedia konten, seperti studio film dan perusahaan rekaman, membeli saluran-saluran distribusi, seperti TV kabel. Dengan munculnya teknologi digital, sinergi ini lalu berubah menjadi konvergensi, sebuah visi tentang satu perusahaan yang menyediakan semua layanan yang bisa dibayangkan.

Contoh terbesar konvergensi perusahaan adalah merger tahun 2001, antara ”media baru” AOL (American Online) dengan ”media lama” Time Warner. Pada saat itu, merger tersebut tampaknya merupakan ide yang baik. Hampir 60 persen rumah tangga Amerika memiliki komputer, dan setiap orang memiliki televisi.

Para pendukung konvergensi, yang sangat antusias, membayangkan masa depan di mana setiap rumah tangga akan memiliki koneksi pita-lebar berkecepatan tinggi ke Internet, yang menyediakan TV interaktif, video sesuai-permintaan, majalah online, e-mail, dan jelajah Web (Web surfing).

Time Warner menguasai konten, dengan deretan majalah, film, dan program-program televisi yang dimilikinya. Sedangkan AOL memiliki saluran ke lebih dari 20 juta tempat tinggal di Amerika. Namun, merger itu kemudian menjadi bencana ketika harga saham perusahaan jatuh lebih dari 60 persen dalam tahun-tahun berikutnya. Kerugiannya begitu besar, sehingga ”AOL” secara resmi dihapus dari nama perusahaan pada 2003.

Mengapa konvergensi perusahaan tersebut gagal?


Salah satu alasannya bersifat teknis. Orang Amerika ternyata lamban dalam mengadopsi koneksi pita-lebar berkecepatan tinggi, yang diperlukan untuk terjadinya konvergensi. Alasan lain adalah pemilihan waktu yang tidak tepat. Merger itu terjadi tak lama sebelum saham-saham perusahaan yang terkait dengan Internet berguguran, sehingga menguras habis modal potensial yang dibutuhkan untuk memajukan proses ke arah konvergensi yang diidamkan.

Faktor ketiga, terkait dengan kekeliruan dalam membaca psikologi konsumen. Hanya karena seseorang bisa terkoneksi ke Internet melalui AOL, tidaklah lantas berarti ia ingin menyaksikan liputan CNN atau menonton film-film Warner Brothers atau membaca majalah Time. Tidak ada hubungan mendasar antara konten dan saluran distribusi.

Jenis konvergensi lain adalah konvergensi operasional. Bagaimana hal itu terjadi?


Konvergensi operasional terjadi ketika pemilik dari beberapa properti media dalam satu pasar mengombinasikan operasi-operasi media yang terpisah tersebut ke dalam satu usaha tunggal. Misalnya, di Florida, Amerika, saluran berita televisi WFLA, suratkabar Tampa Tribune, dan media online TBO.com mengoperasikan sebuah departemen pemberitaan (news) yang terkonvergensi.

Di Lawrence, Kansas, Amerika, konvergensi terjadi ketika Lawrence Journal-World mengombinasikan fungsi-fungsi pelaporan berita dari suratkabar, situs web suratkabar tersebut, dan saluran berita kabel lokalnya. Jika peraturan kepemilikan silang media terus diperlonggar, tren konvergensi operasional semacam ini mungkin akan terus meningkat.

Apa untung-ruginya konvergensi operasional?


Keuntungan dari konvergensi jenis ini cukup jelas. Ia menghemat uang karena –ketimbang mempekerjakan staf pemberitaan yang terpisah untuk setiap media—pengoperasian bisa lebih murah ketika mempekerjakan reporter yang sama untuk tiga media sekaligus: suratkabar, situs Web, dan stasiun TV. Sebagai tambahan, setiap media itu bisa mempromosikan mitra-mitra medianya. TV berita dapat mendorong pembaca untuk mengunjungi situs web atau membeli suratkabarnya (versi cetak).

Tentu saja, ada sisi yang memberatkan juga. Reporter yang dipekerjakan memerlukan tambahan pelatihan untuk bisa menguasai berbagai media. Hal ini menimbulkan beberapa kontroversi di kalangan reporter media cetak, yang enggan disuruh membawa-bawa kamera video dan perekam suara, sebagai bagian dari peralatan liputan.

Lebih lanjut, banyak juga pengeritik yang khawatir bahwa pengoperasian yang terkonvergensi ini berarti berkurangnya independensi dan keragaman bentuk jurnalisme. Beberapa di antara mereka menyimpulkan, walaupun konvergensi operasional mungkin bagus untuk perusahaan-perusahaan media, itu mungkin tidak bagus buat konsumen media. ***

Daftar Pustaka

Straubhaar, Joseph, dan Robert LaRose. 2002. Media Now: Communications Media in the Information Age. Third Edition. Belmont: Wadsworth Group.
Dominick, Joseph R. 2005. The Dynamics of Mass Communications: Media in the Digital Age. 8th Edition. New York: McGraw Hill.
http://sites.actx.edu/~gibson_j/what_is_media_convergence.htm, diunduh pada 18 November 2010.
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/1425043/media-convergence, diunduh pada 18 November 2010.
http://www.thecanadianencyclopedia.com/index.cfm?PgNm=TCE&Params=A1ARTA0009695, diunduh pada 18 November 2010.
http://uk.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090221083606AAGTeZY


Jakarta, November 2010

* Satrio Arismunandar adalah Produser Eksekutif di Divisi News Trans TV, dosen Ilmu Komunikasi di FISIP UI dan President University, dan saat ini sedang menempuh studi S-3 Ilmu Filsafat di FIB UI.

Blog: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com
HP : 0819 0819 9163

Alinea tambahan, tidak ada di makalah asli:

Tantangan Konvergensi untuk Media Islam:

Tantangan teknologi:

Konvergensi media menuntut kemampuan untuk menguasai teknologi media, yang berkembang sangat pesat.
Konsekuensinya, harus ada penyiapan sumberdaya manusia yang memadai, untuk penguasaan teknologi tersebut.

Tantangan permodalan:
Teknologi baru dan canggih identik dengan kebutuhan akan modal untuk bisa memiliki dan menggunakan teknologi baru tersebut.
Artinya, jauh-jauh hari harus ada penggalangan modal,untuk menyambut era konvergensi media yang dinamis itu.

Tantangan wacana:
Perkembangan konvergensi media, dengan lahirnya jenis-jenis media baru ataupun multimedia, memberi peluang kreatif bagi perluasan dakwah Islam.
Tetapi pada saat yang sama, peluang serupa juga dimanfaatkan pihak luar, untuk menghadirkan propaganda atau wacana tandingan terhadap nilai-nilai Islam.
Generasi muda Islam harus bisa memanfaatkan konvergensi media justru untuk merebut peluang dakwah yang ada.

MEDIA ISLAM, MEDIA ISLAMI, DAN PERBEDAANNYA DENGAN MEDIA LAIN

Oleh Satrio Arismunandar

Dalam konstelasi media yang begitu luas sekarang, ada segmen atau kategori yang dinamakan sebagai ”media Islam,” atau ada juga yang menyebut ”media Islami.” Sayangnya, kajian akademis tentang ”media Islam” dan atau ”media Islami” ini belum cukup meluas. Tulisan ini berupaya memberikan kategorisasi yang lebih jelas tentang apa itu ”media Islam” dan atau ”media Islami,” serta perbedaannya dengan media lain.

Sebelumnya, perlu kejelasan apakah ada perbedaan antara media Islam dan media Islami. Bagi sebagian kalangan, dua sebutan itu mungkin berarti sama saja, alias tidak ada beda antara media Islam dan media Islami. Tetapi saya akan mencoba membedakan makna antara keduanya, untuk memperjelas kategorisasi bagi pengkajian lebih lanjut. Saya akan mulai dengan media Islam dulu.

Kata “Islam” menunjukkan suatu identitas, untuk membedakan satu dengan yang lain. Orang Islam jelas tidak sama dengan orang Kristen, Hindu, Buddha, dan seterusnya. Agar bisa disebut sebagai orang Islam, orang itu minimal harus sudah mengucapkan kalimat syahadat, mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.

Dengan analogi semacam itu, media yang menyandang nama “media Islam” tentunya juga harus memiliki ciri atau syarat tertentu, yang membedakannya dengan berbagai media lain.

Persyaratan Media Islam

Syarat pertama, untuk bisa disebut sebagai “media Islam,” media itu harus dimiliki oleh orang Islam. Atau, jika kepemilikannya bersifat kolektif (misalnya, saham perusahaan media bersangkutan sudah diperjualbelikan untuk umum di bursa efek), mayoritas saham harus dimiliki oleh orang Islam. Syarat ini sangat logis. Tentunya sangat absurd, jika media yang dimiliki orang beragama Yahudi disebut sebagai media Islam.

Syarat kedua, media itu sedikit banyak harus mengemban misi dakwah, yakni misi mengagungkan agama Allah, menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam, memajukan dan mencerdaskan umat Islam, dan sebagainya.

Adanya misi dakwah ini bukan berarti media itu harus semata-mata diisi dengan kumpulan kotbah agama atau kutipan ayat kitab suci Al-Quran dan hadist Nabi. Perwujudan misi “dakwah” bisa sangat luas. Misi mencerdaskan dan memajukan umat Islam, misalnya, bisa dilakukan dengan berbagai format media. Di sini, sudah masuk unsur kreativitas pengelola media dalam mengemas misi dakwahnya.

Jadi, media Islam bebas menyajikan dan mengupas topik apa saja. Mulai dari topik yang spesifik berkaitan dengan agama, sampai topik yang terkait dengan ilmu pengetahuan, teknologi, sastra, seni-budaya, sosial-ekonomi, politik, hankam, dan lain-lain. Semua itu bisa dijadikan topik, asalkan semua itu dilandasi dengan niat dakwah. Jadi, misi media Islam bukan semata-mata komersial, bukan cuma mengejar profit sebanyak-banyaknya.

Syarat ketiga, media Islam harus menerapkan aturan, etika, dan nilai-nilai ajaran Islam, dalam menjalankan bisnis perusahaan media dan aktivitas keredaksian (editorial). Islam tidak mengenal prinsip ”tujuan menghalalkan cara.” Jika syarat kedua tadi berkaitan dengan niat (misi) dan tujuan ketika mendirikan media, maka syarat ketiga ini berkaitan dengan cara mencapai tujuan tersebut.

Etika dan nilai-nilai Islam yang harus diterapkan di sini mencakup dua aspek: aspek bisnis dalam menjalankan usaha media, dan aspek yang berkaitan dengan sisi keredaksian (editorial).

Dalam aspek bisnis, misalnya, media Islam tidak membabi buta dalam mencari keuntungan. Contohnya, tidak semua iklan, betapapun besar nilainya, akan diterima. Harus ada kriteria, iklan mana yang boleh atau tidak-boleh dimuat di media Islam. Media Islam akan menolak mengiklankan semua hal yang secara jelas dan tegas diharamkan oleh Islam.

Jadi, tidak akan ada iklan minuman keras atau makanan yang mengandung daging babi di media Islam. Soal iklan rokok, ada yang tegas mengharamkan, ada juga yang menganggapnya makruh. Namun, apapun yang dipilih, iklan rokok juga bukan sesuatu yang dianjurkan karena dampak negatifnya pada kesehatan.

Media Islam juga harus menerapkan peraturan ketenagakerjaan yang adil dan manusiawi buat para buruhnya. Jangan sampai tenaga buruh diperas seenaknya dan diupah di bawah standar upah minimum yang layak. Sistem kerjanya juga harus memberi kesempatan karyawan untuk melaksanakan ibadah sholat, dan lain-lain.

Kebebasan Pers Menurut Perspektif Islam


Selanjutnya, dalam aspek keredaksian, terdapat persinggungan antara etika yang dilandasi ajaran Islam dan ”etika jurnalistik universal” yang dianut oleh berbagai media di dalam dan luar negeri. Di Indonesia, kita kenal etika jurnalistik yang dikeluarkan organisasi profesi seperti AJI (Aliansi Jurnalis Independen), PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia), atau gabungan sejumlah organisasi profesi, yakni KEWI (Kode Etik Wartawan Indonesia).

Secara prinsip umum, etika jurnalistik yang berlandaskan ajaran Islam tidak berbeda dengan etika jurnalistik yang dianut AJI, PWI, dan IJTI. Etika jurnalistik yang dianut media Islam juga melarang pemberian suap, praktik amplop buat jurnalis, penyiaran kabar bohong, pemberitaan yang tidak akurat, penyalahgunaan profesi jurnalis untuk memeras narasumber, dan sebagainya.

Namun, ada bedanya. Misalnya, dalam cara memandang kebebasan pers. Jurnalis di mana-mana umumnya sangat mementingkan kebebasan pers. Kebebasan pers adalah prasyarat bagi terwujudnya fungsi media untuk memberi informasi, mendidik masyarakat, menghibur, dan melakukan kritik sosial.

Fungsi yang terakhir ini mencakup peran sebagai watchdog (anjing pengawas) terhadap penguasa. Jika tidak ada kebebasan pers, tentu pers hanya akan jadi alat penguasa. Tanpa kebebasan, media tidak bisa berperan dalam sistem demokrasi, di mana media sering disebut sebagai pilar keempar sesudah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Namun, kebebasan pers itu juga bisa menjurus ke wujud yang ekstrem. Dalam penerapan “kebebasan pers yang universal” itu, misalnya, tiap warga negara dianggap bebas menerbitkan media apa saja, termasuk media yang mengeksploitasi seks, kekerasan, dan sebagainya sebagai bahan jualannya. Penerbitan semacam Playboy dan Popular, yang mengumbar aurat dianggap sah-sah saja. Toh memang ada segmen pembaca tertentu yang menggemari dan selalu mengonsumsinya.

Contoh lain, sejumlah media di Eropa Barat beberapa waktu lalu pernah memuat karikatur Nabi Muhammad SAW dalam format yang melecehkan. Hal ini mereka lakukan di bawah payung ”kebebasan pers” dan ”kebebasan berekspresi,” yang dianggap sebagai bagian dari hak-hak asasi manusia. Terjadi kehebohan besar dan aksi protes massa di berbagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, akibat pemuatan karikatur kontroversial ini.

Nah, dalam hal-hal semacam inilah terdapat perbedaan antara media Islam dan media lain. Bagi media Islam, pengertian “kebebasan pers” dan “kebebasan berekspresi” bukanlah kebebasan yang liar semau-maunya, bukan kebebasan demi kebebasan itu sendiri. Melainkan, kebebasan yang luas dalam berkreasi melalui media, sebagai sarana dakwah dan wujud pengabdian kepada Allah SWT.

Pelayanan kepentingan publik, yang sudah jadi kredo jurnalisme universal, adalah bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Jadi, tidak ada ceritanya media Islam memuat konten yang cabul, yang mempromosikan gaya hidup homoseksualitas, yang melecehkan Nabi Muhammad SAW atau keluarganya, dan lain-lain, yang justru menjauhkan pembacanya dari ajaran Allah SWT.

Media Islami

Cukup jelas tentang media Islam, kini kita membahas media Islami. Kalau kata “Islam” menunjukkan identitas, maka kata “Islami” menunjukkan suatu sifat atau ciri yang merujuk ke identitas “Islam.” Orang Islam yang sepenuhnya patuh, tunduk pada Allah dan Rasul-Nya, dan mengimplementasikan ajaran Islam pada seluruh aspek kehidupannya, akan menunjukkan ciri-ciri Islami. Yaitu, ciri-ciri itu terlihat mulai dari caranya bergaul dengan tetangga, cara berkata-kata, cara memimpin, sampai cara memperlakukan suami/istri.

Namun, ciri Islami ini mungkin tidak terwujud dalam seluruh aspek kehidupan. Misalnya, kita mungkin pernah bertemu orang yang pantang minum bir atau minuman beralkohol lain. Ia juga pantang makan daging babi, anjing, dan semua makanan yang jelas dan tegas diharamkan dalam Islam. Orang itu bahkan rajin berpuasa Senin-Kamis. Tetapi orang itu ternyata sangat kikir, tidak pernah mau berzakat atau berinfaq pada fakir miskin. Jadi, perilakunya terhadap makanan terkesan “Islami,” tetapi perilaku kikirnya jelas “tidak Islami.”

Orang Islam yang sepenuhnya melaksanakan ajaran Islam, pastilah akan menunjukkan ciri-ciri Islami dalam seluruh cara hidupnya. Sebaliknya, orang yang menunjukkan ciri Islami tidak otomatis berarti orang itu adalah orang Islam. Karena, bisa jadi “ciri Islami” itu tidak berangkat dari ajaran Islam sebagai landasannya.

Ciri-ciri itu lebih terlihat pada tampilan, pada permukaan, tetapi tampilan tidak selalu mencerminkan esensi. Dalam kasus orang yang pantang makan daging babi dan menenggak minuman beralkohol, misalnya, bisa jadi dia melakukan itu karena alasan kesehatan semata-mata (daging babi mengandung banyak lemak, sedangkan minuman beralkohol merusak ginjal). Jadi, niatnya sekadar mengikuti instruksi dokter, bukan karena untuk mematuhi ajaran Islam. Banyak orang non-Muslim bahkan berpantang daging sama sekali, menjadi vegetarian, karena pertimbangan kesehatan.

Dengan analogi tersebut, dapat dikatakan bahwa media Islam itu identik atau seharusnya identik dengan media Islami. Tetapi, sebaliknya, media ”Islami” belum tentu bisa dikategorikan sebagai media Islam, karena boleh jadi ciri ”Islami” itu hanya pada salah satu atau sebagian aspek saja. Kalau seluruh aspeknya sudah ”Islami,” maka barulah ia bisa disamakan dengan media Islam.

Misalnya, ada sebuah media yang menolak memasang iklan minuman keras, makanan yang mengandung daging babi, dan hal-hal lain yang diharamkan dalam Islam. Dalam pemberitaannya juga menolak mempromosikan hal-hal yang terlarang dalam Islam (pornografi, seks bebas, gaya hidup homoseksual, dan sebagainya). Bisa dibilang, bahwa dalam aspek kebijakan pemasangan iklan dan aspek kebijakan redaksional, media itu ”Islami.” Tetapi media ”Islami” itu bukan media Islam, karena tidak dimiliki oleh orang Islam.

Demikianlah sekadar sumbangan saya, dalam upaya memberi kategorisasi yang lebih jelas, untuk membedakan antara media Islam, media Islami, dan media lainnya. Semoga kategorisasi ini bisa bermanfaat bagi pengkajian akademis lebih lanjut tentang media Islam.

Depok, November 2010


* Satrio Arismunandar
adalah Produser Eksekutif di Divisi News Trans TV, dosen Ilmu Komunikasi di FISIP UI dan President University, dan saat ini sedang menempuh studi S-3 Ilmu Filsafat di FIB UI. Ini adalah makalah yang dipresentasikan dalam training di Majalah sabili, Minggu, 28 November 2010

Blog: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com
HP : 0819 0819 9163

MEDIA ISLAM ATAU MEDIA ISLAMI? (Republika, 30 November 2010)

Dalam konstelasi media yang begitu luas sekarang, ada segmen yang dinamakan ”media Islam” dan atau ”media Islami.” Sayangnya, kajian akademis tentang media ini belum cukup banyak. Tulisan ini berupaya memberikan kategorisasi yang lebih jelas tentang apa itu ”media Islam” dan atau ”media Islami,” serta perbedaannya dengan media lain.
Ada yang menganggap, media Islam dan media Islami sepenuhnya identik. Tetapi penulis akan mencoba membedakan makna antara keduanya.

Kata “Islam” menunjukkan suatu identitas. Agar bisa disebut sebagai orang Islam, seseorang minimal harus sudah mengucapkan kalimat syahadat, mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.

”Media Islam” tentu juga harus memiliki syarat tertentu, yang membedakannya dengan media lain. Syarat pertama, media itu harus dimiliki oleh orang Islam. Jika kepemilikannya bersifat kolektif (misalnya, saham perusahaan media itu sudah diperjualbelikan untuk umum di bursa efek), mayoritas saham harus dimiliki orang Islam.

Syarat kedua, media itu sedikit banyak harus mengemban misi dakwah, yakni misi mengagungkan agama Allah, menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam, memajukan dan mencerdaskan umat Islam, dan sebagainya. Ini bukan berarti media itu harus semata-mata diisi dengan kumpulan kotbah agama.

Perwujudan misi dakwah bisa sangat luas, tergantung kreativitas pengelolanya. Media Islam bebas menyajikan topik apa saja, mulai dari yang spesifik berkaitan dengan agama sampai topik lain, asalkan dilandasi niat dakwah. Jadi, misi media Islam bukan semata-mata komersial.

Syarat ketiga, media Islam harus menerapkan etika dan nilai-nilai ajaran Islam, dalam menjalankan bisnis perusahaan dan aktivitas keredaksian. Jika syarat kedua berkaitan dengan niat dan tujuan, maka syarat ketiga ini berkaitan dengan cara mencapai tujuan.

Dalam aspek bisnis, misalnya, media Islam tidak membabi buta mencari keuntungan. Tidak semua iklan, betapapun besar nilainya, akan diterima. Media Islam akan menolak mengiklankan semua hal yang diharamkan oleh Islam. Jadi, tidak akan ada iklan minuman keras atau makanan yang mengandung daging babi di media Islam.

Kebebasan Pers Menurut Islam

Dalam aspek keredaksian, ada persinggungan antara etika yang dilandasi ajaran Islam dan ”etika jurnalistik universal” yang dianut berbagai media lain. Etika jurnalistik yang dianut media Islam juga melarang pemberian suap, praktik amplop buat jurnalis, penyiaran kabar bohong, dan sebagainya.

Namun, ada beda dalam cara memandang kebebasan pers, yang merupakan prasyarat penting bagi terwujudnya fungsi media, untuk memberi informasi, mendidik masyarakat, menghibur, dan melakukan kritik sosial.

Kebebasan pers itu bisa menjurus ke wujud ekstrem. Misalnya, tiap warga dianggap bebas menerbitkan media apa saja, termasuk yang mengeksploitasi seks. Penerbitan semacam Playboy dan Popular, yang mengumbar aurat dianggap sah-sah saja. Toh memang ada segmen pembaca tertentu yang menggemari dan mengonsumsinya.

Contoh lain, sejumlah media Eropa beberapa waktu lalu pernah memuat karikatur Nabi Muhammad SAW dalam format yang melecehkan. Hal ini dilakukan di bawah payung ”kebebasan pers” dan ”kebebasan berekspresi,” yang dianggap sebagai bagian dari hak-hak asasi manusia.

Nah, dalam hal semacam inilah terdapat perbedaan antara media Islam dan media lain. Bagi media Islam, pengertian “kebebasan pers” dan “kebebasan berekspresi” bukanlah kebebasan yang liar, bukan kebebasan demi kebebasan itu sendiri. Melainkan, kebebasan yang luas dalam berkreasi melalui media, sebagai sarana dakwah dan wujud pengabdian kepada Allah SWT.

Pelayanan kepentingan publik, yang sudah jadi kredo jurnalisme universal, adalah bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Jadi, tidak ada ceritanya media Islam memuat konten yang cabul, pelecehan terhadap Rasulullah, dan lain-lain, yang justru menjauhkan pembacanya dari ajaran Islam.

Media Islami

Kalau kata “Islam” menunjukkan identitas, maka kata “Islami” menunjukkan suatu sifat atau ciri yang merujuk ke identitas “Islam.” Orang Islam yang mengimplementasikan ajaran Islam pada seluruh aspek kehidupannya, akan menunjukkan ciri-ciri Islami.
Namun, bisa terjadi, ciri Islami ini tidak terwujud dalam seluruh aspek kehidupan. Misalnya, ada orang yang pantang makan daging babi dan semua makanan yang diharamkan dalam Islam. Tetapi orang itu ternyata sangat kikir, tidak pernah mau berzakat pada fakir miskin. Jadi, perilakunya terhadap makanan terkesan “Islami,” tetapi perilaku kikirnya jelas “tidak Islami.”
Selain itu, orang yang menunjukkan ciri Islami tidak otomatis berarti dia orang Islam, karena bisa jadi “ciri Islami” itu tidak berangkat dari ajaran Islam sebagai landasannya. Ciri-ciri itu lebih terlihat pada tampilan, tetapi tampilan tidak selalu mencerminkan esensi.

Orang yang pantang makan daging babi mungkin melakukan itu hanya karena instruksi dokter (daging babi mengandung banyak lemak). Ia bukan berniat mematuhi ajaran Islam. Banyak orang non-Muslim bahkan berpantang daging sama sekali, menjadi vegetarian, karena pertimbangan kesehatan.

Dengan analogi itu, dapat dikatakan bahwa media Islam itu identik dengan media Islami. Sebaliknya, media ”Islami” belum tentu bisa dikategorikan sebagai media Islam. Kalau seluruh aspeknya sudah ”Islami,” barulah ia bisa disamakan dengan media Islam. Misalnya, ada media yang kebijakan redaksionalnya terkesan ”Islami,” tetapi media itu bukan media Islam, karena tidak dimiliki oleh orang Islam.
Demikianlah, semoga tulisan pendek ini dapat menjelaskan perbedaan antara media Islam, media Islami, dan media lainnya.

Depok, November 2010

*Satrio Arismunandar adalah Produser Eksekutif di Divisi News Trans TV.
Blog: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com
HP : 0819 0819 9163

Sunday, November 28, 2010

Umat Islam Jangan Terjebak pada Romantisme Masa Lalu

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Telah diketahui oleh umat Islam bahkan dunia Barat pun kini sebagian mulai mengakui,bahwa berkat Islamlah kini sains dan teknologi yang sedemikian canggihnya ini bermula. Berkat umat Islam yang terinspirasi oleh ayat-ayat Alquran tentang perintah untuk memahami segala ciptaan Allah, maka ditemukanlah dasar-dasar sains modern.

Peradaban Islam menjadi mata rantai emas dalam perkembangan keilmuan manusia. Dan kini buahnya dipetik oleh dunia barat. Tetapi sayangnya banyak ilmuan di dunia barat yang tidak memahami hakekat ilmu(yaitu bertujuan untuk semakin mengagungi Allah), sehingga ilmu sains modern kini buahnya menjadi malapetaka bagi manusia.
Tentu bagi umat Islam, patut berbangga terhadap kenyataan bahwa "Islamlah yang mengarunia Sains modern kepada dunia". Akan tetapi jangan sampai terjebak pada romantisme masa lalu, merasa lebih hebat karena asal/tonggak sains modern berawal dari umat Islam tetapi tidak melakukan apa-apa pada masa sekarang. Jangan sampai pula kebanggan terhadap Alquran tidak dibarengi dengan studi dan kerja keras, karena hanya akan menyuburkan aplologisme saja (Dr. Ziauddin Sardar).

Kebutuhan saat ini adalah  meletakan dasar pemikiran Islam secara jelas dan bukan kebanggaan sementara dari hasil karya para pendahulu yang kemudian dibuai keindahan dalam stagnasi, sehingga Islam dianggap sebagai anchronistic religion.

Kini saatnya bagi umat Islam untuk bekerja keras melakukan studi dalam berbagai bidang keilmuan dengan dilandasi tuntunan Islam yang berpedoman pada Alquran dan Hadis, sebagaimana kerja keras yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Kini saatnya pula tidak lagi ada dikotomi ilmu, semua ilmu berasal dari Yang Maha Mengetahui.

(Sumber: Suara Masjid)

Keilmuan Sains Dan Teknologi Dalam Alquran

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bertolak dari beberapa ayat alquran antara lain surah AnNahl 79 dan Al An'am 38, Sayid Abul A'la A Maududy berkesimpulan bahwa Alquran adalah tuntunan yang lengkap dari seluruh hajat manusia sepanjang perjalanan hidupnya. Menurut identifikasi kenyataan yang dilakukan oleh Imam AlGhazali , dari seluruh  ayat-ayat Alquran, kurang lebih 12% nya adalah ayat yang berkaitan langsung dengan keilmuan, yaitu 763 ayat.

Dengan demikian kita tahu, betapa intensnya Alquran mendorong ummat Islam untuk menekuni sains dan teknologi, demi kemaslahatan umat. Hanya perlu diingat, bahwa yang dimaksud bukan berarti alquran merupakan ensiklopedi bagi seluruh ilmu, tetapi seperti yang dinyatakan oleh Syekh Nadim Al-Jisri, bahwa seluruh dasar atau prinsip hak dan khair, satu pun tak ada yang dialpakan oleh Alquran. kaitan dengan ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. berkata: "Alquran itu lahirnya indah, batinnya dalam, tidak pernah sirna keajaibannya, tidak pernah habis kegharibannya dan tidak pernah tersingkap tabir kegelapan kecuali dengannya."

Dalam membuka tabir kegelapan sain dan teknologi, Alquran sering mengambil term perintah tidak langsung, yaitu perintah ibadah. Jadi berorientasi problem (problem oriented). Misalnya, dengan perintah shalat yang di waktu-waktu, Alquran menjadi animator bagi Abu Yunus Al Misry untuk menemukan astrolobe yang sekaligus menuju perkembangan jam; dan Ibnu AlSyatir menemukan teori heliosentris jauh sebelum Copernicuss. Dengan perintah menghadap ka'bah waktu menjalankan shalat. Al Idrisy menemukan kompas. Dengan perintah hajj ke baitullah Abbas Bin Fernas Al Andalusy membuat kapal terbang jauh sebelum Wright bersaudara dari AS, yaitu dua ratus tahun setelah wafat Rasulullah saw.

(Dicuplik dari artikel Drs. Muchttob dengan judul "Relativitas Penafsiran Al-Qur'an Lewat Sains")

Baca Selengkapnya tentang Islam dan Ilmu Pengetahuan

Bahasa Arab dan Timbul Tenggelamnya Peradaban Islam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bahasa Arab dan Ilmu Pengetahuan

oleh: Hakiki Mahfuzh

Bahasa Arab adalah alat pembedah yang terbesar dalam sejarah pengembangan ilmu pengetahuan di dalam Islam. Puncak kejayaan Islam di bidang Ilmu Pengetahuan, terjadi pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid dari dinasti Abasyiyah. Bahasa Arab pada waktu itu tidak saja dipelajari oleh ummat Islam yang kitab sucinya diturunkan dengan bahasa tersebut, tetapi juga dipelajari  oleh setiap orang yang berhasrat kepada ilmu pengetahuan dari berbagai sekte dan agama.

Untuk menangkap pesan-pesan Alquran sebagai kitab teks paradigmanya, maka kemampuan ummat Islam akan bahasa Arab sangat berpengaruh juga terhadap keberhasilan memahami ajaran-ajarannya. Oleh sebab itu, sebenarnya umat Islam baik bangsa Arab atau bukan (ajam), tidak dapat dipisahkan dengan bahasa Arab, sekalipun Arab tidak selamanya Islami.

Akar Sejarah

Tidak disangsikan, bahwa ummat Islam untuk mencapai pemikiran ilmiah dan  filosofis, memperoleh inspirasi dari ayat-ayat Alquran. Banyak ayat Alquran yang mengisyaratkan kepada penggunaan akal ikiran dalam rangka pengembangan Ilmu Pengetahuan ini. Sebagai contoh, (QS. 2: 164, 219)(QS. 30: 21)(QS. 37: 138, 155) dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menyuruh untuk mempergunakan akal pikiran.

Dalam sejarah, abad ke 6 -13 M merupakan babak kebangkitan ilmu pengetahuan, sekaligus bangkitnya suatu peradaban baru. Pada waktu itu Eropa sedang tenggelam dalam kegelap-gulitaan yang sangat pekat(The Dark Middleage). Mulai abad itu pula bermunculan para cendekiawan muslim dalam berbagai disiplin ilmu. Mereka mengadakan penafsiran dan justifikasi atas karya-karya besar sarjana Yunani, seperti: Plato, Socrates, Aristoteles, Democritos dan lainnya, sehingga bisa terungkap dan terpelihara dari kemungkinan dilupakan orang atau kepunahan. Kerja keras inilah yang pada akhirnya dapat membentuk satu bangunan khazanah intelektual muslim sendiri.

Para yuris yang tesis-tesis mereka sampai sekarang masih aktual dan mungkin sampai pada masa yang akan datang diwakili oleh: Ahmad bin Hanbal, Malik bin Annas, Abu Hanifah dan Syafi'ie (Empat aliran Mazhab).

Selain itu muncul, Al-Kindi, filsuf yang terkenal dengan teori keterhinggaan masa alamnya. AL Farabi, astronom dan matematikawan. AlKhawarizmi penggali teori aljabar. Ibnu Sina penulis terbesar tentang kedokteran (ALqanun fi attib = Canon). Az Zahel penemu peredaran planit. Ibnu Khaldun filsuf sejarah, ekonom, sosiolog, dan cendekiwan lainnya. Karya-karya mereka semua ditulis dalam bahasa arab.

Kejayaan ilmu pengetahuan mulai redup sinarnya dengan runtuhnya kota Baghdad(pusat ilmu pengetahuan di Timur) oleh Jengis Khan(1152-1227M). Kemudian semakin hancur di tangan cucunya Hulagu Khan (1217-1265M), yang dalam waktu singkat mendatangkan bencana ke seluruh dunia Islam. Kota-kota yang merupakan pusat ilmu pengetahuan dengan perpustakaan yang memuat literatur-literatur berbahasa Arab, dibumi-hanguskan.

Dampak dari jatuhnya kota Baghdad, berabad-abad dunia Islam merosot sampai akhirnya dibangunkan kembali oleh ekspedis napoleon Bonaparte. Rifa'ah Al-Tahtawi adalah orang yang cukup berjasa di awal kebangkitan kembali dunia Islam (Islamic Revivalisme).

Lalu Abad ke-18 lahir pembaharu dalam pemikiran Islam atas komando gerakan Wahabiyah yang disponsori oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab. Abad ke-19, muncul Jammaludin Al Afghani, berusaha dengan mengadakan purifikasi terhadap ajaran Islam yang waktu itu terjadi singkretis dengan ajaran lain. Temanya mengajak umat kembali kepada Alquran dan Hadis secara murni. Rosyid Ridho, juga demikian . Baru Muhammad Abduh, kembali mencuatkan penggunaan akal pikiran untuk mengembalikan ilmu pengetahuan dengan terobosan-terobosan baru melalui Al-Azhar.

Bahasa Arab kembali diperhatikan oleh dunia internasional, ketika seorang sastrawan berkebangsaan mesir, Naquib Mahfouz menerima hadiah nobel atas karya sastera Arabnya. Peristiwa ini merupakan pertama kalinya di dunia Arab dan dunia Islam lainnya, sesudah bahasa Arab tenggelam dari perhatian dunia Internasional.
(disadur dari Majalah Suara Masjid Juni 1993. Penulis adalah Mahasiswa Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga)

Wednesday, November 24, 2010

Kumpulan Hadits Tentang Tanda-Tanda Akan Terjadinya Hari Kiamat

Apa saja tanda-tanda telah dekat waktu kiamat? Dari hadist-hadist shahih kita bisa mendapatkan informasi mengenai tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat. Diantara tanda-tanda yang tersebut dalam hadist yaitu:

Tanda-tanda dari kehidupan manusia

1. Ketika manusia kesulitan mencari orang yang akan diberi zakat atau sedekah dari hartanya. Ini menandakan suatu masa ketika manusia telah mencapai kemakmurannya. Semua manusia telah memberantas kemiskinan. Kemiskinan telah terhapus dari dunia.

2.Ketika ilmu telah diangkat oleh Allah.Allah mematikan semua manusia yang berilmu. Sehingga tinggalah didunia orang-orang yang Jahil saja. Yaitu saat manusia tidak lagi memperdulikan tentang ilmu agama maupun kemanusian. Manusia sudah tidak ada lagi yang menyebut nama Allah. Manusia sudah terbiasa membunuh sampai-sampai tidak tahu lagi untuk apa dia membunuh. Dengan diangkatnya ilmu dari peradaban manusia, maka manusia berada pada posisi yang lebih rendah dari binatang. Mabuk-mabukan dan Zina menjadi kebiasan manusia.

3. Ketika manusia sudah bosan hidup. Tandanya setiap orang yang melewati suatu kuburan berdoa agar lekas mati lalu masuk kubur.

tanda tanda dekatnya hari kiamat
ilustrasi

Tanda-tanda dari Alam:

1. Sering terjadi gempa dan bencana Alam
2. Matahari terbit dari barat
3. Waktu semakin cepat, sehari serasa sejam.

Tanda-tanda besar:
1. Turunnya Isa Al Masih
2. Munculnya Al masih Dajjal (dajjal terbesar). Sedangkan Dajjal kecil telah muncul sejak zaman Rasulullah saw, yaitu para pembohong yang mengaku nabi.
3. Turunya Ya'juj dan Ma'juj
4. Terjadi perang besar antara 2 bangsa yang paling besar.

Terlepas dari tanda-tanda kiamat tersebut, sebenarnya yang lebih patut kita selalu ingat adalah kiamat kecil yang selalu menghampiri manusia yaitu kematian. Kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan mati. Mungkin banyak diantara kita menyaksikan keluarga, teman atau tetangga yang tiba-tiba meninggal dunia, padahal beberapa jam sebelumnya masih sempat bersenda gurau dengan kita.Dan yang pasti kita semua akan mati. Orang yang beriman yakin bahwa setelah kematian akan ada kehidupan setelahnya. Sehingga sebelum kematian itulah kita harus telah mengumpulkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.

Hadits Shahih Bukhari: Tanda Kiamat

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُ صَدَقَتَهُ وَحَتَّى يَعْرِضَهُ فَيَقُولَ الَّذِي يَعْرِضُهُ عَلَيْهِ لَا أَرَبَ لِي

 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ النَّبِيلُ أَخْبَرَنَا سَعْدَانُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُجَاهِدٍ حَدَّثَنَا مُحِلُّ بْنُ خَلِيفَةَ الطَّائِيُّ قَالَ سَمِعْتُ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ
كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا يَشْكُو الْعَيْلَةَ وَالْآخَرُ يَشْكُو قَطْعَ السَّبِيلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا قَطْعُ السَّبِيلِ فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكَ إِلَّا قَلِيلٌ حَتَّى تَخْرُجَ الْعِيرُ إِلَى مَكَّةَ بِغَيْرِ خَفِيرٍ وَأَمَّا الْعَيْلَةُ فَإِنَّ السَّاعَةَ لَا تَقُومُ حَتَّى يَطُوفَ أَحَدُكُمْ بِصَدَقَتِهِ لَا يَجِدُ مَنْ يَقْبَلُهَا مِنْهُ ثُمَّ لَيَقِفَنَّ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْ اللَّهِ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ حِجَابٌ وَلَا تَرْجُمَانٌ يُتَرْجِمُ لَهُ ثُمَّ لَيَقُولَنَّ لَهُ أَلَمْ أُوتِكَ مَالًا فَلَيَقُولَنَّ بَلَى ثُمَّ لَيَقُولَنَّ أَلَمْ أُرْسِلْ إِلَيْكَ رَسُولًا فَلَيَقُولَنَّ بَلَى فَيَنْظُرُ عَنْ يَمِينِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ ثُمَّ يَنْظُرُ عَنْ شِمَالِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ فَلْيَتَّقِيَنَّ أَحَدُكُمْ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

 حَدَّثَنَا أَحْمَدُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ الْحَجَّاجِ بْنِ حَجَّاجٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي عُتْبَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُحَجَّنَّ الْبَيْتُ وَلَيُعْتَمَرَنَّ بَعْدَ خُرُوجِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ
تَابَعَهُ أَبَانُ وَعِمْرَانُ عَنْ قَتَادَةَ وَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ شُعْبَةَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُحَجَّ الْبَيْتُ وَالْأَوَّلُ أَكْثَرُ سَمِعَ قَتَادَةُ عَبْدَ اللَّهِ وَعَبْدُ اللَّهِ أَبَا سَعِيدٍ

 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا الْيَهُودَ حَتَّى يَقُولَ الْحَجَرُ وَرَاءَهُ الْيَهُودِيُّ يَا مُسْلِمُ هَذَا يَهُودِيٌّ وَرَائِي فَاقْتُلْهُ

 حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ الْأَعْرَجِ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا التُّرْكَ صِغَارَ الْأَعْيُنِ حُمْرَ الْوُجُوهِ ذُلْفَ الْأُنُوفِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ

 حَدَّثَنِي يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا خُوزًا وَكَرْمَانَ مِنْ الْأَعَاجِمِ حُمْرَ الْوُجُوهِ فُطْسَ الْأُنُوفِ صِغَارَ الْأَعْيُنِ وُجُوهُهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ
تَابَعَهُ غَيْرُهُ عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ

 حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ فَيَكُونَ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

 حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا رَآهَا النَّاسُ آمَنَ مَنْ عَلَيْهَا فَذَاكَ حِينَ
{ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ }

 أَخْبَرَنَا دَاوُدُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ أَخْبَرَنَا أَنَسٌ قَالَ
لَأُحَدِّثَنَّكُمْ حَدِيثًا لَا يُحَدِّثُكُمُوهُ أَحَدٌ بَعْدِي سَمِعْتُهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ وَإِمَّا قَالَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِلْخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ

 حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ

Hadits Shahih Muslim: Tanda Kiamat

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ اللَّهُ اللَّهُ

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا طَلَعَتْ مِنْ مَغْرِبِهَا آمَنَ النَّاسُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ فَيَوْمَئِذٍ
{ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا }

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَدْعُو الرَّجُلُ ابْنَ عَمِّهِ وَقَرِيبَهُ هَلُمَّ إِلَى الرَّخَاءِ هَلُمَّ إِلَى الرَّخَاءِ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَخْرُجُ مِنْهُمْ أَحَدٌ رَغْبَةً عَنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ فِيهَا خَيْرًا مِنْهُ أَلَا إِنَّ الْمَدِينَةَ كَالْكِيرِ تُخْرِجُ الْخَبِيثَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَنْفِيَ الْمَدِينَةُ شِرَارَهَا كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِيَّ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو
و حَدَّثَنِي أُمَيَّةُ بْنُ بِسْطَامَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا رَوْحٌ عَنْ سُهَيْلٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَزَادَ فَقَالَ أَبِي إِنْ رَأَيْتَهُ فَلَا تَقْرَبَنَّهُ

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي ابْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ح و حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ جَدِّي حَدَّثَنِي عُقَيْلُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّهُ قَالَ قَالَ ابْنُ الْمُسَيَّبِ أَخْبَرَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا و قَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ حَوْلَ ذِي الْخَلَصَةِ وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدُهَا دَوْسٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ بِتَبَالَةَ

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ

و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَخْرُجَ رَجُلٌ مِنْ قَحْطَانَ يَسُوقُ النَّاسَ بِعَصَاهُ

 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لِابْنِ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ