Thursday, August 18, 2011
Gerakan Tutup Mulut Nazaruddin = Pisau Bermata Dua?
Dengan Nazaruddin berjanji, tidak akan membuka nama pejabat Partai Demokrat atau parpol manapun dalam kasus korupsi/suap yang melibatkannya, sepertinya ini kabar baik buat SBY, Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, Ibas Yudhoyono, dan lain-lain, yang sudah pusing dengan berbagai pengungkapan yang dilakukan Nazaruddin.
Tetapi ucapan Nazaruddin yang seolah-olah ”pasang badan” itu --di mata rakyat/publik—sebenarnya seperti pisau bermata dua. Karena Nazaruddin seolah membenarkan bahwa para petinggi partai itu memang sebenarnya busuk semua.
Nazaruddin tidak pernah membantah bahwa mereka busuk. Nazaruddin bahkan sebenarnya tidak pernah mencabut ucapannya, yang penuh tuduhan kepada sejumlah nama petinggi parpol, yang pernah ia lontarkan ketika masih buron dulu.
Nazaruddin seperti orang yang terlihat sedang berdiri di tengah kumpulan bangkai, dan lalu berkata: ”Jangan khawatir, saya akan tutup mulut. Saya tidak akan menyebut-nyebut soal bau, yang ada di sekitar saya sekarang. Asalkan istri dan keluarga saya tidak diganggu.”
Dengan mengirim surat khusus kepada SBY, lewat ucapan ”tolong agar istri dan keluarga saya tidak diganggu,” Nazaruddin justru melontarkan pesan/tudingan baru ke depan publik. Artinya, Nazaruddin memunculkan dugaan/spekulasi di masyarakat bahwa istri dan keluarganya saat ini sedang ”disandera” atau ”diancam akan diganggu,” jika Nazaruddin berani buka mulut di sidang KPK.
Orang awam pun bertanya, jika Nazaruddin yang buron dengan paspor palsu saja bisa ditangkap, apa susahnya sih menangkap atau memulangkan istri Nazaruddin, yang pergi bersama suaminya dengan menggunakan paspor asli? Bahkan, dengan melacak pergerakan paspor asli istri Nazaruddin, sebetulnya sudah jauh-jauh hari lokasi keberadaan Nazaruddin dan istrinya diketahui aparat. Jika Nazaruddin baru ditangkap belakangan, itu sebenarnya hanya karena aparat menunggu ”titah dari penguasa tertinggi.” Singkat kata, istri Nazaruddin sebetulnya saat ini sebenarnya sudah berada dalam ”genggaman” aparat atau pihak tertentu di kekuasaan.
Lantas, siapa yang mengganggu dan mengancam istri/keluarga Nazaruddin? Ya, siapa lagi kalau bukan pihak-pihak yang akan terlibat dalam kasus korupsi/suap, jika Nazarudin konsisten blak-blakan, membuka semua nama yang kecipratan duit haram hasil kejahatan tersebut....
Dus, sikap baru Nazaruddin sebenarnya adalah justru pisau bermata dua, yang bagian tajamnya bisa menusuk ke mana-mana. Lewat gerakan tutup mulutnya, Nazaruddin praktis sudah melontarkan tuduhan-tuduhan baru kepada pihak-pihak tertentu, khususnya pada elite politik petinggi Partai Demokrat.
Permainan belum selesai, dan rakyat maupun media sekarang semakin pintar. Tidak mudah ditipu dengan sandiwara murahan. Sinetron yang terlalu sering diputar ulang akan mudah ditebak jalan ceritanya...
Jakarta, 19 Agustus 2011
Satrio Arismunandar
(Pengamat politik jalanan)
Monday, August 15, 2011
Sinopsis Episode 25-29 PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV
SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV
untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)
Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB
Episode 25
Sejak lulus casting, Maeng, Nengsi dan Ayu berlatih olah fisik dan vokal, untuk memainkan peran dalam seni pertunjukan yang mereka pilih.
Peserta Pesantren Kilat (sanlat) melakukan tadabur alam dipimpin Ustadz Zaqi, Reyhan dan Sabila. Damar dan Rio dihukum membersihkan WC, karena mengirim surat ke santriwati, tapi mereka boleh ikut tadabur alam.
Ketika menyeberangi sungai dengan tambang, pegangan Gita terlepas, dan tubuhnya terseret arus. Untunglah, ia ditolong oleh Nadya. Karena kejadian ini, Gita dan Nadya --yang biasanya tidak pernah akur-- kini berbaikan.
Gangguan penyakit Anggi kambuh, sehingga sempat membikin cemas Alim, Putri, dan ibu Anggi. Sesudah serangan penyakit mereda, ibu Anggi atau mertua Alim kembali mendamprat Alim, yang dianggap sebagai suami yang kurang memperhatikan istri.
Fahmi ditemani Adam, menjenguk Nadya di pesantren. Nadya dinobatkan sebagai santriwati peserta sanlat terbaik, tapi ia ingin pulang, mendengar kabar ibunya sakit. Ketika pulang, Nadya melihat pasar terbakar. Waktu mau menolong seorang bocah dalam kebakaran itu, Nadya tertimpa musibah. Atap yang terbakar menimpa tubuhnya, sehingga luka bakar parah.
Episode 26
Nadya harus masuk rumah sakit. Wajahnya menderita luka bakar parah. Reyhan merasa bersalah, karena dia yang mengizinkan Nadya pulang dari pesantren. Ustdaz Zaqi, Kyai, dan Nyai menjenguk ke RS. Zaqi mengontak Ibu Ida agar memberitahu Ningrum tentang musibah itu. Ningrum, Satrio, Ibu Ida pun ramai-ramai ke RS.
Nenek Adam sakit dan oleh Adam dan Fahmi secara kebetulan dibawa ke RS yang sama. Mereka sempat repot karena dimintai uang muka perawatan oleh RS, padahal Adam tak punya uang. Nengsi dan Maeng juga menyusul, menjenguk nenek Adam di RS. Karena sakitnya, nenek Adam tak tertolong dan meninggal di RS.
Episode 27
Adam menangisi kematian neneknya. Ini membuat Maeng dan Nengsi ikut sedih.
Sementara itu, Ningrum sangat prihatin atas musibah kebakaran, yang membuat Nadya luka parah. Gita, yang kini sudah berbaikan dengan Nadya, bersama Rini, Maya, Restu, dan teman-teman lainnya menjenguk Nadya di RS.
Satrio pergi ke pasar, mencari sisa-sisa kios Ningrum yang masih bisa diselamatkan. Saat itu, para pedagang yang emosi nyaris memukuli Mang Usep, karena Mang Usep tak bisa mempertanggungjawabkan uang para pedagang, yang sedianya untuk menggalang demo antirelokasi. Satrio yang mencoba menengahi, akhirnya malah didaulat untuk jadi pemimpin demo.
Di sekolah, kepala sekolah menegur Bu Ida karena Bu Ida membela siswa yang mau memakai jilbab. Mereka terancam dikeluarkan dari sekolah. Bu Ida balas mengancam, jika para siswa itu dikeluarkan dari sekolah, Bu Ida juga akan mundur.
Si pencopet cantik yang sudah insyaf, Ayu, tak sengaja bertemu Maeng. Maeng pun merasa mendapat petunjuk dari Allah, untuk kembali menjadi laki-laki sejati, bukan banci.
Episode 28
Para siswa teman Nadya berdemo, memprotes larangan berjilbab yang diterapkan kepala sekolah. Gita mengancam, akan membocorkan bahwa Kepala Sekolah naksir Bu Ida. Gita dan Rini juga berinisiatif mengadakan saweran, untuk biaya pengobatan Nadya.
Sementara itu, para pedagang juga berdemo di kantor Alim. Ketika Alim keluar, Satrio kaget. Ia baru tahu, Alim adalah orang yang ditugasi merelokasi pasar. Satrio curiga, Alim selama ini pura-pura mendekati Ningrum sekadar untuk mencari informasi. Alim berjanji, akan mengusut kebakaran pasar dan tidak akan merelokasi pasar sampai para pedagang selesai berlebaran dan mudik.
Ningrum menegur Fahmi, yang selama ini diam-diam jadi pengamen untuk menambah penghasilan. Tapi saat itu Pak Bimo datang dan menagih utang. Bimo memanfaatkan kesulitan keuangan Ningrum, agar janda itu mau menerima dirinya.
Alim mengajak putri menjenguk Nadya di RS. Ia mau membantu membayar biaya pengobatan Nadya. Tapi Satrio memojokkan Alim. Ketika tahu Alim adalah kepala proyek relokasi pasar, Ningrum pun menolak pertolongan Alim. Pulang ke rumah, istri Alim yang menderita lumpuh, Anggi, cemburu mendengar kunjungan Alim ke Ningrum di RS.
Episode 29
Kyai, Nyai dan Ustadz Zaqi menemui Ningrum di RS dan memberi bantuan uang untuk pengobatan Nadya. Nadya sudah boleh pulang untuk rawat jalan di rumah. Ustadz Zaqi, yang sudah serius jatuh hati pada Ningrum, meminta restu Kyai untuk menikah.
Bu Ida nekad mengenakan jilbab ke sekolah, tetapi Kepala sekolah ternyata tidak berani memecat Bu Ida. Satrio kebetulan bertemu Bu Ida yang mau menjenguk Nadya di RS, dan menyatakan perasaannya. Bu Ida pun menerima Satrio sebagai pasangannya.
Nadya memenangkan lomba karya tulis. Dengan uang hadiah lomba itu, Nadya bisa menebus cincin ibunya yang digadaikan, juga membelikan baju baru untuk Satrio, Ningrum, Fahmi dan adam. Ketika Ningrum mau membayar biaya perawatan Nadya di RS, ternyata biaya itu sudah dibayar lunas oleh Alim.
Maeng dan Nengsi pulang kampung pas malam takbiran. Maeng sudah insyaf dan serius mau meninggalkan dunia banci. Adam, yang kini sudah tak punya siapa-siapa lagi, memutuskan ikut Maeng pulang kampung.
(TAMAT)
Jakarta, 16 Agustus 2011
Disusun oleh Satrio Arismunandar
Tuesday, August 9, 2011
Puisi - PINTU SURGA (Closing Episode 29)
Puisi – PINTU SURGA
Kita semua adalah pejalan
Dan kehidupan adalah perjalanan pulang menuju Allah
Jika hatimu selalu dinaungi kerinduan pada Allah
Maka setiap langkah yang kau ayun
akan membimbingmu ke gerbang Pintu Surga
Depok, Jumat malam, 5 Agustus 2011
Satrio Arismunandar
(Puisi pendek ini dicipta khusus untuk closing episode 29 atau episode terakhir ”Pintu Surga,” drama yang tayang setiap hari pkl. 16.30-17.30 WIB di Trans TV selama bulan Ramadan).
Sinopsis Episode 19-24 PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV
SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV
untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)
Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB
Episode 19
Gara-gara salah paham, mengira ibunya meninggal, Fahmi sempat menangis keras. Ningrum memang jatuh sakit, mual, dan muntah-muntah. Nadya, yang sedang mengikuti program Pesantren Kilat (sanlat), juga merasakan firasat tentang sakitnya Ningrum. Di rumah, Satrio dan Fahmi harus bergantian merawat Ningrum.
Sementara itu, Alim menempatkan istrinya Anggi yang menderita lumpuh di rumah ibu Anggi. Dengan demikian, ada yang menjaga Anggi dan ada yang menemani anak perempuannya, Putri. Alim tetap merasakan pertentangan batin, antara cintanya pada istri dan dorongan dari saudaranya untuk menikah lagi.
Di pasar, Tini, Bang Mamat, dan sejumlah pedagang lain kesal, karena para pedagang tradisional ternyata tidak kompak. Ada sejumlah pedagang yang terhasut mendukung relokasi pasar secepatnya. Sedangkan, Alim didesak oleh atasannya untuk segera membereskan proyek renovasi pasar.
Satrio memutuskan berhenti bekerja pada Edo, karena merasa kerja menagih utang secara paksa itu tak sesuai dengan suara hatinya. Gara-gara pilihanya itu nyaris Satrio jadi korban aksi brutal Edo.
Episode 20
Nengsi dan Maeng yang berjalan tak tentu arah, terdampar di sebuah masjid. Maeng merasa tersentuh mendengar tausiah Ustadz Zaqi di masjid itu. Seusai tausiah, Ustadz Zaqi secara khusus menasehati Maeng agar kembali menjadi ”laki-laki sejati,” karena haram hukumnya lelaki berpenampilan seperti perempuan.
Sementara itu, Satrio berlatih orasi, untuk persiapan pekerjaan barunya sebagai koordinator demo. Kerja ini adalah order dari temannya, Yura.
Dalam perjalanan, Satrio kecopetan. Pencopet dompet itu adalah Ayu, si copet cantik. Karena dompet itu ternyata kosong, Ayu punya ide untuk mengembalikan dengan harapan mendapat upah. Tetapi apa lacur, justru Satrio bisa menebak taktiknya dan membuka kedok Ayu. Ayu dinasehati supaya insyaf dan berhenti mencopet.
Alim, yang tertarik pada Ningrum, mengajak anaknya Putri untuk menjenguk Ningrum yang sedang sakit. Di rumah Ningrum, Putri jadi bertemu lagi dengan Fahmi dan Adam.
Episode 21
Kepala sekolah minta Bu Ida memberitahu para siswa peserta Pesantren Kilat (sanlat), bahwa mereka harus memakai pakaian biasa lagi (tidak berjilbab) ketika masuk sekolah lagi nanti. Bu Ida yang sedang menuju pesantren dibuntuti oleh Bondang, sehingga ketakutan melihat gaya preman tanggung itu. Bondang yang ugal-ugalan malah jatuh dari motor.
Satrio menjenguk Nadya di pesantren, dan tak sengaja bertemu Bu Ida di pesantren. Bondang yang mau mendekati Bu Ida jadi batal, karena melihat Satrio. Ustadz Zaqi yang menaruh hati pada Ningrum sempat was-was, karena mengira Satrio itu suami Ningrum. Sedangkan Bondang, sesudah gagal mendekati Bu Ida, kini berbalik merayu Tini.
Di pesantren, terjadi kesalahpahaman karena surat Damar, yang sedianya ditujukan ke Nadya, malah jatuh ke tangan Rini. Rini yang naksir Reyhan, anak pemilik pesantren, mengira surat cinta itu berasal dari Reyhan.
Selain itu, terjadi kehebohan karena ulah orang bertopeng, yang berkeliaran di pesantren pada waktu malam, dan diduga maling. Orang itu sempat berkelahi dengan Nadya.
Episode 22
Tini dan Bondang kini berpacaran mesra, sehingga perilaku Tini menjadi tidak seperti biasanya di pasar. Alim menyambangi Ningrum di pasar, dan memberikan hadiah obat dari Cina. Tanpa disadari, Ningrum mulai menunjukkan rasa suka dikunjungi Alim, sehingga ia digodai oleh Tini.
Ustadz Zaqi, yang berbelanja beras untuk keperluan pesantren, juga ke pasar sehingga bertemu Ningrum.
Pak Bimo, tukang kredit yang juga ada hati pada Ningrum, tidak mendapat perlakuan manis dari Ningrum. Bimo mengira, ini pasti karena pengaruh adanya Alim.
Gara-gara Alim terlambat menjemput anaknya, Putri pulang sendiri. Tasnya dijambret dua anak bandel. Tetapi Putri ditolong oleh Adam dan Fahmi, yang berhasil merebut lagi tas itu. Adam, Fahmi, dan Putri lalu jadi bermain dan mengamen bersama.
Alim didamprat ibu mertuanya karena lalai menjemput Putri. Apalagi, sepulang sekolah, Putri jadi demam. Ibu mertuanya juga menuding, Alim mungkin ada main dengan wanita lain.
Episode 23
Gara-gara bertemu seorang pencari bakat alias koordinator artis figuran, Maeng dan Nengsi mengikuti audisi di sebuah stasiun TV, untuk memilih beberapa pemain sinetron. Tak terduga, justru karena tampilan apa adanya, keluguan, dan kekikukannya, mereka berdua terpilih. Maeng malah ditawari ikut pergelaran musik Ramadan, dengan syarat harus mengubah penampilan jadi macho dan jantan.
Ayu, si copet cantik, mencopet dompet milik seorang karyawan stasiun TV. Tetapi, ingat pesan dan nasehat Satrio, ia insyaf dan mengembalikan dompet itu ke si pemiliknya. Tak terduga, Ayu malah ditawari ikut casting untuk jadi pemain sinetron juga.
Di pesantren, para peserta Pesantren Kilat (sanlat) menyiapkan masakan berbuka puasa dengan memasak sendiri. Putra kyai, Reyhan, diam-diam selalu memperhatikan Nadya. Di sisi lain, Damar mencari-cari kesempatan untuk melihat Nadya, tetapi ia malah kepergok Gita. Damar terpaksa pura-pura. Ia bilang ingin melihat Gita memasak.
Episode 24
Satrio merasa resah dengan pekerjaan barunya sebagai koordinator demo. Dulu ia disuruh menggelar demo anti-pemerintah, tetapi kini ia diminta menggelar demo yang pro-pemerintah. Ini tak sesuai dengan suara hati nuraninya, meski ia dibayar mahal.
Karena sering menunggak SPP, Adam dan Fahmi diberi surat peringatan oleh Tata Usaha untuk diserahkan ke orangtua.
Ningrum mulai mengharapkan dikunjungi Alim. Tetapi Ningrum kecewa ketika mendengar bahwa Alim sudah beristri, sehingga merasa bersalah dengan perasaan itu. Alim sendiri, meski mulai ada hati pada Ningrum, selalu terbayang pada peristiwa kecelakaan yang membuat istrinya Anggi menderita lumpuh. Alim merasa berdosa.
Karena ingin bertemu Ningrum, Ustadz Zaqi mencari alasan untuk bisa ke pasar. Tetapi Nyai tidak merasa ada kebutuhan pesantren yang harus dibeli di pasar. Gara-gara salah paham, mengira Ustadz Zaqi mau mendekati Tini, Bondang melabrak Ustasdz Zaqi. Sementara itu, ketika Alim sibuk dengan urusan keluarga, anak buah Alim –Ratno dan Joni—mengintimidasi pedagang agar segera pindah lokasi.
(BERSAMBUNG)
Penyusun: Satrio Arismunandar
Thursday, August 4, 2011
Sinopsis Episode 14-18 PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV
SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV
untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)
Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB
Episode 14
Nengsi sedih karena sampai saat ini belum juga punya pacar atau pasangan hidup. Maeng berusaha menghibur Nengsi. Nengsi agak iri pada Maeng, yang meskipun banci ternyata masih cukup menarik bagi lawan jenis.
Karena tak tahan terus-menerus digosipkan dengan lelaki lain, dan disindir dengan kalimat yang tak mengenakkan hati, Ningrum akhirnya mengajak bicara langsung dengan Tini. Ketika itu, Tini keceplosan bicara bahwa dia sebetulnya iri melihat Ningrum yang cantik dan mudah memancing perhatian lelaki. Padahal mereka berdua sama berstatus janda. Sesudah percakapan itu, Ningrum dan Tini berbaikan kembali.
Di sisi lain, Alim sedih karena kondisi istrinya Anggi, yang menderita lumpuh, belum menunjukkan tanda kepulihan. Meski Alim sudah berkonsultasi dengan dokter. Alim juga berusaha menghibur anaknya Putri.
Sementara itu, pedagang tradisional di pasar tempat Ningrum berdagang ternyata tidak kompak. Sebagian mereka dapat dikecoh untuk mendukung relokasi pasar.
Episode 15
Meski sedang sama-sama mengikuti program Pesantren Kilat (sanlat), perselisihan antara Nadya dan Gita –masing-masing dengan teman pendukungnya—tidak berhenti. Penyebabnya dipicu oleh kegusaran Gita, karena Damar –cowok yang ditaksirnya dan juga peserta sanlat—justru terlihat mendekati Nadya. Melihat Damar kebetulan berduaan dengan Nadya di waktu malam, Gita segera mengadukan hal itu ke Kyai dan Reyhan.
Para guru SMP mengunjungi para siswa mereka, yang sedang mengikuti sanlat di pesantren. Kepala sekolah, yang keras menolak pemakaian jilbab di sekolah, menyuruh Ibu Ida mengurus pembelian buah-buahan buat para peserta sanlat.
Sementara itu, Fahmi mencari tambahan penghasilan dengan berjualan koran bersama Adam di stasiun KA. Fahmi mengajak Adam mengunjungi Nadya ke pesantren. Karena itu, ia terlambat pulang sehingga membikin Ningrum cemas dan marah.
Episode 16
Pertemuan Nadya dan Damar di waktu malam, yang sebenarnya terjadi secara kebetulan, menjadi berbuntut panjang gara-gara diadukan oleh Gita ke otoritas pesantren. Keduanya dicurigai berpacaran, ssuatu yang dilarang keras di lingkungan pesantren, meskipun bagi peserta Pesantren Kilat (sanlat).
Nadya dan Damar terancam terkena sanksi berat. Untunglah, kyai dan nyai selaku pimpinan pesantren tidak mau bertindak gegabah. Mereka tidak mentah-mentah percaya saja pada pengaduan Gita.
Episode 17
Kehadiran Aisyah, keponakan nyai, yang suka memoret, cukup memeriahkan suasana di pesantren. Gara-gara Aisyah, sejumlah santriwati peserta Pesantren Kilat (sanlat) jadi senang bergaya di depan kamera.
Dalam kasus tuduhan berpacaran, otoritas pesantren akhirnya memutuskan, Damar dan Nadya tidak bersalah. Hal ini terjadi berkat bocoran info dari Aisyah, yang tanpa sengaja menguping ucapan Gita, bahwa Gita sebagai saksi sebenarnya memang tidak melihat hal-hal yang aneh dalam kasus Damar dan Nadya. Walaupun demikian, Damar dan Nadya tetap mendapatkan teguran dari pesantren serta sanksi. Bukan karena pacaran, tetapi karena tidak berada di kamar pada waktu yang seharusnya.
Ningrum mengunjungi pesantren untuk menjenguk Nadya. Karena merasa rikuh, ia menolak diantar oleh Alim. Di pesantren, Ningrum bertemu Ustadz Zaki, yang merasa jatuh hati melihat kecantikannya.
Pulang ke rumah, Ningrum merasa lemas dan gemetar. Ia terserang penyakit yang tak jelas. Akhirnya, Fahmi pula yang harus merawat ibunya di rumah.
Episode 18
Para pedagang tradisional kesal, karena meski sudah iuran uang untuk mengadakan demo, demo yang bertujuan memprotes rencana relokasi pedagang itu tak kunjung terwujud. Mang Usep, yang biasa mengumpulkan setoran sumbangan, jadi sasaran kekesalan. Namun, beberapa pedagang sempat terbujuk untuk mendukung percepatan relokasi, karena diiming-imingi janji mendapat lokasi yang strategis.
Meski masih merasa sakit, Ningrum memaksa diri berjualan di pasar. Akibatnya, dia malah muntah-muntah, sehingga menimbulkan kecurigaan Tini bahwa Ningrum sedang hamil.
Pak Bimo, tukang kredit yang sedang ada hati pada Ningrum, jadi kesal dan cemburu karena curiga Alim sedang mendekati Ningrum. Bimo memaksa mau menagih cicilan utang Ningrum, sehingga berkonflik dengan Alim.
Satrio, yang baru datang ke pasar untuk menjenguk kakaknya Ningrum, merasa terpukul. Satrio melihat perilaku Bimo persis seperti pencerminan dari pekerjaannya sekarang, yang juga menagih utang secara paksa terhadap orang lain. Saat itu Ningrum mendadak pingsan, sehingga segera dibawa oleh Satrio ke rumah sakit.
(BERSAMBUNG)
Satrio Arismunandar
Tuesday, August 2, 2011
Sinopsis Episode 8-13 PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV
SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV
untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)
Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB
Episode 8
Kedatangan Reyhan, putra pemilik pesantren, ke sekolah Nadya menjadi perhatian para siswa putri. Reyhan yang ganteng menawarkan program Santri Kilat (sanlat) di pesantren untuk para siswa SMP. Nadya ingin ikut Sanlat tetapi ia merasa resah memikirkan biayanya, yang dikhawatirkan akan memberatkan ibunya. Untung, sahabatnya Rini mau membantu.
Damar, siswa jago olahraga yang populer di sekolah, juga mau ikut sanlat. Hal ini membikin kesal Gita, ”musuh” Nadya di sekolah, yang sangat menyukai Damar.
Di sisi lain, kepala sekolah marah kepada para guru, karena adanya siswi yang berjilbab. Hal ini dianggapnya melanggar peraturan.
Sementara itu, Satrio bertemu teman lamanya, Edo. Satrio gembira karena ditawari pekerjaan.
Episode 9
Maeng dan Nengsi merasa prihatin, karena uang hasil mengamen sangat minim. Mereka kebetulan bertemu Ayu, si pencopet cantik, dan diajak bekerjasama mencari mangsa untuk dicopet. Nengsi tegas menolak, tetapi Maeng terbujuk oleh ajakan Ayu.
Di saat lain, Satrio merasa tak enak hati, setelah menjalani pekerjaan yang ditawarkan teman lamanya, Edo. Ternyata Satrio disuruh menjadi tim penagih utang, yang tak segan-segan menyita harta milik orang yang ditagih utangnya.
Sementara proses relokasi pedagang pasar berjalan lambat, Ratno dan sejumlah anak buah Alim bermain mata dengan Boby, yang kalah tender dalam proyek renovasi pasar. Mereka tak sabar dengan sikap hati-hati Alim, yang melakukan pendekatan kemanusiaan dalam melaksanakan tugas merelokasi pedagang.
Fahmi dan Adam, yang mencari uang dengan mengamen, kali ini harus berurusan dengan Bang Jari. Bang Jari adalah preman setempat, yang mengkoordinir dan memeras tenaga anak-anak pengamen jalanan di daerah bersangkutan.
Episode 10
Program santri Kilat (sanlat) di pesantren akhirnya jadi berlangsung, diikuti oleh Nadya, Rini, Gita, Damar, dan para siswa lain. Santri putra dan putri dipisah asramanya. Gara-gara ada santri putri yang menangis di tengah malam, karena kangen pada ibunya, suasana pesantren sempat heboh. Hal ini karena suara tangis itu dikira berasal dari hantu.
Nadya sendiri juga merasa rindu pada ibunya, yang belum sempat menjenguknya di pesantren. Padahal sejumlah orangtua siswa lainnya sudah datang ke pesantren.
Alim sementara itu dinasehati oleh kakak kandung dan kakak iparnya, agar segera menikah lagi, karena istri Alim, Anggi, tak juga menunjukkan tanda-tanda akan sembuh dari kelumpuhan. Namun, sikap Alim yang enggan mencari istri baru membuat kakaknya kesal.
Episode 11
Sejak mendapat order pekerjaan dari Edo, kondisi keuangan satrio membaik. Namun, ia mengalami konflik batin, karena tidak suka dengan kerja sebagai penagih utang, yang tak jarang harus tampil tanpa belas kasihan, ketika menyita harta para penunggak utang.
Di pasar, persekongkolan untuk merelokasi pedagang tradisional terus berlangsung.
Sementara itu, Ningrum sempat berselisih dengan Tini, penjual yang berdagang di sebelah kiosnya, gara-gara Tini melakukan praktik curang pada pembeli dengan cara mengakali timbangan.
Ketika pulang dari pasar, Ningrum memergoki anaknya, Fahmi, yang berpakaian kumal karena baru pulang mengamen. Ningrum jadi kesal, karena Fahmi terkesan mulai tidak jujur.
Alim mampir ke rumah Ningrum, dan dengan niat baik memperbaiki sepeda Nadya yang penyok bekas tabrakan. Tetapi kehadiran Alim di sana justru menjadi sumber gosip, karena Tini sengaja menyuruh Bondang untuk memata-matai.
Episode 12
Tini menyebarkan gosip ke Pak Bimo bahwa Ningrum sudah punya pacar baru. Ini sesudah Bondang melaporkan, Alim sempat datang ke rumah Ningrum. Akibatnya, Tini dan Ningrum bertengkar hebat. Sebetulnya, gosip ini muncul berakar dari kecemburuan Tini pada Ningrum yang lebih cantik.
Sementara itu, Ratno dan Joni berusaha memprovokasi Alim, atasannya, agar segera bertindak merelokasi pedagang tradisional. Tetapi Alim, yang merasa curiga, tidak mudah dikecoh. Ini membuat Ratno dan Joni kesal.
Pada kesempatan lain, Maeng dan Nengsi berdialog panjang. Maeng merenungkan pertentangan batin dalam dirinya, dengan tampilannya sebagai banci, tetapi ada dorongan untuk kembali berperilaku sebagaimana layaknya laki-laki normal.
Episode 13
Pesantren jadi heboh, sesudah Gita, selaku salah satu peserta Santri Kilat (sanlat), melaporkan kehilangan dompetnya. Karena sudah terlanjur benci pada Nadya, sasaran kecurigaan Gita langsung saja tertuju pada Nadya. Ternyata dompet itu cuma terselip di bawah tikar masjid.
Ningrum mengunjungi Nadya di pesantren. Ketika ngobrol, Nadya mempertanyakan arti kunjungan Alim ke rumah ibunya. Nadya menduga, Alim mencoba mendekati ibunya, padahal Nadya belum rela ada lelaki lain menggantikan posisi mendiang ayahnya. Pernyataan Nadya membuat Ningrum tertegun.
Pada kesempatan lain, Fahmi dan Adam yang sedang mengamen menemukan uang 50 ribuan, yang terserak jatuh dari tas Putri –anak perempuan Alim. Sesudah sempat menimbang-nimbang, Fahmi dan Adam mengembalikan uang itu ke Putri.
Karena penampilannya yang feminin, Maeng --yang sedang berjalan bersama Nengsi-- pada suatu ketika diejek sekelompok pemuda iseng. Berkat kefasihannya membaca Al-Quran, Maeng bisa menundukkan kelompok pemuda iseng tersebut.
(BERSAMBUNG)
Satrio Arismunandar
ANAK DI TENGAH HUJAN - Cerpen Nadhifa Annisa Satrioputri (Kls. 7, Pesantren Nurul Fikri, Anyer)
Libur panjang tahun ini sungguh menyebalkan. Hujan selalu turun tiap detik, menit, jam, bahkan hari. Semua rencana pergi jalan-jalan dibatalkan hanya gara-gara hujan, pikirku, sambil melihat hujan turun di depan jendela kamarku.
“Al…,” suara itu membuyarkan lamunanku. Aku hanya menengok sedikit ke belakang. Kulihat mama sudah mengenakan baju yang sangat familiar di depanku.
“Kenapa, ma..?” jawabku singkat.
”Al, anterin mama ke optik yuk..!”.
“Emang mama gak liat kalau sekarang lagi hujan?” jawabku sinis.
”Memang hujan, tapi mama mau nunggu sampai kapan? Mama matanya gak enak. Kamu mau kan temenin mama?”
Wajahku mengerut. ”Ya udah ku temenin!” jawabku sebal, sambil pergi ke luar.
Aku sudah duduk di kursi mobil paling depan sambil melipat tangan. Mama, yang baru masuk, melihatku dengan penuh tanda tanya. Terlihat jelas di wajahnya.
Ia mulai bertanya, ”Kamu kenapa sih, Al?”
Aku membisu. Karena tak mau berlama-lama, mama mulai menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan rumah.
Sesampainya di optik, hujan turun makin deras. Aku dan mama berlari memasuki optik. Aku menggigil, begitu juga mama.
Seorang pramuniaga berdiri. ”Selamat datang di Optik Cempaka. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan dan lembut.
Dengan cepat, mama mendekat dan mulai menceritakan masalahnya. Aku tidak ingin mendekat. Aku hanya mencari-cari kursi yang kosong untuk duduk. Aku beruntung karena menemukan kursi yang menghadap jendela berkaca bening.
Awalnya aku mulai merasa bosan, namun sesuatu menarik perhatianku. Kulihat seorang anak laki-laki, umurnya sekitar 7 sampai 6 tahun. Ia mengenakan kaos berlengan pendek yang lusuh. Ia memegang payung, bajunya basah, dan tidak mengenakan alas kaki. Terlihat jelas tubuhnya yang kurus itu menggigil. Wajahnya pucat.
Aku prihatin sekali melihat keadaannya. Kulihat ia berusaha untuk berjalan namun… Brukkk! Ia tersungkur. Aku langsung berdiri dan berlari ke luar.
“Siapapun tolong bantu! Anak ini pingsan!” teriakku, lantang.
Terlihat ada beberapa orang mendekat. ”Mungkin ia kelaparan.” Kelaparan… otakku berputar. ”Mas, tolong angkatin anak ini ke pinggiran toko yang tutup ya? Saya mau beli makanan dulu buat anak ini.”
“Iya, mbak. Anak ini biar saya jagain.”
Dengan sigap aku berdiri dan mulai mencari warteg atau warung kecil. Kulihat ada warteg kecil dekat kantor pos. Kelihatannya tempat itu tidak begitu bersih, tapi tidak apalah. Yang penting, aku bisa membeli makanan untuk anak itu.
Tidak mau terlalu lama berpikir, aku langsung masuk. Kulihat ada ibu setengah baya yang sepertinya kaget melihat aku nyelonong masuk. ”Ada apa toh, nduk?”
“Bu, saya mau beli nasi bungkusnya, pakai ayam,” jawabku tergesa-gesa.
”Iya, nduk. Tunggu sebentar, simbok buatkan dulu.”
Tak lama aku menunggu, simbok sudah selesai dengan tugasnya. Kubayar dan aku langsung berlari ke tempat di mana anak itu pingsan. Kudengar seseorang berkata,”Hei, dia siuman!”
Lega kudengar kata-kata itu. Dengan cepat aku mendekat ke anak itu. Terlihat jelas, wajahnya penuh tanda tanya karena dikelilingi oleh orang yang tidak ia kenal.
”Hei, kau lapar, kan? Ini dimakan ya?” kataku dengan lagak dewasa. Anak itu terlihat ragu namun akhirnya mau juga.
Ia makan dengan begitu lahap, seperti orang yang sudah seminggu tak makan. Malang nasib anak itu. Berceceran nasi di bajunya yang basah dan kulihat dia sudah sehat.
Dia menengok ke arahku.”Terima kasih, kak, atas makanannya.”
“Sama-sama, dik.”
“Sekarang aku mau cari uang lagi. Alhamdulillah, hujannya masih deras.”
Aku terdiam mendengar perkataan itu. Teringat omelanku tentang hujan, yang kukira hanya membawa masalah. Namun, ternyata hujan itu membawa berkah untuk anak ini, yang bekerja sebagai ojek payung.
Ya, Allah, aku merasa malu terhadap anak ini. Ia masih mau bekerja di tengah hujan sampai kelaparan. Sementara aku hanya bisa marah karena hujan selalu turun. Ya, Allah, maafkan aku. Semoga anak ini diberi ketabahan.”
Anak itu berdiri dan mulai bekerja lagi. Sebelum berjalan, ia menengok lagi ke arahku dan berkata, ”Sekali lagi terimakasih ya kak, atas makanannya.”
Ucapannya hanya kubalas dengan senyum.
Anak itu pun berlalu dan aku kembali ke optik. Kulihat mama seperti sedang menunggu sesuatu. ”Mama!” kataku, sedikit berteriak.
”Al, kamu kemana aja tadi? Mama cariin juga!”
“Maaf, ma. Tadi aku hanya keluar sebentar.”
“Lain kali, kalau mau keluar bilang dulu.”
“Iya, ma. Pulang yuk!”
“Kamu mau pulang? Padahal tadinya mama mau ngajak kamu jalan-jalan sebentar.”
Dengan senyum, aku menjawab, ”Gak usah deh. Gak jadi. Lihat aja sekarang, kan lagi hujan. Nanti aja kalau sudah reda.”
Terlihat wajah mama seperti bingung, namun kubiarkan. Segera aku masuk ke dalam mobil. Masih kulihat anak itu mengojek payung, membuatku mengerti, apa arti hujan yang sesungguhnya.
Depok, 17 September 2010
Nadhifa Annisa Satrioputri
Monday, August 1, 2011
Tokoh dan Karakter Utama PINTU SURGA - Drama Ramadhan 2011 Trans TV
Tokoh-tokoh Utama “Pintu Surga”
Drama Ramadhan 2011 Trans TV
(Tayang tiap hari pkl. 16.30 WIB, pada 1 – 30 Agustus 2011)
Ningrum (Berliana Fibriyanti):
Ningrum digambarkan sebagai seorang janda, ibu dari dua anak, yang ingin memberikan yang terbaik pada anak-anaknya. Ia sangat perhatian dan mudah cemas pada nasib anak-anaknya. Tetapi di balik penampilannya yang bijak, lembut, sebetulnya ada rasa kekosongan tertentu di dalam hatinya. Ada kerapuhan yang tak mau ditunjukkan pada anak-anaknya, tetapi kadang-kadang tercetus ke luar lewat ingatan/lamunan pada mendiang suami.
Ningrum terombang-ambing antara rasa cinta lama pada almarhum suami, dan kenyataan real bahwa dia sebetulnya merasa berat menafkahi keluarga sendirian. Serta, ada kebutuhan akan kehadiran seorang laki-laki dewasa dalam rumah tangga (yang belum siap diterima oleh anak-anaknya, terutama Nadya).
Problem lain adalah rencana relokasi pasar tradisional, yang kemungkinan mengganggu nafkah/penghasilan Ningrum yang relatif sudah kecil. Keuangan Ningrum sudah pas-pasan untuk membiayai sekolah anak-anaknya, tetapi dengan sukarela ia masih menampung adik kandungnya, Satrio, sarjana yang pengangguran.
Nadya (Dhea Imut):
Nadya digambarkan sebagai gadis yang baik, penurut, perhatian pada orangtua (Ningrum), tidak banyak menuntut, sayang pada adiknya. Nadya tampil sebagai siswa yang cukup pintar dan kreatif di sekolahnya, berani bersikap berbeda, mengidolakan almarhum ayahnya (yang mdembuatnya tidak mudah menerima kehadiran seorang ayah tiri di rumahnya). Keinginannya memakai jilbab dan masuk pesantren juga antara lain karena pesan almarhum ayahnya.
Nadya berkonflik dengan pihak sekolah karena tekadnya memakai jilbab, dan berkonflik dengan teman sekelas, Gita, yang suka meremehkannya. Konflik dengan Gita berkembang ketika cowok yang ditaksir Gita, Damar, justru mulai menunjukkan ketertarikan ke Nadya.
Sifat Nadya yang spontan, cuek, dan agak tomboy justru menjadi daya tarik tersendiri bagi cowok sebaya. Tetapi Nadya sendiri tidak pernah menunjukkan rasa ketertarikan pada lawan jenis, meskipun dikelilingi oleh teman-teman yang tergila-gila pada cowok cakep.
Fahmi (Reihan Mufur):
Fahmi, adik Nadya ini, awalnya digambarkan sebagai bocah yang penurut dan agak manja karena selalu dilindungi oleh Nadya dan Ningrum. Meskipun digambarkan kritis (banyak bertanya dan selalu ingin tahu), Fahmi tidak pernah digambarkan memiliki prestasi khusus di sekolah. Kemudian dia bisa juga usil dan jenaka pada orang yang dikenal dekat (Oom Satrio). Karakter Fahmi mengalami perkembangan sejak berkenalan dengan Adam, yang mengajarinya mengamen dan berjualan koran, dan mengalami kehidupan sebagai anak jalanan. Meski bertujuan baik, membantu keuangan keluarga, Fahmi mulai “kurang jujur” (kucing-kucingan dan tidak terbuka) pada ibu dan kakaknya.
Satrio (Rayendra):
Satrio, adik Ningrum, meskipun berwajah lumayan keren, digambarkan sebagai lulusan universitas berkualitas pas-pasan. Terbukti dari sekian lama gagal memperoleh pekerjaan (dibandingkan dengan teman-temannya yang lain). Dia juga terkesan kurang mandiri, karena dengan enaknya “menumpang hidup” pada kakaknya, yang juga sudah hidup kekurangan. Yang positif adalah Satrio berusaha hidup jujur, tak mau mengambil uang yang bukan haknya.
Untuk kebutuhan akan harga diri, Satrio mengandalkan pada cerita pengalamannya sebagai aktivis mahasiswa, meskipun tingkat aktivitasnya juga tidak luar biasa (hanya sekadar ikut aksi protes internal universitas, bukan jadi aktivis politik anti-Soeharto, yang marak pada 1997). Satrio baru merasakan kebutuhan serius akan pekerjaan yang “cukup bermartabat” ketika naksir Ibu Ida, karena calon mertua tidak akan mau menerima pemuda berprofesi tak jelas sebagai menantu. Satrio akhirnya mau kerja apa saja demi martabat itu, meski dirasakan tak sesuai suara hati nurani.
Neng Siti (Genta Windi):
Neng Siti digambarkan sebagai pengamen jalanan dengan tampilan dan suara pas-pasan. Berpenampilan selalu norak dan sok selebriti, Neng Siti menjalani profesinya dengan jujur, menolak hal-hal yang tidak-halal, dan masih bermimpi bahwa suatu saat dengan satu dan lain cara karirnya akan terangkat jadi penyanyi tenar. Hal lain yang membuat Neng Siti galau, selain kondisi keuangannya yang kekurangan, adalah belum ada pria yang serius mendekatinya. Tetapi karena pembawaannya yang easy going, terkesan Neng Siti tidak punya konflik atau masalah serius.
Maeng (Ozan Ruz):
Berasal dari latar belakang ekonomi yang sebetulnya lumayan, Maeng adalah keponakan Neng Siti. Maeng memilih jadi pendamping Neng Siti dalam mengamen, karena sering dimarahi di rumah. Pada dasarnya Maeng adalah orang yang baik, sehingga tidak begitu jelas bagaimana pergulatan batinnya ketika ia memutuskan mau membantu pencopet melaksanakan aksinya demi menambah penghasilan (meski lalu digambarkan, Maeng menyesali perbuatannya).
Sebagai waria, pria yang kewanita-wanitaan akibat sosialisasi yang salah semasa kecil, problem utama Maeng adalah problem identitas. Ia menyadari bahwa status waria adalah status yang “salah” secara norma agama, tetapi ia merasa belum mampu mengubah diri jadi sepenuhnya laki-laki.
Alim Himawan (Marcell Domits):
Sering tampil murung, dingin, dan tanpa ekspresi, kontraktor muda yang dipercaya menangani pemindahan pedagang di pasar tradisional tempat Ningrum berjualan, ini hadir sebagai figur yang punya integritas dan profesional. Ia ingin menyelesaikan tugas secara prosedural, bermartabat, dan tidak ingin menyusahkan pedagang tradisional. Konflik yang dihadapi adalah tekanan dari pimpinan untuk segera menyelesaikan tugas, tetapi ada kendala di lapangan, sementara Alim enggan menggunakan cara-cara kotor untuk menyelesaikan tugas.
Konflik kedua adalah adanya kebutuhan kehadiran seorang pendamping yang betul-betul bisa menjalankan peran sebagai istri sepenuhnya, sedangkan istrinya menderita sakit parah. Ada ketertarikan pada Ningrum, tetapi tertahan oleh rasa kesetiaan terhadap istri dan anak, yang selama ini selalu suportif.
Putri (Dwi Anastasya):
Anak perempuan satu-satunya Alim, yang sabar dan tabah mendampingi ibunya yang lumpuh. Putri tidak pernah menyalahkan ayahnya. Karena kemunculannya yang singkat, peran Putri belum cukup tereksplorasi.
Anggi (Lydia Agatha):
Istri Alim yang lumpuh akibat kecelakaan. Karena peran lumpuhnya, karakter Anggi juga tidak tereksplorasi.
Beberapa tokoh Penunjang:
Tini:
Penjual yang kiosnya bersebelahan dengan kios Ningrum. Meskipun kurang jujur dalam berjualan, Tini sebetulnya bukan orang yang betul-betul jahat. Sifatnya yang nyinyir, sok mau tahu urusan orang, dan suka ngomongin orang lain, menjadi gangguan tersendiri bagi Ningrum. Sejauh ini kehadirannya cukup menarik dan mewarnai cerita, sehingga disayangkan jika terlalu lama hilang dalam beberapa episode.
Rini:
Sahabat Nadya yang suka membantu. Ingin berjilbab tetapi merasa belum siap mental. Suka memandang cowok-cowok cakep, dan bersaing dengan temannya Gita dalam merebut perhatian Damar, teman sekelas yang jago basket.
Bondang:
Preman tanggung yang naksir Ibu Ida, dan bakal jadi pesaing Satrio. Bondan yang urakan, berhobi naik motor secara ugal-ugalan. Perannya sebetulnya tidak signifikan, sekedar untuk melucu atau memeriahkan cerita.
Damar:
Siswa SMP jago basket, yang jadi incaran Rini dan Gita.
Gita:
Teman sekelas yang jadi “musuh” Nadya dan Rini. Bersaing dengan Rini untuk merebut perhatian Damar.
Reyhan:
Putra pemilik pesantren yang ganteng. Membantu ayahnya mengelola pesantren dan program pesantren kilat.
Pak Bimo:
Tukang kredit yang biasa menagih uang ke Ningrum, tapi lalu ingin mendekati Ningrum.
Kepala Sekolah (Tarsan):
Kepala sekolah yang sok disiplin, sehingga menghambat keinginan siswi mengenakan jilbab di sekolah.
Ibu Ida:
Guru Nadya yang cantik dan dikejar-kejar oleh Satrio.
Ayu:
Pencopet cantik, yang kemudian jatuh hati pada Maeng.
Adam:
Pengamen cilik, teman Fahmi.
Jakarta, 1 Agustus 2011
Satrio Arismunandar
Sinopsis Episode 1-7 PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV
SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV
untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)
Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB
Episode 1
Nadya, putri dari Ningrum, adalah siswa SMP dan gadis tomboy yang pemberani. Sejak ayahnya, Pak Deden, meninggal dunia, Nadya dan adik lelakinya, Fahmi, tinggal bersama ibu di sebuah rumah sederhana. Gara-gara Fahmi terluka akibat ditabrak seorang pencopet di pasar, Nadya sempat berkelahi dengan copet itu.
Sesuai pesan almarhum ayahnya, Nadya ingin meneruskan sekolah ke pesantren. Tapi ia menghadapi persoalan lain di sekolah, dan sempat ditegur kepala sekolah, karena menunggak SPP sampai tiga bulan. Untuk bisa membayar SPP Nadya itu, Ningrum berkorban dengan menggadaikan cincin kawinnya.
Sementara itu, Satrio, adik Ningrum yang sarjana tapi penganguran, mulai menumpang tinggal di rumah Ningrum sambil mencari pekerjaan. Ningrum, yang bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional, menghadapi persoalan rencana relokasi pasar, yang bisa menggusur pedagang kecil. Ningrum masih suka terkenang pada mendiang suaminya. Sedangkan Fahmi masih merasa kehilangan atas wafatnya sang ayah, sehingga sering terbawa mimpi.
Episode 2
Maeng dan Nengsi adalah pengamen, yang sering mengamen di pasar tradisional tempat Ningrum berdagang. Maeng, pria yang penampilannya feminin, adalah keponakan Nengsi. Nengsi suka menyanyi dangdut. Tapi penghasilan dari mengamen tidak memadai sehingga bikin mereka kecut. Maeng, yang jadi banci akibat salah sosialisasi sejak kecil, juga merasa sedih karena krisis identitas.
Bimo, tukang kredit yang biasa menarik tagihan, jatuh hati pada Ningrum yang masih cantik, meski berstatus janda. Bahkan Bimo sempat menyambangi Ningrum ke rumah, tapi tak diacuhkan oleh Ningrum. Sementara itu, para pedagang pasar yang gelisah karena akan tergusur oleh proyek relokasi, urunan uang untuk menyelenggarakan aksi demonstrasi, guna menentang renovasi.
Untuk menebus cincin ibunya yang tergadai, Nadya ikut lomba karya tulis. Temanya tentang nasib pedagang kecil di pasar tradisional, yang terancam tergusur oleh renovasi tanpa mendapat lokasi pengganti yang memadai. Di sekolah, Nadya sering direndahkan oleh Gita, yang anak orang kaya, tetapi Nadya selalu didukung oleh sahabatnya, Rini.
Episode 3
Karena mau masuk bulan Ramadhan, Ningrum mencoba menambah penghasilan dengan berjualan makanan untuk berbuka puasa di dekat rumahnya.
Di sisi lain, rencana renovasi pasar tradisional akan segera dilakukan, tetapi banyak pedagang yang enggan direlokasi. Oknum pelaksana proyek renovasi pasar diam-diam melakukan cara-cara kotor, dengan merusak kios para pedagang yang dianggap enggan disuruh pindah.
Sementara itu, Nadya dan sahabat-sahabatnya digelisahkan oleh rencana pimpinan sekolahnya untuk melarang pemakaian jilbab oleh siswa di sekolah. Tetapi keinginan Nadya untuk berjilbab malah diejek oleh Gita dan teman-temannya.
Menyadari kesulitan keuangan yang dihadapi keluarganya, Fahmi ingin ikut berjualan koran dengan Adam, untuk tidak menambah beban ibunya.
Satrio masih sibuk mencari lowongan pekerjaan, tetapi tidak mudah rupanya mencari lowongan yang cocok dengan kualifikasinya.
Episode 4
Ibu Ida kecopetan di angkutan umum, tetapi si copet tak sempat membawa lari isi dompet itu, karena secara tak sengaja dompet yang dicopet itu jatuh dan sampai ke tangan Satrio. Satrio menghadapi pertentangan batin, antara kebutuhan nyata untuk menggunakan uang di dalam dompet itu, dan rasa kejujurannya yang ingin mengembalikan dompet itu ke tangan pemiliknya yang berhak.
Fahmi akhirnya mencari uang dengan cara mengamen bersama Adam. Ini dilakukan diam-diam agar tidak diketahui ibunya, Ningrum. Tetapi karena kecapekan mengamen, Fahmi sempat sakit.
Alim, kepala proyek renovasi pasar, mendapat tekanan dari kliennya untuk segera melakukan renovasi, meski banyak pedagang masih enggan direlokasi. Alim ingin menjalankan proyek secara jujur, tanpa terlalu menyusahkan para pedagang kecil, meskipun anak buahnya sendiri ingin menghalalkan segala cara untuk menyelesaikan proyek itu.
Episode 5
Kehidupan jalanan yang keras dijalani Fahmi bersama Adam, sebagai pengamen cilik. Mereka harus berkonflik dengan sesama pengamen, yang dikoordinir preman penguasa wilayah. Karena Fahmi lama mengamen dan pulang terlambat, Ningrum sempat khawatir terhadap Fahmi.
Sementara itu, Nadya dan Satrio membantu Ningrum, berjualan penganan untuk berbuka puasa di dekat rumah. Untuk meningkatkan omzet penjualan, Nadya berinisiatif menawarkan dagangannya dengan cara berkeliling menggunakan sepeda.
Satrio tahu bahwa pemilik dompet yang kini ada di tangannya itu adalah Ibu Ida, guru Nadya. Satrio akhirnya memutuskan untuk mengembalikan dompet itu ke Ibu Ida, dengan langsung mendatangi rumah Ibu Ida.
Di saat lain, Ningrum mengikuti pengajian di masjid yang dipimpin oleh Nyai, istri pemilik pesantren.
Episode 6
Memasuki bulan puasa, Ningrum tiba-tiba merasa kangen sekali dengan almarhum suaminya. Dulu –saat suaminya masih ada- dia tidak merasa begitu susah sebab dia punya tempat untuk curhat dari segala permasalahan yang dia hadapi. Dia juga punya tempat berbagi sehingga persoalan apapun menjadi tak begitu berat, seperti dalam menangani anak-anak, atau urusan rumah tangga lainnya.
Satrio yang masih mencari-cari pekerjaan, kini punya kesibukan baru yakni melakukan pendekatan ke Bu Ida, guru sekolah Nadya. Salah satu yang dilakukannya adalah dengan berpura-pura menjemput Nadya di sekolahnya.
Alim, orang yang diserahi tanggung jawab mengurus relokasi pasar, ternyata memiliki masalah pribadi. Ia harus mengurus putrinya sendiri, karena istrinya lumpuh akibat kecelakaan mobil. Alim datang ke pasar untuk mengetahui kondisi sebenarnya, kenapa relokasi pasar begitu sulit dilakukan. Saat itulah dia bertemu Ningrum. .
Nadya mendapat masalah baru, sebab dagangan kelilingnya tanpa sengaja ditabrak oleh Bondang, preman pengangguran yang sering membawa motor secara ugal-ugalan.
Episode 7
Kerena dagangannya ditabrak Bondang, kaki Nadya terluka dan berdarah. Alim yang kebetulan lewat menolong Nadya, mengantarkannya ke rumah, dan bertemu Ningrum lagi. Simpati Alim bertambah setelah tahu kehidupan Ningrum dan perjuangannya menghidupi anak-anak setelah suaminya meninggal. Namun, kehadiran Alim di rumah Ningrum menimbulkan praduga dan bisik-bisik tetangga. Apalagi mengingat status Ningrum sebagai janda yang masih cantik.
Untuk memulai hubungan baru dengan perempuan lain, Alim sendiri masih merasa berat karena dihantui rasa bersalah akibat kecelakaan yang menimpa istrinya, Anggi. Namun, Putri, anak perempuan Alim, tidak menyalahkan ayahnya atas kecelakaan itu.
Di waktu lain, untuk membalas perlakuan Bondang, Nadya dan kawan-kawan mengerjai Bondang ketika preman tanggung itu sedang petantang-petenteng di sekolah. Bondang, yang kebetulan juga alumnus sekolah itu, terkecoh oleh jebakan Nadya dan terpaksa harus mengantarkan Kepala Sekolah pulang.
Pada suatu kesempatan, Adam dan Fahmi bertemu dengan Maeng dan Nengsi yang barusan mengamen. Lewat percakapan mereka, Maeng merasa diingatkan untuk insyaf dan kembali menjalani kehidupan sebagai laki-laki normal, bukan banci.
(BERSAMBUNG)
Satrio Arismunandar
Subscribe to:
Comments (Atom)







