Friday, October 28, 2011

NASEHAT UST. ABU BAKAR BAASYIR KEPADA SESAMA TAHANAN

Nasehat Ust. Abu Bakar Baasyir untuk Masyhuri Hasan, yang masuk bui karena dituduh terlibat kasus pemalsuan surat Mahkamah konstitusi (sebagaimana dikutip dari surat terbuka, yang disebut dikirimkan oleh Masyhuri Hasan untuk Ketua MK Mahfud MD):

....... selama saya berada di tahanan Mabes Polri saya banyak berdiskusi dengan Ust.Abu Bakar Baasyir, dan dalam salah satu dialognya disampaikan kepada saya bahwa

Pertama, "Katakan saja apa yang benar. Dengan yang benar itu, bisa membuat kamu dihukum, bisa diringankan, atau bisa jadi kamu dibebaskan dari tuntutan hukum"

Kedua, "Kamu masuk di sini belum tentu (karena) kamu bersalah menurut hukum manusia. Akan tetapi, bisa jadi kamu pernah melakukan kesalahan, yang oleh hukum manusia itu tidak bersalah, akan tetapi menurut hukum Tuhan kamu bersalah"

Ketiga, "Karena di sini kita dalam tahanan, maka waktu luang kita sangat banyak. Pergunakan untuk banyak bertaubat kepada Allah SWT dan mengakui kesalahan pada masa lalu dan beribadah kepada Allah SWT."

Dan ketiga pesan inilah yang menguatkan saya selama di tahanan Mabes Polri dan
LP Salemba.

Masyhuri Hasan
(Rutan Salemba)

Jakarta, 28 Oktober 2011

Thursday, October 27, 2011

MUAMMAR QADDAFI - Sang Penguasa Libya (Riwayat, Trans TV, Sabtu 29 Oktober 2011, Pkl. 7.00 WIB)


MUAMMAR QADDAFI – Sang Penguasa Libya
Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 29 Oktober 2011, pukul 7.00 WIB

Kematian tragis pemimpin Libya, Muammar Qaddafi, di tangan pasukan perlawanan yang didukung NATO dan Amerika pada 20 Oktober 2011, telah mengakhiri suatu era, sekaligus juga mengawali babak baru bagi kehidupan rakyat Libya. Setelah sekitar 42 tahun hidup di bawah pemerintahan Qaddafi, masih belum jelas apakah rakyat Libya akan hidup tenteram, atau justru mengalami pergolakan berkepanjangan seperti Irak dan Afganistan.

Yang jelas, kepemimpinan Muammar Abu Minyar al-Qaddafi, yang lahir pada 7 Juni 1942 di Sirte, Tripolitania, telah memberi warna tersendiri bagi negeri kaya minyak di Afrika Utara itu. Sebagai anak termuda, yang lahir dari keluarga miskin badawi di darah gurun pasir, Qaddafi pelan-pelan menanjak karirnuya. Terutama sejak tamat kuliah di Universitas Libya dan masuk akademi militer pada 1963.

Sejak muda, Qaddafi sangat mengidolakan tokoh nasionalis Arab asal Mesir, Gamal Abdel Nasser. Ia terobsesi dengan kejayaan Arab yang bersatu dalam kepemimpinan tunggal. Sayangnya, obsesinya ini tidak disambut hangat oleh para pemimpin Arab lainnya.

Dari akademi militer inilah, Kapten Qaddafi menggalang kekuatan, yang mencapai puncaknya dengan menggulingkan Raja Idris pada 1 September 1969. Begitu berkuasa, Qaddafi menaikkan pangkatnya sendiri menjadi kolonel, dan langsung menutup pangkalan militer Amerika dan Inggris, serta menasionalisasi perusahaan minyak asing di Libya.

Libya di bawah Qaddafi juga banyak memberi dukungan pada gerakan-gerakan ”revolusioner” di seluruh dunia, seperti Tentara Republik Irlandia (IRA), Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), kelompok komunis Filipina (NPA, New People Army), dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) di Filipina selatan.

Ada kisah menarik tentang diplomasi luar negeri, yang dilakukan Presiden Filipina Ferdinand Marcos, untuk membujuk Qaddafi agar berhenti mendukung NPA dan MILF. Marcos sengaja mengirim istrinya yang cantik, Imelda, pada 1975 untuk menemui Qaddafi dalam kunjungan kenegaraan resmi ke Libya. Terpesona pada keberanian dan kecantikan Imelda, Qaddafi terbujuk, dan bertanya pada Imelda, mengapa Imelda tidak masuk Islam saja. Imelda menjawab, Islam berarti damai dan ia datang ke Libya untuk perdamaian.

Berkat kekayaan minyak Libya, pendidikan dan kesehatan rakyat dijamin oleh pemerintah. Qaddafi juga banyak melakukan aktivitas sosial di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Ia mendanai pembangunan sebuah masjid di kawasan Sentul, Jawa Barat. Sebagai penggemar sepakbola, Qaddafi juga memiliki sebagian saham di klub sepakbola Italia, Juventus.

Masih banyak kisah dan perilaku unik Qaddafi, yang memancing perhatian dunia. Mulai dari cara berpakaiannya yan g nyentrik, gaya berpidatonya yang berapi-api, pengawal-pengawal pribadinya yang terdiri dari para gadis cantik, dan lain-lain.

Karena berbagai hal itulah, News Trans TV akan menayangkan profil Qaddafi, pada program dokumenter RIWAYAT, yang akan hadir di layar Trans TV, Sabtu pagi, pukul 7.00 WIB.

Jakarta, 28 Oktober 2011

Satrio Arismunandar
Executive Producer, News Trans TV
HP: 0819 0819 9163

JFK, INDONESIA, CIA DAN FREEPORT (Sumber Masalah di Papua)


Salam kebangsaan yg terhina,

Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport.”

Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.

Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.

Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.

Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah spertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.

Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.

Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C.Long juga aktif di Presbysterian Hospital di NY dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.

Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C.Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.

Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?

Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport!. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia.

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.

Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.

Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setelab 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia.

Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia!!

Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. Ini sungguh-sungguh perampokan besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!!!

Kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput areal tambang emas Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput gunung emas tersebut yang ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan tembaga yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua yang sampai detik ini masih saja hidup bagai di zaman batu.

Freeport merupakan ladang uang haram bagi para pejabat negeri ini, yang dari sipil maupun militer. Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Freeport McMoran sendiri telah menganggarkan dana untuk itu yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.

Sumber : Blog Media Kata

MENGRITIK KEBOBROKAN MEDIA TELEVISI (Resensi Buku "The Freak Show")

Resensi Buku:
Mengritik Kebobrokan Media Televisi

Judul : The Freak Show: Bukan Perempuan Tontonan
Pengarang : Rino Sutan Sinaro
Tebal : 124 halaman.
Penerbit : QuickSTART Foundation, Jakarta, 2011.

Oleh Satrio Arismunandar


Banyak cara untuk bercerita, menyampaikan pesan, berkampanye, atau bahkan memberi advokasi. Mulai dari cara yang runut, lurus, konvensional, sampai ke cara yang meloncat-loncat, unik, atau tidak biasa. Novel The Freak Show (TFS), yang ditulis oleh motivator dan career coach Rino Sutan Sinaro, adalah termasuk jenis yang kedua.

TFS dapat disebut ”novel advokasi,” yang cara penuturan kisahnya tidak memenuhi aturan konvensional. Cerita novel yang bersetting dunia pertelevisian ini disajikan dalam bab-bab tertentu, berselang-seling dengan bab-bab lain, yang menyajikan cuplikan berbagai program televisi, program radio, dan kutipan artikel suratkabar.

Program-program televisi itu sendiri, mulai dari berformat talkhow, siaran iklan, sampai sinetron mini seri, sebenarnya merupakan pesan kampanye tersendiri. Konten program-program itu sengaja ditampilkan oleh Rino Sutan Sinaro sebagai contoh format program televisi yang baik, mencerdaskan, dan mencerahkan.

Singkat kata, isi novel ini sebetulnya merupakan kritik keras dan tajam terhadap berbagai praktik negatif di dunia penyiaran Indonesia, yang ironisnya saat ini justru diterima sebagai suatu ”kelaziman” dalam mainstream dunia pertelevisian. Contoh ”kelaziman” yang salah kaprah itu di antaranya, mulai dari tayangan yang mengumbar kekerasan dan seks, perilaku kebanci-bancian, iklan yang menyesatkan, dan sebagainya.

Memang, jika kita amati pesan yang kita terima tiap hari secara berulang dari media televisi, terasa bahwa pesan kemelaratan, kekerasan, gaya hidup hedon dan materialistik adalah pesan yang dominan. Jadi, tak perlu heran jika di alam bawah sadar, kita lalu memandang dunia sebagai tempat yang kejam, keras, dan untuk selamat kita harus hidup serba instan. Sukses secara instan, free sex, pakaian mini yang mengobral aurat. Serta, pesan bertubi-tubi lewat iklan bahwa perempuan yang cantik haruslah yang berkulit putih, berambut lurus dan berhidung mancung (hlm.111-112).

Media TV seharusnya membebaskan diri dari perangkap cara pandang keliru tersebut. Dalam bahasa Budhiastuty atau Bunda Dhias, tokoh utama dalam novel ini: ”....stasiun TV seharusnya mendorong masyarakatnya untuk mempunyai semangat hidup dan berkehidupan yang baik dengan tidak menayangkan tontonan yang mendorong kekerasan, sakit hati, dan jalan pintas. Oleh karena itu kami mendesain agar penonton kami selalu optimis, kreatif, disiplin, dan peduli sesama dalam menjalani hidup mereka” (hlm. 9).

Tokoh sentral novel ini adalah Bunda Dhias, seorang presenter acara berita di sebuah stasiun televisi, yang memutuskan untuk memakai jilbab, justru sesudah pulang dari belajar selama tiga tahun di Amerika. Keinginan Dhias itu bertentangan dengan ”ketentuan baku” di stasiun televisi bersangkutan, sehingga karena alasan prinsip, Dhias pun mengundurkan diri.

Sesudah sempat menjadi analis lepas di sebuah perusahaan komunikasi strategis, akhirnya ia bekerja di Modern TV, yang lahir dari idealisme untuk menghadirkan tontonan yang sehat, bermanfaat, dan mendidik bagi masyarakat. Sebagai CEO Modern TV, Dhias ingin membangun komunitas nasyarakat Indonesia yang maju, optimis, kreatif dan tawakal. Dalam misinya itu, Dhias didukung oleh aktris terkenal Shantee dan penyiar radio kondang, Imam.

Namun, niat baik ini ternyata juga menghadapi banyak hambatan dan tantangan, dari pihak-pihak yang merasa terganggu kepentingannya. Gedung stasiun Modern TV itu diserang oleh kelompok bersenjata, yang kemudian menewaskan dua karyawan Modern TV. Tetapi, serangan-serangan kekerasan ini justru semakin menegaskan keyakinan Dhias, bahwa langkah berani yang diayunnya sudah berada di jalur yang benar.

Bagi kalangan pembaca awam, bab-bab awal novel ini akan terasa membingungkan karena pola penuturan ceritanya yang tidak linier, bahkan terkesan meloncat-loncat. Setting waktunya juga berpindah-pindah, dari masa lampau ke masa kini, lalu balik ke masa lampau lagi, dan begitu seterusnya. Itu pun sambil diselingi dengan konten program-program TV, yang oleh si penulis sengaja dirancang untuk menyampaikan pesan advokasi dan informasi lain lagi.

Novel dengan tema dan cara penyampaian yang unik ini, meski alur penceritaannya tidak kronologis, berhasil menyampaikan pesan agar pembaca –yakni, para konsumen media TV-- lebih menaruh perhatian pada pembentukan kehidupan yang sehat. Oleh karena itu, segala unsur negatif, yang setiap hari dijejalkan oleh media TV kita sebagai sesuatu yang ”wajar”, haruslah secara tegas kita tolak.

Seperti pesan yang disampaikan Dhias (hlm. 112), ”Mari bersama-sama menghadirkan potensi-potensi manusia di rumah Anda, kamar Anda, ruang keluarga Anda. Tampilkan contoh-contoh yang layak ditiru karena hidup itu indah, manusia itu indah dan munculkan semangat hidup bermakna agar hidup orang yang belum melihat keindahan menjadi ikut indah.” ***

* Satrio Arismunandar adalah jurnalis, praktisi media, dan dosen ilmu komunikasi. Cerpen, esai, resensi buku, laporan perjalanan dan artikel karyanya pernah dimuat di berbagai media, seperti majalah Halo, Anita Cemerlang, Gadis, tabloid Mutiara, dan harian Kompas.

HP: 081908199163

Tuesday, October 25, 2011

"NOVEL SINETRON" KARYA KEROYOKAN 11 PENGARANG (Resensi Buku "Sengatan Sang Kumbang")


Resensi Buku:
“Novel Sinetron” Karya 11 Pengarang

Judul : Sengatan Sang Kumbang
Pengarang : Dewi Yanthi Razalie dkk (11 pengarang)
Tebal : 241 halaman.
Penerbit : Teras Budaya, Jakarta, 2011.

Oleh Satrio Arismunandar


Jika Anda penggemar sinetron, besar kemungkinan Anda akan sangat menikmati novel populer ini. Jalan ceritanya mudah dipahami, ringan, cair, dan alur ceritanya juga mengalir lancar. Tokoh-tokoh dalam novel ini juga berkarakter sederhana, dalam arti tidak ada tokoh-tokoh yang berperilaku rumit atau membuat kening pembaca berkerut.

Malah, bak sinetron atau opera sabun yang sering kita tonton di layar televisi, novel ini bertaburan dengan tokoh yang kaya, ganteng, gagah, macho, cantik, seksi, bertubuh aduhai, dan seterusnya. Tokoh dengan ciri-ciri seperti itulah yang mendominasi dan menghidupkan cerita dalam novel ini. Ditambah lagi banyak ”unsur kebetulan” yang mewarnai novel ini, yang mengaitkan satu tokoh dengan tokoh-tokoh lain. Toh itu sah-sah saja untuk sebuah ”novel sinetron.”

Tokoh utama dalam novel ini adalah Herman, seorang pengusaha kaya yang juga seorang penikmat hidup sejati. Tidak begitu jelas, siapa orangtua Herman, bagaimana latar belakang kehidupannya, bagaimana ia bisa memperoleh kekayaan seperti itu, dan bisnis apa persisnya yang digelutinya. Sebagaimana cerita sinetron, rincian semacam itu tampaknya dianggap tidak terlalu penting.

Herman sudah memiliki seorang istri yang baik dan cantik, Yeni. Pasangan itu belum dikaruniai anak. Meski hidupnya nyaris sempurna, dan dicintai sepenuh hati oleh istrinya, hal itu tidak menghalangi Herman untuk berselingkuh dan bertualang cinta dengan sejumlah perempuan lain. Tentunya, tanpa setahu istrinya, yang sejak muda sudah menderita penyakit jantung bawaan.

Namun, suatu saat Herman pun terkena batunya. Ketika sedang bermesraan dengan Helen, seorang perawat molek yang dikenal Herman ketika sedang menjalani perawatan di rumah sakit, perbuatan itu dipergoki Yeni. Yeni, yang berpenyakit jantung, tak tahan melihat pengkhianatan suaminya. Yeni jatuh koma dan akhirnya meninggal.

Mulai dari sinilah, kehidupan yang semula dirasakan bak surga oleh Herman mulai berubah menjadi neraka. Helen yang semula tampil lugu, ternyata adalah perempuan licik, yang sejak awal memang berencana merebut Herman dari isterinya, serta ingin menguasai kekayaan Herman. Helen diam-diam telah merekam hubungan intim mereka dan mengancam akan menyebarkan isi rekaman itu, jika Herman tidak mau menikahinya.

Menyadari karir dan nama baiknya terancam, Herman malah nekad mengupah orang untuk menyingkirkan Helen, dan membuat Helen jadi gila. Herman juga tidak lantas kapok dengan pengalaman pahit itu. Sepeninggal istrinya dan sesudah mengenyahkan Helen, Herman terus bertualang cinta dengan sejumlah perempuan lain. Seperti dengan Titania dan Jeanette, mantan-mantan pacarnya semasa sekolah.

Sayangnya, sejak wafatnya Yeni, semua petualangan cinta itu gagal memberi kebahagiaan bagi Herman. Sebaliknya, semua itu justru mendatangkan berbagai petaka baru untuknya. Namun, Herman seperti tidak pernah belajar dari pengalaman. Cahaya keinsyafan dan penyadaran, yang terkadang menyinari hatinya, dengan cepat padam kembali oleh hasrat libidonya yang melonjak-lonjak setiap ia bertemu perempuan cantik.

Herman digambarkan sebagai pribadi yang lemah dan plin-plan. Terkadang, ia digambarkan merasa berdosa dan menyesali perbuatan selingkuhnya, yang secara langsung atau tak langsung telah menewaskan istrinya, Yeni. Namun, sesaat kemudian, Herman seperti lupa pada semua penyesalan dan kesedihan itu, karena dengan enteng dia sudah jatuh ke pelukan perempuan lain lagi. Tetapi, kemudian ia akan tenggelam lagi dalam penyesalan. Dan begitu seterusnya, silih berganti.

Barulah ketika penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya semakin parah, bahkan Herman sempat menderita amnesia karena penyakitnya itu, pelan-pelan Herman dapat memperoleh kesadaran diri sejati. Itu pun terjadi karena ternyata masih ada orang-orang yang tulus mau membantunya menuju kebaikan.

Keunikan dan kelebihan novel ini bukan terletak pada tema atau jalan cerita, tetapi bahwa novel ini digarap oleh 11 pengarang secara ”keroyokan.” Bisa dibilang, sangat langka ada novel yang ditulis dengan cara demikian, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain.

Ada 11 penulis yang terlibat dalam penulisan novel ini. Mereka adalah: Dewi Yanthi Razalie (sebagai penggagas, yang merangkap koordinator dan editor), Ariana Pegg, Ari Kinoysan Wulandari, Raya Henri Batubara, Fanny J. Poyk, Dianing Widya Yudhistira, Eva Budiastuti, Ris Prasetyo, Bamby Cahyadi, Hany Iskadarwati, dan Tiara Widjanarko.

Masing-masing menulis satu bab, kecuali Dewi Yanthi Razalie yang menulis dua bab, yakni bab pertama dan bab terakhir. Dalam menulis, setiap pengarang diberi keleluasaan untuk berkreasi sesukanya di bab yang menjadi tanggung jawabnya. Meski, tentu saja mereka harus saling berkoordinasi, agar terdapat kesinambungan dalam nama dan karakter tokoh-tokohnya.

Yang menarik, ketika membaca novel ini, kita tidak merasa bahwa novel ini ditulis oleh 11 pengarang, karena alur ceritanya sangat mulus mengalir. Relatif tidak terasa adanya ganjalan atau perbedaan dalam gaya penulisan maupun teknik bercerita, dari bab satu ke bab yang lain. Sehingga, seolah-olah seluruh bagian dalam novel ini ditulis oleh satu pengarang yang sama.

Dari uraian tersebut, bisa dibilang bahwa Dewi Yanthi selaku koordinator dan editor sangat berhasil melaksanakan tugasnya. Ia berhasil memadukan seluruh bab --yang ditulis oleh pengarang yang berbeda-beda-- menjadi satu kesatuan utuh, yang mudah dicerna dan dinikmati pembaca.

Kalau pun ada yang harus dikritik dalam novel ini, maka itu ada dalam bab XII, atau bab terakhir. Dalam bab penutup itu terasa adanya ”sedikit pemaksaan” dalam alur cerita, seolah-olah penulis sudah tidak sabar, dan ingin agar cerita itu secepatnya diakhiri. Dalam bab terahir itu, jalan cerita terlalu diringkas dan dipadatkan, sehingga tidak jelas penggambaran dan perkembangan karakter tokoh-tokohnya.

Misalnya, tidak jelas prosesnya, bagaimana pramugari cantik Lidya Prameshwarie bisa jatuh cinta pada Herman. Padahal mereka cuma berkenalan sekilas di pesawat, ketika Herman sedang terbang dari Jakarta ke Singapura, untuk mengobati penyakit kankernya di rumah sakit Singapura. Penjelasan tentang jatuh cintanya Lidya muncul secara tiba-tiba dan hanya tercantum dalam satu kalimat. Masih ada beberapa lagi contoh semacam itu di berbagai bagian novel ini, di mana pembaca tidak mendapat penjelasan memadai.

Bagaimanapun juga, sebagai suatu bacaan populer yang tidak berambisi muluk-muluk, novel ini cukup memadai dan bisa dinikmati oleh para pembacanya. Upaya para pengarang untuk menghadirkan suatu karya unik dan langka, hasil kerja keras 11 penulis dari berbagai latar belakang, tetaplah sesuatu yang layak kita apresiasi. ”Sesuatu banget gitu loh,” kalau boleh menggunakan kutipan khas dari penyanyi Syahrini. ***

* Satrio Arismunandar adalah jurnalis, praktisi media, dan dosen ilmu komunikasi. Cerpen, esai, resensi buku, laporan perjalanan dan artikel karyanya pernah dimuat di berbagai media, seperti majalah Halo, Anita Cemerlang, Gadis, tabloid Mutiara, dan harian Kompas.

HP: 081908199163

Monday, October 24, 2011

Kriteria Penilaian Sebuah Karya Inovasi


Ada sejumlah kriteria untuk menilai sebuah karya inovasi. Penilaian ini dilihat dari berbagai sudut pandang. Kriteria ini saya muat di blog saya, semoga bisa berguna sebagai alat bantu bagi rekan-rekan yang terlibat dalam penelitian atau proyek-proyek yang bertujuan menghasilkan karya inovatif. Berikut kriterianya:

A. Sisi Pandang : Innovator
Semakin orisinil idenya semakin baik
Nilai:
1)Ide serupa sudah umum / sudah sering saya dengar
2)Ide serupa sudah pernah saya dengar, termasuk di sektor bisnis lain
3)Sejauh saya tahu, ini ide baru di Indonesia
4)Sejauh saya tahu, ini ide baru bahkan mungkin di seluruh di dunia

B. Sisi Pandang : Kompetitor / Pesaing
Kemudahan ditiru adalah kelemahan dalam persaingan
Nilai:
1)Secara teknis mudah ditiru, praktis tidak ada “barrier of entry”
2)Secara teknis dapat ditiru, namun perlu keahlian teknis / peralatan tertentu
3)Secara teknis tergolong sulit ditiru, termasuk bisa dilindungi paten / formula rahasia
4)Tanpa bantuan sang inovator, praktis tidak bisa ditiru.

C. Sisi Pandang : Konsumer / Pribadi (Comfort)
Inovasi yang mudah diterima lebih baik
Nilai:
1)Saya tidak tertarik pada tawaran inovasi, apalagi beralih
2)Saya perlu diyakinkan bahwa beralih ke tawaran inovasi ini baik dan perlu
3)Saya yakin tawaran inovasi ini baik, saya menerima dan akan mencoba
4)Saya kagum dan tidak sabar untuk melihat atau mencobanya

D. Sisi Pandang : Konsumer / Pribadi (Rational)
Inovasi yang memberikan banyak nilai tambah bagi pemakai (QCDSM), lebih baik
Nilai:
1)Saya mengenali adanya nilai tambah, kalau saya memang pemakai barang sejenis
2)Saya mengenali setidaknya melihat satu nilai tambah yang bagus
3)Saya yakin ada beberapa beberapa nilai tambah yang bagus
4)Saya yakin kebanyakan orang pasti melihat banyak nilai tambah yang bagus

E. Sisi Pandang : Business professional

Inovasi yang berpotensi luas untuk dikembangkan lagi lebih baik.
Nilai :
1)Potensi pengembangan terbatas
2)Potensi pengembangan ada namun belum nyata arahnya
3)Potensi pengembangan besar termasuk aplikasi ke sektor lainnya
4)Potensi pengembangan terbuka lebar dan 'dapat dibayangkan’

F. Sisi Pandang : Business Professional

Inovasi yang berada di (atau bisa masuk ke) growing market lebih baik
Nilai:
1)Inovasi terbatas hanya untuk aplikasi tertentu saja
2)Inovasi tidak meningkatkan aspek aplikasi dari suatu produk/proses
3)Inovasi berpotensi merambah ke aplikasi yang lebih luas
4)Inovasi berpotensi ekspansi ke berbagai aplikasi / segmen pasar yang sangat luas

G. Sisi Pandang : Investor
Inovasi yang resiko bisnisnya banyak (investment, patents, etc) semakin kurang bernilai
Nilai:
1)Peluang gagal dikhawatirkan sangat tinggi, salah satunya dikarenakan banyak ketidak-pastian.
2)Peluang gagal masih agak tinggi, beberapa key success factors belum jelas
3)Secara umum resiko bisnis dan prospek bisnis sudah 'calculated‘
4)Inovasi 'blue-chips', peluang bisnis bernilai

H. Sisi Pandang : Investor
Fase inovasi yang semakin matang menuju aplikasi / pasar semakin rendah resikonya
Nilai:
1)Masih banyak ketidak-pastian untuk menjadi produk / proses unggulan
2)Ada beberapa ketidak-pastian untuk menjadi produk / proses unggulan
3)Ketidak-pastian utama sudah terpecahkan, potensi sukses sudah dekat
4)Inovasi 'blue-chips' / unggulan, sudah nampak berpotensi besar

Jakarta, 2010
Dikutip dari http://www.bic.web.id

Mengumpulkan Serpihan yang Berserak dari Elektro'80 FTUI



Tak terasa, tiga puluh tahun sudah berlalu, sejak saat aku dan teman-teman diterima kuliah di Jurusan Elektro FTUI tahun 1980 sampai saat aku menulis essay pendek ini, Juli 2010. Ada sejumlah kenangan berkesan yang kuperoleh dari pengalaman kuliah bersama teman-teman seangkatan di E’80. Mulai dari kenangan yang manis, yang mengharukan, yang kocak, dan macam-macam lagi, yang tak bisa disebutkan satu-persatu.

Aku yakin, semua mahasiswa E’80 juga punya pengalaman dan kesan sendiri-sendiri tentang masa itu. Sehingga rasanya jadi kurang adil, jika aku asyik menulis tentang pengalamanku sendiri yang bisa sangat subyektif dan personal, padahal aku diminta panitia untuk menulis tentang E’80 keseluruhan. Jadi, untuk tugas itu akan kucoba sebisanya mengumpulkan serpihan-serpihan ingatan, yang sebagian sudah tergerus oleh waktu.

Dari 60-an mahasiswa angkatan kami yang diterima di E’80, ceweknya ada lima. Memang sangat tidak proporsional dibandingkan jumlah cowoknya yang lebih dari 50 orang. Namun komposisi E’80 masih lebih mendingan dibandingkan Jurusan Mesin ’80, yang seingatku cuma ada tiga cewek.

Saat essay ini ditulis, dua dari anggota E’80 sudah meninggal dunia, yaitu rekan Maxim Gorky Siahaan dan Widati A. Wresniwati (Hanny). Rekan Maxim meninggal karena sakit. Sedangkan Hanny meninggal karena kanker pada 15 Maret 2009.

Dari sejak masa kuliah, sudah kelihatan bahwa mahasiswa E’80 itu memang berasal dari latar belakang yang beragam, dan kiprah mereka ketika kuliah juga beragam. Ada yang aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, mulai dari IME (Ikatan Mahasiswa Elektro), BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa), SM (Senat Mahasiaswa), hingga KAPA (Kamuka Parwata) FTUI.

Ada yang fokus pada kuliah saja, tidak ikut kegiatan yang macam-macam. Ada juga yang sudah aktif berbisnis atau menyambi kerja di tempat lain sambil kuliah. Aku sendiri awalnya tak punya kerja sambilan apa-apa, kecuali menulis artikel, puisi, dan cerita pendek untuk ditawarkan ke media. Aku juga sempat menggantikan rekan Ajisman, yang mengajar matematika di sebuah SMA swasta. Akhirnya, aku jadi wartawan di Harian Pelita (yang kebetulan saat itu dipimpin lulusan Elektro FTUI, Ir. Akbar Tandjung) sambil terus kuliah.

Saat kami diterima masuk ke FTUI, waktu itu organisasi kemahasiswaan di UI masih cukup ramai diwarnai aktivitas politik, dengan adanya lembaga seperti IKM (Ikatan Keluarga Mahasiswa), DM (Dewan Mahasiswa), dan MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa) UI. Masa inisiasi mahasiswa baru dilakukan oleh lembaga-lembaga ini lewat Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus).

Kini, sesudah 30 tahun lewat, dari jajaran lulusan E’80 yang tersisa, masing-masing sudah berkiprah di berbagai bidang yang sudah melampaui batas-batas disiplin ilmu elektro. Ada yang menggeluti bisnis konstruksi, konsultan, perbankan, restoran, media, dan politik. Tentunya juga cukup banyak yang masih setia menekuni karir teknik keelektroan, baik di lingkungan swasta maupun BUMN, seperti di PLN.

Apapun aktivitas kami yang begitu beragam tersebut, kini momen reuni 30 tahun diharapkan bisa menjadi perekat dari berbagai elemen E’80, yang sudah berserak dan terpencar ke mana-mana. Sesudah perjalanan waktu yang cukup panjang ini, muncul gagasan bahwa jajaran E’80 sudah saatnya berkumpul kembali dan bersinergi, untuk memberikan sumbangan atau kontribusinya bagi kemajuan dan kebaikan bangsa.

Dalam konteks itu, berbagai perbedaan latar belakang tersebut tidak boleh menjadi penghambat. Tetapi, ia seharusnya justru menjadi aset yang bisa didayagunakan, untuk tujuan-tujuan kebaikan yang lebih luas di masyarakat kita. Banyak hal yang bisa kita lakukan lewat kebersamaan.

Semoga reuni E’80 dan reuni FTUI pada 1 Agustus 2010 ini tidak berhenti jadi sekedar pesta kangen-kangenan dan pertemuan kembali teman-teman lama. Tetapi, ia diharapkan juga menjadi langkah pertama dalam perjalanan panjang dan berkelanjutan, untuk mewujudkan kiprah terbaik kita demi kemajuan nusa dan bangsa. Semoga!

Jakarta, 12 Juli 2010

Satrio Arismunandar
048003051B – E’80 FTUI

Tuesday, October 18, 2011

BEBERAPA TEORI TENTANG DAMPAK MEDIA TERHADAP INDIVIDU


Dampak (efek) komunikasi massa bisa dibagi dua: Efek yang bersifat umum dan efek khusus.
Efek umum menyangkut efek dasar yang diperkirakan dapat terjadi akibat pesan-pesan yang disiarkan melalui media massa. Komunikasi massa memiliki efek yang ”mengembang” sebab dalam banyak hal komunikasi massa telah mengambil alih fungsi komunikasi sosial. Secara umum atau luas, komunikasi massa melalui media massa telah menciptakan suatu jaringan pengertian, yang tanpa itu tidak mungkin tercipta masyarakat yang besar dan modern.

Efek seperti itu merupakan efek dasar yang terjadi dari hari ke hari secara terus-menerus. Ia tidak dapat dilihat, didengar, atau diraba, tetapi ia benar-benar terjadi.
Dapat disimpulkan bahwa terpaan media massa pada waktunya akan menimbulkan perubahan-perubahan yang mengejutkan.

Efek khusus menyangkut efek yang diperkirakan akan timbul pada individu-individu dalam suatu massa audiens pada perilaku mereka, dalam menerima pesan-pesan media massa.
Karena ada kombinasi yang berbeda-beda antara situasi, kepribadian dan kelompok di antara anggota-anggota suatu massa audiens dalam peneriman pesan, jenis efek yang mungkin timbul (the possible effect) akan berbeda-beda pula.

Intensitas perhatian individu-individu terhadap pesan-pesan media juga akan mempengaruhi efek. Misalnya: setiap hari berbagai media menawarkan sejumlah besar pesan kepada perorangan-perorangan dari penduduk yang tinggal di perkotaan. Pesan itu berbentuk: berbagai acara televisi; berbagai berita dan artikel suratkabar, majalah atau buku; berbagai pilihan film di bioskop; rekaman-rekaman kaset; iklan-iklan; dan lain-lain.

Semua itu saling bersaing untuk meraih perhatian penduduk selaku massa audiens yang potensial. Namun semua orang punya keterbatasan. Seseorang tidak mungkin menerima semua tawaran tadi, sehingga ia akan melakukan seleksi. Seleksi yang dilakukan seseorang bisa sangat berbeda dengan yang dilakukan orang lain. Bahkan, jika sudah menyeleksi, intensitas perhatiannya juga tidak terlalu tinggi.

Bagaimana media mempengaruhi audiens? Ada beberapa teori tentang ini, antara lain:

Teori Peluru Ajaib (Magic Bullet) atau Jarum Suntik (Hypodermic Needle):

Teori yang populer pada sekitar tahun 1930-an ini mengatakan, pesan media berdampak pada orang secara langsung, bisa diukur, dan dampak itu bersifat segera (immediate) kepada khalayak. Jadi, dampaknya seperti peluru yang menghantam tubuh, atau seperti tubuh yang ditusuk jarum suntik. Model jarum suntik pada dasarnya adalah aliran satu tahap (one step flow).

Namun, sekarang banyak ilmuwan berpendapat, dampak semacam ini jarang terjadi. Misalnya: Seseorang yang melihat iklan sepeda motor Honda dan dia langsung membeli motor Honda itu, persis dengan model sepeda motor yang diiklankan di TV. Atau ada orang yang melihat tayangan tentang teroris yang mengebom Hotel Marriott dan orang ini pun segera membuat bom untuk menyerang hotel.

Pendekatan ini sangat simplistik, karena mengasumsikan bahwa individu itu hanya bersikap pasif. Individu dianggap akan menyerap semua yang disodorkan media massa tanpa sikap kritis dan tanpa syarat. Padahal kenyataannya para individu membaca koran, mendengarkan siaran radio, dan menonton acara TV dengan cara yang berbeda. Bahkan para individu juga terekspos pada banyak media, sehingga yang diterima bukan cuma satu suara atau pesan tunggal.

Teori Peluru Ajaib atau Teori Jarum Suntik adalah teori dampak kuat. Dalam perkembangan berikutnya, muncul teori-teori yang merevisi model Peluru Ajaib, dan memandang dampak itu lebih bersifat minimalis. Misalnya, model Aliran Dua-Tahap (two-step flow of communication) yang diperkenalkan pertama kali oleh Paul Lazarsfeld dan Elihu Katz.

Model Aliran Dua Tahap (Two Step Flow):


Model ini dikembangkan pada tahun 1940-an oleh Paul Lazarsfeld dkk, dalam kasus pemilihan Presiden Amerika. Tidak seperti teori Peluru Ajaib, yang menganggap dampak media bersifat langsung, model aliran dua-tahap menekankan peran manusia perantara (human agency) atau tokoh-tokoh pemuka pendapat (opinion leader).

Temuan Lazarsfeld menunjukkan, peran media massa justru sangat kecil dalam mempengaruhi opini publik. Media massa hanya berhasil dalam menyampaikan atau meneruskan informasi atau pengetahuan dasar, namun sangat kurang efektif dalam mengubah sikap dan perilaku. Yang lebih besar perannya justru adalah para pemuka pendapat (opinion leaders) sebagai perantara. Temuan ini pun membuyarkan teori Jarum Suntik.

Model aliran dua-tahap ini intinya menyatakan, pesan-pesan media tidak seluruhnya mencapai massa audiens secara langsung. Sebagian besar pesan-pesan itu malah berlangsung dua tahap. Tahap pertama, dari media massa kepada orang-orang tertentu di antara massa audiens, atau kalangan yang kita sebut pemuka pendapat (opinion leaders).

Pemuka pendapat adalah orang yang memiliki akses terbesar terhadap media, dan memiliki pemahaman yang lebih tinggi terhadap konten media. Merekalah yang kemudian menjelaskan dan menyebarkan konten tersebut kepada orang-orang lain. Mereka berfungsi sebagai penjaga gawang (gate keepers) atas pesan media. Dari sini, pesan media diteruskan kepada anggota massa audiens lainnya (tahap yang kedua), sehingga pesan-pesan media akhirnya mencapai seluruh penduduk.

Para opinion leaders dan pengikutnya (followers) secara keseluruhan adalah massa audiens. Pada umumnya, opini leaders lebih banyak bersentuhan dengan media massa ketimbang para followers. Karena posisinya, opinion leaders mempunyai pengaruh terhadap followers. Atas peran para leaders-lah, pelan-pelan media memperoleh efek-efek yang kuat.

Tanpa opinion leaders, walaupun pesan-pesan media sampai kepada massa audiens secara langsung, komunikasi cenderung tidak efektif. Pada tahap kedua ini, yang terjadi adalah komunikasi antarpribadi.

Opinion leader tidak harus merupakan pemimpin dengan otoritas resmi di masyarakat (presiden, menteri, gubernur, walikota, dan sebagainya). Tetapi orang-orang yang dekat dan dipercaya oleh warga. Pemuka pendapat bisa merupakan orangtua, suami/istri, kakak, pacar, sahabat dekat, ustadz setempat, guru sekolah, pedagang sekitar, dan sebagainya. Walaupun tentu saja tidak semua ustadz atau guru bisa menjadi pemimpin opini.

Model Aliran Banyak Tahap (Multistep Flow Model):

Pada perkembangannya kemudian, setelah riset komunikasi massa semakin canggih, pendekatan aliran dua tahap ini pun dianggap kurang memadai, dan berkembang menjadi Multistep Flow Model (Model Aliran Banyak Tahap). Model Aliran Banyak Tahap Model ini diharapkan bisa mencakup jaringan hubungan-hubungan sosial yang kompleks, yang mempengaruhi individu-individu.

Teori Pembudidayaan atau Kultivasi (Cultivation):


Teori Kultivasi atau Pembudidayaan lebih berfokus pada bagaimana sikap orang dipengaruhi oleh media, ketimbang sekadar perilaku orang tersebut. Walau sikap (attitude) dan perilaku (behavior) berkaitan erat, para penganut teori kultivasi berfokus pada bagaimana orang berpikir ketimbang pada apa yang diperbuat orang tersebut.
Banyak dari riset ini melibatkan perbandingan sikap dari para pengguna berat, pengguna menengah, dan pengguna ringan media.

Salah satu temuan riset ini adalah bahwa ketika orang terekspos oleh kekerasan yang sarat di media, mereka tampaknya akan memiliki salah konsepsi dalam penyikapan, yang dinamakan sindrom dunia yang ganas (mean world syndrome). Ini berarti mereka melebih-lebihkan besarnya tingkat kekerasan yang benar-benar terjadi dalam komunitasnya dan di bagian dunia lain. Orang yang kurang terekspos pada kekerasan di media memiliki rasa yang lebih realistis dalam memandang tingkat kekerasan di dunia nyata.

Pendekatan Sosiologis terhadap (kekerasan di) Media:


Cara yang kurang umum dalam mempelajari kekerasan di media adalah pendekatan sosiologis. Teori-teori sosiologis tentang kekerasan di media mengeksplorasi cara-cara di mana media berdampak dan memperkuat ideologi-ideologi dan nilai-nilai yang dominan dalam sebuah budaya.

Misalnya, seorang peneliti mungkin melihat saling-hubungan (korelasi) antara kekerasan di media dan sikap-sikap tentang maskulinitas (kelaki-lsakian) dalam sebuah budaya, atau bagaimana kekerasan media memperkuat dan mencerminkan kebijakan luar negeri yang kasar dari sebuah negara. Teori-teori sosiologis tentang media itu tidak bisa diukur. Namun, itu lebih merupakan cara-cara teoretis tentang bagaimana melihat hubungan media dengan budaya.

Teori Pudarnya Kepekaan (Desensitization):


Teori ini mengatakan, karena orang sudah terlalu banyak terekspos oleh kekerasan di media, misalnya, maka kekerasan tidak lagi memberi dampak emosional pada dirinya. Banyak orang tampaknya akan setuju dengan pandangan bahwa karena sering melihat tayangan kekerasan di TV, maka seseorang tidak akan terlalu terganggu jika disuruh melihat film yang mengandung adegan kekerasan.

Yang kini menjadi perdebatan, apakah orang juga akan kehilangan kepekaan terhadap kekerasan dalam kehidupan nyata. Jika seseorang meninggalkan gedung bioskop sehabis menonton film berisi adegan kekerasan, dan lalu melihat sesosok mayat nyata yang tergeletak di jalan, apakah dia tetap mengalami hilangnya kepekaan?

Teori Narcoticizing Dysfunction:


Teori ini menyatakan, media jarang memberi energi pada orang untuk bertindak, seperti mendorong orang untuk ke luar rumah dan memberi suara pada seorang kandidat dalam Pilkada. Sebaliknya, media justru mendorong orang untuk bersikap pasif.
Banyak orang tenggelam dalam arus informasi dan berita yang begitu melimpah, sehingga mereka justru cenderung menarik diri dari keterlibatan dalam isu-isu publik. Jadi, keterlibatan intelektual mereka telah menjadi pengganti dari keterlibatan aktif konkret.

Misalnya: orang yang terlalu banyak mengunyah informasi tentang isu kemiskinan, dan ia percaya telah melakukan sesuatu untuk menangani problem kemiskinan. Padahal, faktanya ia hanya sangat tahu dan mendalami informasi tentang kemiskinan.

Teori Spiral of Silence:


Teori ini diperkenalkan oleh ilmuwan politik Jerman, Elisabeth Noelle-Neumann, dan berangkat dari pendekatan psikologis.

Teori ini menegaskan, orang cenderung untuk tidak mengekspresikan opininya tentang topik tertentu, jika orang itu merasa hanya sebagai minoritas, karena takut akan pembalasan, pengucilan, atau dampak buruk lain dari pihak mayoritas. Maka, bisa terjadi, orang-orang yang merasa mewakili suara mayoritas, dengan penuh percaya diri akan mudah menyuarakan opininya di media.

Opini yang dimuat di media itu tidak mendapat tantangan, karena orang yang merasa minoritas cenderung tidak membantahnya. Maka, meski sering digembar-gemborkan bahwa media adalah wahana yang menerima opini seluruh kalangan masyarakat, nyatanya hanya kalangan yang merasa mewakili suara mayoritas yang akan muncul di media.

Teori Penetapan Agenda (Agenda Setting):

Menurut teori ini, media menetapkan agenda bagi opini publik, dengan cara mengangkat isu-isu tertentu. Sesudah mempelajari cara peliputan kampanye politik, ternyata dampak utama media berita adalah dalam penetapan agenda. Misalnya, dengan memberitahu masyarakat untuk berpikir tentang topik-topik tertentu.

Topik-topik yang tidak diangkat oleh media menjadi kurang atau tidak dianggap penting oleh publik. Jadi, pengaruh media bukanlah dalam persuasi (bujukan) atau perubahan sikap audiens. Penetapan agenda ini biasanya lebih sering dirujuk sebagai fungsi media, dan bukan teori.

Agenda setting adalah kemampuan media untuk menentukan isu atau berita apa yang dianggap penting, yang harus diperhatikan oleh publik, atau harus segera ditangani oleh pemerintah. Isu yang dianggap penting itu bisa diberi porsi yang lebih besar dan penempatan yang lebih menarik perhatian.

Untuk media suratkabar, hal itu berarti penempatan di halaman 1 dan pemberian space yang lebih luas. Untuk media TV, hal itu bisa berarti penayangan pada alokasi slot prime time (antara jam 18.00-22.00, saat jumlah pemirsa terbanyak) dan pemberian durasi penayangan yang lebih panjang.

Penetapan agenda oleh media bisa berpengaruh pada banyak hal. Misalnya: Popularitas calon legislatif atau kandidat kepala daerah, yang sedang bertarung pada pemilihan umum di wilayah tertentu. Kandidat yang dianggap lebih berkualitas bisa mendapat porsi pemberitaan yang lebih besar, sehingga mereka menjadi lebih populer dan lebih berperluang untuk menang.

Atau, media menentukan isu-isu apa --yang menyangkut kepentingan publik—yang harus segera ditangani pemerintah. Misalnya, isu kenaikan harga BBM, tarif dasar listrik, kenaikan harga sembako menjelang bulan puasa, dan sebagainya.

Jakarta, 18 Oktober 2011

Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA
Dosen Newsmaking Criminology, Departemen Kriminologi FISIP UI

KONSEP INTI MELEK MEDIA (MEDIA LITERACY)


Menurut Center for Literacy Media di Santa Monica, California, AS, ada lima konsep inti dalam melek media:

1.Semua pesan media dikonstruksi
2.Pesan-pesan media dikonstruksi menggunakan bahasa kreatif dengan aturan-aturannya sendiri
3.Orang yang berbeda mengalami pesan media yang sama secara berbeda
4.Media memiliki nilai-nilai dan sudut pandang yang melekat padanya
5.Sebagian besar pesan media dikonstruksi untuk memperoleh profit dan/atau kekuasaan

Semua pesan media dikonstruksi

Tayangan yang muncul di layar TV sudah melalui proses panjang, yang melibatkan aktor-aktor seperti: reporter, kamerawan, produser, presenter, editor, dsb. Hasil akhir yang dilihat penonton bukanlah sesuatu teks yang obyektif ataupun alamiah (apa adanya). Banyak keputusan terkait dengan proses penciptaan sebuah teks, dan audiens hanya melihat hasil akhirnya. Audiens tidak mengetahui ide atau gagasan-gagasan yang tertolak dalam proses penciptaan tersebut, yang mungkin bisa menghasilkan variasi yang tak terhingga terhadap teks media.
(Pertanyaan: Siapa yang menciptakan pesan ini?)

Pesan-pesan media dikonstruksi menggunakan bahasa kreatif dengan aturan-aturannya sendiri

Semua tayangan TV memiliki bahasanya sendiri, yang dapat dipahami dengan menganalisis secara seksama terhadap berbagai suara (audio) dan gambar (visual), yang digunakan untuk menyampaikan pesan.
(Pertanyaan: Teknik-teknik kreatif apa yang digunakan untuk menarik perhatian saya?)

Orang yang berbeda mengalami pesan media yang sama secara berbeda

Setiap penonton memiliki latar belakang pendidikan, usia, pekerjaan, ras, agama, suku, jenis kelamin, dan lain-lainnya yang berbeda. Mereka juga punya pengalaman hidup yang berbeda. Dua orang yang mengkonsumsi teks media yang persis sama, mungkin akan memperoleh pemaknaan yang sangat berbeda.
(Pertanyaan: Bagaimana kiranya orang yang berbeda memahami pesan media ini secara berbeda dengan saya?)

Media memiliki nilai-nilai dan sudut pandang yang melekat padanya

Teks atau tayangan media tidaklah obyektif. Tayangan tersebut mengandung nilai-nilai tertentu, dan dengan tayangan itu ia memberitahu kita para penonton tentang siapa atau isu apa yang penting. Sebaliknya, dengan tidak menayangkan orang atau isu lain tertentu, media TV menyatakan bahwa orang atau isu lain tersebut tidaklah penting.
(Pertanyaan: Gaya hidup, nilai-nilai, dan sudut pandang apa yang diwakilkan, atau dihapus, dari pesan ini?)

Sebagian besar pesan media dikonstruksi untuk memperoleh profit dan/atau kekuasaan
Sebagian besar pesan media TV dibuat untuk memperoleh audience (penonton) tertentu, sehingga para pengiklan dapat memasarkan produk-produknya. Kita perlu memahami adanya motivasi uang/finansial tersebut, untuk mengetahui kepentingan-kepentingan siapa sebenarnya yang dilayani oleh media.
(Pertanyaan: Mengapa pesan ini dikirimkan?)

Satrio Arismunandar

KONSEP TENTANG AUDIENS MEDIA


Audiens media secara sederhana dan universal diartikan sebagai: sekumpulan orang yang menjadi pembaca, pendengar, pemirsa berbagai media atau komponen isinya.

Asal sejarahnya, audiens adalah sekumpulan penonton drama, permainan, dan tontonan. Yaitu, penonton ”pertunjukan.” Pengertian ”pertunjukan” ini tentu bervariasi di setiap zaman dan peradaban yang berbeda. Namun beberapa ciri penting audiens tetap sama.

Suasana lingkungan bagi audiens (teater, aula, gereja) seringkali dirancang dengan indikasi peringkat dan status.

Dengan ditemukannya mesin percetakan, audiens ini pun bertambah dengan ”publik pembaca.” Lalu muncul media elektronik, yang memisahkan audiens yang satu dengan yang lain, serta memisahkan audiens dari pemberi pesan.

Dualitas hakikat audiens:

1. Ia merupakan kolektivitas, yang terbentuk sebagai tanggapan terhadap isi media, dan didefinisikan berdasarkan perhatian pada isi media itu. Contoh: penggemar grup musik Slank, penggemar karya Pramoedya Ananta Toer, dan penggemar acara TV Extravaganza. Tapi para penggemar ini tidak mudah dipilah berdasarkan waktu dan tempat, dan mungkin tidak memiliki eksistensi lain sebagai kelompok sosial.

2. Ia merupakan sesuatu yang sudah ada dalam kehidupan sosial, dan kemudian ”dilayani” oleh provisi media tertentu. Misalnya: komunitas lokal kecil dengan bahasa tertentu, yang membutuhkan kehadiran media lokalnya sendiri dengan bahasa spesifik tersebut. Jadi, media melayani komunitas yang sudah ada sebelumnya.

Audiens sebagai pasar


Perkembangan ekonomi melahirkan konsep audiens sebagai pasar. Produk media merupakan komoditi atau jasa, yang ditawarkan untuk dijual kepada sekumpulan konsumen tertentu yang potensial, yang bersaing dengan produk media lainnya.

Audiens dalam perspektif pasar adalah: ”Sekumpulan calon konsumen dengan profil sosial-ekonomi yang diketahui, yang merupakan sasaran suatu medium atau pesan.”

Di Amerika, di mana hampir seluruh media bersifat komersial, konsep ini merupakan hal yang biasa. Di Indonesia, kecenderungan seperti ini juga semakin kuat. Khususnya pada media televisi swasta, yang hidupnya bisa dibilang hampir seluruhnya tergantung pada pemasukan iklan.

Audiens dipandang memiliki signifikansi rangkap bagi media:
• Sebagai perangkat calon konsumen produk media.
• Sebagai audiens jenis iklan tertentu, yang merupakan sumber pendapatan penting media lainnya.

Dengan demikian, pasar bagi produk media (misalnya, penonton program Extravaganza Trans TV) juga mungkin merupakan pasar bagi produk lainnya (pengguna shampoo Sunsilk, pasta gigi Close Up, dan sebagainya). Di sini, media menjadi wahana iklan dan sarana ”pengantaraan” calon pelanggan produk lain.

Konsekuensi konsep audiens sebagai pasar:


• Hubungan antara media dan audiensnya menjadi hubungan konsumen-produsen, yang karenanya bersifat ”kalkulatif” dari sudut pandang pengirim. Ini bukanlah hubungan moral dan sosial (seperti dalam perspektif audiens sebagai publik/komunitas sosial).

• Karakteristik audiens yang paling relevan dengan cara berpikir pasar ini adalah sosial-ekonomi. Stratifikasi sosial audiens mendapat perhatian yang sangat besar (golongan berpenghasilan rendah, menengah, dan tinggi).

• Dari perspektif pasar, fakta penting tentang audiens adalah perilaku pemerhatian mereka. Hal ini terutama terlihat dari tindakan pembelian atau pilihan memirsa atau mendengar.

(Disarikan dari McQuail, Denis. 1996. Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit Erlangga)

LEGENDA HOEGENG: MENOLAK SUAP SUATU KEHORMATAN


Penulis: Panda Nababan


Pertama kali saya berurusan dengan polisi dan “berkenalan” dengan Hoegeng. Saat itu, saya baru berusia 17 tahun, tepatnya pada tahun 1961 di Kota Medan. Sebagai remaja yang sering dijuluki “Preman”, malam itu saya terlibat dalam perkelahian antargeng berdarah di sekitar Polonia, hingga merusak tempat itu.

Selesai berkelahi, kami berkumpul di Jalan Jokya, di mana ada tukang rokok berjualan. Selagi asyik bercerita tentang “kejagoan” setelah perkelahian, tiba-tiba ada seorang lelaki naik sepeda membeli rokok. Ia agak lama berdiri di depan kios, sambil menawar rokok yang mau dibeli.

Lima belas menit kemudian setelah lelaki bersepeda itu pergi, tiba-tiba satu regu polisi, pakai topi waja cokelat datang. Ternyata mereka Polisi Perintis Umum (P2U), satuan pemukul yang paling ditakuti preman pada waktu itu selain CPM (Corps Polisi Militer) yang bertopi waja putih.

Kami diangkut ke kantor polisi di jalan Bali dan dihadapkan kepada Kepala Reserse AKBP Hoegeng, lelaki penunggang sepeda yang beli rokok tadi. Itulah perkenalan pertama saya dengan Hoegeng. Ini juga pertamanya saya kali ditangkap polisi. Sekitar sembilan tahun kemudian, sebagai wartawan junior Sinar Harapan, saya kembali berurusan dengan Hoegeng.

Tetapi ia sudah menjadi Kapolri (1968-1971). Rumahnya cukup sederhana di Jalan Madura, Menteng. Sekembali dilantik Presiden sebagai Kapolri, di dekat pintu gerbang rumahnya telah dibuat gardu ”monyet” untuk penjaga. Padahal, sebelumnya itu tidak ada. Melihat itu, ia segera memerintahkan untuk membongkar.

Ia tidak suka ada pos jaga di rumahnya, karena itu membuat jarak dengan masyarakat. Begitu memasuki rumahnya, ia diadang sebuah karton besar berukuran satu kali setengah meter bertuliskan Philips . Ternyata isinya, portable musik yang dapat dipakai untuk rekaman, punya sound system, dan bisa berfungsi menyiarkan lagu dan radio.

Hoegeng saat itu adalah pengurus Hawaian Senior, sekaligus penyanyi dan pecinta musik keroncong termasuk musik Hawai. Bingkisan itu dikirim kenalannya yang seorang pengusaha. Akibatnya, batin Hoegeng bergolak. Ia tulis dialog imajiner di atas kertas yang dilapisi karbon.

Kalimat terakhir dialog itu tertulis, “Dengan sangat menyesal saya beritahukan kawan, Hoegeng pribadi kalah. Dan portable Philips ini terpaksa saya kembalikan”. Sejurus kemudian, ia memanggil ajudannya dan portable Philips itu dikirim kembali pada pemiliknya.

Gratifikasi

Waktu itu belum ada gratifikasi. Namun, antara hadiah dan suap beda tipis. Surat yang argumentatif itu merupakan cara Hoegeng menolak gratifikasi atau suap. Sebaliknya, ia memberikan pendidikan bahwa memberikan sesuatu kepada pejabat tidak etis dan melanggar hukum. Peristiwa itu menjadi cerita mulut ke mulut dan menjadi legenda Hoegeng.

Cerita lainnya adalah ketika saya bertandang ke Mabak, Markas Besar Angkatan Kepolisian (nama dari Mabes Polri masa itu). Saya berada di ruang tamu karena Hoegeng masih menerima tamu. Tiba-tiba saya dikejutkan suara pintu yang dibanting keras.

Seorang pengusaha berjas berdasi, keluar terbirit-birit dan kelihatan didampingi Deputi Operasi (jabatan setara Bareskrim saat ini) Mayjen Pol Katik Saroso. Katik Saroso menasihati saya untuk tidak mewawancarai Hoegeng dulu karena ia sedang marah besar.

Beberapa lama kemudian Hoegeng bercerita kepada saya, pengusaha itu ingin menyerahkan sejumlah uang untuk kasusnya. “Dia tidak menghormati saya,” katanya. Dari kisah ini terungkap bahwa Hoegeng merasa terhina dan membuatnya marah.

Seharusnya Katik Saroso sudah tahu tabiat Hoegeng yang tidak bisa disogok. “Itu yang membuat saya lebih marah lagi, pengusaha seperti itu bisa masuk ke kamar kerja saya”, kata Hoegeng. Ia lalu memanggil Katik dan memerintahkan segera mengusut kasus pengusaha itu dan segera melimpahkan ke pengadilan.

Kebiasaan Hoegeng naik sepeda sudah menjadi trademark-nya. Setelah tidak menjabat Kapolri lagi, Hoegeng sering muncul pada acara Hawaian Senior yang secara teratur disiarkan TVRI, satu-satunya televisi pada masa itu.

Saat ibu Fatmawati Soekarno, ibu negara dan ibunda Megawati Soekarnoputri, meninggal dunia 14 Mei 1980, jenazahnya disemayamkan di rumah duka Jalan Sriwijaya Kebayoran Baru. Posisi rumah itu agak tinggi dari jalan raya dan ada belasan tangga di bibir Jalan Sriwijaya.

Saat itu di bawah tangga saya lagi asyik ngobrol dengan Japto Soerjosoemarno (Ketua Pemuda Pancasila). Tiba-tiba kami dikagetkan karena melihat Hoegeng turun tangga dengan tergesa-gesa. Rupanya dia mengejar Menteri Penerangan Ali Murtopo yang baru keluar dari rumah duka.

“Li, tunggu dulu, jangan terus lari,” kata Hoegeng sambil bergegas mendapatkan Ali Murtopo yang sedang menuju mobilnya di parkiran. “Kenapa kau larang TVRI menyiarkan Hawaian Senior, ha?” katanya sambil menunjuk dada Murtopo.

Saya dan Japto yang menyaksikan peristiwa itu segera mendekat. “Sudah Om, sabar Om”, kata Japto kepada Hoegeng. Ali saat itu kehilangan wibawa, malah dengan kecut masuk ke mobil dan pergi.

“Hanya itu hobi saya, dibredel kunyuk itu lagi,” kata Hoegeng kesal dengan gaya Banyumasannya. Serangkaian peristiwa di atas menunjukkan bagaimana seorang tokoh yang berkarakter digilas oleh zaman, itulah legenda Hoegeng.

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/legenda-hoegeng-menolak-suap-suatu-kehormatan/

14 Oktober 2011

Monday, October 17, 2011

Joke Politik - Runyamnya Birokrasi Pemerintah (Pasca Reshuffle Kabinet)

Joke Politik – Runyamnya Birokrasi Pemerintah 2011

Saya mendengar kabar bahwa seorang dosen ilmu politik, sahabat lama saya, terpilih untuk bergabung sebagai staf ahli, di salah satu kementerian pasca reshuffle kabinet, Oktober 2011. Maka, saya pun mencoba mengontaknya untuk memberi ucapan selamat. Sayang, saya kehilangan nomor HP-nya. Maka, saya mencoba menelepon petugas di sekretariat kabinet untuk mencari tahu.

Saya: Bisa bicara dengan Pak Nur Iman? Beliau kabarnya baru diangkat menjadi staf ahli di kabinet hasil reshuffle.

Petugas: Agak repot, Pak. Karena ada tiga nama Nur Iman di jajaran staf ahli. Pertama, Nur Iman Hermanto, staf ahli dari wakil menteri pendidikan nasional bidang pemberantasan ijazah palsu.

Saya: Bukan Nur Iman yang itu. Lainnya?

Petugas: Ada lagi, Nur Iman Rizqi, staf ahli dari wakil menteri luar negeri bidang peningkatan citra Indonesia di negara-negara Afrika bagian barat.

Saya: Bukan yang itu. Lainnya?

Petugas: Ketiga, Nur Iman Masduki, staf ahli dari wakil menteri pertanian bidang peningkatan produksi buah dan sayuran tropis asal daerah pegunungan.

Saya: Tampaknya juga bukan yang itu. Teman saya itu namanya Nur Iman Subonoto.

Petugas: Oooh, bilang dong dari tadi. Kalau Pak Subonoto itu bukan staf ahli, tetapi staf khusus pendukung madya.

Saya: Wah, jabatan apa pula itu?

Petugas: Di bawah staf ahli dari wakil menteri, ada staf khusus pendukung utama, yang bertugas membantu pekerjaan para staf ahli. Nah, staf khusus pendukung madya itu tugasnya adalah membantu pekerjaan para staf khusus pendukung utama tadi. Jelas, Pak?

========================================

Joke Politik – Evaluasi Pemerintahan 2012


Percakapan imajiner ini terjadi tahun 2012, persis setahun setelah Presiden melakukan perombakan kabinet. Kepala Unit Kerja, yang bertugas mengawasi kinerja setiap kementerian, memberi laporan evaluasi kinerja kementerian pada Presiden.

Kepala Unit: Bapak Presiden tampaknya perlu melakukan reshuffle kabinet lagi.

Presiden: Kenapa?

Ka Unit: Sesudah setahun, ternyata kinerja tiap kementerian tetap buruk. Banyak kritik dari media, akademisi, pakar, aktivis LSM dan masyarakat.

Presiden: Kok bisa begitu? Coba jelaskan.

Ka Unit: Setahun lalu kan banyak menteri yang tidak kapabel. Maka kita ciptakan jabatan wakil menteri, untuk mendukung dan memperbaiki kinerja menteri yang amburadul.

Presiden: Lalu?

Ka Unit: Ternyata kinerja para wakil menteri ini juga buruk. Akibatnya, kinerja kementerian tetap jalan di tempat. Apa yang harus saya lakukan, Pak?

Presiden (marah): Segera rekrut para akademisi, pakar, komentator, dan aktivis LSM yang banyak cingcong itu masuk ke kabinet, biar mereka tidak ribut lagi.

Ka Unit: Apa jabatan dan tugas untuk mereka, Pak?

Presiden (makin marah): Bodoh kamu! Jabatan mereka adalah Deputi Wakil Menteri. Tugasnya tentu saja adalah mendukung dan memperbaiki kinerja para wakil menteri! Mengerti kamu?

======================================

Joke Politik – Mewujudkan Visi Kabinet


Alkisah, sesudah ada penambahan jabatan deputi wakil menteri pada Oktober 2012, ternyata kritik dari media dan masyarakat tetap berlangsung. Malah semakin sengit. Atas saran stafnya, untuk memperbaiki citra pemerintah, Presiden membuka diri untuk wawancara khusus dengan pemimpin redaksi dari sejumlah media. Berikut isi wawancaranya:

Pemred: Kebijakan Bapak Presiden, yang menciptakan jabatan-jabatan baru seperti deputi wakil menteri, dikritik banyak kalangan masyarakat. Apa tanggapan Bapak?

Presiden: Itu terjadi karena masyarakat belum memahami visi kabinet, yang sudah saya canangkan sejak awal pemerintahan.

Pemred: Visi yang mana, Pak?

Presiden: Saya kan sudah mencanangkan kebijakan yang pro-growth, pro-poor, dan pro-jobs.

Pemred: Maaf, kami kurang paham maksud Bapak.

Presiden: Nah, penciptaan banyak jabatan baru, seperti wakil menteri, deputi wakil menteri, staf ahli wakil menteri, staf ahli deputi wakil menteri, dan lain-lain itu adalah untuk membuka lapangan kerja baru. Jadi, itu sudah sesuai dengan visi pro-jobs. Pemred sekarang kok bodoh-bodoh ya? Begitu saja nggak mengerti. ***


Jakarta, 17 Oktober 2011

(Besok malam dijadwalka ada pengumuman reshuffle kabinet)

Friday, October 14, 2011

STEVE JOBS - Sang Jenius dan Visioner Abad 21


STEVE JOBS – Sang Jenius dan Visioner Abad 21
Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 15 Oktober 2011, pukul 7.00 WIB

Kematian Steve Jobs karena penyakit kanker pankreas pada usia 56 tahun, adalah kehilangan besar bagi dunia, khususnya dunia teknologi informasi. Steve Jobs, dengan orisinalitas produk, karya dan visi masa depannya, dipandang telah mengubah sejumlah mimpi fiksi ilmiah menjadi kenyataan. Produk-produknya juga telah berperan meluas, dengan ikut mengubah jalannya industri-industri lain.

Merintis perusahaan komputer Apple dari sebuah garasi rumah di Los Altos , Steve Jobs tumbuh menjadi tokoh besar di dunia teknologi informasi. Ia membuat gebrakan dengan meluncurkan iPod, alat pemutar musik digital mini pada 2001, yang serta merta menggeser kepopuleran Walkman dari abad sebelumnya. Kesuksesan iPod, lalu disusul dengan munculnya iTunes, iPhone (2007), dan terakhir iPad (2010).

Di sela ribuan pujian yang ditujukan padanya, sebetulnya tidak semua karya Steve Jobs --yang sangat tertutup soal kehidupan pribadi dan keluarganya ini-- menuang keberhasilan di pasar. Ada juga produk yang gagal, seperti Apple TV tahun 2007. Namun, sekian banyak kesuksesannya telah menutupi kegagalan itu, hingga nyaris tak diingat orang.

Salah satu resep untuk meraih sukses, menurut Steve Jobs, adalah kita harus mencintai dan memiliki hasrat mendalam terhadap hal-hal yang kita lakukan. Mengapa? “Karena, orang yang tidak memiliki hasrat mendalam akan mudah menyerah dalam menghadapi tantangan,” ujarnya.

Warisan berupa nilai-nilai yang bersifat inspiratif dari mendiang Steve Jobs sangat patut direnungkan, termasuk untuk kita yang di Indonesia. Karena berbagai hal itulah, News Trans TV akan menayangkan profil mantan CEO Apple yang sangat kreatif dan inspiratif ini, pada program dokumenter RIWAYAT, yang selalu hadir di layar Trans TV, Sabtu pagi, pukul 7.00 WIB.

Jakarta, 14 Oktober 2011

Satrio Arismunandar
Executive Producer, News Trans TV

Monday, October 10, 2011

Joke Politik - Saya Masuk Jajaran Kabinet (Berkat Reshuffle)

Joke Politik – Saya Masuk Jajaran Kabinet

Telepon dari Pak Sudi Silalahi


Telepon dari Pak Sudi Silalahi (orang kepercayaan Presiden SBY): "Pak Satrio, selamat ya! Tolong siapkan jas dan dasi. Presiden mau mengumumkan, bapak masuk jajaran kabinet!"
Saya tentu saja kaget: "Wah, benar nih, Pak? Saya dapat jabatan menteri apa, Pak?"
Jawab Pak Sudi: "Menteri Urusan Share dan Rating. Tak jauh dari profesi Pak Satrio sebagai wartawan TV sehari-hari!"
Tanya saya lagi: "Lho, masa sih saya ngurus rating TV?"
"Bukan," sahut Pak Sudi. "Tugas Pak Satrio, harus menjaga rating popularitas Presiden SBY. Jangan sampai turun dan jangan mengkritik terus soal ketidaktegasan beliau!"


Telepon dari Pak Julian


Sesudah telepon dari Pak Sudi, saya ditelepon Pak Julian (jubir Presiden).
"Pak Satrio, saya cuma mau konfirmasi. Apakah bapak lahir tanggal 9?"
Jawab saya: "Bukan. Saya lahir tgl 11."
Julian: "Apa bapak lahir bulan 9? Maksud saya, bulan September?"
Jawab saya: "Bukan. Saya lahir bulan April."
Julian: "Apa tahun kelahiran bapak diakhiri angka 9? Misalnya, 1969, 1979, dsb?"
Jawab saya: "Bukan. Saya lahir tahun 1961."
Pak Julian langsung berkata tegas: "Maaf, kalau begitu Pak Satrio batal jadi menteri. Kata Presiden, syarat jadi menteri, tanggal, bulan, dan tahun kelahiran harus dominan angka 9. Biar pemerintahan sukses!"

Jakarta, 11 Oktober 2011

Sunday, October 9, 2011

PERNYATAAN SIKAP AJI TENTANG RUU INTELIJEN


Nomor : 039/AJI-Div.Adv/P.S/X/2011
Hal : Pernyataan Sikap untuk segera diberitakan

Pernyataan Sikap AJI tentang RUU INTELIJEN


Publik dikejutkan dengan rencana pengesahan Rancangan Undang Undang (RUU) Intelijen pada 11 Oktober 2011 dalam Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI).

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia meminta DPR dan pemerintah tidak serta merta mengesahkan RUU Intelijen mengingat masih banyak hal yang berpotensi membahayakan kehidupan masyarakat sipil, mengancam profesi jurnalis, dan menabrak peraturan perundangan lain.

Adalah benar bahwa Komisi I DPR telah mengeluarkan DRAFT RUU Intelijen terbaru dan mengubah sejumlah materi krusial seperti wewenang penangkapan/penahanan, wewenang penyadapan, dan sanksi pidana bagi pembocor rahasia intelijen. Namun, semua itu belum cukup, mengingat masih ada pasal-pasal lain yang apabila diterapkan dapat membahayakan kehidupan demokrasi dan kebebasan pers.

Misalnya Pasal 32 tentang penyadapan. Kewenangan penyadapan kepada aparat intelijen seharusnya diterapkan dalam situasi khusus dengan payung hukum yang jelas, seperti situasi darurat sipil, darurat militer, atau darurat perang yang pemberlakuannya melalui payung hukum dan pertanggungjawaban negara yang jelas.

AJI berpendapat pembatasan atau restriksi terhadap kebebasan melalui "penyadapan" perlu dijabarkan lebih detil dan tidak bisa diterima dalam kondisi negara tertib sipil atau dalam kondisi negara aman damai. Terkait Isu Pers Pasal 26 RUU Intelijen menyebutkan : "Setiap orang atau badan hukum dilarang membuka dan/atau membocorkan rahasia intelijen". Artinya, siapapun yang terbukti membuka atau membocorkan rahasia intelijen dapat dikenai sanksi pidana. Sanksi pidana untuk pembocor intelijen diatur dalam pasal 44 dan 45 RUU Intelijen, yakni 10 tahun penjara dan 7 tahun penjara dan atau denda ratusan juta rupiah.

AJI menilai pasal 26 RUU Intelijen cenderung subjektif, terlalu luas, dan cenderung bertabrakan dengan makna lain. Beberapa definisi "rahasia intelijen" sebagaimana dirincikan dalam pasal 25 bertabrakan dengan definisi "informasi negara".

AJI menilai pasal 26 RUU Intelijen rawan disalahgunakan aparatur negara terutama untuk melindungi kekuasaannya. Terutama pasal ini bisa dikenakan kepada jurnalis atau pegiat pers yang mempublikasikan informasi atau melakukan tugas jurnalisme investigasi dan menyebarkan laporannya kepada publik. AJI menilai rumusan pasal ini berpotensi mengancam kebebasan pers.

UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 telah mengatur tugas dan fungsi pers, khususnya Pasal 4, berbunyi : (2) Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pemberedelan, atau pelarangan penyiaran. (3) Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. (4) Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak. Harus diingat tugas jurnalis itu dilindungi dua Undang-Undang sekaligus, yakni UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP) Nomor 14 Tahun 2008.

Masih pasal yang sama (pasal 26 RUU Intelijen), AJI melihat definisi "rahasia negara" ini bertabrakan dengan UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Dalam pasal 17 UU Nomor 14/2008 disebutkan ada dua jenis informasi yang harus diberikan Badan Publik, yaitu informasi yang dikecualikan dan informasi terbuka. Informasi yang dikecualikan sudah diatur dalam UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP), yakni informasi yang dapat membahayakan keamanan dan ketahanan nasional. Untuk apa mengatur materi yang sama dalam UU yang berbeda?

Atas dasar pemikiran di atas, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyatakan hal-hal sebagai berikut :

1. Meminta Komisi I DPR, Pemerintah, dan masyarakat sipil menyamakan, memperjelas persepsi dan definisi tentang "rahasia negara" dan membedakannya dengan "informasi negara". Hal ini sangat penting mengingat definisi itu terutama akan berkaitan dengan pekerjaan jurnalis dalam mewartakan kebenaran kepada publik.

2. Mengingatkan DPR-RI dan pemerintah agar mendengarkan pendapat rakyat, termasuk kalangan sipil yang memiliki kepedulian masa depan bangsa dan negara Indonesia. Setiap pembuatan Undang Undang hendaknya disesuaikan dengan kondisi zaman dan tidak digunakan untuk kepentingan penguasa. Indonesia sudah meninggalkan rejim tertutup karena ketertutupan itu selalu berpeluang untuk penyalahgunaan kekuasaan.

Sejak 1999 Indonesia sudah mengadopsi pers bebas dan beretika, sehingga peraturan lain yang mengancam kebebasan pers dan keterbukaan informasi publik harus ditinjau kembali.

3. Mengajak para jurnalis dan masyarakat umum agar senantiasa menggunakan kebebasan pers dan kebebasan memperoleh informasi dengan panduan etika jurnalistik serta dapat dipertanggungjawabkan secara profesional. Setiap warga negara senantiasa menjaga ruang kebebasan berekspresi agar terhindar dari berbagai ekses pelanggaran peraturan perundangan yang berlaku.

Jakarta, 10 Oktober 2011

Ketua Umum AJI
Nezar Patria

Sekretaris Jenderal
Jajang Jamaludin


Informasi selanjutnya silahkan hubungi: Divisi Adokasi AJI
Eko Maryadi (Item) 0811.852.857

Sekretariat AJI Indonesia
Jl. Kembang Raya No. 6
Kwitang, Senen, Jakarta Pusat 10420, Indonesia
Phone (62-21) 315 1214
Fax (62-21) 315 1261
Website : www.ajiindonesia.org

Friday, October 7, 2011

MEDIA MASSA SEBAGAI SUMBER BELAJAR KEJAHATAN


(Materi kuliah Newsmaking Criminology di Departemen Kriminologi FISIP UI)

Apakah membaca berita kejahatan di suratkabar atau menyaksikan aktivitas kejahatan dalam berita televisi atau film-film Hollywood akan menimbulkan lebih banyak kejahatan?

Apakah ekspos media tentang kejahatan akan menginspirasikan peniruan tindakan kejahatan tersebut di dunia nyata (copycats)? Ada beberapa contoh ekspos media, yang sering disebut telah menginspirasikan tindakan kejahatan, antara lain:

• Percobaan pembunuhan yang ditampilkan di film Taxi Driver (1976).
• Tersedianya Buku Pegangan Teroris di Internet sebelum dan sesudah serangan pemboman terhadap gedung federal di Oklahoma City, Amerika (1995).
• Sebuah film (1993), yang menggambarkan seorang remaja mempertaruhkan hidupnya dengan berbaring di jalan raya yang padat lalu lintas, dikatakan telah “menginspirasi” sejumlah remaja untuk mencoba aksi serupa.
• Ada salah satu episode tokoh kartun MTV, Beavis and Butt-Head, yang menyarankan anak-anak untuk membakar habis rumah mereka, dan ini dianggap mendorong seorang anak untuk mencoba melakukan “saran” tersebut.

Gagasan bahwa deskripsi dan penggambaran oleh media berdampak kuat pada perilaku, sudah lama ada dalam literatur tentang dampak media (model “jarum hypodermic”). Seperti penyuntikan obat, masukan ke audiens media berupa tindakan kasar dan antisosial dalam konten media dianggap berdampak pada psikis, dan mungkin mengarah ke pengulangan perilaku tersebut oleh orang bersangkutan.

Meski demikian, pihak-pihak yang mendukung penyensoran terhadap penggambaran kejahatan di media tidak percaya bahwa penggambaran di media tersebut bisa berdampak langsung memicu kejahatan, seperti secara simplistis disebutkan sebelumnya. Bagaimanapun, mereka percaya bahwa beberapa penggambaran di media memang bisa berdampak pada orang tertentu.

Anak-anak, orang dungu, orang yang rapuh secara emosional, orang yang kurang pergaulan, dan pencari ketenaran, mereka sering disebut sebagai warga yang perlu dilindungi dari penggambaran media tentang kejahatan yang bersifat negatif. Karena tidak mungkin memprediksi seberapa banyak orang yang akan bereaksi, dengan mengulangi kejahatan yang ditampilkan di media, maka penyensoran diharapkan dapat membantu melindungi masyarakat dari kemungkinan perilaku peniruan kejahatan (copycat).

Sampai 1980-an, hanya ada sedikit riset empiris yang terfokus semata-mata pada peniruan kejahatan. Studi-studi empiris tentang pengaruh media juga tidak mendukung tudingan bahwa penggambaran media tentang kejahatan akan mendorong peniruan kejahatan.

Sebuah riset di Australia, yang menggunakan rentang waktu 3 tahun, mencoba membandingkan pemberitaan media tentang perampokan dengan data perampokan yang ada di kepolisian. Riset itu menunjukkan, tidak ada bukti bahwa pemberitaan suratkabar tentang keberhasilan suatu perampokan bank akan merangsang peniruan perampokan bank, atau perampokan terhadap sasaran lain.

Ray Surette telah melakukan riset meluas tentang peniruan kejahatan sejak pertengahan 1980-an. Menurut Surette, kejahatan peniruan adalah fenomena sosial yang selalu ada, yang cukup umum untuk mempengaruhi gambaran kejahatan total.

Namun, sebagian besar wujudnya adalah lebih pada mempengaruhi teknik-teknik kejahatan, ketimbang motivasi untuk melakukan kejahatan atau penumbuhan kecenderungan (tendensi) kriminal. Seorang penjahat copycat tampaknya lebih merupakan seorang penjahat karir (profesional), ketimbang penjahat yang baru pertama-kali melakukan kejahatan.

Hubungan spesifik antara liputan media dan tindakan peniruan kejahatan saat ini belum diketahui. Faktor-faktor konteks social, yang mempengaruhi peniruan kejahatan, juga belum teridentifikasi.

Belum bisa bisa dibuktikan bahwa sebuah penggambaran media mungkin merangsang orang biasa untuk melakukan kejahatan. Sejumlah riset memang menunjukkan pengaruh media terhadap beberapa perilaku menyimpang. Namun, hal ini tidak membuktikan adanya hubungan penyebab langsung antara rangsangan media dan perilaku menyimpang spesifik, terpisah dari variabel-variabel lain yang muncul dalam kombinasi.

Ketika penggambaran kejahatan di sebuah media disusul oleh pengulangan peristiwa yang mirip atau serupa, hal ini tidak otomatis menunjukkan adanya koneksi. Dalam beberapa kasus, sejumlah orang yang dituding meniru kejahatan (copycat) menyatakan, mereka tidak tahu apa-apa tentang insiden kejahatan yang sebelumnya diberitakan.

Diperlukan riset di bidang dampak media jangka-panjang, model media, dan penduduk yang menerima risiko. Misalnya, apa dampak jangka panjang dari menyaksikan ribuan tindak kekerasan dalam film kartun dan pertunjukan televisi, yang ditonton oleh anak-anak ketika mereka sedang dalam masa pertumbuhan?

Konsekuensi Penggambaran Media tentang Kejahatan


Sebagian besar riset yang mengukur dua kemungkinan dampak pemberitaan media tentang kejahatan mengerucut ke dua hal: perilaku kejahatan (khususnya kekerasan); dan ketakutan pada tindak kejahatan (fear of crime). Perlu dicatat bahwa dua dampak ini bukan berarti keduanya sama sekali terpisah.

Agar suatu kejahatan bisa terjadi, setidaknya ada beberapa faktor atau prakondisi, yang secara logis harus tersedia lebih dahulu. Yaitu: labelling, motif, sarana, peluang, dan ketiadaan kontrol. Media secara potensial memainkan peran dalam setiap faktor tersebut.

Labelling:

Untuk suatu tindakan bisa disebut “kejahatan” atau “kriminal” (berbeda dari sekadar mengganggu, tak-bermoral, antisosial, dan sebagainya), tindakan itu harus dilabeli seperti demikian. Ini melibatkan penciptaan sebuah kategori legal. Sebuah tindak kejahatan yang tercatat (recorded crime) juga mensyaratkan pelabelan tindakan itu sebagai kejahatan oleh warga dan/atau oleh petugas penegak hukum.

Media adalah faktor penting yang membentuk batasan konseptual dan mencatat jumlah (volume) kejahatan. Peran media dalam mengembangkan kategori baru (atau mengikis kategori lama) tentang kejahatan telah digarisbawahi, dalam berbagai studi klasik tentang munculnya hukum kriminal dalam tradisi “pelabelan.”

Motif

Sebuah kejahatan tak akan terjadi jika tidak ada orang yang tergoda, terdorong, atau termotivasi untuk melakukan tindakan yang dilabeli sebagai “kejahatan” tersebut. Peran media muncul dalam sebagian besar teori sosial dan psikologis yang umum diajukan, tentang pembentukan disposisi kriminal.

Mungkin, teori sosiologis yang paling berpengaruh tentang pembentukan motif-motif kriminal adalah versi Merton tentang teori anomie. Media berperan utama dalam menyajikan citra perlombaan universal tentang gaya hidup berkelimpahan dan budaya konsumeris. Serta mengaksentuasi kehilangan (deprivasi) relatif, dan membangkitkan tekanan-tekanan untuk meraih tingkatan sukses material yang lebih tinggi, tanpa mempedulikan legitimasi cara-cara yang digunakan untuk meraihnya.

Teori-teori psikologis tentang pembentukan motif untuk melakukan pelanggaran juga sering menggambarkan dampak media sebagai bagian dari proses tersebut. Teori-teori itu mengklaim bahwa penggambaran kejahatan dan kekerasan, yang ditampilkan oleh media, adalah sebentuk pembelajaran sosial. Sedangkan, penggambaran ini mungkin mendorong terjadinya kejahatan, dengan cara peniruan (imitasi) atau melalui dampak-dampak pembangkitan gairah.

Sarana

Sering dituduhkan bahwa media telah bertindak sebagai universitas terbuka tentang kejahatan, yang menyebarkan pengetahuan tentang teknik-teknik melakukan kejahatan. Hal ini sering diklaim dalam kaitannya dengan kasus-kasus kejahatan mengerikan tertentu. Film Child’s Play 3 dituding telah mempengaruhi para pelaku pembunuhan terhadap seorang balita malang, bernama Jamie Bulger (lihat Jewkes 2004: 12).

Argumen yang berhubungan dengan hal ini adalah teori peniruan (copycat) terhadap kejahatan dan kerusuhan. Video game Grand Theft Auto juga dituding sebagai sumber potensial belajar kejahatan, karena pemain game ini diposisikan sebagai pelaku kejahatan pencurian mobil.

Bentuk-bentuk media baru terkadang juga disebut-sebut menyediakan sarana baru untuk melakukan kejahatan. Keprihatinan ini khususnya dirangsang oleh Internet, yang dikhawatirkan memfasilitasi segala bentuk pelanggaran, mulai dari penipuan, pencurian identitas, pornografi anak dan pendandanan anak untuk seks, sampai pengorganisasian kejahatan transnasional dan terorisme. Meskipun banyak didiskusikan, bukti bahwa tayangan-tayangan itu menjadi sumber utama kejahatan masih lemah.

Peluang

Media mungkin telah meningkatkan peluang melakukan kejahatan, lewat kontribusinya pada pengembangan etos konsumeris, di mana ketersediaan sasaran-sasaran pencurian yang menggoda telah menyebar luas.

Perangkat keras dan perangkat lunak rumah tangga dari penggunaan media massa –TV, radio, video, CD, komputer pribadi (PC), telepon mobile—adalah bagian umum dari kejahatan properti rutin. Sedangkan penyebarannya telah menjadi aspek penting dari penyebaran peluang-peluang kejahatan.

Ketiadaan Kontrol

Pelanggar potensial yang bermotivasi, meskipun memiliki sarana dan peluang untuk melakukan kejahatan, mungkin tidak akan melakukan kejahatan-kejahatan tersebut jika ada kontrol sosial yang efektif. Kontrol itu mungkin bersifat eksternal, seperti ancaman-ancaman sanksi yang bersifat penangkal, yang sejak awal telah dihadirkan oleh polisi. Atau, bisa juga kontrol itu bersifat internal, seperti suara kecil hati nurani yang selalu hadir, atau yang bisa disebut ”polisi bagian dalam” (inner policeman).

Tema yang terus berulang-ulang tentang kecemasan-kecemasan yang layak dihormati mengenai konsekuensi-konsekuensi criminogenic dari penggambaran media tentang kejahatan adalah bahwa penggambaran itu telah mengikis keampuhan kontrol eksternal maupun internal.

Penggambaran itu merusak kontrol eksternal lewat representasi pengadilan kejahatan yang bersifat melecehkan. Representasi serius dari pengadilan kejahatan tersebut mungkin merusak legitimasinya dengan bersikap lebih kritis, mempertanyakan integritas dan keadilan, atau efisiensi dan efektivitas polisi.

Representasi negatif dari pengadilan kejahatan juga dapat mengurangi kerjasama publik dengan sistem, atau melemahkan persepsi pelanggar potensial tentang kemungkinan sanksi-sanksi terhadapnya. Ujungnya adalah konsekuensi berupa peningkatan kejahatan.

Mungkin, tudingan yang paling sering dikemukakan, dalam hal representasi media sebagai penyebab perilaku kriminal, adalah bahwa media merusak kontrol yang terinternalisasi, dengan secara teratur menyajikan gambaran yang simpatik dan mempesona tentang pelanggaran. Dalam bentuk akademis, hal ini terlihat dalam teori-teori psikologis tentang ketiadaan-kekangan (disinhibition) dan hilangnya-kepekaan (desensitization).

Koneksi Media dan Kejahatan

Ulasan terhadap berbagai literatur riset umumnya menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara menyaksikan kekerasan dan perilaku agresif. Relasi itu tetap ada, bahkan ketika berbagai bentuk kontrol diterapkan.

Namun, bagaimanapun juga, keseluruhan dampak negatif dari ekspos media tampaknya kecil jika dibandingkan dengan hal-hal lain dalam pengalaman sosial si pelanggar tersebut. Jadi, pertanyaan yang tersisa, bukan apakah kekerasan di media memiliki dampak. Namun, seberapa penting dampak itu jika dibandingkan dengan faktor-faktor lain, dalam membawa perubahan-perubahan sosial yang besar, seperti meningkatnya angka kejahatan.

Yang jadi persoalan lagi adalah audiens bukanlah pihak yang pasif dalam menerima ekspos media, tetapi adalah penafsir (interpreter) yang aktif, dalam proses interaksi yang rumit dengan praktik-praktik budaya dan sosial lainnya.

Perubahan-perubahan dalam representasi media tidak datang begitu saja secara utuh dari planet lain dan mempengaruhi pola perilaku dari ketiadaan, namun mencerminkan perubahan-perubahan yang terus berlangsung dalam persepsi-persepsi dan praktik-praktik sosial. Perubahan penggambaran media ditafsirkan oleh audiens yang berbeda dengan berbagai cara, yang mungkin memperkuat atau mengubah pola-pola sosial yang sedang muncul.

Hubungan antara perkembangan-perkembangan dalam media dan masyarakat yang lebih luas bersifat dialektis. Hal ini membuat isolasi dan pengukuran dampak media yang murni (pure) tidak masuk akal. Namun, hal ini juga tidak lantas berarti bahwa representasi media tidak memiliki konsekuensi yang signifikan.

Keterbatasan lebih jauh dari berbagai literatur riset tentang dampak media adalah ia hampir semata-mata terfokus pada representasi kekerasan dan bentuk-bentuk pelanggaran lainnya. Hubungan teoretis yang dikaji sebelumnya mengisyaratkan bahwa representasi media tentang perilaku yang tidak-melanggar hukum –misalnya, iklan dan gambar-gambar lain tentang perilaku konsumeris—mungkin meningkatkan anomie dan karena itu bersifat menyakiti.

Maka, implikasi yang paling masuk akal dari representasi media, berkaitan dengan bagaimana representasi itu berdampak pada aspirasi material dan konsepsi tentang cara-cara yang sah untuk mencapainya. Jadi, bukan tentang bagaimana representasi itu menggambarkan kejahatan dan kekerasan secara langsung.

Jakarta, 8 Oktober 2011

Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA
Dosen Newsmaking Criminology
Departemen Kriminologi, FISIP UI

Daftar Pustaka
Greek, Cecil. 1997a. Copy-cat crimes. Dalam Rasmussen, R. Kent (ed.). Pasadena, CA: Salem Press.
Robert Reiner. Media-Made Criminality: The Representation of Crime in the Mass Media. Bab 11 dari buku Handbook of Criminology.
http://www.safermedia.org.uk/researchoneffectsofmediaviolence.htm
http://criminology.fsu.edu/crimtheory/learning.htm