Monday, November 28, 2011

Essay - KALAH MENTAL (Oleh Satrio Arismunandar)


Beberapa hari lalu, aku kebetulan makan siang di sebuah restoran di kawasan Depok II, Jawa Barat, yang menjual mie bakso unik (mie yang diolah sendiri dengan campuran herbal, sehingga berwarna hijau, merah, dan sebagainya, dan diklaim sangat menyehatkan).

Ketika sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba ada seorang laki-laki pengemis tua berdiri di ambang pintu sambil menadahkan tangan. Merasa proses makanku terganggu, aku pun merogoh dompet mencari uang receh dan menemukan selembar Rp 2.000-an.

Namun, ketika aku mau menyerahkan uang itu, seorang ibu muda (sekitar 35 tahun) berjilbab, yang makan mie dan duduk tak jauh dariku, lebih dulu bangkit. Di luar dugaanku, dia bukan cuma memberi recehan, tetapi malah menawarkan makanan pada pengemis itu. “Bapak mau mie bakso? Jangan khawatir, Pak, nanti biar saya yang bayar!” ujarnya ramah. Mungkin si ibu merasa iba pada pengemis itu.

Pengemis itu tampak sangat bersyukur. Matanya berbinar. Mie bakso pun disiapkan dan dibungkuskan untuk si pengemis, dan si pengemis tua itu lalu pergi setelah mengucapkan terimakasih. Si ibu pun kembali duduk dan meneruskan makannya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Namun, justru aku yang terhenyak. Aku merasa kalah mental.

Kalau dilihat dari tampilannya, secara status sosial ekonomi aku tidak kalah dari ibu itu, bahkan mungkin aku dalam posisi lebih. Aku datang ke restoran itu memakai mobil, meski ”cuma” sedan Baleno keluaran 2003 milik kantor. Sedangkan ibu itu tampaknya tidak punya mobil. Namun, dalam kasus penanganan terhadap pengemis tadi, dia bisa dan mau memberi lebih banyak, sedangkan aku hanya siap dengan pemberian ”paket standar buat pengemis,” yaitu uang receh terkecil yang bisa ditemukan di dompet!

Aku lalu membayangkan, bagaimana jika situasi ”kalah mental” ini diangkat ke skala pribadi yang lebih luas, atau bahkan ke skala anggaran nasional. Majalah Forbes belum lama mengeluarkan daftar nama 40 orang terkaya di Indonesia. Tidak ada yang salah dengan menjadi kaya raya. Namun, apakah sumbangsih para orang kaya Indonesia ini –termasuk para anggota DPR, yang tiap hari ngantor memakai Bentley, Hummer, Alphard, Lexus, dan mobil-mobil mewah senilai sampai Rp 7 milyar itu—sudah proporsional dengan kekayaan yang mereka miliki?

Demi gengsi dan status diri, kita tidak merasa sayang membeli mobil, yang hanya buat dipakai mengantor tiap hari, senilai Rp 7 milyar. Tetapi kita merasa sayang jika diminta menyumbang Rp 10 juta rupiah untuk yatim piatu, meski Rp 10 juta itu sebetulnya cuma satu per 700 dari harga mobil kita.

Kita lebih bangga membuat pesta perkawinan seharga milyaran rupiah untuk anak-anak kita, dengan menggusur pedagang kecil sekitar lokasi pesta, serta mengganggu kenyamanan orang-orang kecil di sekitar acara perhelatan. Itu lebih dipilih ketimbang mengadakan resepsi pernikahan yang relatif lebih sederhana, tetapi InsyaAllah memperoleh keberkahan, karena membagi rezeki dan kelebihan harta kita dengan warga miskin sekitar, dan mendapat ucapan doa syukur dari mereka.

Kita lebih suka mengalokasikan anggaran negara yang super besar untuk gedung megah, mobil dinas, rumah dinas pejabat, ”studi banding” ke luar negeri yang tak jelas hasilnya, ketimbang mengalokasikan anggaran untuk mengentaskan kemiskinan, menanggulangi anak-anak terlantar, kalangan yang menderita sakit dan tak punya asuransi kesehatan, dan warga kita yang hidup di bawah garis sederhana di pelosok-pelosok nusantara.

Jumlah mereka yang membujtuhkan dukungan kita ini ada puluhan juta, tetapi mereka cuma menjadi angka statistik yang tidak bisa bicara. Mereka hanya diperhitungkan ketika menjelang pemilu untuk menjadi obyek penggalangan suara dan bagi-bagi BLT (bantuan langsung tunai), yang toh BLT itu juga dikutip dari uang negara, tetapi untuk kepentingan penguasa.

Singkat kata, banyak dari kita sebetulnya menderita kondisi ”kalah mental” yang parah. Dampaknya bukan cuma pada diri pribadi, tetapi begitu melebar, mencakup kepentingan masyarakat, rakyat dan bangsa yang lebih luas. Tidak bisa tidak, kita harus merombak kondisi mental ini jika ingin bangsa Indonesia ini maju, memiliki martabat kemanusiaan, dan posisi terhormat di antara bangsa-bangsa lain.

Kondisi kita sekarang sudah di titik nadir. Tetapi masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Tidak pernah ada kata terlambat untuk tobat. Marilah kita membuat perbaikan bersama-sama, dan dimulai dari diri masing-masing. InsyaAllah, Tuhan akan meridhoi setiap langkah ke arah kebaikan. Hari ini, kini, detik ini, mulailah selangkah kecil dari diri Anda sendiri....

Jakarta, 29 November 2011
Satrio Arismunandar

Friday, November 25, 2011

Ciri-ciri Presiden Republik Indonesia Menurut Ramalan Ronggowarsito



Ciri-Ciri Presiden Republik Indonesia menurut Ramalan Ronggowarsito :

1. SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO. Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.

2. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR. Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.

3. SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR. Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.

4. SATRIO LELONO TAPA NGRAME. Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.

5. SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH. Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.

6. SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO. Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong / dari menteri menjadi presiden) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.

7. SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU.
Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati. Tokoh ini adalah.......... (masih rahasia, belum terbaca....)

(Dikutip dari posting Anton Dwisunu di FB, dengan sedikit modifikasi/perubahan di alinea terakhir)

Jakarta, 25 November 2011
Satrio Arismunandar - 081908199163

TEKNIK PRESENTASI YANG BERHASIL - Materi untuk Pelatihan


Materi pelatihan untuk crew RCD, Divisi News Trans TV, Jumat, 25 November 2011

Teknik presentasi adalah bagian dari ilmu komunikasi. Komunikasi itu sendiri adalah penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima, melalui suatu media.
Jadi, mengapa kita perlu belajar teknik presentasi? Dengan belajar, memahami, dan menguasai teknik presentasi, kita dapat berkomunikasi atau menyampaikan pesan kepada audiens dengan lebih efektif.

Ada empat hal yang perlu kita kuasai untuk bisa disebut memiliki kompetensi presentasi. Empat hal itu adalah: Analisis audiens (audience analysis), presentasi terstruktur (structured presentation), keterampilan komunikasi (communication skill), dan pemahaman/kepekaan antarpribadi (interpersonal sensitivity).

1) Analisis Audiens
Proses untuk mendapatkan informasi dan mengembangkan pemahaman terhadap pendengar yang akan dihadapi, supaya dapat merencanakan, membawakan, dan mempersiapkan berbagai informasi dengan efektif.

Memahami A-U-D-I-E-N-C-E
A = Analysis. Siapakah mereka? Berapa banyak yang akan hadir?
U = Understanding. Seberapa jauhkan pemahaman mereka terhadap subject yang akan disampaikan?
D = Demographic. Berapa usia, latar belakang, komposisi lelaki-perempuan, dan latar belakang pendidikan mereka?
I = Interest. Untuk tujuan apa mereka hadir? Mengapa mereka duduk di ruang ini? Atas keinginan siapa mereka hadir di sini?
E = Environment. Di mana saya akan berdiri? Dapatkah mereka semua melihat dan mendengar saya? Lingkungan yang ada akan seperti apa?
N = Need. Apakah kebutuhan mereka? Apakah kebutuhan saya selaku pembicara/presenter?
C = Customized. Kebutuhan atau tujuan khusus apa yang perlu untuk didapatkan?
E = Expectation. Apakah yang sekiranya ingin mereka dengar atau dapatkan dari saya?

Empat Tipe Audiens
Sebenarnya ada banyak tipe audiens, tetapi untuk menyederhanakan, kita sebut saja ada empat tipe. Sejumlah tipe ini kemungkinan besar akan Anda jumpai ketika melakukan presentasi:
Tipe Pemerhati: Ini adalah audiens yang paling baik. Mereka serius memerhatikan, mencatat, dan betul-betul berminat pada materi atau topik yang Anda sampaikan.
Tipe Sandera: Ini adalah audiens yang merasa ”terpaksa” atau ”tersandera” untuk hadir di presentasi Anda. Mungkin dia adalah mahasiswa pemalas, yang terpaksa ikut kuliah karena takut dilarang ikut ujian jika data absensinya parah. Atau, bisa jadi dia adalah karyawan, yang sekadar ditugaskan atau dipaksa atasannya untuk hadir dan mendengarkan presentasi Anda.
Tipe Turis: Ini adalah audiens yang mengikuti presentasi sambil lalu, seperti turis yang singgah di kota atau lokasi wisata untuk menikmati kesenangan, tanpa mau diajak berpikir terlalu serius. Bagi mereka, lumayan ikut di acara presentasi Anda, karena disediakan kopi, kue, dan makan siang gratis.
Tipe Teroris: Ini adalah audiens yang siap memberondong Anda dengan pertanyaan-pertanyaan tajam, kritis, dan keras. Motivasinya tidak selalu karena betul-betul antusias atau berminat pada informasi, tetapi dia mungkin memang sekadar ingin “mengetes’ kemampuan Anda. Mereka menikmati, saat Anda keteteran tak bisa menjawab pertanyaan.

Tujuan Analisis Audiens

Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai pendengar seperti apa, yang akan dihadapi.

2) Presentasi Terstruktur

Kemampuan untuk mempresentasikan ide atau gagasan kepada seseorang atau sekelompok orang, sesuai waktu yang disediakan, dengan cara yang memudahkan pendengar untuk memahaminya.

Unsur-unsur Presentasi yang Terstruktur
• Menyatakan tujuan dengan jelas
• Menyampaikan dalam urutan yang logis
• Menggunakan berbagai media komunikasi
• Membuat transisi antar-topik
• Membuat kesimpulan
• Mengatur waktu dengan efektif

Tujuan Presentasi Terstruktur
Untuk memastikan apakah pendengar dapat memahami bagaimana alur materi akan disampaikan.

3) Keterampilan Komunikasi
Kemampuan untuk dapat menyampaikan informasi dan ide secara jelas kepada seseorang/sekelompok orang, dengan cara yang dapat membuat pendengar menjadi tertarik dan mudah menangkap pesan yang diberikan, serta menjaganya selama berinteraksi.

Unsur-unsur Keterampilan Komunikasi
• Komunikasi Verbal: Bahasa yang sesuai (bukan bahasa ”alay”), volume suara (untuk menguatkan volume suara, Anda bisa berlatih menggunakan napas perut), intonasi (naik-turunnya suara), tempo/pacing (cepat-lambatnya bicara), artikulasi (kejelasan kata), pausing (jeda).
• Komunikasi Non-Verbal: Penampilan, eye contact, jarak, ekspresi wajah, nada suara, gerakan tubuh. Sikap tubuh (body gestures) harus menunjukkan kesantunan, rasa hormat, dan memancarkan rasa percaya diri (confidence). Ketika melakukan eye contact, tataplah 3-5 detik agar audiens bersangkutan merasa diperhatikan. Untuk banyak audiens di ruangan yang luas, lakukan tatapan ke audiens dengan W atau M sweeping. Cara menatap juga harus terkesan profesional (bukan tatapan ”mesum” atau jenis lain, yang bisa disalahartikan).
• Dampak ke Audience: a) Manusia memiliki keterbatasan persepsi; b) Kesan pertama sangat penting; c) Bangunlah kredibilitas dengan cara menunjukkan tingkat pengetahuan yang cukup, menampilkan kesan profesional dan percaya diri, serta menjaga anti-diskriminasi, hukum dan standar etika.
• Menjaga Perhatian Audience: Rumus AISHA (Analogi, Ilustrasi, Story, Humor, Aktivitas).
• Mengecek Pemahaman: Apakah Anda sudah paham? Apakah saya memahami Anda?

Tujuan Keterampilan Komunikasi
Untuk memastikan bahwa kita dapat mempertahankan ketertarikan pendengar dan membuat mereka paham tentang pokok bahasan yang disampaikan.

4) Pemahaman/Kepekaan Antarpribadi
Menggunakan pemahaman interpersonal dalam presentasi untuk mengembangkan kenyamanan, dan rasa aman bagi pendengar, sehingga tercipta saling percaya dan keterbukaan.

Unsur-unsur Pemahaman/Kepekaan Antarpribadi

• Apresiatif (menghargai audiens)
• Berpandangan luas
• Mengetahui isu dan keprihatinan audiens
• Mengklarifikasi suatu situasi atau kondisi

Menghargai Audiens
Dalam menghargai audiens, kita harus jujur dan tulus. Dan akan lebih baik lagi, jika ucapan penghargaan itu bersifat spesifik (dalam menyebut aspek dari audiens yang kita hargai tersebut).

Menghargai audiens bisa dilakukan cukup dengan Anda mengucapkan kalimat seperti:
”Ini adalah pertanyaan yang paling kritis, yang saya terima sejak memulai ceramah pagi tadi...”
”Komentar Anda menunjukkan bahwa Anda sudah mempersiapkan diri untuk kuliah ini...”
”Saya berharap, mahasiswa lain bisa belajar dari cara presentasi yang dilakukan Dewi tadi!”

Tujuan Pemahaman/Kepekaan Antarpribadi
Untuk menciptakan suasana yang nyaman, khususnya bagi audiens.


Sumber:
Satrio Arismunandar, berdasarkan materi pelatihan dari Humanis Group, 21-24 Februari 2011.

Thursday, November 24, 2011

DAVID BECKHAM - Saksikan di Riwayat, Trans TV, Sabtu 26 Nov, Pkl. 7.00 WIB


DAVID BECKHAM – Pesepakbola yang Juga Ikon Mode
Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 26 November 2011, pukul 7.00 WIB


Bagi penggemar sepakbola, nama David Beckham pastilah sudah tidak asing. Beckham, yang dibesarkan di klub sepakbola Manchester United, dan mantan kapten tim nasional Inggris, kini sudah melejit melebihi pemain sepakbola biasa. Ia sudah menjadi selebritas kelas dunia, menjadi ikon mode dan gaya hidup. Pernikahannya dengan salah satu anggota Spice Girls, Victoria Caroline Adams, membuat Beckham makin berkibar.

Beckham, yang lahir pada 2 Mei 1975 di Leytonstone, London, ini mahir dalam umpan silang dan tendangan bebas melengkung. Keterampilannya mengolah bola membawa banyak kemenangan untuk timnya. Ayah dari empat anak ini pada 2005 juga menjadi duta organisasi anak sedunia UNICEF.

Beckham membeli rumah yang karena ukuran dan kemegahannya dikenal dengan nama Beckingham Palace, sebagai anekdot dari Buckingham Palace, yang di dalam rumahnya dipekerjakan lebih dari 400 orang.

Kisah Beckham, yang diharapkan kedatangannya bersama klub LA Galaxy ke Indonesia pada penghujung November 2011 ini, dapat disaksikan di program Riwayat, Sabtu, pukul 7.00 WIB, hanya di Trans TV.


Jakarta, 24 November 2011
Satrio Arismunandar
Executive Producer, News Trans TV
HP: 0819 0819 9163

Friday, November 18, 2011

Bertanya ke Ustadz tentang Keadilan Tuhan


Saya bertemu seorang Ustadz tak terkenal, dan bertanya tentang keadilan Tuhan. Kenapa sih di Indonesia ada orang yang kaya banget, dan ada yang miskin banget.

Yang korupsi petantang-petenteng. Rakyat lain hidup sulit, meski jujur dan kerja keras. Kok nggak dibikin makmur saja semua rakyat Indonesia yang berada di bawah rezim neoliberal ini.

Sang Ustadz tersenyum. "Pertanyaan sampeyan mirip-mirip pertanyaan murid SD, yang bertanya: Mengapa di dunia binatang itu kok ada bebek, sapi, kerbau, babi, macan, gajah, burung beo, ikan, singa, jerapah, komodo, dsb... Kok Tuhan tidak menciptakan seluruh binatang di dunia cuma satu jenis, yaitu kambing saja..." jawabnya.

Jakarta, 18 November 2011
Satrio Arismunandar

Perlukah Perkawinan Ibas Yudhoyono - Aliya Rajasa Diliput Media?


Kalau Ibas Yudhoyono bukan anaknya Presiden SBY dan Aliya bukan putrinya Menko Perekonomian sekaligus Ketua Umum PAN, Hatta Rajasa, maka perkawinan Ibas-Aliya akan menjadi perkawinan biasa saja, seperti ribuan perkawinan yang terjadi tiap hari, dan tidak diliput media. Apalagi jadi liputan eksklusif di media TV.

Dampak perkawinan itu juga tak penting-penting amat buat rakyat. Mereka lebih pusing dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok sehari-hari, naiknya biaya pendidikan, mahalnya sarana kesehatan, dan lain-lain.

Jadi liputan media terhadap "perkawinan agung" Ibas-Aliya pada dasarnya adalah liputan elitis. Tapi liputan ini memang cocok dengan salah satu kriteria kelayakan berita menurut teori jurnalistik: orang terkenal menjadi berita karena keterkenalannya, bukan karena arti pentingnya buat rakyat.

Tetapi, sebagai sesama warga Indonesia, saya tentu mengucapkan selamat menempuh hidup baru buat Ibas dan Aliya, semoga bahagia. Tetapi maaf, saya tidak bisa datang ke resepsi perkawinanAnda. Selain karena saya masih sibuk dengan urusan mencari nafkah, saya juga tidak diundang. Ya, tentu saya tahu diri dong. ***

Jakarta, 18 November 2011

Satrio Arismunandar
Filsuf jalanan

IMELDA MARCOS - Saksikan di Riwayat, Trans TV, Sabtu 19 Nov, Pkl.7.00 WIB


IMELDA MARCOS – Si ”Kupu-Kupu Besi” dari Filipina
Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 19 November 2011, pukul 7.00 WIB


Siapa tak kenal Imelda Marcos? Kombinasi kecantikan, kekuasaan, ketenaran, dan kekayaan pernah dimiliki mantan ratu kecantikan dan istri Presiden Filipina ke-10 Ferdinand Marcos ini. Imelda, yang diberi berbagai jabatan pemerintahan oleh suaminya, adalah perempuan yang mewarnai panggung politik Filipina di era kekuasaan otoriter Presiden Marcos.

Gaya hidupnya yang suka pesta dan menghamburkan uang, serta memiliki sampai 3.000 pasang sepatu, sering menjadi pemberitaan media. Tetapi, Imelda, yang saat ini masih aktif di politik (ia menjadi anggota DPR Filipina mewakili distrik kedua Ilocos Norte), memang bukan perempuan sembarangan. Ia dipercaya Marcos melakukan misi diplomatik penting, untuk membujuk pemimpin Libya Muammar Qaddafi, agar berhenti mendukung gerakan separatis di Filipina.

Kisah hidup Imelda yang penuh warna, mulai dari kebangkitan, pasang-surutnya, sampai kejatuhan Marcos dan meninggalnya tokoh Filipina itu (1989), dapat disaksikan di program Riwayat, Sabtu, pukul 7.00 WIB, hanya di Trans TV.

Jakarta, 18 November 2011

Satrio Arismunandar
Executive Producer, News Trans TV
HOP: 081908199163

Thursday, November 10, 2011

CHE GUEVARA - Saksikan Riwayat, Trans TV, Sabtu (12 November 2011), Pkl. 7.00



ERNESTO CHE GUEVARA – Ikon Revolusioner Bangsa Tertindas
Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 12 November 2011, pukul 7.00 WIB

Sebuah pertemuan bersejarah terjadi di Havana, Kuba, 13 Mei 1960. Yakni, pertemuan antara para revolusioner masyhur, Presiden Soekarno dengan Fidel Castro serta Ernesto Che Guevara. Yang istimewa, ini adalah kunjungan kepala negara asing pertama di Kuba, setelah tumbangnya rezim Batista. Bung Karno pun meresmiklan hubungan diplomatik antara kedua negara.

Sebelum Bung Karno ke Kuba, “Che” –begitu panggilan akrab untuk Che Guevara—telah diutus Castro untuk menemui Bung Karno di Indonesia. “Che” merupakan sapaan akrab untuk orang Argentina, yang artinya “sobat” atau “teman.” Sapaan ini populer sejak ia bergabung dalam perjuangan revolusi Kuba. Di tengah kunjungannya ke Indonesia itu, Che sempat mengunjungi Candi Borobudur, tahun 1959.

Saat itu Che baru menginjak usia 33 tahun. Namun di usia belia, ia sudah memperoleh peran sentral di Kuba. Che adalah orang muda dengan beragam peran, bukan hanya dalam memori sejarah Kuba, tetapi juga Amerika Latin, bahkan dunia. Figurnya sudah menjadi ikon perjuangan bangsa-bangsa tertindas dunia dalam melawan kapitalisme dan penjajahan.

Che lahir pada 14 juni 1928 di kota Rosario, Argentina, dari pasangan Ernesto Guevara Lynch dan Celia De La Serna. Anak pertama dari lima bersaudara ini lahir dari kerluarga kelas menengah, yang berkecukupan secara ekonomi. Di usia 19 tahun, Che menimba ilmu di Fakultas Kedokteran Universitas Buenos Aires.

Di pertengahan masa studinya, Che berkeliling Amerika Latin dengan mengendarai sepeda motor tua bersama sahabatnya Alberto Granado. Keputusan, yang didorong rasa ingin tahu lebih mendalam tentang kehidupan, inilah yang kemudian mengubah sejarah Che. Perjalanan sejauh 8.000 km selama hampir 10 bulan itu melintasi wilayah Argentina, Cile, Kolombia, hingga Venezuela. Kelak catatan harian Che tentang perjalanannya ini dibukukan, dan dikenal sebagai ”The Motorcycle Diaries.”

Perjalanan ini merupakan perjalanan penemuan diri Che untuk memahami Amerika Latin. Ia kagum dan getir melihat penderitaan rakyat yang ditemuinya selama perjalanan. Ia tergetar melihat ketidakadilan yang diderita orang miskin. Ia juga melihat dominasi perusahaan Amerika Serikat di tengah penderitaan buruh tambang di Cile. Pandangan hidup Che pun berubah. Anak dari kelas menengah ini berpaling menjadi pejuang untuk rakyat kelas bawah.

Terlalu banyak kisah yang bisa disampaikan tentang Che, mulai dari cerita perjuangan, kemenangan menggulingkan rezim Batista di Kuba, pilihannya untuk mundur dari pemerintahan, dan sampai kematiannya ketika membantu sebuah gerakan revolusioner secara pribadi.

Che adalah figur yang unik, berani, dan inspiratif. Ia orang yang berani melakukan ”bunuh diri kelas,” yakni melepaskan kenikmatan hidup sebagai kelas menengah demi sebuah idealisme membela masyarakat kelas bawah.

Di tengah krisis kapitalisme dunia sekarang, bangkitnya perlawanan rakyat di berbagai negara melawan rezim korup-kapitalis, serta kehausan kita pada hadirnya sosok-sosok idealis yang betul-betul mau berjuang demi kepentingan rakyat, maka figur semacam Che diharapkan bisa mengisi kekosongan. Che sangat layak diprofilkan untuk program Riwayat di Trans TV.

Jakarta, 11 November 2011

Satrio Arismunandar
HP: 081908199163

Joke - Gaya Pencitraan Pemerintah Menjelang Kiamat

Alkisah stasiun pengamat antariksa milik NASA di Amerika dan sejumlah negara maju lain telah mendeteksi kedatangan sebuah meteor raksasa, yang dipastikan akan menghantam bumi. Dampak hantaman meteor itu akan setara dengan ledakan ratusan bom atom. Artinya, kiamat bagi kehidupan di bumi sudah tinggal menghitung hari.

Maka PBB meminta seluruh negara untuk mengumumkan pada rakyat masing-masing, agar bersiap menghadapi bencana tersebut. Indonesia pun tidak terkecuali. Maka atas instruksi Presiden, Menkominfo, juru bicara kepresidenan, dan tim pencitraan pemerintah pun mengadakan rapat darurat khusus, guna membahas bagaimana cara terbaik untuk penyampaian kabar buruk tersebut.

Namun, karena penguasa sedang pusing oleh berbagai kasus korupsi yang terungkap di media, pesan pun dikemas sedemikian rupa agar meningkatkan citra pemerintah. Pesan untuk rakyat, yang sedianya akan dibacakan oleh presiden itu, akhirnya menjadi seperti berikut:

”Rakyat Indonesia yang kucintai, saya memiliki kabar baik dan kabar buruk untuk kita semua. Kabar buruknya, sebuah meteor raksasa akan menghantam bumi kita, dan itu berarti kiamat. Tetapi, alhamdulillah, saya memiliki kabar baik untuk kita semua. Yaitu, beberapa hari mendatang Indonesia akan 100 persen bebas dari korupsi.” ***

Jakarta, 11 November 2011

Friday, November 4, 2011

Essay - SALAH SATU KAKI WARTAWAN BERADA DI NERAKA


Oleh Satrio Arismunandar


Ini cerita tentang ibunda dari rekan saya, Fauzan Mukrim (Ochan), wartawan Trans TV, penulis cerpen, yang juga alumnus Komunikasi FISIP Universitas Hasanuddin Makassar. Ketika Ochan memutuskan ingin masuk jurusan komunikasi (jurnalistik), yang berimplikasi bahwa Ochan akan menjadi wartawan sesudah lulus nanti, ibunya tidak menyatakan setuju atau tidak setuju dengan keputusan Ochan. Tetapi ibunya hanya menyatakan, ”Salah satu kaki wartawan itu sebenarnya berada di neraka.”

Mengapa ibunda Ochan mengatakan demikian?
”Kata ibu, seorang wartawan itu jika menulis sesuatu yang tidak benar, atau tidak sesuai fakta, berpotensi menjurus ke melakukan fitnah. Sedangkan, jika dia menulis sesuatu yang benar, atau sesuai fakta, berpotensi menjurus ke ghibah,” kata Ochan.

Secara bahasa, ghibah berarti menggunjing. Pengertian lengkapnya, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang orang itu tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Cara ghibah pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok (saya kutip dari Wikipedia).

Dengan mengatakan hal itu, saya menduga, ibunda Ochan bukan berarti mau mengecilkan atau merendahkan profesi wartawan. Tetapi ia sekadar mau mengingatkan anaknya bahwa profesi wartawan itu bukanlah profesi biasa, tetapi profesi yang penuh tantangan, cobaan, dan godaan, sehingga diperlukan ikatan rambu aturan di kanan-kiri serta etika. Begitu rawannya, sehingga jika si wartawan tidak hati-hati, ia bisa tergelincir melakukan dosa. Tentu saja, semua profesi pasti memiliki tantangan, cobaan dan godaan tersendiri. Namun, profesi wartawan –seperti juga profesi hakim, jaksa, pengacara, petugas bea cukai—memang memiliki kadar godaan yang tak bisa dianggap remeh.

Menyadari hal itu, jauh-jauh hari, ketika Ochan baru memilih jurusan jurnalistik, ibundanya sudah wanti-wanti mengingatkan agar Ochan berhati-hati. Ochan beruntung memiliki orangtua yang mencintai dan sangat memperhatikan kebaikan masa depannya. Semoga kita semua, para jurnalis dan praktisi media, juga dianugerahi sikap hati-hati yang sama. ***

Jakarta, 4 November 2011

HP Satrio : 081908199163

Thursday, November 3, 2011

RUDY HARTONO, Sang Maestro Bulutangkis - Riwayat, Trans TV, Sabtu 5 Nov 2011 pkl.7.00 WIB



RUDY HARTONO – Sang Maestro Bulutangkis
Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 5 November 2011, pukul 7.00 WIB

Siapa tak kenal mestro bulutangkis ini? Rudy Hartono Kurniawan mencengangkan publik Indonesia, lewat debut pertamanya di Istora Senayan pada ajang Piala Thomas 1967. Sebagai remaja 17 tahun pada waktu itu, Rudy menaklukkan dua jagoan butangkis Malaysia, Tan Aik Huang dan Yew Cheng Hou. Tahun itu, tim Indonesia memang gagal merebut kembali Piala Thomas. Namun, keindahan permainan Rudy Hartono, yang mengalahkan dua pemain kelas dunia, menjadi penawar kekecewaan.

Ajang All England kemudian menjadi singgasana kesuksesan Rudy Hartono. Sejak tahun 1968, tujuh kali berturut-turut, Rudy meraih gelar juara di turnamen prestisius itu. Pada tahun 1976, ia menggenapi kemenangannya yang kedelapan. Sungguh prestasi yang fantastis, dan rekornya itu hingga kini belum tertandingi.

Lahir di Surabaya pada 18 Agustus 1949, pemilik nama asli Nio Hap Liang ini sejak kecil memang berminat besar pada olahraga. Ayahnya, Zulkarnain Kurniawan, adalah yang memperkenalkan olahraga bulutangkis pada Rudy kecil. Zulkarnain, yang pebulutangkis profesional dan memiliki klub bulutangkis ”PB OKE” di Surabaya, turun langsung melatih Rudy.

Disiplin tinggi, fokus dan tekun, adalah tiga hal yang diterapkan sang ayah saat melatih Rudy. Rudy rela menghabiskan masa kecil dan remajanya untuk melatih kekuatan fisik dan stamina, serta teknik permainan bulutangkisnya. Ia berlatih dengan fasilitas yang amat minim. Jalan raya, tempat parkir mobil, hingga bengkel kereta api di sekitar kawasan Kaliasin, Surabaya, menjadi saksi perjuangan dan ambisi Rudy untuk meraih prestasi.

Di usia 15 tahun, Rudy berhasil menyandang juara junior Indonesia. Setahun kemudian, Rudy memutuskan hijrah ke Pelatnas Thomas Cup di Jakarta, meski keputusan ini sempat ditentang ayahnya. Rudy meyakinkan sang ayah bahwa ia akan tetap berdisiplin tinggi, fokus, dan tekun. Ternyata janji Rudy terbukti. Bersama tim bulutangkis Indonesia, anak ketiga dari sembilan bersaudara ini berhasil memboyong Piala Thomas empat kali, yakni tahun 1970, 1973, 1976 dan 1978.

Namun, sebagai manusia biasa, Rudy juga sempat mengalami saat-saat pahit. Pada final Piala Thomas 1973 di Jakarta, Rudy dikalahkan Svend Pri, pemain asal Denmark. Masyarakat pun menghujat dan berbagai tuduhan berkembang, sehingga Rudy merasa terpuruk.

Tahun 1982, saat final Piala Thomas di London, Inggris, Rudy sekali lagi menelan pil pahit. Meski semula diunggulkan, Rudy ditaklukkan oleh Luan Jin, pemain tunggal andalan China. Tim Indonesia kalah, dan Piala Thomas --yang selama 21 tahun berada di tangan Indonesia-- berpindah tangan ke pendatang baru, China.

Pasca kekalahan 1982, Rudy memilih gantung raket. Namun, ia tak sepenuhnya meninggalkan dunia bulutangkis. Ia sempat menjabat Ketua Bidang Pembinaan PB-PBSI. Bersama sejumlah mantan pemain bulutangkis, Rudy juga mendirikan klub Jaya Raya, yang melahirkan pemain-pemain tingkat dunia. Antara lain: Susy Susanti, Alan Budi Kusuma, serta Chandra Wijaya dan Tony Gunawan.

Kini, di usianya yang ke-62, Rudy menjadi presiden komisaris di sebuah perusahaan oli terkemuka. Ia juga menjadi staf penasehat di perusahaan perlengkapan dan peralatan olahraga. Meski bukan lagi pemain bulutangkis, Rudy tetap menjalani hidup yang disiplin. Operasi jantung yang dijalaninya tahun 1988 membuat Rudy berusaha terus menjaga kesehatan.

Sang Maestro ini berharap, sisa hidupnya masih bisa berguna bagi lingkungan sekitar dan keluarga tercinta. Yaitu, istrinya Jane, anaknya Christopher Hartono Kurniawan, dan Christine Hartini Kurniawan. Impian lain yang ingin ia wujudkan adalah menjadikan cucu pertamanya, Gwen, sebagai penerus karirnya di dunia bulutangkis.


Jakarta, 3 November 2011

Satrio Arismunandar
Eksekutif Producer, Divisi News Trans TV
HP: 0819 0819 9163