Monday, June 30, 2014

Kumpulan Kata-Kata Ucapan Lebaran Idul Fitri

Kata dan ucapan untuk Lebaran Idul Fitri - Telah menjadi semacam tradisi baru masyarakat di Indonesia untuk saling mengucapkan salam lebaran idul fitri dengan mengirimkan tulisan baik lewat sms maupun media sosial di internet.

Sementara itu, sebenarnya pada masa Rasulullah sendiri para sahabat biasanya hanya saling mendoakan ketika berjumpa di hari Raya Idul Fitri.

Sebagaimana telah disebutkan dalam kitab Fathul Bari (2/446) bahwa diriwayatkan dalam Al-Muhamiliyat dengan sanad yang baik dari Jubair bin Nufair berkata : dahulu para sahabat Rasulullah saw apabila mereka bertemu pada hari raya sebagian mengucapkan kepada sebagian lain : تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّ وَ مِنْكُمْ (Taqabbalawahu minna waminkum).

Bagi Anda yang bingung akan mengirim kata atau ucapan seperti apa dalam rangka ucapan selamat hari raya Idul Fitri berikut ini ada beberapa kata ucapan yang bisa Anda gunakan.

Kata Ucapan Lebaran Idul Fitri

Berharap padi dalam lesung, yang ada cuma rumpun jerami,
harapan hati bertatap langsung, cuma terlayang sms ini.
Sebelum cahaya padam, Sebelum hidup berakhir,
Sebelum pintu tobat tertutup, Sebelum hari yang fitri berakhir,
saya mohon maaf lahir dan bathin….

Jika hati seputih awan jangan biarkan ia mendung
jika hati seindah bulan hiasi dengan senyuman
selamat merayakan hari kemenangan orang - orang beriman
Selamat Hari raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan bathin

Hidup ini hanya sebentar
bentar marah, bentar ketawa
betar berduit, bentar boke
bentar senang, bentar susah
ooo ye…bentar lagi lebaran
met lebaran…mohon maaf lahir bathin

kata ucapan lebaran idul fitri
Ucapan Maaf lahir Batin
 Tiada kemenangan tanpa zikrullah
tiada amal tanpa keikhlasan
tiada ampunan tanpa maaf dari sesama
dihari suci dan penuh ampunan ini
Maafkanlah segala kesalahan

tiada kata yang dapat terucap
Karna hati merasa malu
dalam kalbu ku hanya bisa menjerit
betapun besar dosa itu
ku yakin Kau maha pengampun
saat aku sedih hanya padamulah aku cerita
saat aku marasa sendiri
aku yakin kaupun bersamaku Yaa Robbi
ridhoMUlah yang senantiasa ku harap
Ampunkan semua dosaku Tuhan
maafkan segala kesalahanku Teman


teruntuk semuanya
diri ini hanyalah manusia biasa
yang tak luput dari segala khilaf
dan dosa serta prasangka
di penghujung bulan yang penuh berkah ini
saya selaku pembuat onar serta kesalahan
memohon maaf atas segala perilaku, ucapan
tingkah laku serta prasangka baiik yang disengaja maupun ngga
semoga amal ibadah kita di bulan yang penuh berkah ini diterima oleh Nya
dan semoga kita kembali di pertemukan dengan bulan yang penuh berkah ini.

kartu ucapan selamat lebaran idul fitri
kartu ucapan selamat idul fitri


12 bln banyak kata sudah di ucapkan
dan dilontarkan tak semua menyejukan
12 bln banyak prilaku yang sudah dibuat
dan diciptakan tak semua menyenangkan
12 bln banyak keluhan, kebencian, kebohongan
menjadi bagian dari diri
Mari kita memaafkan
mohon maaf lahir dan batin

jika jemari tak mampu berjabat,,
saat batin kotor ini rindu, akan k‟ikhlasan maaf..
hanya lewat pesan ini,
jemariku b‟silaturahmi,,
Minalaidzinwalfaidzin
Mohon maaf lahir batin..


Esok adalah harapan
sekarang adalah pengalaman
kemarin adalah kenangan
yang tak luput dari ke khilafan
mohon maaf lahir dan Batin
Taqobbalahu Minna Waminkum
Wataqobbal Yaa Kariim

Mungkin hari-hari yang lewat telah menyisakan sebersit kenangan yang tak terlupa…..,
ada salah, ada khilaf, ada dosa yang mengikuti perjalanan hari – hari itu.
agar tak ada sesal, tak ada dendam, tak ada penyesalan ….
mari kita sama-sama sucikan hati,diri,dan jiwa kita.
Mohon maaf lahir dan batin

ucapan selamat idul fitri
ucapan selamat Idul Fitri


Jika semua HARTA adalah RACUN maka ZAKAT-lah penawarnya,
Jika seluruh UMUR adalah DOSA maka TAQWA & TOBAT lah obatnya,
Jika seluruh BULAN adalah NODA maka RAMADHAN lah pemutihnya,
MOHON MAAF LAHIR & BATHIN
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI

Dengan iklas aku mohon ma‟af untuk kata yg tak terjaga
janji yang terabaikan dan perbuatan yg pernah menyakitkan
hati yg berprasangka dan segala khilafku
mohon ikhlasmu memaa‟kanku
agar jiwa raga ini tenang dan damai
Dalam Menyambut hari LebaRan

Aku sadar memang Aku bukan teman yang sempurna untukmu
Kesalahan dan kekhilafan Selalu saja ada diantara kita.
Terutama aku yang sering ngerepotin kamu.
Met lebaran kawan, Maafkan semua kesalahan Lahir dan Batin.

Mata kadang salah melihat 
Mulut kadang salah berucap 
Hati kadang salah menduga 
Kaki kadang salah melangkah 
Tangan kadang salah berbuat 
Telinga kadang salah mendengar 
Sebelum tambah banyak bikin salah 
Buru - buru ane minta maaf, Met lebaran ya!  

Ucapan selamat lebaran
Ucapan selamat idul fitri

Setitik tinta jadi noda 
Setitik salah jadi dosa 
Hari Penuh ampunan segera tiba 
Mari kita saling memberi do'a 
Minal aidin wal faidjin, mohon maaf lahir dan batin 
opor ayam tape ragi 
kue nastar kue betawi 
aye ini org awam, aye mohon dimengerti 
klo aye sempat kasar atawe berani 
mohon dimaafin 
Sunset Ramadhan beranjak pergi 
berganti fajar Syawal di pagi hari. 
membawa cahaya kedamaian di penghujung ramadhan 
menebar berkah di hari kemenangan. 
Met Idul Fitri, Mohon maaf lahir & bathin 
Harta paling berharga adalah sabar 
Teman paling setia adalah amal 
Ibadah paling indah adalah ikhlas 
Identitas paling tinggi adalah adalah iman 
Pekerjaan paling berat adalah memaafkan 
Mohon maaf atas segala khilaf 

Mari kita setting NIAT, 
upgrade IMAN, 
download SABAR, 
delete DOSA, 
approve MAAF, 
hunting PAHALA agar kita getting GUEST LIST masuk surga.. 
Minal a‟idzin wal faa idzin.. 
The holy and beautiful Syawal will come soon 
There is no word proper to welcome it 
Except the word of pray and forgiveness 
My Majesty if you forgive all my fault 
And hope your worship accepted by Allah 
The God of Merciful and the Beneficent 
Diri ini hanyalah manusia biasa 
yang tak luput dari segala khilaf dan dosa 
serta prasangka 
di penghujung bulan yang penuh berkah ini 
saya selaku pembuat onar serta kesalahan 
memohon maaf atas segala perilaku, ucapan, tingkah laku serta prasangka baiik yang disengaja maupun 
ngga 
semoga amal ibadah kita di bulan yang penuh berkah ini diterima oleh Nya dan semoga kita kembali di 
pertemukan dengan bulan yang penuh berkah ini. 


Sunday, June 29, 2014

Sahur dan Buka Puasa Rasulullah saw

Sahur dan berbuka puasa adalah 2 hal yang termasuk dalam rangkaian ibadah dalam berpuasa. 

a. Masalah Sahur

Sahur adalah suatu ibadah yang besar di sisi Allah SWT dan Rasul SAW. Pada masa Rasul saw, sahur menjadi pembeda puasanya orang Islam dengan puasa yahudi dan nasrani.

Dari ‘Amru bin Al ‘Ash, sesungguhnya Nabi SAW bersabda:
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
Maksudnya: “Perbedaan antara puasa kita dan puasa ahlul kitab adalah makan sahur.” (riwayat Muslim)

Nabi Shalallahu 'Alahi Wasallam bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً               
Artinya: "Makan sahurlah karena dalam makan sahur terdapat barokah" (HR. Al Bukhari 1923, Muslim 1095). Waktu sahur dimulai dari pertengahan malam sampai terbit fajar.

Namun waktu sahur yang paling utama adalah dengan mengakhirkannya.
Sahabat Zaid bin Tsabit berkata, "Kami makan sahur bersama Rasul Shalallahu 'Alahi Wasallam, kemudian  (setelah sahur) kami langsung pergi untuk shalat." Sahabat lain bertanya, "berapa jarak antara keduanya (sahur dan shalat)?" Beliau Zaid menjawab, seukuran (seseorang membaca) 50 ayat qur’an (HR. Muslim: 1097).

Juga sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ibn Hibban,

السَّحُوْرُ كُلُّهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ

Maksudnya: “(Makanan) Sahur itu seluruhnya adalah berkat, maka itu janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya dengan seteguk air, sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya mendoakan orang-orang yang bersahur.”

Sabda Nabi SAW;

نِعْمَ سَحُوْرُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ
Maksudnya: “Sebaik-baik sahurnya mukmin itu adalah dengan tamar.” (riwayat Abu Daud)

Dalam hadits yang lain disebutkan tentang; jika masih ada sisa makanan sementara azan sedang berkumandang.

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَاجَتَهُ مِنْهُ
Maksudnya: “Jika salah seorang di antara kalian mendengar azan sedangkan bekas makanan terakhir masih ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkannya hingga dia menunaikan hajatnya (makan) hingga selesai.” (riwayat Abu Dawud, dinilai hasan sahih oleh Albani)

Tamar adalah Kurma Kering baik itu yang kering ditangkai ataupun dipertik lalu dijemur. Tamar berbeda dengan ruthab yaitu kurma basah. Nabi saw memilih kurma kering untuk sahur. Apabila Nabi saw menyebutkan 'sebaik-baik' artinya ada kebaikan untuk makan Tamar saat sahur.

sahur dan berbuka rasulullah saw dengan kurma
kurma di tangkainya


b. Masalah berbuka puasa

Dalam berbuka puasa kita dianjurkan untuk menyegerakannya dan segera shalat maghrib. 
Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ
Artinya: “Manusia akan selalu berada dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka” (HR. Al Bukhari 1957, Muslim 1098).

Rasulullah saw biasanya berbuka dengan kurma basah, namun bila tidak ada maka dengan kurma kering.
Hadits Anas bin Malik Radhiyalahu 'Anhu beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ، فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاء

Artinya: Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam berbuka sebelum sholat (maghrib) dengan Ruthab (kurma basah), jika (beliau tidak mendapatkan) ruthab maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering). Jika tidak (mendapatkan keduanya) maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air (HR. Abu Daud 2356, At Tirmidzi).

Sebelum berbuka membaca basmalah, lalu mulai berbuka kemudian membaca doa berbuka.,
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوق  وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau berbuka, beliau membaca: Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah” (HR. Abu Daud 2357, Ad-Daruquthni dalam sunannya 2279, Al-Bazzar dalam Al-Musnad 5395, dan Al-Baihaqi dalam As-Shugra 1390. Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Albani).

zahir hadits tersebut menunjukkan bahwa doa ini dibaca setelah orang yang berpuasa itu berbuka. Syiakh Ibnu Utsaimin menegaskan:

لكن ورد دعاء عن النبي صلى الله عليه وسلم لو صح فإنه يكون بعد الإفطار وهو : ” ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله ”  فهذا لا يكون إلا بعد الفطر
“Hanya saja, terdapat doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika doa ini shahih, bahwa doa ini dibaca setelah berbuka. Yaitu doa: Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu…dst. doa ini tidak dibaca kecuali setelah selesai berbuka.” (Al-Liqa As-Syahri, no. 8, dinukil dari Islamqa.com)

(dirangkum dari berbagai sumber online: ROL, blogspot, konsultasisyariah,  daarulhaditssumbar, ustazfathulbari,  dll)

Thursday, June 26, 2014

Di Balik Penciptaan Alam Semesta

بسم الله الرحمن الرحيم
Di Balik Penciptaan Alam Semesta
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ
"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal," (Terj. QS. Ali Imran: 190)
Ya, pada penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang terdapat dalil akan adanya Allah, kekuasaan-Nya, keesaan-Nya, kebesaran-Nya, ilmu-Nya yang sempurna, hikmah-Nya yang dalam, dan rahmat-Nya yang luas.
Dalil adanya Allah Azza wa Jalla
Perhatikanlah alam semesta yang tampak di hadapan Anda; dengan keadaannya yang tersusun rapi dan indah. Ada langit dan ada bumi, ada siang dan ada malam, ada matahari dan ada bulan, ada gunung-gunung dan ada lembah, ada dataran dan ada lautan, di samping keindahannya yang begitu menarik perhatian. Ini semua menunjukkan adanya Allah Azza wa Jalla. Tidak mungkin semua itu muncul dengan tiba-tiba. Allah Azza wa Jalla berfirman,
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ-أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَل لَّا يُوقِنُونَ
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu (Pencipta) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?--Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).”(Terj. QS. Ath Thuur: 35-36)
Sungguh aneh sekali, masih ada di antara manusia yang mengingkari akan adanya Allah Azza wa Jalla. Tidakkah mereka menggunakan akal sehat mereka? Mungkinkah benda-benda yang ada di hadapan mereka muncul secara tiba-tiba, mobil misalnya, handphone, pesawat, meja, kursi, lemari, piring, dan sebagainya. Bukanlah sebagai alasan yang bisa diterima oleh akal hanya karena mereka tidak melihat pembuatannya kemudian mereka menyatakan, bahwa benda-benda itu ada dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya.
Dalil terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla
Matahari yang bersinar terang, bulan yang bercahaya, bintang-bintang yang bertaburan di langit, gunung-gunung yang menjulang tinggi, langit-langit yang tegak tanpa tiang, bumi yang luas dengan berbagai fasilitas yang ada, itu semua menunjukkan kemahakuasaan Allah Azza wa Jalla. Dia sanggup menciptakan semua itu sendiri. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
لِلّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Terj. QS. Al Ma’idah: 120)
Dalil terhadap keesaan Allah Azza wa Jalla
Tersusunnya alam semesta ini dalam keadaannya yang rapi dan indah, siang berganti malam, malam berganti siang, ada musim panas dan musim dingin, matahari terbit setiap hari dari timur dan tenggelam di barat, dan seterusnya. Semua ini terdapat dalil terhadap keesaan Allah Azza wa Jalla. Kalau seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan lain di samping Allah, tentu akan hancur alam semesta. Allah Azza wa Jalla berfirman,
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (Terj. QS. Al Anbiya’: 22)
Coba bayangkan, jika di di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan lain di samping Allah, tentu akan banyak ketetapan. Tuhan yang satu mengusulkan matahari terbit dari timur, tuhan yang satu lagi mengusulkan matahari terbit dari barat, tuhan yang lain mengusulkan agar matahari dari utara, sedangkan tuhan yang satu lagi mengusulkan agar matahari terbit dari selatan, maka sudah pasti akan hancur alam semesta. Kalau dalam sebuah pemerintahan saja kita tidak menerima jika ada dua atau lebih pemimpin atau presiden, maka mengapa kita menerima pernyataan ada banyak tuhan yang menguasai alam semesta?
Dalil terhadap kebesaran Allah Azza wa Jalla
Saudaraku, langit yang ada di atas kita begitu luas, bumi yang kita pijak begitu lebar, dan di sana masih ada ciptaan Allah Azza wa Jalla lainnya yang lebih besar lagi. Perhatikanlah hadits berikut,
عَنْ أَبِيذَرٍّ رَضِيَاللهُ عَنْهُقَالَ: سَمِعْتُرَسُوْلَاللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَيَقُوْلُ: مَاالْكُرْسِيُّفِى الْعَرْشِاِلَّا كَحَلْقَةٍمِنْ حَدِيْدٍاُلْقِيَتْبَيْنَ ظَهْرَيْفَلَاةٍ مِنَاْلاَرْضِ
Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu ia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kursiy[i]dibanding ‘Arsyi tidak lain seperti gelang besi yang diletakkan di padang pasir yang luas di bumi.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab Al ‘Arsy (no. 58), Adz Dzahabi dalam Al ‘Uluw (150-Ringkasan Syaikh Al Albani), Baihaqi dalam Al Asma’ wash Shifat hal. 510 dari hadits Abu Dzar, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah (109) dan Mukhtashar Al ‘Uluwhal. 130.)
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَ حَبْرٌ مِنَ الْأَحْبَارِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّا نَجِدُ أَنَّ اللَّهَ يَجْعَلُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ وَسَائِرَ الْخَلَائِقِ عَلَى إِصْبَعٍ فَيَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ تَصْدِيقًا لِقَوْلِ الْحَبْرِ ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ )البخاري)
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata, “Datang seorang pendeta Yahudi kepada Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kami mendapati bahwa (pada hari kiamat) Allah akan menjadikan langit di atas satu jari, bumi di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air dan tanah di atas satu jari serta seluruh makhluk di atas satu jari, lalu berfirman, “Akulah Raja,” maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tersenyum hingga tampak gigi serinya sebagai pembenaran Beliau terhadap ucapan pendeta yahudi itu, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun membaca ayat, (yang artinya: Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Tuhan dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.(QS. Az Zumar: 67)” (HR. Bukhari)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
أُذِنَ لِيْ أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللهِ تَعَالَى مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ اِلىَ عَاتِقِهِ مَسِيْرَةَ سَبْعِمِائَةِ سَنَةٍ
"Saya diizinkan menceritakan tentang salah satu malaikat Allah yang memikul 'arsy, bahwa jarak antara bagian bawah telinganya dengan pundaknya sejauh perjalanan 700 tahun." (Silsilah Ash Shahiihah: 151)
Jika makhluk-makhluk ciptaan-Nya sedemikian besarnya, lalu bagaimana Penciptanya, Allahu akbar. 
Dalil terhadap ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu
Jumlah makhluk yang diciptakan Allah Subhaanahu wa Ta’ala sangat banyak, baik manusia, hewan, tumbuhan dan lainnya yang beraneka ragam, masing-masing dari mereka dapat hidup sampai tiba ajalnya. Ini semua menunjukkan, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’ala Dialah yang memberikan rezeki mereka, Dia berfirman,
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (Terj. QS. Huud: 6)
Hal ini juga menunjukkan, bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, buktinya semua makhluk baik besar maupun kecil di penjuru dunia mendapat perhatian-Nya; mereka dapat hidup memperoleh rezeki-Nya.
Dalil terhadap hikmah Allah yang dalam
Keseimbangan alam semesta, keindahan penciptaan manusia dan makhluk-makhluk lainnya, serta kerapihannya menunjukkan hikmah (kebijaksanaan) Allah Azza wa Jalla. Dia tidaklah menciptakan itu semua main-main dan tanpa ada maksud dan tujuan, Dia berfirman,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?”(Terj. QS. Al Mu’minun: 115)
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلاً ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”(Terj. QS. Shaad: 27)
Oleh karenanya, Allah Subhaanahu wa Ta’ala tidaklah menciptakan manusia main-main. Dia menciptakan manusia dan jin tidak lain agar mereka hanya menyembah dan beribadah kepada-Nya serta mengisi hidup mereka di dunia dengan beribadah yang nantinya Dia akan membalas mereka dengan balasan yang besar, berupa surga yang penuh kenikmatan. Inilah beban yang dipikulkan kepada mereka selama mereka hidup di dunia. Dia berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Terj. QS. Adz Dzaariyaat: 56)
Sungguh tidak sejalan dengan hikmah-Nya, jika Dia menciptakan surga yang penuh dengan kenikmatan lalu memberikan begitu saja kepada manusia sedang mereka tidak dibebani apa-apa sebagaimana tidak bijaksana seorang pengusaha merekrut para karyawan lalu memberikan gaji yang besar kepada mereka, tetapi para karyawan itu tidak ditugaskan apa-apa.
Dalil terhadap rahmat-Nya yang luas
Tidakkah kita mendengar orang yang memohon kepada Allah kemudian dikabulkan-Nya, makhluk-makhluk-Nya yang kelaparan diberinya rezeki, manusia yang tersesat diberi-Nya petunjuk dan dibimbingan ke jalan yang lurus. Ini semua menunjukkan kasih sayang Allah Azza wa Jalla kepada makhluk-makhluk-Nya. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa pernah para tawanan di hadapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara mereka ada seorang wanita yang memerah susunya untuk memberi minum (anaknya), yang ketika menemukan anaknya, ia segera mengambilnya dan menempelkannya ke perutnya sambil menyusuinya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa salla bersabda,
«أَتُرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ» قُلْنَا: لاَ، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ، فَقَالَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا»
“Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami menjawab, “Tidak akan, sedangkan ia sanggup untuk tidak melemparnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.”
Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya. Wa shallallahu 'alaa Muhammad wa 'alaa ahlihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa
Maraji': Maktabah Syamilahversi 3.45, Software Al Bahits (Indeks ayat Al Qur’an), Untaian Mutiara Hadits (Penulis), dll.


[i] Waki’ meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia berkata, “Kursiy adalah tempat Allah meletakkan kedua kaki-Nya, sedangkan ‘Arsyi tak ada seorangpun yang bisa mengukur besarnya.” (Diriwayatkan juga oleh Hakim dalam mustadraknya dari Ibnu Abbas secara mauquf, katanya, “(Riwayat ini) shahih sesuai syarat syaikhain (Bukhari-Muslim).”

Tuesday, June 24, 2014

Belajar Mudah Ilmu Tauhid (6)

بسم الله الرحمن الرحيم

Belajar Mudah Ilmu Tauhid (6)

(Wala’ dan Bara’, Hakikat Islam, Rukun Islam, Hakikat Iman, dan Rukun Iman)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Berikut ini pembahasan tentang Wala’ dan Bara’, Hakikat Islam, Rukun Islam, Hakikat Iman, dan Rukun Iman yang kami terjemahkan dari kitab At Tauhid Al Muyassarkarya Syaikh Abdullah bin Ahmad Al Huwail; semoga Allah menjadikan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamiin.
Definisi Wala’ dan Bara’ secara bahasa
Wala’ secara bahasa dari kata walayah yang artinya mahabbah (cinta).
Bara’ secara bahasa adalah masdar dari kata baraa yang artinya memutuskan. Disebut baral qalam artinya meruncingkan pena.
Definisi Wala’ dan Bara’ secara istilah
Walaartinya mencintai kaum muslimin, menolong mereka, memuliakan, menghormati, dan mendekat kepada mereka.
Bara’ artinya membenci kaum kafir, menjauhi mereka, dan tidak membela mereka.
Urgensi Wala’ dan Bara’
-        Wala’ dan Bara’termasuk dasar-dasar akidah Islam.
-        Sebagai ikatan iman yang paling kuat.
-        Termasuk ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pembagian wala’
Wala’ terbagi dua:
Pertama, tawalli.
Kedua, muwalah.
Tentang Tawalli
Ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang tawalli.
Arti Tawalli
Tawwali artinya menyukai syirk, pelakunya, menyukai kekafiran, dan pelakunya. Demikian juga membela orang-orang kafir untuk melawan kaum mukmin.
Hukum Tawalli
Tawalli merupakan kufur akbar dan membuat seseorang murtad dari Islam.
Dalil hukum tawalli
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ
“Barang siapa di antara kamu bertawalli kepada mereka, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (Terj. QS. Al Ma’idah: 51)
Tentang Muwalah
Ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang muwalah.
Definisi Muwalah dan batasannya
Maksudnya adalah mencintai orang-orang kafir dan musyrik karena sebab dunia, namun tidak disertai pembelaan, sehingga tidak termasuk tawalli.
Hukum muwalah
Hukumnya haram dan termasuk dosa besar.
Dalil hukum muwalah
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang;.” (Terj. QS. Al Mumtahanah: 1)
Fenomena berwala’ kepada orang-orang kafir
Di antara fenomena berwala’ kepada orang-orang kafir adalah:
1.     Menyerupai mereka dalam hal pakaian dan berbicara.
2.     Bersafar ke negeri mereka dengan tujuan tamasya dan bersenang-senang.
3.     Tinggal di negeri mereka dan tidak mau berpindah ke negeri kaum muslimin untuk membawa agama.
4.     Menggunakan kalender mereka, khususnya kalender yang menyebutkan upacara keagamaan dan hari raya mereka, seperti kalender masehi.
5.     Ikut serta dalam acara hari raya mereka atau membantu mereka mengadakannya, atau mengucapkan selamat terhadapnya, dan atau menghadiri pelaksanaannya.
6.     Memberi nama anak dengan nama-nama mereka.
Pembagian manusia dalam hal disikapi dengan wala’ dan bara’
Manusia dalam hal disikapi dengan wala dan bara’ terbagi menjadi tiga golongan:
Golongan pertama, orang-orang yang dicintai secara murni tanpa ada kebencian di sana.
Mereka ini adalah orang-orang mukmin yang bersih.
Golongan kedua, orang-orang yang dibenci dan dimusuhi dengan kebencian yang murni tanpa ada rasa cinta dan sikap wala’.
Mereka ini adalah orang-orang kafir yang jelas kekafirannya.
Golongan ketiga, orang-orang yang dicintai dari satu sisi dan dibenci dari sisi lain.
Mereka ini adalah orang-orang mukmin yang berbuat maksiat. Mereka dicintai karena ada keimanannya dan dibenci karena kemaksiatan yang mereka lakukan di bawah kufur dan syirk.
Hakikat Islam
Islam secara bahasa artinya tunduk dan menyerahkan diri.
Secara syara’ Islam artinya menyerahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menaati-Nya, dan berlepas diri dari syirk dan para pelakunya.
Makna Islam secara umum dan khusus
Makna Islam secara umum adalah beribadah kepada Allah sesuai syariat-Nya sejak Allah mengutus para rasul sampai tegaknya hari Kiamat.
Makna Islam secara khusus tertuju kepada agama yang dibawa Nabi  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rukun (tiang penopang) Islam
Rukunnya ada lima:
1.     Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
2.     Mendirikan shalat
3.     Menunaikan zakat
4.     Berpuasa Ramadhan
5.     Berhaji ke Baitullah bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana.
Rukun-rukun tersebut bisa dibagi lagi menjadi dua:
Pertama, rukun yang menjadi penopang bangunan. Ini disebut sebagai rukun asasi. Yang termasuk ke dalam rukun ini ada dua, yaitu: Dua kalimat syahadat dan shalat.
Kedua, rukun yang menyempurnakan bangunan tersebut. Ini disebut rukun tamam. Yang termasuk ke dalam rukun ini ada tiga, yaitu: menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.
Dalil rukun Islam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
"Islam dibangun di atas lima (dasar); bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan puasa di bulan Ramadhan.  (Muttafaq ‘alaih)
Hakikat Iman
Arti iman secara bahasa adalah pembenaran dan pengakuan.
Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah, iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan. Ia akan bertambah dengan ketaatan dan akan berkurang dengan kemaksiatan.
Rukun Iman
Rukun iman ada enam:
1.     Beriman kepada Allah
2.     Beriman kepada para malaikat-Nya.
3.     Beriman kepada kitab-kitab-Nya.
4.     Beriman kepada rasul-rasul-Nya.
5.     Beriman kepada hari akhir.
6.     Beriman kepada qadar yang baik dan yang buruk.
Berikut kandungan rukun-rukun tersebut:
Beriman kepada Allah
Beriman kepada Allah mencakup empat hal:
1.     Beriman kepada wujud Allah.
2.     Beriman kepada Rububiyyah-Nya (bahwa Dia yang mengatur, yang menguasai, dan memiliki alam semesta).
3.     Beriman kepada Uluhiyyah-Nya (keberhakan-Nya untuk disembah).
4.     Beriman kepada nama-nama dan sifat-Nya.
Beriman kepada para malaikat-Nya
Beriman kepada malaikat mencakup empat hal:
1.     Beriman kepada wujud mereka.
2.     Beriman kepada malaikat yang kita ketahui namanya, seperti Jibril. Sedangkan malaikat yang tidak kita ketahui namanya, maka kita imani secara garis besar.
3.     Beriman kepada sifat malaikat yang kita ketahui.
4.     Beriman kepada perbuatan mereka yang kita ketahui yang mereka lakukan atas perintah Allah.
Beriman kepada kitab-kitab Allah
Beriman kepada kitab-kitab Allah mencakup empat hal:
1.     Beriman bahwa kitab-kitab itu benar-benar turun dari sisi Allah.
2.     Beriman kepada kitab yang kita ketahui namanya, seperti Al Qur’an, Taurat, dan Injil. (Aadapun yang tidak kita ketahui namanya, maka kita beriman kepadanya secara garis besar-pent).
3.     Membenarkan beritanya yang shahih, seperti berita yang disampaikan Al Qur’an dan berita dari kitab-kitab terdahulu yang belum dirubah atau diselewengkan yang disahkan penukilannya dalam syariat kita.
4.     Mengamalkan hukum-hukum yang belum dimansukh disertai sikap ridha dan menerima, baik kita memahami hikmahnya atau tidak. Dan semua kitab-kitab terdahulu telah dimansukh oleh Al Qur’an.
Beriman kepada para rasul
Beriman kepada para rasul mencakup empat hal:
1.     Beriman bahwa risalah mereka betul-betul dari sisi Allah Ta’ala. Barang siapa yang kafir kepada salah seorang rasul, maka sama saja kafir kepada semua rasul.
2.     Beriman kepada rasul yang kita ketahui namanya, seperti Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, dan Nuh ‘alaihimus salam.  (adapun yang tidak kita ketahui namanya, maka kita beriman kepadanya secara garis besar).
3.     Membenarkan berita yang shahih dari mereka.
4.     Mengamalkan syariat rasul yang diutus kepada kita, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah penutup para nabi dan rasul yang diutus kepada semua manusia.
Beriman kepada hari Akhir
Beriman kepada hari akhir mencakup tiga hal:
1.     Beriman kepada adanya kebangkitan.
2.     Beriman kepada hisab (pemeriksaan amal) dan pembalasan.
3.     Beriman kepada surga dan neraka.
Termasuk ke dalam beriman kepada hari Akhir adaah beriman kepada semua yang akan terjadi setelah mati, seperti fitnah kubur, azab kubur, dan nikmat kubur.
Beriman kepada Qadar
Beriman kepada qadar mencakup empat hal:
1.     Beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu baik secara garis besar maupun secara rinci.
2.     Beriman bahwa Allah mencatat semua itu dalam Lauh Mahfuzh.
3.     Beriman bahwa semua yang terjadi tidak lepas dari kehendak Allah Ta’ala.
4.     Beriman bahwa semua yang terwujud adalah makhluk ciptaan Allah Ta’ala, baik dzatnya, sifatnya, maupun gerakannya.
Dalil rukun iman yang enam
Allah Ta’ala berfirman,
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi...dst.” (Terj. QS. Al Baqarah: 177)
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar.” (Terj. QS. Al Qamar: 49)
Dalam As Sunnah, disebutkan dalam hadits Jibril ketika ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Beritahukan kepadaku tentang iman? Maka Beliau bersabda,
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
“Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)
Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.
Diterjemahkan dari kitab At Tauhid Al Muyassar oleh Marwan bin Musa