Monday, February 9, 2009

PRABOWO SUBIANTO SEBAGAI "BUNG KARNO KECIL?"

Oleh Satrio Arismunandar

Permadi, anggota DPR-RI dari PDI Perjuangan yang mundur dan “membelot” ke Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya), telah membuat pernyataan yang menohok mantan partainya. Ketika ditanya mengapa pindah ke Partai Gerindra, Permadi yang lebih dikenal sebagai “paranormal” dan “Sukarnois” itu menjawab: “Prabowo itu lebih nasionalis dari orang-orang di PDI Perjuangan.”

Kemudian, pada peringatan HUT pertama Partai Gerindra di Balai Sarbini, Jakarta, Jumat (6 Februari 2009), Permadi membuat pernyataan lain yang secara tak langsung “menampar” Megawati. Di depan ribuan massa Gerindra, di atas panggung, Permadi menyebut pendiri dan Capres dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto, sebagai “Bung Karno kecil!” Padahal, seingat saya, Permadi selama aktif di PDI Perjuangan tidak pernah menyebut Megawati ataupun anak-anak Bung Karno yang lain sebagai “Bung Karno kecil.”

Soal sebutan dan klaim Permadi itu tentu terbuka untuk diperdebatkan. Namun, mereka yang hadir di Balai Sarbini waktu itu bisa melihat sendiri, bagaimana penampilan Prabowo di atas panggung, yakni ketika mantan Danjen Kopassus itu menyampaikan pidato politiknya. Saya akan menyingkat isi pidatonya dalam tiga ungkapan: sangat nasionalis, sangat patriotis, dan sangat populis.

Saya sebelumnya tak pernah melihat Prabowo berpidato, jadi merasa agak surprise dengan gaya retorikanya yang (di luar dugaan saya) cukup memikat. Effendi Gazali, rekan saya dan pakar komunikasi politik UI, yang juga hadir di acara tersebut berkomentar, seandainya Prabowo sempat melengkapi pidatonya dengan tambahan contoh-contoh konkret, penampilan Prabowo itu bakal mendekati perfect.

Malam itu Prabowo memang tampil prima dan bersemangat. Bicaranya lantang dan lugas. Ia tak ragu menghantam kebijakan ekonomi pemerintahan SBY-JK, yang menurutnya “keliru.” Misalnya, Bank Mandiri dibiarkan menggelontorkan belasan trilyun rupiah untuk membangun gedung, mal, hypermarket, dan apartemen mewah. Padahal, jika uang sebesar itu dipakai untuk membuka sawah baru, pasti bisa memberi lapangan kerja bagi jutaan rakyat, dan memberi efek yang jauh lebih signifikan pada ekonomi nasional.

Prabowo juga mengritik tajam kebiasaan pemerintah, yang dengan enteng suka “mengemis” utang ke luar negeri. Suatu tindakan yang --menurut Prabowo-- tidak bermartabat dan tidak layak bagi bangsa yang besar seperti Indonesia.

Penjualan aset-aset negara dan BUMN ke pihak asing juga dikecam habis. Salah satunya adalah penjualan Indosat (ini sebenarnya terjadi di bawah pemerintahan Presiden Megawati). Prabowo juga menyinggung adanya rencana atau wacana saat ini untuk menggadaikan Gelora Bung Karno Senayan. “Jangan-jangan nanti Monas juga akan digadaikan, untuk memperoleh pinjaman ke luar negeri!” katanya.

Sebagai politisi, Prabowo memang bermain cantik. Pada acara itu, Prabowo juga menyerahkan sumbangan uang untuk warga sipil Palestina, para ibu, anak, dan orang tua, yang menjadi korban pelanggaran HAM di Jalur Gaza. Sumbangan diserahkan langsung ke Dubes Palestina, yang hadir di acara Gerindra. Langkah simpatik ini tentunya menyenangkan bagi konstituen Indonesia dan kalangan Islam, yang concern dengan dampak agresi Israel ke Gaza.

Dalam pidatonya, Prabowo memuji Bung Karno dan Soeharto sebagai pemimpin besar Indonesia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dengan lancar, Prabowo mengutip kata-kata Bung Karno, yang bernada patriotis dan nasionalis, dan lalu dikaitkan dengan konteks situasi kontemporer. Sebagai taktik mencari simpati massa, gaya Prabowo cukup menarik. Dia seolah-olah ingin merangkul semua kelompok.

Masih banyak hal yang harus dibuktikan Prabowo. Rekam jejak masa lalunya, sebagai mantan menantu Soeharto dan Danjen Kopassus, yang dikaitkan dengan kasus penculikan aktivis prodemokrasi, mungkin bisa menjadi beban. Namun, tampaknya Prabowo tidak terbebani oleh hal itu. Bergabungnya sejumlah mantan aktivis korban penculikan –seperti Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang dan Desmond Mahesa-- ke Partai Gerindra diharapkan akan meredam isu itu.

Kedekatan Prabowo dengan keluarga Soeharto, yang ditunjukkan dengan kehadiran loyalis Soeharto dan mantan Mensesneg Moerdiono sebagai Dewan Penasehat Gerindra, mungkin malah akan dijadikan aset. Karena, di tengah krisis ekonomi saat ini, cukup banyak masyarakat awam yang bernostalgia tentang “kestabilan ekonomi” di zaman Soeharto.

Apakah Prabowo akan berhasil tampil, sebagai “kuda hitam” di pertarungan pemilihan Presiden RI 2009? Apakah Partai Gerindra juga akan tampil mengesankan dalam pemilu legislatif, 9 April mendatang? Kita lihat saja nanti.

Jakarta, 7 Februari 2009

No comments:

Post a Comment