Monday, March 30, 2009

CINTA BERLATAR BELAKANG KERUSUHAN MEI 1998 (RESENSI FILM "MAY")




Oleh Satrio Arismunandar

Saya berkesempatan menonton film May, yang diputar untuk kalangan terbatas di gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, pada 24 Maret 2009. Film garapan Flix Pictures dan hasil besutan sutradara Viva Westi ini memang istimewa. Temanya saja sudah tak biasa, di luar arus komersial utama, yang lebih asyik dengan tema horror atau cinta remaja.

Meskipun bercerita soal cinta, setting-nya adalah peristiwa nasional dramatis, yang mengawali jatuhnya rezim Soeharto. Yaitu, kerusuhan Mei 1998, yang melibatkan aksi pembakaran, perusakan, dan penjarahan terhadap rumah dan harta milik warga etnis Tionghoa, sehingga banyak di antara mereka yang mengungsi ke luar negeri. Peristiwa tragis sekaligus traumatis ini memisahkan sepasang kekasih, gadis etnis Tionghoa, May (diperankan secara apik oleh Jenny Chang) dan pemuda pribumi Antares (diperankan oleh Yama Carlos).

Sejumlah pemain kawakan turut memperkuat film ini, seperti Lukman Sardi (Gandang), Ria Irawan (istri Gandang), Niniek L. Karim (mertua Gandang), Tio Pakusadewo (Harriandja), Tutie Kirana (ibu May), Jajang C. Noer (perawat), Andre Pieter (jurnalis asing), dan aktris Malaysia, Zahida Rafiq (teman May). Syuting film May ini dilakukan di beberapa kota, seperti: Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Kuala Lumpur, Malaka, dan Genting Highland (Malaysia).

Karena diputar pada masa kampanye pemilu legislatif 2009, dan di antara pihak pengundang terdapat institusi seperti CSIS (Center for Strategic and International Studies), semula saya mengira acara pemutaran film –yang berlatar belakang kerusuhan Mei 1998-- ini bermotif politis.

Soalnya, sudah bukan rahasia lagi, dalam kasus kerusuhan Mei 1998, sejumlah petinggi militer --seperti Jenderal TNI Wiranto dan Prabowo Subianto-- dituding oleh sebagian kalangan harus bertanggung jawab, atas tidak jelasnya penanganan kerusuhan pada waktu itu. Keduanya kini jadi pemimpin parpol yang berlaga di pemilu, bahkan dimajukan oleh partainya (Hanura dan Gerindra) sebagai bakal calon Presiden.

Tetapi, sesudah menonton filmnya, saya tidak berpendapat demikian. Sebabnya sederhana. Peran atau ketiadaan peran militer dalam kerusuhan Mei 1998 tidak tampak sama sekali di film ini. Bahkan kerusuhan Mei itu sendiri tidak jelas sebab musababnya ataupun pokok permasalahannya. Tidak ada dokumenter nyata dari kerusuhan Mei yang disisipkan di film ini, yang seharusnya bisa memberi efek dramatis. Padahal, saya yakin banyak sekali gambar nyata yang bisa ditampilkan, jika sutradara menghendaki.

Penonton hanya disuguhi gambar-gambar tersirat tentang adanya kerusuhan, tetapi itu pun sangat sumir. Jika saya adalah warga asing dan bukan warga Jakarta, yang pada Mei 1998 sempat mengalami langsung suasana ketegangan waktu itu, pastilah saat menonton film ini saya akan terbengong-bengong, karena tidak paham atau tidak bisa menghayati setting cerita.

Film yang skenarionya ditulis Dirmawan Hatta ini memang tidak mencoba merekonstruksikan kerusuhan Mei, tetapi hanya menjadikan peristiwa kelam itu sebagai latar belakang. Pokok ceritanya adalah tentang kehancuran, rasa kehilangan, penderitaan, tetapi juga pemaafan, penyembuhan luka, dan kembalinya kehidupan melalui cinta. Viva Westi sengaja dipilih menjadi sutradara, karena ingin menghadirkan sudut pandang perempuan dalam film ini. Dari segi ini, ada poin positif yang layak kita apresiasi.

Namun, kelemahan film ini adalah pacing-nya yang sangat lambat. Kalau bukan karena saya mantan aktivis mahasiswa, yang sedikit-banyak merasakan keterkaitan emosional dengan peristiwa Mei 1998, mungkin saya tak akan sabar menonton film ini sampai habis.

Selain itu, terasa ada “kegamangan” dari pembuat film ini. Di satu segi, ada keinginan untuk mengangkat kasus tragedi Mei 1998, yang telah memakan banyak korban manusia itu, sebagai peristiwa bersejarah yang tidak sepatutnya dilupakan dan tidak boleh berulang. Namun, di segi lain, juga ada kekhawatiran bahwa jika kasus itu diangkat terlalu nyata, justru akan membangkitkan kembali trauma, kepedihan, dan kegetiran, yang terutama dirasakan oleh warga etnis Tionghoa.

Karena tarik-menarik dua pendekatan yang tak tuntas ini, maka hadirlah film May seperti bentuknya yang sekarang ini. Kisah cinta dengan setting serba samar. Film ini mungkin terasa spesial untuk kalangan tertentu , yang secara emosional dan fisik pernah menjadi bagian aktual dari setting peristiwa Mei 1998. Namun, mungkin tidak akan terasa menggigit bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki kenangan historis atau emosional terhadap peristiwa itu. Bagi mereka, ini seperti kisah cinta biasa.

Film berdurasi sekitar 100 menit ini sebetulnya semula direncanakan dirilis pada Juni 2008, tapi konon hanya sempat diputar selama seminggu dan tak begitu sukses. Ada keinginan untuk memutarnya kembali di tahun 2009 ini.

Namun, sampai resensi ini saya tulis, Maret 2009, juga belum jelas kapan film ini akan diputar secara meluas di gedung-gedung bioskop. Sayang sekali. Bagaimanapun juga, saya berpendapat, film May sangat layak ditayangkan dan diapresiasi oleh masyarakat, karena apapun juga ia mencerminkan wajah kita, wajah Indonesia.

Jakarta, 31 Maret 2009

CARL GUSTAV HEMPEL TENTANG EKSPLANASI ILMIAH, TEORI KONFIRMASI, DAN PARADOKS BURUNG GAGAK

Oleh Satrio Arismunandar

I. Pengantar

Carl Gustav Hempel (1905-1997), filsuf kelahiran Jerman yang berimigrasi ke Amerika, adalah salah satu filsuf sains terkemuka pada abad ke-20. Paradoks burung gagaknya (Raven’s Paradox) –sebagai ilustrasi paradoks-paradoks konfirmasi—telah menjadi tantangan tetap terhadap teori-teori konfirmasi.

Bersama Paul Oppenheim, ia mengusulkan perhitungan kuantitatif terhadap derajat konfirmasi hipotesis lewat pembuktian. Model nomologis-deduktif yang diajukannya bagi eksplanasi (penjelasan) ilmiah menempatkan eksplanasi pada landasan logis yang sama seperti prediksi; yakni keduanya adalah argumen-argumen deduktif.

Perbedaannya adalah soal pragmatis, katakanlah bahwa dalam sebuah eksplanasi, konklusi argumen dimaksudkan agar dianggap benar. Sedangkan, dalam prediksi, tujuannya adalah untuk menghadirkan kasus yang meyakinkan untuk konklusi. Hempel juga mengusulkan ukuran kuantitatif bagi kekuatan teori untuk mensistematisasikan datanya.

Dalam kehidupannya kemudian, Hempel meninggalkan proyek logika induktif. Ia juga menekankan problem-problem dengan positivisme logis (empirisme logis), khususnya yang berkaitan dengan kriteria kebisaan untuk diverifikasikan (verifiability). Hempel akhirnya meninggalkan analisis positivis logis terhadap sains, dan berpaling ke arah analisis yang lebih empiris dalam peristilahan sosiologi sains.

Hempel belajar matematika, fisika, dan filsafat di Gottingen, Heidelberg, Vienna, dan Berlin. Di Vienna, ia menghadiri beberapa pertemuan Lingkaran Vienna. Dengan pertolongan Rudolf Carnap, ia dapat meninggalkan Eropa sebelum Perang Dunia II, dan ia datang ke Chicago dengan hibah riset yang diusahakan oleh Carnap. Hempel kemudian mengajar di Universitas Kota New York, Universitas Yale, dan Universitas Princeton.

II. Riwayat Singkat dan Filsuf-filsuf yang Mempengaruhinya

Hempel lahir di Oranienburg, Jerman, pada 1905. Ia belajar di Realgymnasium di Berlin, dan pada 1923 ia diterima di Universitas Gottingen, di mana ia belajar matematika bersama David Hilbert dan Edmund Landau, serta belajar logika simbolis bersama Heinrich Behmann.
Hempel sangat terkesan pada program Hilbert untuk membuktikan konsistensi matematika dengan cara metode-metode elementer. Ia juga belajar filsafat, namun merasakan bahwa logika matematis lebih menarik daripada logika tradisional.

Pada tahun yang sama, ia pindah ke Universitas Heidelberg, di mana ia belajar matematika, fisika, dan filsafat. Dari 1924, Hempel belajar di Berlin, di mana ia bertemu Reichenbach yang memperkenalkannya ke Lingkaran Berlin. Hempel menghadiri kursus-kursus Reichenbach tentang logika matematis, filsafat ruang dan waktu, dan teori probabilitas. Ia belajar fisika bersama Max Planck dan belajar logika bersama von Neumann.

Pada 1929, Hempel ikut serta dalam kongres pertama filsafat ilmiah yang diselenggarakan oleh penganut positivis logis. Ia bertemu Rudolf Carnap dan sangat terkesan pada Carnap, sehingga ia pindah ke Vienna. Di sana ia menghadiri tiga kursus bersama Carnap, Schlick, dan Waismann, dan ambil bagian dalam pertemuan –pertemuan Lingkaran Vienna.

Pada tahun-tahun yang sama, Hempel dianggap layak sebagai guru sekolah menengah, dan akhirnya pada 1934, ia meraih doktor filsafat di Berlin, dengan disertasi tentang teori probabilitas.

Pada tahun yang sama, ia berimigrasi ke Belgia, berkat pertolongan seorang rekan Reichenbach, Paul Oppenheim (Reichenbach memperkenalkan Hempel dengan Oppenheim pada 1930). Dua tahun kemudian, Hempel dan Oppenheim menerbitkan buku Der Typusbegriff im Lichte der neuen Logik tentang teori logis konsep-konsep ilmiah metrik, komparatif, dan pengklasifikasi.
Pada 1937, Hempel diundang—dengan bantuan Carnap—ke Universitas Chicago sebagai Pendamping Riset bidang filsafat. Sesudah sempat tinggal lagi sebentar di Belgia, Hempel berimigrasi ke Amerika pada 1939. Ia mengajar di New York, di City College (1939-1940) dan Queens College (1940-1948).

III. Permasalahan dan Fokus Perhatian Hempel

Pemikiran Hempel tampaknya erat berkaitan dengan filsafat sains. Filsafat sains merangkul seluruh pertanyaan yang muncul dari refleksi terhadap sains. Sains secara meluas diyakini sebagai cara terbaik yang tersedia untuk memperoleh pengetahuan. Selain itu, teori-teori ilmiah tampaknya memberi kita banyak masukan tentang hakikat dan bagaimana berfungsinya dunia. Maka filsafat sains terasa saling tumpang tindih dengan epistemologi dan metafisika.

Pertanyaan yang paling mendasar bagi filsafat sains adalah: Apakah sains itu? (walaupun sejumlah filsuf beranggapan bahwa pertanyaan ini salah arah, karena tidak ada ciri-ciri yang sama pada semua hal yang kita sebut sebagai sains).

Pertanyaan penting lain adalah: Apakah ada metode tunggal dengan mana seluruh sains memperoleh kemajuan (progress)? Apakah yang dinamakan teori ilmiah itu? Derajat kepercayaan seperti apa yang patut kita berikan pada teori-teori ilmiah? Apa hubungan antara teori-teori dalam sains-sains yang berbeda? Dan lain-lain.

Banyak diskusi dalam filsafat sains berkaitan dengan hubungan antara teori dan bukti. Kita biasanya berasumsi bahwa jika sebuah teori memprediksi beberapa hasil (result) bagi sebuah eksperimen tertentu, dan hasil itu kemudian diamati, maka pengamatan itu adalah bukti positif bagi kebenaran teori, dan teori itu dikonfirmasikan olehnya.

Bagaimanapun, problem induksi (lihat epistemologi) adalah tak ada jumlah bukti bagi generalisasi universal tertentu (sebut saja, misalnya “semua angsa berwarna putih”) yang tidak konsisten dengan satu bukti yang menolaknya (katakanlah, angsa berikutnya yang diobservasi berwarna hitam).

Karl Popper telah mencoba menghindari problem ini dengan menyebutkan bahwa teori-teori tidak pernah dikonfirmasikan oleh bukti, tapi hanya difalsifikasi. Sejauh suatu teori belum difalsifikasi, walaupun kita sudah berusaha sekeras mungkin untuk memfalsifikasinya, maka kita punya alasan untuk terus menggunakan teori tersebut. Namun, kita tidak boleh pernah berpikir bahwa teori itu sudah didukung secara induktif.

Filsuf-filsuf lain telah berargumentasi bahwa problem induksi muncul kembali pada teori Popper tentang metodologi ilmiah (yang disebut falsifikasionisme), dan bahwa kita tidak dapat berbuat tanpa semacam teori konfirmasi.
Setiap teori konfirmasi harus menghindari apa yang dinamakan paradoks-paradoks konfirmasi, yang muncul jika kita mengadopsi sebuah teori yang jelas bagi konfirmasi, yang menyiapkan intuisi-intuisi.

IV. Karya-karya Hempel

Pada tahun-tahun sekitar 1939-1948, Hempel tertarik pada teori konfirmasi dan eksplanasi, dan menerbitkan beberapa artikel dengan topik tersebut: "A Purely Syntactical Definition of Confirmation” (The Journal of Symbolic Logic, 8, 1943); "Studies in the Logic of Confirmation" (Mind, 54, 1945); "A Definition of Degree of Confirmation" (dengan P. Oppenheim, di Philosophy of Science, 12, 1945); "A Note on the Paradoxes of Confirmation" (Mind, 55, 1946); dan "Studies in the Logic of Explanation" (dengan P. Oppenheim di Philosophy of Science, 15, 1948).

Antara 1948 dan 1955, Hempel mengajar di Universitas Yale. Karyanya Fundamentals of Concept Formation in Empirical Science diterbitkan pada 1952 di International Encyclopedia of Unified Science. Dari 1955, ia mengajar di Universitas Princeton. Aspects of Scientific Explanation and Philosophy of Natural Science diterbitkan pada 1965 dan 1966 berturut-turut. Sesudah usia pensiun, ia terus mengajar di Berkley, Irvine, Jerusalem, dan dari 1976 hingga 1985, di Pittsburgh.

Sementara itu, perspektif filsafatnya berubah dan ia berpaling dari positivisme logis: "The Meaning of Theoretical Terms: A Critique of the Standard Empiricist Construal" (dalam Logic, Methodology and Philosophy of Science IV, disunting oleh Patrick Suppes, 1973); "Valuation and Objectivity in Science" (dalam Physics, Philosophy and Psychoanalysis, disunting oleh R. S. Cohen dan L. Laudan, 1983); "Provisoes: A Problem Concerning the Inferential Function of Scientific Theories" (dalam Erkenntnis, 28, 1988).

Bagaimanapun, ia tetap setia bergabung dengan empirisme logis. Pada 1975, ia menjabat sebagai redaksi (bersama W. Stegmüller dan W. K. Essler) pada seri baru jurnal Erkenntnis. Hempel meninggal pada 9 November 1997 di kotapraja Princeton, New Jersey.

V. Eksplanasi Ilmiah

Bersama Paul Oppenheim, pada 1948 Hempel mengembangkan teori persis logis, yang dikenal sebagai Model Nomologis-Deduktif (Deductive-Nomological Model) atau Model Hukum yang Mencakup (Covering-Law Model) bagi eksplanasi.

Eksplanasi ilmiah dari sebuah fakta adalah deduksi dari sebuah pernyataan (disebut explanandum), yang menggambarkan fakta yang ingin kita jelaskan; premis-premis (disebut explanans), yaitu hukum-hukum ilmiah; dan kondisi-kondisi awal yang cocok. Agar eksplanasi bisa diterima, explanans itu harus benar.

Menurut model nomologis-deduktif, eksplanasi sebuah fakta dengan demikian direduksi menjadi hubungan logis antara pernyataan-pernyataan. Explanandum adalah konsekuensi dari explanans. Ini adalah metode yang umum dalam filsafat positivisme logis. Aspek-aspek pragmatis dari eksplanasi tidak dipertimbangkan.

Penjabaran lainnya adalah bahwa sebuah eksplanasi mensyaratkan adanya hukum-hukum ilmiah; fakta-fakta dijelaskan ketika mereka digolongkan di dalam hukum-hukum. Maka, pertanyaan pun muncul tentang hakikat suatu hukum ilmiah.
Menurut Hempel dan Oppenheim, sebuah teori fundamental dirumuskan sebagai pernyataan yang benar, di mana pembilang-pembilangnya (quantifiers) tidak dapat dicabut (sebagai contoh, sebuah teori fundamental tidaklah sama dengan sebuah pernyataan tanpa pembilang), dan tidak mengandung konstanta individual.

Setiap pernyataan yang digeneralisasikan (generalized statement), yang merupakan konsekuensi logis dari sebuah teori fundamental, adalah teori turunan (derived theory). Gagasan yang mendasari perumusan ini adalah bahwa sebuah teori ilmiah berurusan dengan properti umum, yang diekspresikan oleh pernyataan-pernyataan universal.

Rujukan terhadap kawasan ruang-waktu spesifik atau terhadap hal-hal individual tidaklah diizinkan. Misalnya, hukum Newton adalah benar untuk semua benda di setiap waktu dan setiap ruang. Namun, terdapat hukum-hukum (misalnya, hukum-hukum Kepler awal) yang sah (valid) di bawah kondisi terbatas dan merujuk ke obyek-obyek spesifik, seperti matahari dan planet-planetnya.

Karenanya, ada pembedaan antara sebuah teori fundamental, yang bersifat universal tanpa pembatasan, dengan sebuah teori turunan yang dapat mengandung rujukan terhadap obyek-obyek individual. Perlu dicatat, di sini dipersyaratkan bahwa teori-teori itu benar. Secara tersirat, ini berarti hukum-hukum ilmiah bukanlah alat untuk membuat prediksi, namun hukum-hukum itu merupakan pernyataan sejati yang menggambarkan dunia –sebuah sudut pandang yang realistis.

Ada karakteristik menarik lain dari model Hempel-Oppenheim, yaitu bahwa eksplanasi dan prediksi memiliki struktur logis yang persis sama. Sebuah eksplanasi dapat digunakan untuk memprakirakan, dan sebuah prakiraan adalah sebuah eksplanasi yang sah.
Akhirnya, model nomologis-deduktif juga berhubungan dengan eksplanasi hukum-hukum. Dalam kasus demikian, explanandum adalah hukum ilmiah dan dapat dibuktikan dengan bantuan hukum-hukum ilmiah lainnya.

Aspects of Scientific Explanation (1965), menghadapi problem eksplanasi induktif, di mana explanans mencakup hukum-hukum statistik. Menurut Hempel, dalam eksplanasi semacam itu, explanans hanya memberi derajat probabilitas yang tinggi pada explanandum, yang bukan merupakan konsekuensi logis dari premis-premis bersangkutan.

Patut dicatat bahwa eksplanasi induktif menuntut suatu hukum yang mencakup (covering law); di mana fakta dijelaskan lewat sarana hukum-hukum ilmiah. Namun sekarang, hukum-hukum itu tidak deterministik; hukum-hukum statistik juga diterima. Bagaimanapun, dalam banyak hal, eksplanasi induktif itu mirip dengan eksplanasi deduktif.

1. Baik eksplanasi deduktif maupun induktif bersifat nomologis (maka, mereka memerlukan hukum-hukum universal).
2. Fakta yang relevan adalah relasi logis antara explanans dan explanandum. Dalam eksplanasi deduktif, explanandum merupakan konsekuensi logis dari explanans. Sedangkan dalam eksplanasi induktif, hubungan itu bersifat induktif. Namun di masing-masing model, hanya aspek-aspek logis yang dianggap relevan. Hal-hal pragmatis tidak diperhitungkan.
3. Simetri antara eksplanasi dan prediksi dipertahankan.
4. Explanans itu harus benar.

VI. Pembentukan Konsep dalam Ilmu Empiris

Dalam monografnya, Fundamentals of Concept Formation in Empirical Science (1952), Hempel menjabarkan metode-metode, yang digunakan untuk merumuskan kuantitas-kuantitas fisik. Hempel menggunakan contoh pengukuran massa.

Sebuah timbangan berlengan sama panjang digunakan untuk menentukan apakah dua benda memiliki massa yang sama, dan apakah massa salah satu benda lebih besar daripada massa benda yang lain. Dua benda itu memiliki massa yang sama jika –ketika dua benda itu masing-masing ditaruh di lengan timbangan—keseimbangan tetap merata (equilibrium).
Jika salah satu ujung lengan timbangan turun, sedangkan ujung yang lain naik, maka benda di sisi yang paling rendah memiliki massa yang lebih besar. Dari sudut pandang logis, prosedur ini merumuskan dua relasi, sebut saja E dan G. Seperti berikut:

· E(a,b) jika dan hanya jika a dan b memiliki massa yang sama;
· G(a,b) jika dan hanya jika massa a lebih besar daripada massa b.

Hubungan (relasi) antara E dan G memenuhi kondisi-kondisi berikut:

1. E adalah hubungan refleksif, simetris, dan transitif.
2. G adalah hubungan irefleksif, asimetris, dan transitif.
3. E dan G sama-sama eksklusif –sehingga, jika E(a,b), maka bukan G(a,b).
4. Untuk setiap a dan b, satu dan hanya satu dari penegasan-penegasan di bawah ini yang benar:
E(a,b) G(a,b) G(b,a)

Hubungan E dan G dengan demikian merumuskan suatu tatanan parsial.

Langkah kedua terdiri dari pendefinisian sebuah fungsi m yang memenuhi tiga kondisi:
5. Sebuah prototip yang cocok dipilih, di mana massanya adalah satu kilogram.
6. Jika E(a,b) maka m(a) = m(b)
7. Terdapat sebuah operasi, sebut saja ©, yang mengkombinasikan dua benda a dan b, sehingga
m(a © b) = m(a) + m(b)

Kondisi (1) sampai (7) menjabarkan pengukuran bukan hanya untuk massa, tetapi juga untuk panjang, waktu, dan setiap kuantitas fisik yang ekstensif. (Sebuah kuantitas dinyatakan ekstensif jika terdapat operasi yang mengkombinasikan obyek-obyek sesuai kondisi 7. Jika tidak memenuhi kondisi seperti itu, kuntatitas itu dinyatakan sebagai intensif. Temperatur, misalnya, adalah intensif).

VII. Perkembangan Pemikiran Hempel

Hempel melihat, tugas sains adalah menunjukkan fenomena sebagai konsekuensi hukum yang tak terbantahkan. Implikasi utamanya adalah model hukum yang mencakup (covering-law) tentang pengertian ilmiah, dengan penekanan bahwa terdapat simetri antara eksplanasi dan prediksi, di mana satu-satunya perbedaan adalah soal temporal.

Dalam kasus eksplanasi, apa yang kita terangkan adalah sesuatu yang sudah terjadi. Sedangkan dalam kasus prediksi, sesuatu yang kita prediksi itu belum terjadi. Namun, kita melihat kini pergeseran dari filsafat sains yang preskriptif ke posisi yang lebih deskriptif. Juga, dari keprihatinan eksklusif terhadap ilmu-ilmu fisik ke minat yang lebih umum di bidang seperti biologi dan psikologi.

Dalam The Meaning of Theoretical Terms (1973), Hempel mengritik sebuah aspek teori positivisme logis tentang sains: pembedaan antara term observasional dan teoretis, dan problem yang berkaitan tentang makna term-term teoretis.

Menurut Hempel, terdapat asumsi tersirat dalam analisis neopositivis terhadap sains, katakanlah bahwa makna term teoretis dapat dijelaskan lewat metode-metode linguistik. Karena itu, problem utamanya adalah bagaimana seperangkat pernyataan dapat ditentukan sehingga memberi makna pada term-term teoretis. Hempel menganalisis berbagai teori yang diusulkan oleh positivisme logis.

Menurut Schlick, makna konsep-konsep teoretis ditentukan oleh dalil-dalil (aksioma) teori. Jadi, dalil-dalil itu memainkan peran sebagai definisi tersirat. Karenanya, term-term teoretis harus ditafsirkan dengan suatu cara yang membuat teori itu benar.

Hempel menyatakan keberatan, karena berdasarkan penafsiran semacam itu sebuah teori ilmiah akan selalu benar, teori itu benar secara konvensi, dan setiap teori ilmiah adalah secara a priori benar. Kata Hempel, ini adalah bukti bahwa penafsiran Schlick tentang makna term-term teoretis tidak dapat dipertahankan.

Solusi lain terhadap problem makna term-term teoretis adalah didasarkan pada aturan-aturan korespondensi (rules of correspondence), yang juga dikenal sebagai postulat-postulat makna. Term-term teoretis dengan demikian memperoleh penafsiran parsial lewat term-term observasional.

Hempel mengajukan dua keberatan terhadap teori ini. Pertama, ia menegaskan bahwa konsep-konsep observasional tidaklah eksis. Ketika sebuah teori ilmiah memperkenalkan term-term teoretis yang baru, term-term itu terkait dengan term-term teoretis lama, yang biasanya menjadi bagian dari teori ilmiah terkonsolidasi yang sudah ada. Karena itu, penafsiran term-term teoretis baru itu tidaklah didasarkan pada term-term observasional, namun diberikan oleh term-term teoretis yang lain. Sehingga, dalam arti tertentu, ini dirasakan lebih familiar daripada yang baru.

Keberatan kedua, menyangkut hakikat konvensional dari aturan korespondensi. Suatu postulat makna merumuskan makna sebuah konsep dan karena itu –dari sudut pandang logis—itu haruslah benar. Namun, setiap pernyataan dalam teori ilmiah berpotensi bisa dibuktikan kekeliruannya (falsifiable).

Tidak ada pernyataan ilmiah yang berada di luar yurisdiksi pengalaman (experience). Jadi, sebuah postulat makna juga dapat keliru. Maka, ini tidak bersifat konvensional dan tidak merumuskan makna sebuah konsep, melainkan benar-benar hipotesis yang bersifat fisik. Postulat makna tidaklah eksis.

VIII. Paradoks Burung Gagak (Raven’s Paradox)

Semua ilmuwan menggunakan penalaran dan logika pada beberapa tahap, untuk menciptakan hipotesis dan merancang eksperimen-eksperimen yang kuat. Secara indah dan anggun, pada 1965, Hempel menunjukkan bahwa terdapat cacat-cacat dalam proses ilmiah yang sudah lama mapan tersebut. Paradoks Burung Gagak yang dikemukakan Hempel mempertanyakan proses penalaran induktif, generalisasi, dan falsifiabilitas (falsifiability) yang sudah mapan tersebut.

8.1. Hipotesis Induktif

Bayangkanlah bahwa seorang ilmuwan, sesudah bertahun-tahun berjalan ke berbagai penjuru lokasi, mengamati bahwa setiap gagak yang pernah ia temui berwarna hitam. Sebagai peneliti yang patuh pada aturan, ia menggunakan penalaran induktif untuk mendalilkan sebuah hipotesis: “Semua gagak berwarna hitam.”

Ini adalah hipotesis kondisional yang secara sempurna bisa diterima. Pertama, hipotesis ini bisa diuji, karena kita dapat membuat sampel populasi gagak dan membuktikan bahwa gagak-gagak itu berwarna hitam. Pernyataan ini juga bisa dibuktikan jika keliru (falsifiable), karena cukup dengan ditemukannya satu ekor gagak berwarna tidak-hitam di antara populasi yang dijadikan sampel, akan membantah hipotesis tersebut.

Seluruh sains sejauh ini mengikuti metode penalaran induktif yang sudah mapan. Peneliti bahkan dapat merancang eksperimen untuk membuat sampel dari populasi gagak, dengan ribuan ekor gagak diamati.

Jika semua burung gagak itu hitam, berarti hipotesis ini didukung dan masuk akal. Dengan berlalunya waktu, eksperimen dan pengamatan yang berulang-ulang juga lebih jauh mengkonfirmasikan hal ini, dan hipotesis itu pun diterima sebagai hukum.

8.2. Problem Generalisasi dan Falsifiabilitas

Bagian pertama dari proposal Paradoks Burung Gagak mempertanyakan proses generalisasi tersebut. Secara praktis, tidaklah mungkin untuk mengambil sampel terhadap setiap burung gagak di dunia, dan mungkin saja ada beberapa gagak yang berwarna tidak-hitam. Hempel tidak mencooba berkomentar tentang sains eksakta, namun sebagai informasi sampingan yang menarik, sekitar 1 dari 10.000 telur gagak mengandung sebagian atau seluruhnya burung albino.

Sebagian besar burung albino lebih jelas terlihat oleh pemangsa (predator), menderita problem kesehatan, dan mungkin merupakan fenomena yang sangat lokal. Maka kemungkinan menemui atau melihat seekor gagak albino sangat tipis. Seorang peneliti bisa membuat sampel atas ribuan gagak, dan tidak melihat satu pun gagak putih, walaupun gagak berwarna putih itu ada.

Maka, gagasan falsifiabilitas itu dipertanyakan dan dirusak oleh Paradoks Burung Gagak. Walaupun hipotesis awalnya secara teknis bisa difalsifikasikan, dalam pendekatan praktis sangatlah sulit untuk menolak hipotesis tersebut. Karena peluang melihat seekor gagak putih sangat tipis. Bahkan jika kita mengambil sampel seluruh populasi gagak yang diketahui, mungkin saja ada kelompok gagak yang belum ditemukan, yang sebagian anggotanya tidak-hitam.

8.3. Cacat-cacat dalam Proses Penalaran Induktif

Bagian berikutnya dari Paradoks Burung Gagak mempertanyakan proses penalaran dan deduksi, yang menjadi bagian integral dari proses ilmiah. Ketika seorang peneliti menyatakan bahwa “semua gagak berwarna hitam,” hukum logika menuntut bahwa pernyataan kondisional ini memiliki pernyataan kontrapositif.

Karena itu, menurut penalaran induktif, “segala sesuatu yang tidak-hitam bukanlah burung gagak.” Ini berarti setiap obyek tidak-hitam yang diamati, yang bukan gagak, secara setara memperkuat hipotesis. Padahal tidak terhitung jumlahnya benda-benda tidak-hitam yang ada di alam semesta ini!

Untuk mengembangkan analogi lebih jauh, seorang peneliti lain di bagian lain dunia, secara kebetulan, mungkin hanya pernah melihat seekor gagak sepanjang hidupnya, dan kebetulan gagak itu berwarna putih. Hipotesis lewat deduksi yang dilakukannya mungkin menyatakan, “semua gagak berwarna putih.”

Jadi, setiap obyek tidak-putih, yang bukan burung gagak, memperkuat hipotesis ini yang bertentangan dengan hipotesis sebelumnya (yang mengatakan, “semua gagak berwarna hitam”). Inilah yang dinamakan Paradoks Burung Gagak.

IX. Arti Penting Pemikiran Hempel dan Konteks Indonesia

Lalu, apa arti keberadaan paradoks ini? Apakah dunia sains lantas runtuh begitu saja? Jawabannya: tidak. Paradoks Burung Gagak adalah observasi filosofis yang bermanfaat, dan membantu memastikan bahwa kita secara terus-menerus mengamati dan menguji langkah-langkah proses ilmiah yang sudah mapan. Contoh-contoh yang diberikan dalam paradoks ini bersifat simplistik dan tampaknya tak akan terjadi. Itu hanya berfungsi sebagai latihan untuk menguji batas-batas filsafat sains.

Dalam kenyataan, pada sebagian besar kasus, cara Hempel tidak membuat perbedaan. Penalaran normal dan proses rancangan eksperimental bekerja cukup sempurna. Paradoks itu tidak lari dari sains, tetapi mengembangkannya, dengan mencegah para ilmuwan dari kepercayaan bahwa mereka telah membuktikan sesuatu yang di luar keraguan.

Paradoks Burung Gagak sepatutnya mengingatkan para ilmuwan tentang bahaya generalisasi, dan bahwa mereka harus memastikan agar semua hipotesis secara realistis bisa difalsifikasi. Jika seorang peneliti mengatakan, “semua burung gagak di Pulau Jawa berwarna hitam,” ini lebih realistis karena para ahli ilmu burung (Ornitologi) secara layak dapat mengamati setiap gagak di Pulau Jawa.

Bahkan teori-teori yang sudah bertahan lama, yang menjadi mapan sebagai hukum dan paradigma yang tidak bisa digeser, suatu waktu dapat dibuktikan keliru. Sains sebenarnya adalah soal menguji probabilitas dan asumsi. Jika sesuatu memiliki 99% peluang untuk benar, maka itu sebaiknya diterima sebagai eksplanasi yang pas.

Peluang seseorang hanya melihat seekor gagak dalam hidupnya, di mana kebetulan gagak yang dilihat itu adalah gagak putih, sangatlah kecil. Meski peluangnya sangat kecil, itu bukan berarti tidak mungkin, dan kemungkinan itu tidak boleh diabaikan. Inilah sebabnya mengapa semua eksperimen harus secara ketat divalidasi dan ditinjau sebelum memperoleh penerimaan secara meluas, untuk meminimalisir dampak Paradoks Burung Gagak.

Misalnya, hukum-hukum Newton telah diterima sebagai kebenaran, sampai teori-teori Einstein meruntuhkannya. Pada gilirannya, teori Relativitas Umum Einstein bukanlah jawaban terhadap fisika fundamental dan telah dilampaui oleh teori-teori lain.

Inilah bagaimana sains berkembang, dengan menantang dan mengadaptasi paradigma dan hukum-hukum yang sudah mapan. Penciptaan Teori Chaos adalah contoh sempurna dari ilmuwan-ilmuwan “pemberontak” yang mengikis hukum-hukum yang sudah mapan, sampai teori baru itu tak bisa lagi diabaikan. Teori itu akhirnya hadir dalam kesadaran publik, dan model-model fractal dari Teori Chaos muncul dalam bentuk desain-desain unik di T-shirt.
Paradoks Burung Gagak dari Hempel hadir untuk mengingatkan kita bahwa tidak ada teori, seberapa mapan pun, yang kebal terhadap tantangan dan debat. Ketika bukti baru terungkap, sains harus beradaptasi dan berubah untuk menyesuaikan diri dengan data yang baru.

Bagi para filsuf, pemikir, dan ilmuwan di Indonesia, pemikiran Hempel masih sangat relevan dan bermanfaat. Tradisi ilmiah dan semangat pencarian kebenaran lewat keilmuan masih belum cukup kuat dan berakar di negeri ini. Oleh karena itu, pemikiran dan semangat Hempel sepatutnya memberi inspirasi pada para ilmuwan, pemikir, dan filsuf Indonesia, untuk giat menggali ilmu dan pemikiran.

Sedangkan, pada saat yang sama, para ilmuwan, pemikir, dan filsuf Indonesia juga harus cermat, teliti, hati-hati, dan waspada terhadap potensi sesat pemikiran dan kekeliruan penalaran, akibat kurang dikuasainya metode berpikir yang benar. Inilah signifikansi sumbangan pemikiran Hempel untuk konteks filsafat dan dunia keilmuan Indonesia. ***

Referensi:

1. Hempel, Carl G. 1945. “On the Nature of Mathematical Truth,” American Mathematical Monthly 52. Dicetak ulang di Feigl, H., dan W. Sellars (ed.). 1949. Readings in Philosophical Analysis. New York: Appleton-Century-Crofts. Dicetak ulang di Newman, James R. 1956. The World of Mathematics, vol. III. New York: Simon and Shuster. Dituliskan ke format hypertext oleh Andrew Chrucky, 4 Feb 2001.
2. Hempel, Carl G. 1945. “Geometry and Empirical Science,” American Mathematical Monthly 52. Dicetak ulang di Feigl, H., dan W. Sellars (ed.). 1949. Readings in Philosophical Analysis. New York: Appleton-Century-Crofts. Dicetak ulang di Newman, James R. 1956. The World of Mathematics, vol. III. New York: Simon and Shuster. Dituliskan ke format hypertext oleh Andrew Chrucky, 7 Feb 2001.
3. Hempel, Carl G. 1950. “Problems and Changes in the Empiricist Criterion of Meaning.” dalam 11 Rev. Intern: de Philos. 41, halaman 41-63.
4.
http://www.iep.utm.edu/h/hempel.htm
5.
http://articlesbase.com/science-articles/the-raven-paradox-how-hempels-treatise-led-to-questioning-of-the-inductive-reasoning-process-559856.html
6.
http://www.experiment-resources.com/
7.
www.amethyst-web.net
8. Kearney, Richard (ed.). 2006. Twentieth-Century Continental Philosophy. Knowledge History of Philosophy Volume VIII. New York: Routledge.
Goldstein, Laurence. 1990. The Philosopher’s Habitat: An Introduction to Investigations in, and Applications of, Modern Philosophy. New York: Routledge.
9. Honderich, Ted. 1995. The Oxford Companion to Philosophy. Oxford/New York: Oxford University Press.
10. Russell, Bertrand. 1948. History of Western Philosophy and Its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to the Present Day. London: George Allen and Unwin Ltd.
* Ini merupakan tugas paper untuk mata kuliah Filsafat Abad XX di Program S3 Ilmu Filsafat FIB-UI, dengan dosen Vincensius Y. Jolasa, Ph.D., Maret 2009.

Thursday, March 19, 2009

CARA PRAKTIS MENGUSULKAN PROGRAM KE TRANS TV


Oleh Satrio Arismunandar

Sebagai seorang karyawan Trans TV, saya sering ditanyai oleh teman atau orang lain, tentang cara mengusulkan program tertentu ke Trans TV. Menjawab pertanyaan itu, saya pertama kali menjelaskan bahwa posisi saya di Trans TV adalah sebagai wartawan, yang mengurusi pemberitaan (Divisi News), jadi tidak terkait sama sekali dengan akuisisi program. Apalagi program semacam film, sinetron, sitkom, game, dan sebagainya, yang tidak terkait dengan News.
Jadi saya tak punya kewenangan dan kompetensi untuk menilai (apalagi menentukan layak-tidaknya) program yang ditawarkan. Di Trans TV, urusan akuisisi program dari luar diurus oleh bagian Programming.
Tapi saya punya saran bagi siapa saja yang berminat mempromosikan atau mengusulkan programnya di Trans TV. Prosedurnya biasanya begini:
Pertama, susun konsep program Anda pada maksimal 2 (dua) halaman kertas. Konsep dasarnya saja! Dalam isinya tidak usah dimasukkan soal biaya, iklan, dan lain-lain, karena hal-hal itu baru akan dibahas dalam pembicaraan lanjutan, jika konsep Anda SUDAH disetujui.
Kedua, mintalah waktu untuk bertemu dengan bagian Programming Trans TV, untuk menunjukkan/membicarakan usulan 2 halaman itu. Kalau rancangan konsep Anda sudah dibuat dalam bentuk dummy (prototype), mungkin boleh juga membawa laptop atau CD/DVD yang bisa memperagakannya.
Dalam pertemuan dengan orang Programming, Anda harus bisa menjawab pertanyaan:
1) Apa letak keunikan, keunggulan, kelebihan program/karya usulan Anda ini dibandingkan program lain yang sudah tayang di Trans TV atau TV-TV lain? Kalau banyak miripnya dengan program yang sudah ada, berarti (maaf saja) usulan Anda tidak menarik bagi bagian Programming.
2) Siapa segmen penonton yang dituju oleh program ini? Laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua, kaum muda, kelas ekonomi atas, menengah, bawah, dan sebagainya. Pertanyaan ini terkait dengan pilihan slot jam tayang dan potensi iklan yang bisa diraih. Ingat, TV siaran adalah bisnis komersial, bukan sekadar idealisme murni!
3) Apa yang membuat Anda yakin bahwa program Anda akan mampu menarik penonton di tengah iklim persaingan yang ketat dan begitu banyak program kompetitor saat ini? Jangan bicara muluk-muluk, bicaralah yang konkret dan masuk akal!
Bagian Programming menerima banyak usulan dari banyak orang, bukan cuma dari Anda. Cara berpikir mereka sangat membumi dan praktis, tidak teoritis. Mereka juga sudah punya banyak pengalaman mengurus program. Mereka tak akan sabar mendengar usulan-usulan yang dianggap tidak realistis dan sulit mendatangkan uang iklan buat stasiun TV!
Kalau Anda gagal meyakinkan bagian Programming dalam pertemuan pertama itu, berarti selesailah sudah usulan anda sampai di situ. Bye..bye! Kalau Anda berhasil meyakinkan mereka, ingatlah, itu baru langkah pertama. Selanjutnya barulah akan ada pembicaraan susulan. Misalnya, tentang rincian format program, kemungkinan pembagian pemasukan iklan, ongkos produksi, berapa episode dibuat, siapa talent/bintangnya, dan sebagainya. Namun, semua ini memerlukan proses, tidak bisa dikejar serba cepat.

Apalagi Trans TV ingin memposisikan diri sebagai trend-setter. Artinya, Trans TV ingin tampil dengan program-program terbaik yang inovatif, dan ini menjadi tantangan kreatif bukan hanya bagi Anda yang mau menawarkan program ke Trans TV, tetapi juga buat orang dalam Trans TV sendiri, yang selalu dituntut menghasilkan program-program baru!

Jakarta, 20 Maret 2009
Pukul 4.05 dinihari, menjelang Reportase Pagi ***

DUNIA YANG MENGELABUI & MENIPU DAYA

Kekeliruan utama masyarakat yang tidak mempedulikan pandangan Islam adalah menyangka dunia yang mereka sentuh dan lihat merupakan suatu hal yang agung dan mutlak pada keberadaan duniawi. Mereka menganggap semua itu “abadi dan tidak pernah berakhir”. Mereka memuja semua itu dan mencari pertolongan dengannya. Akibatnya, mereka sedikit demi sedikit melupakan Allah dan bahkan mengingkari keberadaan-Nya. Persangkaan mereka terhadap keberadaan Allah adalah “tidak nyata dan merupakan khayalan semata” dibandingkan dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Itulah cara berpikir yang salah dari orang-orang yang ingkar. Hal yang mutlak bukanlah benda-benda duniawi, melainkan Allah. Al-Qur`an menjelaskan,

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (al-Hajj: 62)

Sebenarnya, keberadaan benda-benda duniawi hanya ada setelah diciptakan oleh Allah. Keberadaannya menurut kehendak dan perintah-Nya. Dengan demikian, kemutlakan benda-benda patut dipertanyakan. Benda hanya ada sebagai hasil dari perintah Allah. Allah menjelaskan kenyataan ini,

“Sesungguhnya, Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya, Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Faathir: 41)

Ini menunjukkan bahwa dunia beserta isinya tetap ada karena dipertahankan oleh Allah dan jika Dia menghendaki, semua itu akan lenyap. Hal itu berarti alam ini dibuat dengan hal-hal yang mengelabui, yang akan hilang bila diperintahkan. Kehendak Allah yang tanpa batas ini di luar pemahaman manusia, tetapi “mimpi” adalah cara untuk menjelaskan penciptaan ini. Sebagai contoh, ketika seseorang terbangun dari mimpi, alam yang ada dalam mimpinya hanyalah pikirannya semata selama tidur. Ketika pikirannya menghentikan “bentukan” alam tersebut, seketika ia lenyap dan tidak ada lagi. Sesungguhnya, tidak ada benda atau manusia bebas.

Seorang ulama yang terkenal, Imam Rabbani, menceritakan kebenaran yang haq ini (narasi ini diringkas dan ditulis ulang dalam penerjemahan).

“Allah telah memutuskan penjelmaan setiap nama-nama-Nya (Yang Mahaadil, Maha Pengasih, dan lain-lain) dan memberikan sifat-sifat-Nya kepada yang diciptakan, dan manusia diciptakan semata-mata bukanlah apa-apa. Yang Maha Esa dan hanya Allahlah dengan kekuatan-Nya memutuskan tempat realisasi nama-nama-Nya dan menciptakan mereka dalam dunia ilusi (khayalan). Dia menentukan ini pada waktu dan bentuk yang ia inginkan.

Keberadaan alam ini hanyalah ilusi dan sensasi tanpa pengecualian. Dalam hal ini, yang bukan apa-apa dan ilusi tersebut mendapatkan kekuatan dan suara dari penciptaan Allah sehingga ciptaan itu menjadi hidup, mengenal, berbuat, bertanya, mendengar, dan berbicara dengan kehendak-Nya. Akan tetapi, semuanya merupakan penjelmaan dan yang ada hanyalah bayang-bayang. Tiada jalan untuk keluar. Di luar dunia, tiada sesuatu melainkan ciptaan Allah dan nama-nama-Nya.

Setiap sesuatu yang muncul dalam cermin (bayangan) Yang Mahakuasa dan pada jalan ini, mereka mendapatkan penampilan luar: mereka terlibat seperti eksitensi di dunia luar. Akan tetapi, tidak ada yang lain selain bayangan. Tiada seseorang dan sesuatu pun melainkan Allah.” (Maktubati Rabbani, Imam Rabbani, hlm. 517-519)

Karena tidak ada yang lain selain Allah dan segala sesuatu di alam ini merupakan penjelmaan-Nya, maka pencipta semua perbuatan tak lain adalah Yang Mahakuasa. Al-Qur`an menjelaskan rahasia ini pada sejumlah ayat,

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Anfaal: 17)

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya, Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (al-Insaan: 30)

“Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.” (al-Anfaal: 44)

Dunia memiliki wajahnya sendiri seperti yang telah dibuktikan. Dalam hal ini, segala sesuatu tampak bebas dan tidak terkendali. Akan tetapi, sesuai bentuknya menurut penciptaan mereka, semuanya patuh dan tunduk pada kehendak Allah. Dijelaskan dalam Al-Qur`an,

“Sesungguhnya, aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya, Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Huud: 56)

Dengan mengetahui tidak ada sesuatu melainkan Allah, terbukalah rahasia bahwa tidak ada seorang pun melakukan sesuatu atas kehendak dirinya sendiri. Rahasia ini harus selalu diingat oleh orang beriman, sehingga orang beriman mengetahui bahwa terjadinya semua perbuatan buruk orang-orang ingkar itu atas kehendak Allah. Karena itu, orang-orang beriman menerjemahkan dan mengevaluasi semua kejadian menurut pengertian yang ada. Hal ini akan membantu mereka berbuat yang benar dan bertindak dengan ikhlas, baik, dan bijaksana.

Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (al-Baqarah: 32)

DAPAT DIPERCAYA

Al-Qur`an menggambarkan sifat amanah sebagai salah satu prinsip moral dan jalan menuju kesuksesan. Orang-orang beriman harus menjaga amanat yang dipercayakan kepadanya sampai amanat tersebut dikembalikan. Selain itu, mereka pun harus dapat membedakan siapa yang mengamanatkan dan siapa yang berhak atas amanat tersebut. Dalam hal ini, Al-Qur`an menjelaskan,

“Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya, Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya, Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (an-Nisaa`: 58).

Pada ayat lain dijelaskan : “(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertaqwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.” (Ali Imran: 76)

Amanat bisa berupa uang, tugas, atau hal lain. Orang beriman harus dapat menjadi dan membedakan orang-orang yang dapat dipercaya.

JANGAN MENGOLOK-OLOK

Ayat berikut secara jelas memberitahukan kepada orang-orang beriman agar jangan saling mengolok-olok.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) bisa jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) bisa jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Hujuraat: 11)

Allah menyuruh manusia menahan diri dari mengolok-olok. Mengolok-olok dapat berupa menertawai kemalangan orang lain, tersenyum sinis, menyindir, atau memandang rendah. Sikap-sikap seperti itu merupakan budaya orang-orang jahil dan tidak sesuai dengan orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Al-Qur`an memperingatkan kita bahwa orang yang memperturutkan sikap yang demikian akan menderita karena api neraka akan merambat sampai membakar hati mereka.

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya, dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya, api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (al-Humazah: 1-9)

Tidaklah mungkin bagi orang-orang beriman berperilaku sinis setelah mengetahui kehendak Allah ini. Karena itu, tidak ada orang beriman yang dengan sengaja bersikap seperti itu. Akan tetapi, jikalau ada orang beriman yang tergelincir pada sikap demikian, hal itu disebabkan karena ketidaksadarannya berlaku salah dan menganggapnya sebagai lelucon. Akan tetapi, begitu ia menyadari kesalahannya, ia harus segera berhenti dan bertobat.

JANGAN MEMANGGIL ORANG-ORANG BERIMAN DENGAN SEBUTAN-SEBUTAN YANG BURUK

Menjadi kebiasaan bagi orang yang ingkar memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk. Maksud sebenarnya dari kebiasaan itu tidak lain adalah untuk merendahkan orang lain dan “membuktikan” kehebatan dirinya sendiri. Panggilan buruk tersebut bisa diambil dari kekurangan fisik ataupun kesalahan di masa lampau. Orang-orang yang ingkar tidak akan melupakan kesalahan orang lain meski ia sudah bertobat.

Akan tetapi, orang beriman berbeda dari mereka. Mereka selalu memaafkan dan menjaga persaudaraan di antara mereka. Itulah sebabnya, mereka tidak berbuat seperti itu. Lagi pula Allah telah memerintahkan, “... Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk....” (al-Hujuraat: 11)

JANGAN BERDEBAT TENTANG HAL-HAL YANG TIDAK KITA KETAHUI

Di dalam Al-Qur`an, manusia digolongkan sebagai makhluk “yang paling banyak membantah” (al-Kahfi: 54). Pada ayat yang lain, kritikan ini diberikan bagi orang-orang yang ingkar,

“Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata, ‘Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?’ Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (az-Zukhruf: 57-58)

Alasan bagi kecenderungan mendebat sesuatu tidaklah untuk mengungkapkan atau mengevaluasi pendapat yang berbeda, tetapi untuk memuaskan diri dalam memicu perselisihan. Argumen orang-orang yang jahil bukan mengevaluasi pandangan orang lain atau mencari solusi. Tujuannya tak lain adalah mengalahkan orang itu. Inilah yang menjelaskan mengapa ada suara keras dan tarik urat selama berargumen, dan mengubah diskusi menjadi pertengkaran.

Hal itu benar-benar aneh, mendebat sesuatu dengan tidak disertai ilmu. Contoh yang paling nyata terlihat pada diskusi antar pemeluk agama, di mana para argumentator pada umumnya sangat jahil. Kesalahan tersebut dijelaskan pada ayat,

“Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka mengapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Ali Imran: 66)

RENDAH HATI

Anggota dari kelompok orang-orang yang ingkar biasanya bersifat kasar, tidak peduli, dan buruk akhlaknya. Semua ini disebabkan keegoisan orang-orang yang ingkar. Mereka menyangka dapat hidup sendiri sehingga tidak memerlukan yang lainnya. Akan tetapi, kelompok orang beriman sangat berbeda dengan orang-orang tersebut karena salah satu karakter orang beriman ialah menahan nafsu serakah.

Mereka yang dapat menahan nafsu akan menjadi orang yang penuh perhatian terhadap sesama. Al-Qur`an memberitakan jenis pengorbanan antara orang-orang Mekah yang hijrah bersama Rasulullah saw. (Muhajirin) dan orang-orang Madinah yang menolong mereka (Anshar),

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)

Seperti yang disebutkan dalam ayat tersebut, orang-orang beriman harus mendahulukan kepentingan saudaranya di atas kepentingan pribadi. Itulah sebenar-benarnya iman: kepatuhan dan persaudaraan.

Mendahulukan kepentingan saudaranya tidak terbatas dalam berhubungan dengan hal-hal fisik saja. Ukhuwah juga tidak terpisah dari pemikiran. Seseorang yang beriman harus menyadari kebutuhan dan masalah saudaranya lebih dari dirinya sendiri.

Sikap kasar dan berakhlak buruk menunjukkan kelemahan iman seseorang. Seseorang yang tidak menyadari betapa tindakannya akan memengaruhi orang lain dan berbuat menurut apa yang “dikehendaki” saja, bukanlah contoh orang beriman yang digambarkan Allah. Al-Qur`an menitikberatkan hal ini dengan beberapa contoh tindakan yang berakhlak mulia maupun yang buruk. Dan yang terpenting adalah dengan memuliakan dan menghormati Rasululah saw.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Hujuraat: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya, yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya, perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (al-Ahzab: 53)

Orang yang dibesarkan dengan ajaran Al-Qur`an akan menjadi mulia, sopan, santun, dan berakhlak mulia. Inilah sifat alami orang beriman yang mendahului kepentingan saudaranya di atas kepentingan pribadi dan yang memberi makan orang-orang fakir, anak yatim, dan para tahanan karena cinta kepada Allah. Berakhlak mulia menjadi sifat penghuni surga. Tidak mengganggu saudaranya ketika mempunyai urusan penting, berdiam diri ketika temannya sedang shalat, membuat saudaranya merasa aman, menawarkan bantuan dan melayani mereka tanpa bertanya merupakan contoh perbuatan baik. Akan tetapi, semua itu merupakan contoh yang menuntut perubahan situasi dan kondisi.

BERPALING DARI ORANG-ORANG JAHIL

Di dalam Al-Qur`an, orang-orang beriman digambarkan sebagai berikut :

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (al-Furqaan: 63)

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan mereka berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (al-Qashash: 55)

Orang-orang beriman memiliki pembawaan damai. Sebaliknya, orang-orang yang ingkar memiliki sifat pemarah, gelisah, dan agresif. Hal itu merupakan siksa neraka yang ditimpakan di dunia. Itulah sebabnya, mereka menjadi pembuat masalah dan terus-menerus menghadapi kesulitan. Akan tetapi, orang beriman tidak mempedulikan mereka kecuali jika mereka bermaksud membahayakan orang-orang beriman dan Islam. Orang beriman bertindak mulia, seperti yang digambarkan ayat di atas. Ketika terjadi campur tangan, mereka tidak berlaku kasar, namun tetap beradab dan patuh pada hukum.

BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARI GODAAN SYETAN KETIKA MEMBACA AL-QUR'AN

Al-Qur`an adalah wahyu Allah yang diturunkan untuk mengingatkan manusia. Ketika Al-Qur’an membantu meningkatkan keimanan orang-orang beriman, pada saat yang sama Al-Qur`an mengungkapkan penolakan orang-orang yang ingkar.

“Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur`an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al-Qur`an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali Imran: 7)

Hal itu berarti dalam beberapa ayat Al-Qur`an terdapat ungkapan tentang penyimpangan “orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan” dan juga peningkatan keimanan dan kepasrahan kaum mukminin.

Haruslah dicatat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menjamin bahwa dirinya akan dapat terus memelihara keimanannya. Kaum mukminin bisa kehilangan Al-Qur`an dalam hatinya akibat godaan setan. Biasanya, mereka tidak dapat menangkap hikmah Al-Qur`an sewaktu membacanya ketika berada di bawah pengaruh setan. Itulah sebabnya mengapa Allah memerintahkan orang beriman agar berlindung kepada-Nya dari pengaruh setan sebelum membaca Al-Qur`an, “Apabila kamu membaca Al-Qur`an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (an-Nahl: 98)

Perintah ini sangat penting karena mengingatkan orang beriman akan kehadiran dan aktivitas setan yang tiada henti. Dalam bekerja, setan menunggu orang-orang yang berada di jalan yang lurus serta mengganggu mereka “dari depan dan belakang, dari kanan dan kiri”. Strategi iblis tersebut dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur`an. Keselamatan dari tipu daya iblis dapat diraih hanya melalui Al-Qur`an, yang memperingatkan kita agar melawan trik-trik iblis dan meminta kita agar menghindari mereka. Jalan keluarnya adalah dengan menerima Al-Qur`an sebagai satu-satunya panduan dan membacanya setelah berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

TIDAK BERSELISIH DIANTARA ORANG-ORANG BERIMAN

Salah satu rahasia keberhasilan orang-orang beriman adalah eratnya tali ukhuwah dan solidaritas. Al-Qur`an menekankan pentingnya persatuan, “Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (ash-Shaff: 4)
Perkataan atau perbuatan yang merusak eratnya ukhuwah akan menjadi musuh dan melawan agamanya sendiri. Dalam Al-Qur`an, Allah memperingatkan kaum muslimin agar waspada terhadap ancaman ini,

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Anfaal: 46)

Selanjutnya, orang yang beriman dengan tulus harus berhati-hati agar tidak bertengkar, menjauhi kata-kata atau sikap yang dapat melukai perasaan saudaranya. Selanjutnya, ia harus berlaku sedemikian rupa untuk menghindari pertengkaran serta menambah kepercayaan di antara mereka. Di dalam Al-Qur`an, kita dapatkan perintah yang jelas,

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya, setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya, setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (al-Israa`: 53)

Jika orang yang beriman berbeda pendapat dengan saudaranya pada suatu masalah, ia harus bertingkah laku dan berkata dengan sopan dan lembut. Dalam mengeluarkan pendapat, ia harus memperlihatkan asas “musyawarah” dan tidak “berdebat”. Jika ada pertikaian di antara dua orang beriman, yang harus dilakukan adalah mengacu pada ayat,

“Sesungguhnya, orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujuraat: 10)

Harus dicatat bahwa perdebatan kecil akan berpengaruh negatif pada jalan dakwah.

MENGATAKAN SESUATU YANG TIDAK DIKERJAKAN

Orang-orang beriman harus memenuhi janji mereka, seperti yang diperintahkan dalam Al-Qur`an, “… sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (al-Israa`: 34)

Menjadi orang yang jujur merupakan salah satu sifat yang penting bagi kaum mukminin. Para rasul Allah membuktikan kebenaran mereka kepada kaumnya dan dikenal sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya. Memenuhi semua janji menjadi bagian penting dalam sifat jujur ini. Orang beriman harus menjaga janji mereka dan tidak pernah berjanji pada hal-hal yang tidak dapat mereka penuhi. Hal ini dikatakan dalam Al-Qur`an,

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (ash-Shaff: 2-3)

PARA MALAIKAT MENJADI SAKSI

Orang-orang menyangka bahwa mereka “sendirian” bila mereka tidak terlihat oleh yang lain, namun hal ini tidak benar. Pertama, karena Allah selalu bersama kita dan melihat serta mendengar setiap perbuatan ataupun perkataan kita. Kedua, ada para saksi yang tidak terlihat di sisi kita yang tidak pernah meninggalkan kita. Mereka adalah para malaikat yang bertugas mengawasi kita, yang mencatat setiap perbuatan. Al-Qur`an memberi tahu kita tentang hal ini,

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 16-18)

Apa yang dicatat para malaikat tersebut akan ditunjukkan pada hari perhitungan, ketika manusia akan ditanyai tentang perbuatan mereka di dunia. Al-Qur`an menjelaskan apa yang akan terjadi pada hari tersebut,

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak, ‘Celakalah aku.’ Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya, dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya, dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (al-Insyiqaaq: 7-15)

MENULIS PERJANJIAN

Pada dasarnya, manusia itu “pelupa”. Inilah sebabnya, Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk menulis perjanjian di antara mereka dengan dihadiri para saksi,

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun dari utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertaqwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Baqarah: 282)

Dalam ayat yang lain, diingatkan bahwa lebih baik membebaskan utang :

“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (al-Baqarah: 280)

MENJADI ORANG YANG MODERAT

Menjadi moderat membutuhkan sikap yang berada dalam batasan Al-Qur`an, yaitu mengerjakan perintah agama dan menjauhi larangannya. Hal ini membutuhkan pandangan yang seimbang. Ketika orang beriman terlibat dengan masyarakat keduniawian, ia tidak meniru perbuatan masyarakat tersebut. Orang beriman harus selalu mematuhi apa yang tertulis dalam Al-Qur`an, tetap konsisten dalam setiap pendekatan.

Hal ini bukanlah sesuatu yang hanya dilakukan ketika orang beriman berada di luar lingkungannya sendiri, melainkan berlaku sama ketika ia berada di tengah-tengah kaumnya. Juga ketika berada dalam situasi di saat harus memperlihatkan kesopanan,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (al-Hujuraat: 2)

Lagi pula, risiko dari berbuat tidak seimbang bisa muncul dalam melakukan sesuatu yang tampaknya wajar. Hal ini disebabkan tidak semua sikap sesuai dengan setiap situasi. Cara berbicara atau bertingkah laku terkadang menjadi “tidak sesuai” atau “tidak tepat” meski tidak dilarang. Itulah sebabnya, orang beriman dilarang berlidah tajam atau menurutkan perilaku ekstrem. Ia harus membangun kepribadiannya sehingga tidak menjadi salah tingkah ataupun terlalu senang dan tidak pernah kehilangan kendali atau berlaku kasar. Al-Qur`an menjelaskan tentang perilaku yang tidak disukai ini,

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadiid: 22-23)

MEMBACA WAHYU ALLAH

Tertulis dalam surah al-Muzzammil: 7 bahwa sesungguhnya pada siang hari orang-orang beriman mempunyai urusan yang banyak. Tentu saja kesibukan-kesibukan itu untuk kepentingan agama walaupun kesibukan-kesibukan tersebut membuat orang-orang beriman terlibat dengan masyarakat yang mementingkan dunia.

Di tengah urusan-urusan dunia pun orang-orang beriman menjaga keimanan kepada Allah dan tidak pernah kehilangan pandangan spiritual.

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (an-Nuur: 37)

Hal terpenting dalam kebajikan ini adalah menjaga hubungan dengan Allah. Di dalam Al-Qur`an, hal ini ditekankan pada ayat, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabimu). Sesungguhnya, Allah adalah Mahalembut lagi Maha Mengetahui.” (al-Ahzab: 34)

Selama orang-orang beriman menjaga Al-Qur`an dalam hatinya, mereka dapat mengamalkan ajaran Al-Qur`an dalam kehidupan sehari-hari, selanjutnya akan merasa lebih dekat kepada Allah.

MENJAUHI PEMBICARAAN YANG SIA-SIA

Orang-orang beriman tidak tertarik pada pembicaraan dan hal yang sia-sia serta tidak berguna. Mereka tidak merasakan kepuasan pada hal-hal tersebut karena yang demikian itu tidak bernilai. Mereka terlibat dalam urusan dunia hanya jika ada keuntungan yang menambah kedekatan kepada Allah. Inilah sebabnya, orang-orang beriman digambarkan sebagai, “orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (al-Mu`minuun: 3)

Ayat di atas menekankan bahwa ketika seorang mukmin bersentuhan dengan perbuatan atau perkataan yang sia-sia, ia harus menghindar dan melakukan hal yang berguna bagi misi ketuhanan. Inilah sikap yang tepat dalam rangka menyenangkan Allah. Untuk itu, orang-orang yang beriman harus selalu waspada dan mengetahui apa yang mereka kerjakan. Tidaklah tepat bagi orang yang beriman berbantah-bantahan dengan orang yang bodoh dan pendek akal kecuali ada hal yang dapat diraih dalam rangka berdakwah.

Al-Qur`an menjelaskan sikap yang ideal :

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan mereka berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (al-Qashash: 55).

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (al-Furqaan: 72)

Ketika orang beriman telah menyelesaikan tugas, ia harus melanjutkan dengan pekerjaan berguna lainnya. Dijelaskan dalam ayat, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (al-Insyirah: 7-8)

MENGINGAT ALLAH DALAM SETIAP KESULITAN

Tujuan hidup orang-orang beriman adalah beribadah kepada Allah. Salah satu cara beribadah adalah menyampaikan ajaran Allah di mana pun dan berjuang melawan pasukan iblis. Perjuangan ini biasanya sangat berat dan keras karena setiap saat “pasukan iblis” mempunyai peralatan yang lebih baik.
Orang-orang beriman tidak terpengaruh oleh hal ini karena mereka menyadari adanya sebab akibat di dunia. Realita ini mengabarkan bahwa kemenangan tidak berhubungan dengan jumlah yang banyak atau kekuatan yang dahsyat, tetapi atas perintah dan kehendak Allah. Ajaran agama yang benar memberikan penghargaannya berupa kemenangan iman, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 249) Keimanan yang murnilah yang menunjukkan kemenangan. Kebenaran yang pelik ini, yang tidak dipahami orang-orang ingkar, dijelaskan dalam ayat,

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (al-Anfaal: 45)

BERTASBIHLAH MEMUJI ALLAH

Semua topik keimanan yang kita bahas hingga kini membutuhkan kepasrahan diri kepada Allah, dalam hidup dan berjuang karena-Nya. Pengabdian ini tidak dapat kita capai kecuali memiliki kedekatan dengan Allah dan jalan untuk khusyuk, melalui “mengingat dan kembali kepada-Nya”. Orang-orang beriman itu seperti yang diperintahkan dalam Al-Qur`an, “Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (al-Ahzab: 42) Inilah yang akan menjadikan orang yang beriman menjadi “hamba Allah” seperti layaknya Nabi Ibrahim a.s..

Orang-orang beriman harus bersyukur kepada Allah atas karunia yang diberikan-Nya dan memohon ampunan Allah atas perbuatan zalim diri mereka. Selanjutnya, mereka harus meminta kepada Allah untuk semua yang mereka butuhkan serta memuji-Nya siang dan malam.

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (al-A’raaf: 205)

Dalam ayat lain, “… Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain)….” (al-‘Ankabuut: 45) Tanpa menghadirkan Allah, semua shalat akan kehilangan nilainya. JIka shalat ini tidak ditujukan untuk mengingat Allah dan mencari ridha-Nya, mereka tidak mendapatkan upah. Ketika Al-Qur`an memberitahukan sifat-sifat para nabi, ditekankan betapa mereka selalu taat kepada Alah. Dalam ayat ke-30 surah Shaad, Allah berfirman, “Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya, dia amat taat (kepada Tuhannya).” Kepada Ayyub, a.s. Allah berkata, “… Sesungguhnya, Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya, dia amat taat (kepada Tuhannya).” (Shaad: 44)

JANGAN LEMAH, BERSEDIH ATAUPUN BERPUTUS ASA

Orang-orang beriman memiliki perjuangan berat dan panjang di jalan Allah. Jalan hidup mereka sering diserang musuh yang jumlahnya sangat banyak dan dengan peralatan yang lebih baik. Akan tetapi, sepanjang mereka berada di jalan Allah, mereka dapat mengatasinya.

Salah satu alasan bagi kemenangan mereka, sebagai orang beriman, mereka melakukan perjuangan dengan semangat dan kegembiraan yang besar. Inilah yang tidak dapat dilakukan oleh orang-orang yang ingkar karena mereka telah mencintai kehidupan dunia, mereka tidak beriman kepada Allah. Mereka takut dan lemah serta mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, orang-orang beriman tidak mudah dilemahkan karena mereka tahu bahwa Allah selalu bersama mereka dan mereka berharap menjadi orang yang berhasil. Hal ini diterangkan dalam Al-Qur`an,

“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

Walaupun demikian, orang-orang beriman membutuhkan ibadah untuk mendapatkan semangat dan kegembiraan ini, karena sangatlah mudah tergelincir dari jalan Allah. Inilah yang diperjuangkan iblis. Pada saat-saat genting, seorang munafik berkata kepada para Sahabat Rasulullah saw. “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu,” (al-Ahzab: 13) lalu ia menciptakan keputusasaan serta menimbulkan perasaan kalah. Akan tetapi, orang-orang beriman telah diperingatkan dalam Al-Qur`an mengenai semua faktor keraguan ini, “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (ar-Ruum: 60)

Orang yang beriman hanya bertanggung jawab kepada dirinya dan Allah serta tidak seharusnya terpengaruh oleh kelemahan yang lain. Kekuatan musuh pun tidak dapat memengaruhi dan membuatnya takut. Seluruh hidup orang beriman hanyalah untuk Allah. Mereka akan terus beribadah demi keridhaan-Nya sampai akhir hayat. Pada sebuah ayat dijelaskan,

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139)

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (an-Nisaa`: 104)

MERENDAHKAN DIRI KETIKA SHOLAT

Shalat sangatlah penting karena hal itu merupakan pernyataan lahiriah seseorang menjadi muslim. Akan tetapi, Al-Qur`an menerangkan jenis shalat yang tidak disukai yaitu yang tanpa keihklasan,

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (al-Maa’uun: 4-6)

Hal ini menunjukkan bahwa yang membuat shalat kita menjadi sah bukanlah gerakannya, seperti rukuk dan sujud, melainkan tujuan serta apa yang mereka pikirkan pada saat shalat. Beberapa orang melakukan shalat hanya untuk menunjukkan kepada yang lain tentang “kemusliman” mereka, bukan untuk meraih keridhaan Allah. Sesungguhnya, mereka melakukan hal yang di luar batas.
Yang membuat shalat kita diterima adalah kesadaran kita bersujud di hadapan Allah hanya untuk menyatakan penyerahan diri kita kepada-Nya. Itulah sebabnya, Allah memerintahan orang-orang beriman “... Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (al-Baqarah: 238).

Ayat yang lain menggambarkan orang-orang beriman sebagai, “orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (al-Mu`minuun: 2) Kekusyukan pada ayat ini berarti mengalami rasa takut disertai rasa hormat serta kekaguman yang medalam. Shalat yang demikian meningkatkan keimanan dan memperpendek jarak dengan Allah. Itulah yang membuat manusia menjadi tenang.
Dalam ayat lain, shalat digambarkan,

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur`an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya, shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-‘Ankabuut: 45)

JANGAN PERNAH ADA YANG KITA CINTAI SELAIN ALLAH DAN RASULNYA

Satu kewajiban bagi orang beriman adalah menyembah Allah. Satu-satunya alasan keberadaan kita adalah menjadi hamba-Nya. Kehidupan yang tidak didasari alasan ini berarti menolak agama Allah dan menyembah selain Allah, yang akibatnya akan membuat seseorang masuk neraka.

Dengan kata lain, kehidupan hanyalah alat bagi orang beriman. Dia harus menghargai setiap saat dalam hidupnya untuk dekat kepada Allah dan melaksanakan kehendak-Nya. Jika alat ini berubah menjadi tujuan—yang dilakukan oleh orang-orang ingkar—ia segera berada dalam bahaya besar.

Orang-orang beriman hidup hanya untuk satu sebab, yaitu menyembah Allah dan karenanya mereka meninggalkan keduniawian. Allah menjelaskan hal ini,

“Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”(at-Taubah: 111)

Orang-orang beriman menjual jiwa dan hartanya kepada Allah dan tidak ada lagi hak baginya. Seluruh hidupnya dibaktikan di jalan yang Allah perintahkan. Jika Allah mengaruniai mereka, mereka akan bersyukur, dan jika mereka diperintahkan berjihad di jalan-Nya, mereka tidak merasa ragu sedikit pun, bahkan jika mereka mengetahui bahwa mereka sedang menuju kematian.

Orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya tidak akan lalai pada kepuasan pribadi dan tidak ada sesuatu pun di bumi ini yang dapat mencegahnya dari berjihad di jalan Allah.

Mereka mampu meninggalkan keindahan nikmat Allah dan menyerahkan jiwa mereka tanpa ragu-ragu. Sebaliknya, orang-orang ingkar tidak akan menjual harta dan jiwa mereka kepada Allah. Kekurangan iman seperti ini akan dicatat dan dibalas dalam kehidupan mendatang.

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (at-Taubah: 24)

Keimanan yang sangat kuat pada diri para sahabat Nabi Muhammad saw. membuat mereka tidak pernah menolak pertempuran; sebaliknya, beberapa di antara mereka ada yang berurai air mata ketika mereka tidak berkesempatan berjihad bersama Rasulullah saw.. Pada ayat berikut, Allah menjelaskan perbedaan antara orang-orang yang ikhlas dan yang setengah hati.

“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit, dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,’ lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. Sesungguhnya, jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).”(at-Taubah: 91-93)

JANGAN PERNAH MENGIKUTI KAUM YANG INGKAR

Dalam menjalani hidup dengan nilai-nilai Al-Qur`an, seseorang harus meninggalkan budaya dan nilai-nilai moral masyarakat yang ingkar kepada Allah swt.. Satu hal yang pertama harus ditinggalkan adalah pemahaman cinta dalam masyarakat duniawi.
Pada masyarakat duniawi, semua hubungan dan cinta berdasarkan pada kepentingan ego pribadi. Seseorang akan bersama dengan yang lainnya bila saja ada keuntungan yang didapat dari rekannya, mendapat perhatian, atau sedikitnya diperlakukan baik. Ukuran lain adalah ikatan keluarga; seseorang mencintai yang lainnya karena mereka berasal dari keluarga yang sama, atau dari keturunan, masyarakat, dan bahkan dari bangsa yang sama.
Akan tetapi, yang demikian itu bukanlah kriteria orang-orang beriman karena orang beriman mencintai Allah melebihi sesuatu atau seseorang.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah....” (al-Baqarah: 165)

Orang-orang yang beriman, karena mencintai Allah di atas segalanya, mencintai orang yang mencintai Allah, tidak membedakan apakah orang yang menyetujui atau benci tindakannya merupakan orang dekat ataupun jauh. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur`an,

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (al-Mujaadilah: 22)

Lebih jauh lagi, bila orang beriman memiliki sedikit saja cinta terhadap orang yang ingkar, itu tidak akan membuat orang beriman bersikap dengan benar. Orang-orang yang beriman diperingatkan agar tidak melakukan hal ini. Dalam Al-Qur`an dijelaskan,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.”(al-Mumtahanah: 1)

Sikap Nabi Ibrahim a.s. dan para pengikutnya menjadi contoh yang baik bagi orang-orang beriman :

“Sesungguhnya, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya, kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja....” (al-Mumtahanah: 4)

ALLAH TIDAK MEMBEBANI MAKHLUKNYA KECUALI SESUAI DENGAN KEMAMPUANNYA

Sebagian besar manusia mengklaim bahwa sangat sulit bagi mereka untuk melaksanakan ajaran agama dan itulah alasannya mengapa mereka tidak menjalankan prinsip-prinsip agama. Dengan cara ini, mereka berharap kesalahan mereka berkurang. Akan tetapi, mereka hanya membohongi diri mereka sendiri.

Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Sebagaimana dikatakan Al-Qur`an, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakanny....” (al-Baqarah: 286)

Ayat lain menegaskan bahwa agama yang Allah pilihkan bagi kita sangat mudah seperti halnya agama Ibrahim,

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur`an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (al-Hajj: 78)

Dalam masalah ini, adalah kebohongan yang besar bila seseorang menyatakan sulit dalam menjalankan ajaran agama dan menjadikan hal ini sebagai alasan untuk kelalaian diri mereka sendiri.

BERSYUKUR KEPADA ALLAH

Allah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan tertentu, seperti anugerah-Nya. Setiap anugerah ini—hidup, keimanan, makanan, kesehatan, sepasang mata dan telinga kita—merupakan anugerah kepada manusia agar bersyukur kepada-Nya.

Ketika kita meninggalkan ketidakacuhan dan kebodohan serta berpikir dan merenung, kita pasti menyadari bahwa segala sesuatu di sekitar kita merupakan anugerah dari pencipta kita yaitu Allah. Semua makanan yang kita nikmati, udara untuk kita bernapas, keindahan di sekitar kita, mata kitalah yang membuat kita melihat semua ini. Semuanya merupakan anugerah dari Allah swt.. Sedemikian banyaknya anugerah ini sehingga digambarkan dalam Al-Qur`an,

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nahl: 18)

Tanpa diragukan lagi, semua anugerah ini diberikan dengan sebuah alasan. Tiada sesuatu pun diciptakan bagi kita untuk digunakan sebagaimana kehendak kita sendiri. Sebaliknya, alasan bagi semua kemurahan ini—apa pun bentuknya—adalah perintah kepada manusia supaya menuju ketentuan Allah. Hal ini karena segala sesuatu yang diberikan Allah mengharuskan kita bersyukur sebagai balasannya. Allahlah yang memberikan rahmat. Karena itu, kita harus menunjukkan keikhlasan bersyukur hanya kepada-Nya.

Rasa bersyukur merupakan ibadah dan juga cara untuk melindungi kita dari “penyimpangan”. Tidak bersyukur berarti melangkah menuju kerusakan dan kejahatan, melupakan kelemahan-kelemahan, dan menjadi takabbur ketika mereka semakin kaya dan berkuasa. Menunjukkan rasa bersyukur kita kepada Allah berarti melindungi diri dari “kerusakan”. Mereka yang menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah disertai ilmu bahwa semua yang mereka capai adalah pemberian Allah, berarti mereka mengetahui bahwasanya mereka bertanggung jawab menggunakan semua rahmat ini di jalan Allah dan seperti kehendak-Nya. Itulah rasa syukur kepada Allah yang didasari kerendahan hati dan kedewasaan para rasul. Seperti Nabi Daud a.s. atau Nabi Sulaiman a.s. yang kepadanya diberikan harta, kedudukan, dan ketundukan. Sebenarnya, peristiwa Qarun—yang menjadi ingkar disebabkan harta—adalah karena ia tidak bersyukur kepada Allah.

Jika orang beriman tidak menjadi takabbur dan melampaui batas dengan rahmat dan harta yang diberikan kepadanya, Allah akan menambahkan kenikmatan yang telah diberi. “Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)

Bersyukur tidak mesti selalu ditunjukkan dengan kata-kata. Yang justru harus dilakukan adalah menggunakan setiap anugerah di jalan yang disukai Allah. Sebagai tahap awal, tubuh yang dianugerahkan kepada kita, harus kita pergunakan untuk berjuang karena-Nya. Al-Qur`an pun memberitahukan bagaimana cara menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah, yaitu dengan menyebut semua anugerah-Nya, dengan menyampaikan “pesan”-Nya kepada semua,

“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (Ad-Dhuhaa: 5-11)

UJIAN ALLAH

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, tidak ada satu pun di muka bumi ini yang diciptakan sia-sia, tetapi dengan maksud tertentu. Pemahaman ini bergantung pada kecerdasan manusia sendiri. Bagi yang beriman, kecerdasan dan kebijaksanaannya meningkat; mereka dapat memahami alasan ini semakin baik dari waktu ke waktu.

Salah satu ajaran terpenting adalah bahwa kita selalu diuji sepanjang hidup kita. Allah menguji keikhlasan dan keimanan kita dalam kejadian-kejadian yang berbeda. Dia juga memberikan karunia untuk menguji apakah kita termasuk orang-orang yang bersyukur ataukah sebaliknya. Dia menciptakan berbagai kesulitan bagi kita untuk mengetahui apakah kita bersabar atau tidak, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (al-Anbiyaa: 35)

Kita juga diuji dengan berbagai cara. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur`an pada ayat,
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155)

Kehidupan kita secara terencana merupakan materi untuk diuji. Mulanya, kita diuji melalui fisik kita. Al-Qur`an menyatakan, “Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”(al-Insaan: 2) Karena itu, setiap yang kita dengar dan lihat sebenarnya merupakan bagian dari ujian tersebut. Dalam segala situasi, kita akan diuji untuk melihat apakah kita berperilaku sesuai dengan Al-Qur`an ataukah dengan keinginan kita sendiri yang sia-sia.

Allah menguji ketabahan orang-orang beriman dengan berbagai kesulitan. Salah satunya adalah tekanan dari orang-orang ingkar. Semua tindakan buruk, seperti hinaan, ejekan, kekerasan, dan bahkan siksaan serta pembunuhan, hanyalah ujian untuk orang-orang beriman.

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Ali Imran: 186)

Hal yang terpenting untuk dipahami adalah bahwa semua kehilangan dan kecelakaan ini diciptakan Allah sebagai ujian khusus. Bagi mereka yang tidak paham, hal ini akan menjadikannya fasik. Al-Qur`an meriwayatkan kisah Yahudi,

“Dan tanyakanlah kepada bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (al-A’raaf: 163)

Hanya orang yang memiliki kecerdasanlah yang dapat menyadari ujian ini dan dapat berhasil dalam ujian dengan menggunakan kecerdasannya tersebut. Karena itu, seorang yang beriman jangan sampai lupa bahwa ia sedang diuji sepanjang hidupnya. Ujian ini tidak akan berlalu atau surga tidak dapat diraih hanya dengan mengatakan “saya beriman”.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-‘Ankabuut: 2-3)

Dalam ayat lain dijelaskan,

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 142)

ALLAH ADALAH PEMILIK YANG ABSOLUT

Upaya memiliki acapkali membuat manusia berduka dan terluka. Orang-orang yang ingkar menghabiskan seluruh hidupnya untuk memiliki benda-benda duniawi. Mereka selalu berjuang agar dapat memiliki lebih serta menjadikan hal ini sebagai tujuan dalam hidupnya.

Akan tetapi, “… berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…,” (al-Hadiid: 20) merupakan sebuah penipuan karena semua kemilikan di dunia dikuasai oleh Allah. Manusia hanya membodohi diri mereka sendiri dengan menyangka bahwa mereka memilikinya. Hal ini karena mereka tidak menciptakan yang mereka miliki dan mereka pun tidak memiliki kekuatan menjaga semuanya secara abadi. Ditambah lagi, mereka tidak dapat mencegah kerusakan yang terjadi. Juga, karena mereka tidak memiliki hak untuk “memiliki” sesuatu karena mereka termasuk “milik” dari pemilik yang lain. Pemilik tertinggi ini tidak lain “Raja Manusia” (an-Naas: 2), yaitu Allah. Al-Qur`an memberitahu kita bahwa seluruh alam adalah milik Allah, “Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.” (Thaahaa: 6) Ayat yang lain memperkuat kepemilikan Allah, kekuatan mengampuni atau menghukum, “Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allahlah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Alah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Maa`idah: 40)

Sebenarnya, Allah memberikan semua kepemilikan kepada manusia sebagai “titipan” sementara di dunia. Titipan ini akan berakhir pada jangka waktu tertentu dan ketika tiba hari perhitungan, lalu setiap orang akan diminta pertanggungjawabannya.

Pada hari perhitungan ini, setiap orang akan ditanya tentang maksud dan tujuannya menggunakan “titipan” ini. Mereka yang menyangka dirinya sebagai pemilik dari “sesuatu” yang dititipkan dan menentang para utusan dengan mengatakan, “... apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami...,” (Huud: 87) mereka layak menerima hukuman. Al-Qur`an menggambarkan apa yang akan menimpa mereka,

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali Imran: 180)

Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur`an, semua anugerah yang diberikan kepada manusia atas kebaikan-Nya, harus digunakan tanpa “kebakhilan”. Karenanya, daripada mencoba memiliki dan mempertahankan kepemilikan ini, sebaiknya seseorang menggunakan kepemilikan ini di jalan Allah seperti yang diperintahkan. Ini berarti orang-orang beriman dapat menggunakan harta dalam jumlah yang dibutuhkan untuk biaya hidupnya dan kemudian bersedekah “yang lebih dari keperluan” (al-Baqarah: 219). Jika ia tidak mengikuti petunjuk dan mencoba “memiliki” semua hartanya, berarti ia memandang dirinya sebagai pemilik. Jatuhnya hukuman bagi sikap seperti ini merupakan suatu kewajaran. Al-Qur`an menjelaskan hal ini,

“... Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.’” (at-Taubah: 34-35)

Ada “perekonomian” dalam Islam, namun tidak ada “penimbunan harta” dalam Islam. Orang-orang berilmu tidak bergantung pada materi yang mereka miliki untuk menghadapi “masa-masa sulit”, melainkan bertawakal hanya kepada Allah, sehingga Allah menambah harta mereka kembali. Allah memberikan lebih dari yang mereka gunakan di jalan-Nya serta merahmati mereka. Hal ini tercatat dalam ayat,

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 261)

Sebaliknya, orang yang tidak menggunakan hartanya di jalan Allah adalah orang, “yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya, dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan.” (al-Humazah: 2-6)