Showing posts with label Adab Islami. Show all posts
Showing posts with label Adab Islami. Show all posts

Sunday, January 18, 2015

Adab Bergaul Antara Sesama Muslim (2)

بسم الله الرحمن الرحيم
Adab Bergaul Antara Sesama Muslim (2)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut lanjutan adab bergaul antara sesama muslim, semoga Allah menjadikan risalah ini ditulis ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Adab Bergaul Antara Sesama Muslim
15.    Tidak mencaci-maki saudaranya baik ketika masih hidup maupun telah meninggal dunia
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
“Mencaci-maki seorang muslim adalah sebuah kefasikan, sedangkan memeranginya adalah sebuah kekufuran.” (Muttafaq ‘alaih)
لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا
“Janganlah kamu mencaci-maki orang-orang yang telah mati, karena mereka telah sampai kepada apa yang mereka kerjakan.” (HR. Bukhari)
16.    Tidak dengki kepada saudaranya, tidak berburuk sangka, tidak membencinya, dan tidak memata-matainya.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah kamu mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”(QS. Al Hujurat: 12)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا»
“Jauhilah berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah mencari-cari berita (untuk mencari kesalahan orang lain), jangan memata-matai, jaganlah kamu saling mendengki, janganlah saling membelakangi, dan janganlah saling membenci. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari)
17. Tidak menipu saudaranya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa yang menipu kami, maka dia bukan golongan kami.” (HR. Muslim)
18. Tidak mengkhianati saudaranya, tidak berkata dusta kepadanya, dan tidak menunda pembayaran hutang terhadapnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Empat hal yang jika ada semuanya pada seseorang, maka ia akan menjadi munafik sejati. Tetapi jika hanya salah satunya saja, maka pada dirinya ada salah satu sifat munafik sampai ia meninggalkannya, yaitu: ketika diamanahkan ia berkhianat, ketika bicara berdusta, ketika berjanji mengingkari, dan ketika bertengkar berlaku jahat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
مَطْلُ الغَنِيِّ ظُلْمٌ، فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيٍّ فَلْيَتْبَعْ
“Penundaan orang yang kaya adalah sebuah kezaliman. Jika salah seorang di antara kamu dipindahkan tagihannya kepada orang yang mampu, maka terimalah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
19. Bergaul dengan saudaranya dengan akhlak yang mulia, menghindarkan gangguan daripadanya, bertemu dengan wajah yang ceria, menerima kebaikannya, dan memaafkan ketergelincirannya.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al A’raaf: 199)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik akan menghapusnya dan bergaullah dengan manusia memakai akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi, Hakim, dan Baihaqi dalam Asy Syu'ab dari Abu Dzar. Diriwayatkan pula oleh Ahmad, Tirmidzi, dan Baihaqi dalam Asy Syu'ab dari Mu'adz, dan diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Anas. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami'no. 97)
20. Menghormati yang tua di kalangan mereka dan menyayangi yang muda.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَ يُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا  
“Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan menghormati yang tua.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5445)
21. Bersikap adil terhadap dirinya dengan mengakui kekurangannya dan bergaul dengan cara yang ia sukai dipergauli dengannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ
“Barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke surga, maka hendaknya ia datangi kematian dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari Akhir, dan hendaknya ia menyikapi manusia dengan sikap yang ia suka dirinya disikapi dengannya.” (HR. Muslim)
22. Memaafkan ketergelincirannya, menutupi aurat/kesalahannya, dan tidak berusaha mendengar pembicaraan yang dirahasiakannya.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Al Ma’idah: 13)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا، إِلَّا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seorang hamba menutupi aib orang lain di dunia melainkan Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim)
مَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ، وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ، صُبَّ فِي أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ القِيَامَةِ
“Barang siapa yang mendengar pembicaraan suatu kaum padahal mereka tidak suka didengar, atau mereka berusaha menghindar darinya (agar tidak didengar), maka akan dituangkan pada telinga(pendengar)nya timah yang mencair pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari)
23. Membantu saudaranya ketika saudaranya membutuhkan bantuan serta menjadi syafi (perantara) dalam memenuhi keperluan saudaranya.
Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Barang siapa yang menghilangkan satu derita (kesulitan) dari derita-derita dunia yang menimpa seorang mukmin, maka Allah akan menghilangkan satu derita dari derita-derita hari kiamat, dan barang siapa yang memudahkan orang yang susah, niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat, dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya apabila hamba tersebut mau menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا، وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ
“Jadilah perantara (dalam memenuhi keperluan saudaranya), niscaya kalian akan diberi pahala. Allah akan memutuskan melalui lisan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam apa yang Dia kehendaki.” (HR. Bukhari dan Muslim)
24. Melindunginya ketika saudaranya meminta perlindungan kepadanya dengan menyebut nama Allah serta memberikan sesuatu kepadanya ketika saudaranya meminta sesuatu kepadanya dengan menyebut nama Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَأَلَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعْطُوهُ وَمَنِ اسْتَعَاذَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ وَمَنِ اسْتَجَارَكُمْ فَأَجِيرُوهُ
“Barang siapa yang meminta kepadamu dengan nama Allah maka berikanlah, barang siapa yang meminta perlindungan kepadamu dengan nama Allah, maka lindungilah. Barang siapa yang memberikan hal yang baik kepadamu, maka balaslah setimpal dengannya. Jika kamu tidak dapat membalasnya, maka doakanlah untuknya hingga kamu merasa sudah membalasnya, dan siapa saja yang meminta perlindungan kepada kamu, maka lindungilah.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 1617 dan Shahihul Jami’ no. 6021)
25. Tidak menimpakan keburukan atau bahaya kepada saudaranya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
“Semua muslim adalah terpelihara darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR.Muslim)
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim lainnya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Al Albani).
Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa a’ala aalihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa
Maraji’: Minhajul Muslim (Abu Bakr Al Jaza’iriy), Untaian Mutiara Hadits (penulis), Maktabah Syamilah versi 3.45, Software Al Bahits versi 5.0, dll.

Adab Bergaul Antara Sesama Muslim (1)

بسم الله الرحمن الرحيم
Adab Bergaul Antara Sesama Muslim (1)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Islam sebagai agama yang lengkap mengajarkan bagaimana bergaul antara sesama muslim. Ajaran tersebut, jika kita amalkan adalah sebagai bentuk ibadah kepada Allah Azza wa Jalla dan dapat mendekatkan diri kita kepada-Nya.
Berikut ini kami sebutkan adab bergaul antara sesama muslim, semoga Allah menjadikan risalah ini ditulis ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Adab Bergaul Antara Sesama Muslim
1.     Mengucapkan salam ketika bertemu dan berjabat tangan
Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Kamu tidak akan masuk surga sampai kamu beriman. Dan keimananmu tidak akan sempurna sampai kamu saling mencintai. Maukah kamu kutunjukkan sesuatu yang jika kamu lakukan maka kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu.” (HR. Muslim)
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا
“Tidak ada dua orang muslim yang saling bertemu lalu berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa keduanya sebelum mereka berdua berpisah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Adh Dhiya, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’no. 5777)
2.     Mendoakannya ketika saudaranya bersin dan mengucapkan Alhamdulillah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: الحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَلْيَقُلْ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Jika salah seorang di antara kamu bersin, maka hendaknya ia mengucapkan “Alhamdulillah,” dan hendaknya saudara atau kawannya mengucapkan, “Yarhamukallah” (artinya: semoga Allah merahmatimu). Jika saudaranya telah mengucapkan yarhamukallah, maka hendaknya ia (yang bersin) mengucapkan, “Yahdikumullah wa yushlih baalakum” (artinya: semoga Allah menunjukimu dan memperbaiki keadaanmu).” (HR. Bukhari)
3.     Menjenguknya ketika sakit dan mendoakan kesembuhan untuknya
Al Barra’ bin Azib berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kami menjenguk orang yang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, memenuhi sumpah, membela orang yang teraniaya, memenuhi undangan, dan menyebarkan salam.” (HR. Bukhari)
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendatangi orang yang sakit atau ada orang yang sakit dihadapkan kepadanya, Beliau berdoa,
أَذْهِبِ البَاسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
“Hilangkanlah derita wahai Allah Tuhan manusia. Sembuhkanlah, Engkaulah yang menyembuhkan. Tidak ada ada kesembuhan selain dari-Mu. Engkau menyembuhkan tanpa meninggalkan sakit.” (HR. Bukhari)
4.     Mengiringi jenazahnya ketika saudaranya meninggal dunia
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
حَقُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلاَمِ، وَعِيَادَةُ المَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيتُ العَاطِسِ
“Hak seorang muslim atas muslim lainya ada lima, yaitu: menjawab salam, memenuhi undangan, mengiringi jenazahnya, memenuhi undangannya, dan mendoakan orang yang bersin.” (HR. Bukhari)
5.     Menasihatinya ketika saudaranya meminta nasihat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا اسْتَنْصَحَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، فَلْيَنْصَحْ لَهُ
“Jika saudaramu meminta nasihat, maka nasihatilah dia.” (HR. Bukhari)
6.     Menginginkan kebaikan diperoleh saudaranya sebagaimana dirinya menginginkan memperoleh  kebaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sampai ia menginginkan kebaikan diperoleh saudaranya sebagaimana dirinya menginginkan memperoleh kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
7.     Merasakan penderitaan saudaranya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukmin dalam hal rasa cinta, menyayangi, dan berkasih sayang adalah seperti sebuah jasad. Jika salah satu anggota badan ada yang sakit, maka seluruh badan ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
8.     Saling membantu dalam hal kebaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangungan, dimana antara yang satu dengan yang lain saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
9.     Menolong saudaranya dan tidak membiarkannya terlantar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَحْقِرُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ ولايُسْلِمُهُ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh menghinanya, membiarkannya, dan menyerahkannya kepada musuh. Cukuplah, seseorang berbuat buruk jika menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim dengan muslim lainnya adalah terpelihara; baik darah, harta maupun kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
10. Membela kehormatan saudaranya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa yang membela kehormatan saudaranya, maka Allah akan menghindarkan wajahnya dari api neraka pada hari Kiamat.” (HR. Ahmad, dan dinyatakan hasan lighairih oleh pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah).
11. Bersikap tawadhu terhadapnya dan tidak sombong, serta tidak membangunkannya dari tempat duduknya agar dia bisa duduk di situ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku, “Saling bertawadhulah antara sesama kamu,” sehingga tidak ada seorang pun yang menzalimi yang lain dan tidak ada seorang pun yang berbangga di hadapan yang lain.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)
لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَقْعَدِهِ، ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا وَتَوَسَّعُوا
“Janganlah seseorang membangunkan orang lain dari tempat duduknya lalu ia duduk di situ, akan tetapi (katakanlah), “Lapangkanlah-lapangkanlah!.” (HR. Muslim)
12. Tidak memutuskan hubungan lebih dari tiga hari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ: فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ
“Tidak halal bagi seseorang memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari; ketika keduanya bertemu, yang satu berpaling, demikian pula yang lain. Orang yang terbaik di antara mereka berdua adalah yang pertama mengucapkan salam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
13. Menjaga lisan dan tangannya dari mengganggu saudaranya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang muslim adalah orang yang dapat membuat kaum muslim lainnya aman dari gangguan lisan dan tangannya. Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah. “ (HR. Bukhari dan Muslim)
14. Tidak menghina saudaranya, mencelanya, mengolok-olokkannya, memberikan gelar buruk kepadanya, tidak mengadu domba dan tidak menghibahnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah beriman. Barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujurat: 11)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟» قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ» قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: «إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ»
“Tahukah kamu apa ghibah itu?” Para shahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”, Beliau menjawab, “Kamu sebutkan tentang saudaramu hal yang tidak disukainya.” Beliau pun ditanya, “Bagaimana jika demikian keadaan saudaraku, yakni sesuai yang aku katakan?” Beliau menjawab, “Jika sesuai yang kamu katakan berarti kamu telah mengghibahnya. Namun jika tidak demikian keadaan saudaramu maka kamu telah berdusta.” (HR. Muslim)
لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَتَّاتٌ
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bersambung...
Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa a’ala aalihi wa shahbihi wa sallam
Marwan bin Musa
Maraji’: Minhajul Muslim (Abu Bakr Al Jaza’iriy), Untaian Mutiara Hadits (penulis), Maktabah Syamilah versi 3.45, Software Al Bahits versi 5.0, dll.