Wednesday, May 19, 2010

JURNALISME PERJALANAN (TRAVEL JOURNALISM) DAN PROGRAM "JELAJAH" DI TRANS TV

Oleh Satrio Arismunandar*

Pengantar

Apa yang dinamakan travel journalism? Secara sederhana, travel diterjemahkan sebagai “perjalanan.” Jadi travel journalism atau “jurnalisme perjalanan” adalah salah satu jenis jurnalisme yang memfokuskan pada liputan tentang perjalanan dalam arti yang luas.

“Perjalanan” tidak harus diartikan dengan pesiar atau wisata, meskipun liputan bertema pesiar atau wisata termasuk bagian besar dari travel journalism. Perjalanan juga bisa dilakukan untuk berbagai tujuan lain, yang lebih dari sekadar berwisata atau bersenang-senang. Seperti: bertualang, mengembara, berziarah, beribadah, pencarian jatidiri, dan sebagainya. Untuk pembahasan selanjutnya, kita akan mengunakan istilah “jurnalisme perjalanan” sebagai pengganti travel journalism.

Dalam bentuk yang paling personal, perjalanan fisik adalah suatu pengembaraan di dalam diri (to travel is to take a journey into yourself), suatu pengembaraan atau transformasi batin. Seseorang mungkin mendapat pencerahan, wawasan baru, atau perubahan jalan hidup yang drastis, dari melakukan suatu perjalanan. Kisah hijrah Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya dari Makkah ke Madinah, atau kisah Isra Mi’raj sebenarnya adalah suatu perjalanan semacam itu dalam tingkat yang tertinggi, meskipun itu tidak diperlakukan sebagai karya jurnalisme.

Cikal-Bakal Jurnalisme Perjalanan

Belum begitu jelas bagi saya, bagaimana asal mula munculnya jurnalisme perjalanan. Namun, saya menduga, benih-benih awal jurnalisme jenis ini sebenarnya sudah berusia cukup tua. Cikal bakal jurnalisme perjalanan diawali oleh tradisi penulisan buku harian (diary) atau catatan perjalanan, oleh para pelaut, penjelajah dunia, atau petualang, ratusan tahun yang lalu. Pada waktu itu, isi buku harian atau catatan perjalanan ini memang lebih banyak disimpan sebagai arsip, bukan diterbitkan untuk dibaca khalayak umum secara reguler di media massa, seperti saat sekarang.

Para penjelajah semacam ini selalu membawa buku harian dalam perjalanannya, atau membawa juru tulis tersendiri. Mereka terbiasa mencatat berbagai situasi dan kondisi di tempat-tempat yang mereka kunjungi, serta berbagai peristiwa yang mereka temui dalam perjalanan tersebut. Tempat-tempat yang memiliki keunikan, masyarakat, atau budaya luar biasa, serta pengalaman-pengalaman yang sangat berkesan, pastilah mereka catat. Ini menjadi salah satu sumber sejarah, yang sekarang kita kenal.

Salah satu penjelajah itu, misalnya, adalah Abu Abdullah Muhammad bin Battutah atau dieja sebagai Ibnu Batutah (24 Februari 1304 - 1368 atau 1377). Ia adalah seorang pengembara Berber Maroko. Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia. Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi, ini merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14. Kita kenal pula kisah para penjelajah ternama dunia lainnya, seperti: Marcopolo, Vasco da Gama, Laksamana Cheng Ho, Christopher Columbus, dan sebagainya.

Dibandingkan dengan berbagai liputan jurnalistik lain, yang terfokus pada isu-isu politik, ekonomi, dan berita-berita keras lainnya, jurnalisme perjalanan sejauh ini memang masih kurang mendapat perhatian dari kalangan akademisi dan praktisi jurnalistik. Ini terlihat dari masih sedikitnya skripsi atau karya ilmiah yang membahasnya. Meskipun demikian, mengingat sejarahnya yang panjang sebagai liputan yang merepresentasikan orang-orang “lain” dan tempat-tempat “lain,” jurnalisme perjalanan merupakan bahan kajian yang tidak kalah pentingnya, terutama dalam studi-studi lintasbudaya.

Ciri-ciri Jurnalis Perjalanan

Para jurnalis perjalanan (travel journalist) memiliki sejumlah ciri:
Pertama, selalu ingin tahu. Ini sebenarnya bukan ciri eksklusif jurnalis perjalanan. Setiap jurnalis memang diharapkan punya rasa ingin tahu yang tinggi terhadap banyak hal. Namun, hasrat selalu ingin tahu ini perlu digarisbawahi untuk jurnalis perjalanan karena liputannya sangat tergantung pada orang, peristiwa, dan hal-hal lain yang ia temui dalam perjalanan.

Kedua, suka berinteraksi, berhubungan baik, dan memiliki rasa keterlibatan dengan orang lain dari budaya, etnis, dan latar belakang yang berbeda, khususnya mereka yang ditemui dalam perjalanan. Tanpa hubungan, keterlibatan, dan cara berinteraksi yang baik, sulit bagi jurnalis untuk menggali cerita-cerita unik yang menarik dari narasumber yang mereka temui di perjalanan.

Ketiga, selalu siap dan bersedia untuk mempelajari sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru, yang kurang banyak dikenal, jelas memiliki nilai berita. Suatu perjalanan akan makin tinggi nilai beritanya ketika kita menemui orang, peristiwa, dan hal-hal yang baru.
Sebenarnya tidak ada teori-teori akademis khusus tentang jurnalisme perjalanan. Semua yang diuraikan di sini lebih merupakan rangkuman dan saripati dari berbagai pengetahuan praktis, dan pengalaman dari mereka yang telah menjalani jurnalisme perjalanan.

Topik yang Dapat Dieksplorasi

Setiap melakukan perjalanan, jurnalis dapat mengeksplorasi berbagai macam hal, tergantung karakteristik daerah yang didatangi. Hal itu, misalnya:
Pertama, sumberdaya alam. Ini berupa: flora-fauna setempat, keindahan alam, potensi pariwisata, lautan, gunung, hutan, sabana, dan lain-lain. Para awak di program Jelajah sering menyebutnya liputan “pemandangan indah,” karena memang keindahan visual menjadi salah satu yang diandalkan untuk menarik perhatian penonton.

Kedua, kondisi sosial-ekonomi penduduk setempat, seperti: sumberdaya manusia di sana, profesi dan pekerjaan penduduk, tingkat pendidikan, dinamika kehidupan di pasar, dan berbagai aktivitas sosial-ekonomi lainnya.

Ketiga, kebudayaan, yang bisa berwujud dalam berbagai hal dan sangat luas. Yakni, mulai dari arsitektur rumah tradisional, tarian perang, tradisi pernikahan, perayaan hari besar, ritual keagamaan, dan sebagainya.

Keempat, kuliner, yakni berbagai macam penganan dan minuman khas daerah setempat. Kuliner ini bisa dieksplorasi dari berbagai macam aspeknya, mulai dari bahan yang digunakan, cara mengolah dan memasaknya, cara menyajikan dan menyantapnya, serta kaitan antara makanan dan minuman ini dengan nilai-nilai budaya setempat.

Jurnalis perjalanan juga bisa memilih spesialisasi. Misalnya, spesialisasi pada kawasan tertentu (Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan), kuliner, kebutuhan akan aspek fisik tertentu (liputan di daerah-daerah yang menantang secara fisik, seperti gurun pasir, gunung bersalju), aktivitas tertentu (diving, snorkeling, mendaki gunung, olahraga ekstrem), penetapan biaya tertentu (pilihan perjalanan yang murah-meriah atau low-budget), kekhasan latar belakang tempat bersangkutan (perjalanan ke tempat-tempat bersejarah atau tempat suci keagamaan), dan sebagainya.

Selain itu, ada juga pilihan dari segi pola hubungan kerja. Bagi seorang jurnalis freelance, ia boleh merasa sebagai “jurnalis perjalanan (travel journalist) sejati,” karena bebas melakukan perjalanan sesuai irama hati. Mau berhenti atau menginap di mana, mau menulis apa, mau memilih petualangan apa, semua bisa ditentukan sendiri.

Ada kepuasan batin yang sangat besar ketika. ia melakukan perjalanan dengan semangat kebebasan. Namun, tampaknya belum banyak jurnalis perjalanan semacam ini di Indonesia. Hal ini mungkin karena pertimbangan “kurangnya kepastian akan penghasilan yang teratur.”

Jurnalis perjalanan freelance membutuhkan kemampuan lebih. Mereka bukan cuma memerlukan keterampilan teknis (teknik menulis, memotret, mengambil gambar video), tetapi juga kemampuan merancang “strategi komersial,” yakni bagaimana memasarkan produk karyanya ke media yang mau menggunakan dan membayarnya. Atau, bagaimana cara meyakinkan pihak sponsor –seperti, lembaga pariwisata atau perusahaan penerbangan-- yang mau membiayai perjalanannya.

Yang lebih banyak di Indonesia tampaknya adalah jurnalis perjalanan yang resmi menjadi bagian dari staf redaksi media tertentu. Dari segi “kepastian penghasilan,” tentu tidak bermasalah karena mereka mendapat gaji rutin setiap bulan. Namun, pilihan perjalanannya lebih terbatas dibandingkan jurnalis freelance karena ia harus menyesuaikan dengan anggaran kantor dan kebutuhan media tempat ia bekerja.

Media membutuhkan keteraturan dan kepastian. Tulisan bertema wisata setiap minggu harus dimuat di koran tertentu. Suatu program bertema perjalanan juga harus ditayangkan setiap hari dan jam tertentu di stasiun TV. Jadi, semangat kebebasan sang jurnalis harus menyesuaikan dengan pembatasan yang ditetapkan dari kantornya.

Bagaimana Memperoleh Berita?

Sebelum melakukan perjalanan, jurnalis biasanya melakukan riset tentang lokasi-lokasi yang mau dikunjungi. Riset bisa dilakukan lewat penelusuran literatur di perpustakaan, pencarian informasi di biro perjalanan, media online serta media massa lain, dan lain-lain. Keberadaan media online saat ini sangat membantu dalam riset tentang lokasi-lokasi menarik di seluruh dunia, terutama yang sudah menjadi obyek wisata.

Sejumlah informasi dasar biasanya mudah diperoleh di sana. Yaitu, mulai dari data wilayah, penduduk, adat istiadat setempat, geografi, kondisi cuaca, dan sebagainya. Riset pendahuluan ini akan menghemat waktu kita dalam melakukan liputan, serta membantu kita menghadapi berbagai hal yang mungkin akan ditemui dalam perjalanan.

Tentu saja, tidak semua informasi bisa ditemukan di media online. Justru hal-hal yang tidak bisa ditemui di media inilah yang akan kita gali dalam liputan di lapangan nantinya. Kalau kita sekadar mengulang informasi yang sudah banyak beredar tentu kurang menarik buat khalayak media kita.

Banyak liputan menarik muncul dari hasil percakapan biasa dengan orang di pesta, acara-acara sosial, pasar, tempat pemberhentian bus, stasiun, kendaraan umum, dan sebagainya. Jadi, nasihat terbaik adalah para jurnalis harus menaruh perhatian terhadap informasi semacam itu, jangan menganggap remeh.

Dalam melakukan wawancara, jurnalis juga perlu terus mempertahankan rasa keingintahuan, keterlibatan, dan keluwesan. Jika kita benar-benar menaruh perhatian dan berhasrat pada topik yang sedang kita kejar, narasumber yang kita wawancarai juga akan demikian.

Sumber-sumber informasi lain adalah dari organisasi-organisasi nonpemerintah atau nirlaba (LSM) di wilayah yang diliput. Biasanya, para aktivis LSM ini aktif di kalangan masyarakat akar bawah dan mengetahui isu-isu terkini tentang berbagai hal, yang berlangsung di daerah bersangkutan. LSM lingkungan hidup, misalnya, akrab dengan isu-isu kerusakan lingkungan di daerah bersangkutan. LSM yang bergerak di bidang seni-budaya, juga dapat membantu kita dalam meliput isu-isu yang terkait dengan pariwisata dan kebudayaan.

Pihak LSM biasanya sangat terbuka pada media, dan sangat ingin agar informasi yang dimilikinya tersiar meluas. Mereka dengan senang hati akan memberi informasi latar berlakang pada jurnalis, serta bisa membantu menghubungkan kita dengan kontak-kontak lain yang dibutuhkan.

Untuk menarik perhatian audiens (pembaca/pendengar/pemirsa), kita harus mengangkat aspek-aspek yang jarang dibahas orang lain. Dalam membuat liputan, cobalah mencari sudut pandang baru yang segar.

Yang juga penting adalah biarkan cerita mengalir. Sering terjadi, cerita yang kita rencanakan akhirnya --dalam proses pengerjaannya-- berubah atau dimodifikasi karena ternyata ada informasi yang lebih baru dan lebih menarik di lapangan. Jangan memaksakan agenda kita, jika agenda itu ternyata memang tidak sesuai dengan perkembangan informasi yang kita peroleh di lapangan.

Begitu kita sudah memperoleh informasi latar belakang dan tema dasar yang mau diungkapkan, carilah karakter atau tokoh utama yang pengalamannya bisa mempersonalisasikan isu atau tema bersangkutan. Tanyailah kontak-kontak kita, apakah mereka tahu orang yang bisa mengungkapkan pengalaman langsungnya.

Kesaksian personal seperti ini biasanya sangat kuat, dan inilah yang akan mendorong alur narasi, menarik perhatian audiens, membuat cerita kita terasa akrab, dan membuat audiens merasa terlibat. Lihat pula, apakah ada acara, perayaan, atau peristiwa tertentu yang bisa membantu cerita kita agar lebih relevan dan aktual, serta bisa berfungsi sebagai sarana penghidup cerita.

Untuk melengkapi cerita, boleh saja kita mewawancarai “pakar” yang dapat memberi “pandangan obyektif,” perspektif berbeda, atau bahkan bertentangan, sebagai perbandingan dengan penuturan narasumber. Namun, kita tidak perlu memberi perhatian yang terlalu berat pada para “pakar” ini. Bobot cerita bagaimanapun juga harus lebih banyak diberikan pada karakter utama, yang mengalami peristiwa secara langsung.

Namun, kedalaman dan variasi cerita akan berkembang dan diperkaya, jika orang yang dianggap “cukup memiliki pengetahuan di bidangnya” ikut menawarkan sudut pandang tertentu. Suara yang berbeda atau bertentangan, jika memang cocok dimasukkan, juga penting karena bisa “menantang” audiens dan mendorong terjadinya dialog.

Program Jelajah di Trans TV

Ada banyak contoh jurnalisme perjalanan, baik di media cetak, media elektronik, maupun media online. Salah satu contoh itu adalah program Jelajah di Trans TV. Program Jelajah, yang kini tayang tiap hari Minggu pukul 8.00 pagi, adalah program tertua di Trans TV. Bisa dikatakan, umur Jelajah sama tuanya dengan umur Trans TV, karena Jelajah sudah ditayangkan sejak 2001, sekitar sembilan tahun yang lalu, saat Trans TV berdiri dan pertama kali menayangkan programnya.

Saat itu bahkan gedung utama kantor Trans TV belum selesai dibangun. Para karyawan dan jurnalis Trans TV generasi pertama masih menempati kantor sementara, yang dinamai “bedeng.” Kini Jelajah sudah menjadi salah satu “ikon” Trans TV, sehingga dijadikan nama salah satu wahana permainan petualangan di indoor theme park terbesar di dunia, Trans Studio Makassar (Trans Studio kedua saat ini sedang dibangun di Bandung).

Format dan content Jelajah pada awalnya (2001) juga berbeda dengan Jelajah yang ditayangkan sekarang (2010). Pada awalnya, Jelajah adalah semacam kumpulan feature biasa, di mana masing-masing feature itu berdurasi 3-5 menit. Content feature itu pun tidak selalu terkait dengan perjalanan (travel). Isinya waktu itu amat bervariasi. Ia bisa mengangkat peristiwa biasa, seperti liputan tentang “topeng monyet,” dan sebagainya. Waktu itu, tidak ada reporter atau host yang muncul di layar.

Kemudian program itu pun berkembang, sejalan dengan makin bertambahnya durasi tayangan Trans TV, kehadiran program-program lain yang ditayangkan Trans TV, serta penyesuaian dengan tanggapan para pemirsa Trans TV. Lalu mulai ada reporter yang muncul di layar, meskipun cara presentasinya juga masih sederhana, datar-datar saja. Perbandingannya, kira-kira seperti reporter pada program spot news Reportase di Trans TV melaporkan berita langsung dari lapangan

Perkembangan berikutnya, reporter Jelajah yang muncul di layar “semakin canggih” dalam presentasinya. Mereka menampilkan berbagai macam gaya presentasi, mulai dari gaya yang serius, biasa, bercanda, santai, dan sebagainya. Reporter atau host Jelajah diharapkan tampil akrab dengan pemirsanya.

Reporter Jelajah juga mulai terlibat atau berpartisipasi pada aktivitas atau kegiatan yang diberitakan. Jika berita itu menceritakan keunikan tarian adat di sebuah daerah, misalnya, sang reporter ikut memperagakan bagaimana cara menarikannya. Lama-lama, program Jelajah akhirnya berkembang menjadi bentuk seperti yang sekarang.

Para reporter atau host yang muncul di layer, dalam episode Jelajah yang berbeda-beda, juga diupayakan tampil variatif, tidak monoton. Mereka tampil dengan berbagai karakter yang berbeda agar tidak membosankan para penonton. Ada host yang tampil serius, ada yang suka bercanda, ada yang bergaya urakan, dan sebagainya. Teknik editing sendiri juga tidak tabu mengunakan efek khusus.

Pasang-Surut Program Jelajah

Program Jelajah pernah mengalami masa, ketika liputannya lebih berat ke arah content kebudayaan. Namun, dalam perjalanannya kemudian, content dalam setiap segmen episode Jelajah dibuat lebih bervariasi.

Ketika liputan di Indonesia mulai dirasakan monoton, mulai muncul kembangan program ini berupa liputan Jelajah ke mancanegara. Liputan ke luar negeri ini tentu lebih mahal biayanya, tetapi dirasa perlu untuk memberi variasi tayangan pada penonton.

Namun, terbukti kemudian bahwa liputan Jelajah tentang obyek-obyek wisata di mancanegara tidaklah otomatis meningkatkan rating dan share program. Jika obyek liputan itu kurang menarik, tanggapan penonton juga biasa saja. Pada akhirnya, keunikan content dan kemasan presentasi Jelajah tetaplah menjadi andalan untuk meraih penonton.

Bagaimana tingkat popularitas program Jelajah sekarang? Seperti juga program-program lain, perolehan rating dan share Jelajah mengalami pasang naik dan surut. Dari program yang awalnya tidak dikenal, Jelajah pernah menjadi cukup populer, dan kemudian menurun lagi ke posisi menengah.

Di Trans TV, suatu program dianggap buruk jika program share-nya di bawah dua digit (kurang dari 10%) dan akan dianggap bagus jika mencapai 15% ke atas. Pencapaian share Jelajah kini “stabil” dan berkisar di antara 10-16%. Artinya, masih layak dipertahankan, meski program share-nya tidak setinggi –katakanlah—program Jika Aku Menjadi (tayang setiap Sabtu-Minggu sore), yang share-nya hampir selalu di atas 15%.

Berdasarkan data Nielsen Media Research, profil penonton Jelajah di Week 1017 (minggu pertama Mei 2010) berasal dari kalangan: Kid 10-14 M/F, Teen 15-19 F, Teen 20-24 F, Mature 40-44 F, Oldies 45-49 F, Oldies 50-54 F, Grand 55-59 M, dan Grand 60+ M/F. Sedangkan jumlah penonton yang paling dominan berasal dari kid 10-14 M/F, Teen 15-19 F, Oldies 45-49 F dan Grand 60+ F. Dilihat dari status sosial-ekonominya (SES), penonton yang didapat Jelajah di Week 1017 berasal dari SES AB (20.4%), SES A (19 %), dan SES B (21.7%).

Jika dilihat berdasarkan data by Cities pada week 1017, Jelajah banyak mengalami peningkatan capaian rating maupun share dibandingkan Week 1016, yakni di kota Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Banjarmasin. Sedangkan penurunan juga terjadi di kota Medan (-1.4/-11.6 Point) menjadi 1.0/7.7, Surabaya (-0.5/-6.0 Point) menjadi 1.5/12.2 dan Makassar (-0.1/-0.5 Point) menjadi 0.6/4.6. Sumbangan share terbesar didapat di kota Banjarmasin (23.4%) dan terendah di kota Denpasar (3.8%).

Pesaing head-to-head pada slot jam tayangan Jelajah di Week 1017 adalah program: Inbox (SCTV), Doraemon (RCTI), Bakugan Battle Brawlers (Indosiar), Selamat Pagi (Trans-7), Apa Kabar Indonesia (TVOne), dan lain-lain.

Jelajah saat ini dikelola oleh satu produser (Jangkung Trisanto); dua asisten produser (Nabil Basalamah dan Vincentia Yunita); dua reporter/presenter (Vannico Sukarno dan Feliciano Haryono); dua camera-person (Nurrohman Effendi dan Iqbal Alaik); serta dua periset merangkap production-assistant (Tiara Maharlika dan RR Ratih Dewanti). Dua asisten produser di Jelajah ini memiliki kapasitas VJ (video journalist), artinya keduanya sanggup melakukan tugas reporter sekaligus merangkap camera-person, sehingga keduanya juga bisa membantu liputan di lapangan.

Jelajah hanyalah salah satu dari sekian banyak program jurnalisme perjalanan, yang ditayangkan di stasiun-stasiun TV nasional. Kehadiran Jelajah diharapkan dapat memberi tayangan yang informatif, bernilai edukatif, sekaligus menghibur. Penonton diharapkan akan mendapat tambahan pengetahuan, khususnya tentang berbagai tradisi dan budaya dari berbagai pelosok Indonesia. Program ini juga diharapkan membangkitkan rasa cinta Tanah Air, sekaligus memberikan hiburan.

Depok, 16 Mei 2010

Daftar Bacaan

· Nielsen Media Research. 2010. Data perolehan rating dan share Divisi News Trans TV, week 1017.
·
http://www.bravenewtraveler.com/2008/02/20/the-quick-and-dirty-guide-to-successful-travel-journalism/
http://www.vagablogging.net/advice-for-the-aspiring-travel-journalist.html
·
http://resourcesforwriters.suite101.com/article.cfm/travel_journalism_for_beginners#ixzz0ldVAGAqx
http://newley.com/2010/02/05/more-on-matt-gross-the-nyt-and-multimedia-travel-journalism/
http://www.offbeatrips.com/the_course_writing.htm

*Satrio Arismunandar adalah Executive Producer di Divisi News Trans TV. Pernah menjadi jurnalis di Harian Pelita (1986-88), Harian Kompas (1988-1995), Majalah D&R (1997-2000), dan Harian Media Indonesia (2000-2001). Ia juga menjadi pengajar tidak tetap di Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia dan President University, Jababeka.

E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com
HP: 0819-0819-9163