Wednesday, June 30, 2010

JURNALIS PERANG, DARI RADEN MAS SOSROKARTONO SAMPAI PETER ARNETT


Oleh Satrio Arismunandar

Masih ingat drama Perang Teluk 1991, antara Irak melawan pasukan koalisi yang dipimpin Amerika? Nah, bagi Anda yang rajin mengikuti perkembangan perang lewat layar kaca saat itu, mungkin ingat wajah jurnalis yang sering melaporkan langsung dari daerah perang di Baghdad, Irak. Jurnalis pemberani itu adalah Peter Arnett, koresponden perang dari CNN (Cable News Network).

Laporan langsung Arnett bersama CNN saat itu telah memelopori jurnalisme perang kontemporer. Yaitu, liputan langsung di mana penonton dari seluruh dunia bisa menyaksikan dentuman bom, pemandangan kota terbakar, dan korban-korban perang yang menangis, langsung dari pesawat televisi di rumah. Kini menonton berita langsung dari medan perang bukan lagi hal baru.

Jurnalis peliput perang bisa menjadi “selebritis dadakan,” ketika liputannya disaksikan jutaan orang dan memberi dampak besar. Popularitas Arnett dan CNN melonjak tinggi. Namun, itu baru sisi enaknya dari seorang jurnalis.

Diakui atau tidak, profesi jurnalis adalah profesi penuh risiko. Bukan cuma risiko dibreidel atau dilarang terbit, tetapi juga risiko langsung kehilangan nyawa. Tidak percaya? Lihat saja laporan Komite untuk Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalists) atau CPJ, tentang kondisi keselamatan jurnalis dunia selama delapan tahun terakhir.

Organisasi jurnalis internasional ini melaporkan, dari tahun 1992 sampai April 2010, sudah 805 jurnalis terbunuh di seluruh dunia, ketika sedang menjalankan tugas profesinya. Umumnya mereka adalah jurnalis yang meliput masalah politik (38 persen), perang (35 persen), korupsi (21 persen), hak asasi manusia (14 persen), kriminalitas (14 persen), budaya (8 persen), bisnis (4 persen), dan olahraga (3 persen).

Ladang Pembantaian

Ada negara-negara tertentu yang sangat rawan, dan bisa dibilang merupakan “ladang pembantaian” buat jurnalis. Dari total yang tewas itu, sebagian besar atau 141 jurnalis terbunuh di Irak, yang saat ini diduduki pasukan Amerika dan koalisinya.

Sejak invasi Amerika yang menjatuhkan Presiden Irak saddam Hussein tahun 2003, “negeri seribu satu malam” itu memang selalu bergolak, baik karena gerakan rakyat melawan penjajahan asing, maupun karena konflik di antara sesama warga Irak. Ledakan bom yang menewaskan banyak warga sipil bisa dibilang sudah jadi santapan sehari-hari.

Di Asia, tetangga kita Filipina ternyata adalah negeri paling berbahaya bagi jurnalis. Sejak tahun 1992, sudah 68 jurnalis terbunuh karena tugas profesinya di sana. Disusul oleh negara seperti Aljazair (60 jurnalis terbunuh), Rusia (52 jurnalis), Kolombia (42 jurnalis), Somalia (32 jurnalis), Pakistan (27 jurnalis), India (26 jurnalis), Afganistan (21 jurnalis), Turki (20 jurnalis), dan Meksiko (19 jurnalis). Masih ada puluhan jurnalis lain tewas di berbagai negara, yang tak bisa disebut satu-persatu.

Dari seluruh jurnalis yang terbunuh ini, yang terbanyak bekerja untuk media cetak (57 persen), disusul televisi (26 persen), radio (20 persen), dan Internet (2 persen). Sedangkan dari jenis kerjanya, yang terbanyak tewas adalah reporter/penulis di media cetak (32 persen), reporter media siaran (22 persen), editor atau redaktur (16 persen), juru kamera TV (10 persen), kolumnis/komentator (9 persen), juru potret (7 persen), produser (6 persen), penerbit/pemilik media (4 persen), teknisi (2 persen), dan reporter media online (1 persen).

Di Indonesia sendiri ada enam jurnalis yang tewas dalam menjalankan tugas sejak 1992. Mereka adalah: Fuad Muhammad Syafruddin (Bernas, 1996),Muhammad Sayuti Bochari (Pos Makasar, 1997), Naimullah (Sinar Pagi, 1997), Ersa Siregar ( Rajawali Citra Televisi, RCTI, 2003), Herliyanto (Radar Surabaya dan Jimber News Visioner, 2006), dan Anak Agung Gede Bagus Narendra Prabangsa (Radar Bali, 2009).

Penyebab tewasnya mereka juga beragam. Ada yang secara tak sengaja terjebak di tengah baku tembak antara pasukan TNI dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka), seperti dialami juru kamera Ersa Siregar pada 29 Desember 2003. Ada juga yang dibunuh karena tulisan-tulisannya yang kritis, seperti yang menimpa Fuad Muhammad Syafruddin, di Yogyakarta, 16 Agustus 1996.

Kasus terakhir adalah tewasnya Prabangsa, wartawan harian Radar Bali. Ia dibunuh pada 11 Februari 2009 di Kabupaten Bangli, Bali, karena pemberitaannya yang kritis. Prabangsa menulis tentang korupsi dan penyimpangan pada proyek Dinas Pendidikan, yang merugikan negara milyaran rupiah. Mayat Prabangsa dibuang oleh pembunuhnya ke pantai Padangbai, Karangasem, dan ditemukan lima hari kemudian di Teluk Bungsil sekitar perairan Padangbai.

Pelaku dan aktor intelektual pembunuhan berencana ini adalah I Nyoman Susrama, anggota legislatif terpilih DPRD II Bangli, yang sekaligus adik Bupati Bangli. Susrama, yang menjadi pengawas proyek Dinas Pendidikan Bangli ini, akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar, 15 Februari 2010.

Sosrokartono, Perintis Jurnalis Perang

Profesi jurnalis yang idealis mungkin memang menyerempet-nyerempet bahaya. Terutama, jurnalis yang meliput momen-momen kemanusiaan luar biasa, seperti bencana alam dan perang. Indonesia patut berbangga, bahwa kita juga punya tradisi jurnalistik yang cukup tua, dan punya tokoh-tokoh jurnalis yang berkelas.

Perintis “wartawan perang” Indonesia adalah Raden Mas Panji Sosrokartono. Tokoh jurnalis, intelektual, dan sekaligus spiritualis ini selama 29 tahun, sejak 1897, mengembara ke Eropa. Kaum bangsawan di Belanda biasa menjulukinya Pangeran dari Tanah Jawa. Sosrokartono adalah kakak Raden Ajeng Kartini, tokoh pejuang emansipasi perempuan Indonesia.

Selama bermukim di Eropa, Sosrokartono banyak bergaul dengan kalangan intelektual dan bangsawan di sana. Ia kuliah di Belanda sebagai mahasiswa Universitas Leiden dan kemudian menjadi wartawan perang IndonesiaThe New York Herald, cikal bakal The New York Herald Tribune. pertama. Waktu itu, ia menjadi koresponden liputan Perang Dunia I untuk koran

Uniknya lagi, agar mendapat akses dan bisa lebih leluasa meliput perang, ia menerima pangkat mayor dari militer Sekutu, tapi ia menolak dipersenjatai.
Pada momen itu, itu Sosrokartono berhasil memuat hasil perjanjian rahasia antara tentara Jerman yang menyerah dan tentara Prancis yang menang perang

Tokoh proklamasi kemerdekaan RI, Mohammad Hatta, dalam bukunya Memoir, sempat menyinggung kiprah Sosrokartono. Sebagai koresponden perang, Sosrokartono saat itu bergaji US$ 1.250 sebulan. “Dengan gaji sebanyak itu, ia dapat hidup sebagai seorang miliuner di Wina. Menurut cerita ia bergaul dalam lingkungan bangsawan,” tulis Hatta.

Yang patut dicatat, Sosrokartono yang berwajah tampan ini bukan jurnalis sembarangan. Ia termasuk jenius karena menguasai 17 bahasa asing. Itu sebabnya ia mudah diterima kalangan elite di Belanda, Belgia, Austria, dan bahkan Prancis. Sosrokartono fasih bercakap dalam bahasa Inggris, Belanda, India, Cina, Jepang, Arab, Sanskerta, Rusia, Yunani, dan Latin. Bahkan, ditambahkan oleh Hatta, “Ia juga pandai berbahasa Basken (Basque), suatu suku bangsa Spanyol.”

Sosrokartono adalah pribadi yang luar biasa. Hingga saat ini, sulit ditemukan atau mungkin bahkan belum ada jurnalis Indonesia lain, yang mempunyai bakat dan keterampilan berbahasa secanggih Sosrokartono. Kelebihannya bukan cuma dalam kemampuan teknis jurnalistik, tetapi juga komitmennya untuk membela nasib rakyat kecil pribumi di Hindia Belanda.

Sesudah 29 tahun di Eropa, Sosrokartono pulang ke Jawa untuk membangun sekolah. “Tidak ada yang lebih saya inginkan daripada bekerja untuk pendidikan mental sesama bangsa saya, dalam artian yang telah dimaksudkan oleh Kartini,” ucap Sosrokartono, dalam suratnya kepada seorang teman Belanda. Berkat dukungan tokoh pergerakan yang juga bapak pendidikan, Ki Hajar Dewantara, Sosrokartono dapat membangun perpustakaan di gedung Taman Siswa Bandung. Sebelum wafatnya, ia diangkat menjadi kepala Sekolah Menengah Nasional di kota “Paris van Java” ini.

Rudal meledak di Hotel Al-Rasheed

Di era sekarang, cukup banyak jurnalis Indonesia yang layak disebut “jurnalis perang.” Hendro Subroto, salah satunya. Sebagai juru kamera TVRI, ia meliput konfrontasi Malaysia-RI di Serawak, perang awal integrasi di Timor Timur, Kamboja, dan Vietnam. Ia pernah menderita luka parah akibat tertembak dalam pertempuran, ketika meliput di Fatularan, Timor Timur.

Masih banyak lagi jurnalis Indonesia peliput konflik bersenjata, yang tak bisa saya sebutkan satu-persatu. Saya sendiri pernah meliput perang di Irak dan Bosnia-Herzegovina. Hal paling berkesan adalah ketika saya melihat rudal dari pihak pasukan koalisi pimpinan Amerika meluncur, hanya sekitar 15 meter di atas kepala saya di Baghdad, Irak, pada hari-hari pertama pecahnya perang Teluk, Januari 1991.

Sebuah rudal antirudal, yang saya duga milik tentara Irak, meluncur dan menghantam rudal pertama. Akibatnya, terjadilah ledakan hebat yang menggetarkan gedung-gedung sekitar. Saat itu, menyadari bahaya yang nyata di depan mata, saya agak cemas. Segera saya berlindung di bunker di bawah Hotel Al-Rasheed tempat saya menginap, bergabung dengan para pengungsi dari kalangan warga Irak. Untunglah saya sukses meliput perang Teluk tanpa cedera apapun.

Saya juga sudah meliput di Israel/Palestina, Iran,Yordania, Mesir, Libya, Rusia, India, Kroasia, dan Slovenia. Tetapi saya kurang yakin, apakah sudah layak disebut “jurnalis perang” karena banyak jurnalis lain yang –saya tahu-- jauh lebih berdedikasi dan berani di medan perang.

Jurnalis Perang yang Manipulatif

Ada jurnalis hebat, yang berani mengambil risiko, dan siap mempertaruhkan nyawa demi idealisme. Tetapi, ada juga jurnalis yang bersedia “berkompromi” demi sekadar aksi, agar dianggap hebat, dipuji oleh atasan, atau memenangkan persaingan bisnis antarmedia.

Ketika meliput perang Teluk di Baghdad, Irak, Januari 1991, saya pernah menemui kasus semacam itu. Sesudah malam pemboman pertama di ibukota Irak itu, banyak jurnalis buru-buru pergi meninggalkan Irak ke negara tetangga Yordania, yang merupakan daerah aman. Saya, yang waktu itu menjadi wartawan Harian Kompas, masih bertahan di Irak bersama dua jurnalis asal Indonesia, Rizal Mallarangeng dan Taufik Rahzen.

Saat itu ada dua jurnalis lain asal Indonesia, YI dan IN, yang bergegas naik taksi dari Baghdad ke Yordania. Dari Amman, ibukota Yordania, IN yang bekerja untuk sebuah suratkabar terbitan Jawa Timur dengan lancar mengirim berita, yang ketika dimuat selalu dinyatakan sebagai “laporan wartawan kami dari Baghdad, Irak.” Hal itu jelas penipuan terhadap pembaca, apapun motifnya. Saya yang bertahan di Irak justru tidak bisa mengirim berita, karena di tengah pemboman hebat waktu itu tidak ada sarana listrik, fax, apalagi internet.

Gara-gara pemberitaan IN itu, saya sempat ditegur redaktur Kompas, karena dianggap tidak aktif mengirim berita. Ketika akhirnya sempat bertemu IN, saya tanyai dia, mengapa selalu menulis laporan dari “Baghdad”, padahal saya tahu betul dia berada di Yordania. Jawab IN, “Maaf, Sat. Aku selalu menulis jujur: laporan dari Amman, Yordania. Tetapi oleh redakturku, selalu diganti dengan: laporan dari Baghdad, Irak!”

Nah, mau omong apa, kalau sudah begitu?

Depok, April 2010

Tuesday, June 29, 2010

Kesalahan Penterjemahan Al Qur'an, Akibatkan Islamophobia

Masih mengenai kebencian ataupun Islamophobia dunia Barat, Hal ini tidak terlepas dari sejarah maupun teks-teks barat lampau mengenai Islam. Salah satunya mengenai penterjemahan Al Quran yang keliru.

Dalam catatan kaki buku Maurice Bucaille disebutkan :

Para penterjemah Qur-an yang masyhur-masyhur tidak terlepas dari pada kebiasaan sekuler ini, yakni memasukkan dalam terjemahan mereka hal-hal yang tak terdapat dalam teks Arab. Dengan tidak merubah teks, orang dapat menambah judul yang tak terdapat dalam teks asli, dan tambahan itu merubah arti umum -- 

R. Blachere dalam terjemahannya yang terkenal, terbitan Maisonneuse tahun 1966 halaman 115, memasukkan judul yang tak terdapat dalam Qur-an di atas ayat-ayat yang memang mengajak umat Islam untuk memegang senjata, akan tetapi bukan mengajak kepada agressi, R. Blachere membubuhi judul "Kewajiban untuk melakukan perang suci." Tentu saja pembaca yang tidak dapat memahami Qur-an kecuali dengan terjemahan akan merasa yakin bahwa seorang Islam wajib melakukan Perang Suci.

Apalagi ditambah kejadian 9/11 yang merupakan titik tolak perjumpaan Islam dengan Barat pada abad 21 ini dan berbagai kejadian bom yang diasosiasikan dengan Islam, semakin meyakinkan pemahaman sebagian orang Barat bahwa Islam penuh dengan kekerasan, bukan agama penuh cinta dan kedamaian. Sehingga kita bisa dapati sampai saat ini masih ada berbagai ejekan dan cemoohan terhadap Islam dari orang Barat melalui berbagai media populer seperti Facebook, Youtube maupun blog.

Kebohongan-Kebohongan terhadap Islam

Maurice Bucaille pada tahun 1976 dalam bukunya berjudul Bible Quran dan Sains yang diterjemahkan oleh M. Rasjdi pada September 1978, mengatakan:

Penilaian yang salah terhadap Islam di Barat adalah akibat kebodohan atau akibat sikap meremehkan dan mencemoohkan yang dilakukan secara sistematis. 

Akan tetapi di antara kekeliruan-kekeliruan yang tersiar, yang paling berbahaya adalah kekeliruan-kekeliruan atau pemalsuan fakta; jika kekeliruan penilaian dapat dimaafkan, maka penyajian fakta yang bertentangan dengan fakta yang sebenarnya, tidak dapat dimaafkan. 

Adalah menyedihkan jika kita membaca kebohongan-kebohongan besar dalam buku-buku yang serius yang ditulis oleh pengarang-pengarang yang mestinya sangat ahli. Umpamanya kita baca dalam Encyclopedia Universalis, jilid VI, artikel : Evangile (Injil), suatu isyarat kepada perbedaan antara Injil dan Qur-an. 

Pengarang artikel tersebut menulis: "Pengarang-pengarang Injil tidak mengaku-aku, seperti Qur-an, menyampaikan otobiografi (riwayat hidup diri sendiri) yang didiktekan oleh Tuhan kepada Rasulnya secara ajaib." 

Begitulah kata penulis itu, padahal Qur-an bukan otobiografi. Qur-an adalah tuntunan dan nasehat. Terjemahan Qur-an yang paling jelek juga dapat mengungkapkan kenyataan ini kepada pengarang artikel tersebut. 

Pernyataan tersebut di atas, yakni bahwa Qur-an itu otobiografi sama besar kesalahannya dengan orang yang mengatakan bahwa Injil itu adalah riwayat hidup pengarangnya.

Yang bertanggung jawab tentang pemalsuan terhadap idea Qur-an itu adalah seorang guru besar di Fakultas teologi Yesuite di kota Lion (Perancis selatan); tersiarnya kekeliruan semacam ini telah membantu memberi gambaran yang salah tentang Qur-an dan Islam. (maurice Bucaile, Bible, qur'an dan Sains).

Islam di negara-negara Barat (red: Buku ini ditulis tahun 1976-an) selalu menjadi objek daripada "diffamation seculaire" (cemoohan penganut-penganut secularisme). Semua orang, Barat yang mempunyai pengetahuan dalam tentang Islam, mengetahui bahwa sejarahnya, dogmanya dan tujuannya sudah jauh dibelokkan orang. 

Kedua, dokumen-dokumen dalam bahasa-bahasa Barat mengenai Islam yang sudah diterbitkan, tidak mempermudah usaha seorang yang ingin mempelajari Islam. Dalam hal ini kita dapat mengecualikan beberapa penyelidikan-penyelidikan yang sangat khusus.

orang menamakan orang Islam dengan nama "Mohametans" untuk memberi kesan bahwa Islam adalah agama yang didirikan oleh seorang insan dan saleh karena itu agama itu tidak ada nilainya di hadirat Tuhan.

Wednesday, June 23, 2010

Bagaimana Thiery Henry Berbicara Tentang Islam

Sebuah video tentang Bintang sepak bola dunia Thiery Henry sedang menjelaskan tentang pandangannya terhadap ajaran Islam.

Berikut ini adalah teks dari apa yang dijelaskan oleh Henry:

1. "Karena banyak teman-teman saya berpindah ke agama Islam seperti Christanval Filip, Anelka nicola, peter luccin, Éric Abidal, Ribery jujur, dan dominasi Didier, mereka teman-teman dekat saya dan saya tidak tahu bagaimana menjelaskan ini, tetapi saya merasa bahwa saya selalu sangat dekat dengan Islam sendiri. "

2. "Saya menganggap Islam sebagai pilihan terbaik untuk saya jika saya ingin percaya pada sebuah agama itu aku mengikuti semua apa yang diajarkan oleh buku itu (red. Alquran). Ini sebabnya saya anggap Islam yang paling dekat dengan hati saya. Islam mengajarkan kita bahwa seseorang harus percaya dulu, ini sebabnya saya belum menyatakan Islam sebagai agama saya, tapi aku mengerti agama ini lebih dari pada agama lain dan itu benar-benar menyedihkan bahwa banyak orang tidak meluangkan waktu untuk mencoba memahami Islam. "

3. "Mereka mendengar bahwa kaum muslimin adalah teroris dan messeges bahwa beberapa mencoba untuk lulus dan saya pikir itu benar-benar sedih karena bertentangan dengan realitas. "

4. "Saya memiliki beberapa hal pemahaman Islam jadi saya pikir Islam mengajarkan jauh karena orang muslim memiliki hati yang baik dan itu menyedihkan bahwa beberapa hal yang sebagian orang mengambil manfaatkan untuk melewati messeges palsu ini dan saya tidak tahu mengapa meskipun. Saya selalu mengatakan bahwa jika seseorang benar-benar percaya kepada Allah bahwa dia akan percaya pada Al-Qur'an dan Rasul terakhir.

Kenapa Banyak Orang Barat Yang Membenci Islam

Beberapa Tahun terakhir. lewat berbagai media massa banyak oknum-oknum dari negeri barat yang menghina Islam. Beberapa waktu lalu, juga muncul penghinaan terhadap Islam lewat jejaring sosial. Mengapa fenomena ini masih saja muncul. Bisa jadi salah satu jawabannya ada dalam sebuah pengantar buku.

Dalam sebuah Pengantar Bukunya yang diterbitkan sekitar tahun 1970-an ,Maurice Bucaille mengatakan:

Perlu saya nyatakan bahwa hal-hal yang mengenai Islam pada umumnya tidak diketahui orang di negeri-negeri Barat. Hal ini tidak mengherankan jia kita mengingat bagaimana generasi demi generasi diberi pelajaran agama dan bagaimana selama itu mereka dikungkung dalam ketidaktahuan mengenai Islam. Pemakaian kata kata "religion Mahomatene" (Mohammadanism) dan "Mahometans"(Mohamadens) sampai sekarang (red: Yaitu saat penulisan buku ini sekitar tahun 1970-an).

Masih sering dipakai untuk memelihara suatu anggapan yang salah yakni bahwa Islam adalah kepercayaan yang disiarkan oleh seorang manusia, dan dalam Islam itu tidak ada tempat bagi Tuhan (sebagaimana yang dipahamkan oleh kaum Masehi). Banyak kaum terpelajar zaman sekarang yang tertarik oleh aspek-aspek Islam yang mengenai filsafat, kemasyarakatan, atau ketatanegaraan, tetapi mereka tidak menyelidiki lebih lanjut bagaimana dalam mengetahui aspek-aspek itu mereka sesungguhnya bersumber kepada wahyu Islam. Biasanya orang bertitik tolak dari anggapan bahwa Muhammad bersandar kepada wahyu-wahyu yang diterima nabi-nabi sebelum dia sendiri, dengan begitu mereka ingin mengelak dari mempersoalkan wahyu.

Orang-orang Islam selalu dianggap remeh oleh golongan tertentu dalam umat kristen. Saya mempunyai pengalaman dalam hal ini, ketika saya berusaha mengadakan dialog untuk penelitian perbandingan antara teks Bibel dan teks Al Quran mengenai sesuatu masalah. Saya selalu disambut dengan penolakan untuk menyelidiki sesuatu yang mungkin diungkapkan oleh Al Quran tentang hal tersebut. Hal seperti ini seakan-akan berarti menganggap bahwa Quran itu ada hubungannya dengan Syetan.
Selanjutnya Maurice Bucaille menulis:
Pada Akhir-akhir ini (red= tahun 1970-an) telah terjadi perubahan besar dalam tingkat tertinggi di dunia Kristen. Setelah Konsili Vatikan II (1963-1965), sekretariat Vatikan unutk urusan-urusan dengan umat Non-Kristen, menyiarkan dokumen Orientation pour un dialogue entre Chretiens et Musulman ('Orientasi unutk dialog antara umat kristen dan umat Islam"). Dokumen tersebut menunjukan pergantian sikap yang mendalam secara resmi. Mula-mula dokume tersebut mengaja untuk melempar jauh citra yang diperoleh oleh umat Kristen tentang Islam yaitu 'citra usang, yang telah diwarisi dari masa yang silam atau image yang salah karena didasarkan prasangka dan fitnahan'. Kemudian dokumen tersebut mengakui terjadinya ketidakadilan pada masa yang lalu, yaitu 'ketidakadilan yang dilakukan oleh pendidikan Kristen terhadap Umat Islam" diantaranya mengenai gambaran umat Kristen yang salah tentang fatalisme, juridisme Islam, fanatisme dll. Dokumen tersebut menegaskan kesatuan akan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Serta menyebutkan bahwa kardinal Koenig membikin para pendengarnya tercengang ketika dalam ceramah resmi di Universitas Al Azhar pada bulan maret 1969 menerangkan hal tersebut. Dokumen tersebut juga mengatakan bahwa Sekretariat Urusan Non-Kristen mengajak umat Kristen pada tahun 1967 untuk mengucapkan selamat kepada umat Islam sehubungan dengan berakhirnya bulan puasa Ramadhan dan menyebutkan puasa itu sebagai "sesuatu nilai agama yang autentik".

Akan tetapi sayangnya menurut Maurice Bucaille sendiri, banyak umat Kristen sendiri yang tidak mengtahui tentang isi dokumen tersebut.

Itulah salah satu jawaban mengenai adanya golongan tertentu yang masih membenci Islam. Dalam buku yang ditulis oleh Maurice Bucaille yang terjemahannya berjudul Bible Quran dan Science Modern ini juga memaparkan mengenai hal-hal yang cukup penting seperti; Sejarah Perjanjian Lama, Sejarah Yahudi-kristen dan Santo Paulus dan Juga sejarah Injil Empat. Sehingga Buku ini patut untuk menjadi bahan bacaan.

Sunday, June 20, 2010

Kumpulan FilmTentang Islam dan Sains

1000 tahun yang lalu, jika kita berbicara tentang "dunia modern", dunia "yang maju", kawasan metropolis, maka orang akan menunjuk ke arah jantung ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yaitu Baghdad.

Masa itu adalah masa dimana umat Islam begitu banyak melahirkan pondasi-pondasi dasar dalam keilmuan modern. Saat dimana dunia belum memiliki mesin percetakan canggih, alih-alih cara menyalin buku hanya dengan tangan manual, menurut beberapa sumber di Dunia Islam ada banyak perpustakaan-perpustakaan yang di dalamnya ada puluhan ribu karya-karya para ilmuwan.

Semangat umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, begitu luar biasa saat itu. Banyak ilmuwan muslim yang menjadi pioner dalam berbagai bidang ilmu, yang namanya beberapa dekade terakhir kembali melambung, setelah banyak ditemukan karya-karya mereka di perpustakaan Eropa.

Alkhawarizmi menjadi perintis Algoritma. Ibnu Sina adalah bapak kedokteran modern. Ibnu Rasyid seorang filosof yang namanya begitu mashur di Eropa dengan. Ibnu Khaldun juga seorang filosof dan sejarawan yang pemikirannya hingga kini masih menjadi bahan diskusi bagi banyak ilmuwan modern.

Selain mereka masih ada daftar nama Ilmuwan yang masih banyak lagi, yang telah bersama-sama membangun peradaban Islam yang gemilang pada masa lalu dunia Islam di Arab.

 





Thursday, June 17, 2010

Kisah Luth dan Kaumnya dalam Al Qur`an

1. Kaum Luth adalah kaum yang diutus kepada mereka Nabi Luth AS. Kaum luth hidup ketika masa Nabi Ibraim AS. (11: 74-79)


2. Mereka adalah kaum yang mengerjakan perbuatan fahisyah yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelumnya (yaitu homoseks). (7: 80-82)
mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik karena mengerjakan perbuatan fahisyah tersebut. (21: 74)

3. Nabi Luth As diutus untuk meluruskan perbuatan kaumnya tersebut tetapi mereka tidak menghiraukannya. (11: 74-79)(26: 160-169)

4. Akhirnya Luth Berdoa:"(Luth berdoa): "Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan." (26: 169)


5. Maka Allah mengutus Para Utusan (Malaikat) kepada luth.
Sebelum mendatangi Luth Para utusan tersebut mendatangi Ibrahim untuk mengabari kabar gembira, yaitu tentang akan lahirnya Ishak AS. Sebagaimana tergambar dalam terjemah Surat Al Hijr Ayat 51-60.

51. Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim
52. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: "Salaam." Berkata Ibrahim: "Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu."
53. Mereka berkata: "Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim
54. Berkata Ibrahim: "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?"
55. Mereka menjawab: "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa."
56. Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat."
57. Berkata (pula) Ibrahim: "Apakah urusanmu yang penting (selain itu), hai para utusan?"
58. Mereka menjawab: "Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa,
59. kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan mereka semuanya,
60. kecuali istrinya. Kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya)."

Dan Juga Terjemah Surat Ad Dzariyat berikut ini:
24. Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?
25. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaamun." Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal."
26. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk.
27. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: "Silahkan anda makan."
28. (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut", dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).
29. Kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: "(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul."
30. Mereka berkata: "Demikianlah Tuhanmu memfirmankan" Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
31. Ibrahim bertanya: "Apakah urusanmu hai para utusan?"
32. Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth),
33. agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah,
34. yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas


6. Setelah terlaksana maksud utusan Allah terhadap Ibrahim As selanjutnya Para utusan datang kepada Kaum Luth yaitu singgah ke rumah Nabi Luth AS.

Cerita Mengenai singgahnya Para utusan di Rumah Luth As tergambar dalam terjemah Surat Al Hijr ayat 61-71:

61. Maka tatkala para utusan itu datang kepada kaum Luth, beserta pengikut pengikutnya,
62. ia berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal."
63. Para utusan menjawab: "Sebenarnya kami ini datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan.
64. Dan kami datang kepadamu membawa kebenaran dan sesungguhnya kami betul-betul orang-orang benar.
65. Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutlah mereka dari belakang dan janganlah seorangpun di antara kamu menoleh kebelakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang di perintahkan kepadamu.
66. Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.
67. Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu
68. Luth berkata: "Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku),
69. dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina."
70. Mereka berkata: "Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia
71. Luth berkata: "Inilah puteri-puteriku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)."


Dan juga terjemah Surat Al 'Ankabut ayat 31-33:

31. Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim."

32. Berkata Ibrahim: "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata: "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).

33. Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak punya kekuatan untuk melindungi mereka dan mereka berkata: "Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali isterimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)."


Dan Juga Surat Al Qomar ayat 37:
37. Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.


7. Maka keesokan harinya yaitu sewaktu fajar meyingsing Kaum Luth diazab:
- Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. (7: 84)
- Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. (11: 82).
- Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bahagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. (15- 73-74)
- Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. ( 26: 173)(27: 58)
- Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik. (29: 34)
- kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah, (51: 33)
- Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing, (54: 34)



8. Tanda-tanda kehancuran Kaum Luth Masih bisa disaksikan
AL HIJR:
75. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.
76. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).
AS SHAAFFAAT:
137. Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi,
138. dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?
AD DZARIYAT:
37. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.

Kisah Kaum Tsamud Dalam Al-Quran

Al Quran Al karim mengungkapkan mengenai keadaan kaum Tsamud sebagai berikut ini:

Ciri-ciri peradaban Kaum Tsamud:


  1. Pengganti kaum 'ad
  2. Mendirikan istana di tanah datar
  3. Memahat gunung untuk dijadikan rumah dengan rajin
  4. Memotong batu-batu besar di lembah
  5. Tinggal di kebun serta mata air
  6. Menyembah apa yang disembah oleh nenek moyangnya 

( 11: 62)(7: 74)(15: 82)(26: 146-149)( 89: 9)

Penyebab Kaum Tsamud di hancurkan:

- Shaleh diutus kepada kaum tsamud,untuk mengajak bertakwa dan mencegah manusia membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan. Di datangkanlah seekor unta betina (Naaqotun) sebagai mukjizat.ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kaum tsamud mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu. Dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar. Kemudian mereka membunuhnya, lalu mereka menjadi menyesal. maka mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata. Dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. (26: 152-158)

- Di kota itu ada 9 orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi dan mereka tidak berbuat kebaikan. Mereka mengadakan makar dengan mengatakan:"Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar." (27: 46-49)

- Para pemuka kaum 'ad yang sombong mengingkari Shaleh As
- Mereka sembelih Unta betina itu. Karena itu mereka ditimpa gempa(Rojfatu), maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan(Jatsimin) di tempat tinggal mereka. (7: 75-77)(26: 141-158)

- Maka mereka memanggil kawannya lalu kawannya menangkap unta itu dan membunuhnya. (54: 29)


Adzab Yang ditimpakan Kepada Kaum Tsamud:


  • kaum tsamud diberi tangguh selama tigahari sebelum ditimpa azab (11: 65)
  • Mereka sembelih Unta betina itu. Karena itu mereka ditimpa gempa(Rojfatu), maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan(Jatsimin) di tempat tinggal mereka.(7: 75-77)
  • Penduduk kota hijr dibinasakan dengan suara keras yang menguntur di waktu pagi.Maka tak dapat menolong mereka, apa yang telah mereka usahakan. (15: 84)
  • Tsamud di azab dengan petir (Sho'iqotu) dan mereka melihatnya. Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan. ( 51: 45)
  • Rumah-rumah kaum tsamud runtuh akibat kezaliman mereka. (27: 52)
  • Alangkah dasyatnya azab itu. Mereka dtimpa satu suara yang keras dan mengguntur.Maka jadilah mereka seperti rumput kering yang dikumpulkan oleh orang yang memiliki kandang binatang.(54: 31).
  • Hanya Nabi Shaleh beserta Orang yang beriman bersamanya yang diselamatkan. (11: 66).


(Sumber : Al Qur'an Digital)

Wednesday, June 2, 2010

BERIMAN KEPADA TAKDIR BAIK & BURUK

Banyak orang mengenal rukun iman tanpa mengetahui makna dan hikmah yang terkandung dalam keenam rukun iman tersebut. Salah satunya adalah iman kepada takdir. Tidak semua orang yang mengenal iman kepada takdir, mengetahui hikmah dibalik beriman kepada takdir dan bagaimana mengimani takdir. Berikut sedikit ulasan mengenai iman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk.



Takdir (qadar) adalah perkara yang telah diketahui dan ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan telah dituliskan oleh al-qalam (pena) dari segala sesuatu yang akan terjadi hingga akhir zaman. (Terj. Al Wajiiz fii ‘Aqidatis Salafish Shalih Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 95)

Allah telah menentukan segala perkara untuk makhluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya yang terdahulu (azali) dan ditentukan oleh hikmah-Nya. Tidak ada sesuatupun yang terjadi melainkan atas kehendak-Nya dan tidak ada sesuatupun yang keluar dari kehendak-Nya. Maka, semua yang terjadi dalam kehidupan seorang hamba adalah berasal dari ilmu, kekuasaan dan kehendak Allah, namun tidak terlepas dari kehendak dan usaha hamba-Nya.



Allah Ta’ala berfirman :



“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Qs. Al-Qamar: 49)

“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Qs. Al-Furqan: 2)



“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (Qs. Al-Hijr: 21)



Mengimani takdir baik dan takdir buruk, merupakan salah satu rukun iman dan prinsip ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga dia beriman kepada takdir, yaitu dia mengikrarkan dan meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu berlaku atas ketentuan (qadha’) dan takdir (qadar) Allah.



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :



“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.” (Shahih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/451) dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6985) dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: ‘Sanad hadits ini shahih.’Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 2439), karya Syaikh Albani rahimahullah)



Jibril ‘alaihis salam pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai iman, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :



“Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir serta qadha’ dan qadar, yang baik maupun yang buruk.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya di kitab al-Iman wal Islam wal Ihsan (VIII/1, IX/5))



Dan Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma juga pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :



“Segala sesuatu telah ditakdirkan, sampai-sampai kelemahan dan kepintaran.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (IV/2045), Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/452), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (I/32), dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/23))



Tingkatan Takdir


Beriman kepada takdir tidak akan sempurna kecuali dengan empat perkara yang disebut tingkatan takdir atau rukun-rukun takdir. Keempat perkara ini adalah pengantar untuk memahami masalah takdir. Barang siapa yang mengaku beriman kepada takdir, maka dia harus merealisasikan semua rukun-rukunnya, karena yang sebagian akan bertalian dengan sebagian yang lain. Barang siapa yang mengakui semuanya, baik dengan lisan, keyakinan dan amal perbuatan, maka keimanannya kepada takdir telah sempurna. Namun, barang siapa yang mengurangi salah satunya atau lebih, maka keimanannya kepada takdir telah rusak.



Tingkatan Pertama: al-’Ilmu (Ilmu)


Yaitu, beriman bahwa Allah mengetahui dengan ilmu-Nya yang azali mengenai apa-apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi, baik secara global maupun terperinci, di seluruh penjuru langit dan bumi serta di antara keduanya. Allah Maha Mengetahui semua yang diperbuat makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan, mengetahui rizki, ajal, amal, gerak, dan diam mereka, serta mengetahui siapa di antara mereka yang sengsara dan bahagia.



Allah Ta’ala telah berfirman :



“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (Qs. Al-Hajj: 70)



“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Maha Mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Al-An’aam: 59)



“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.” (Qs. At-Taubah: 115)



Tingkatan Kedua: al-Kitaabah (Penulisan)


Yaitu, mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menuliskan apa yang telah diketahui-Nya berupa ketentuan-ketentuan seluruh makhluk hidup di dalam al-Lauhul Mahfuzh. Suatu kitab yang tidak meninggalkan sedikit pun di dalamnya, semua yang terjadi, apa yang akan terjadi, dan segala yang telah terjadi hingga hari Kiamat, ditulis di sisi Allah Ta’ala dalam Ummul Kitab.



Allah Ta’ala berfirman :



“Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Yaasiin: 12)

“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (Qs. Al-Hadiid: 22)



Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :



“Allah telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya, kitab al-Qadar (no. 2653), dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, diriwayatkan pula oleh Tirmidzi (no. 2156), Imam Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 557))



Dalam sabdanya yang lain :



“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-qalam (pena), lalu Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Ia bertanya, ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.’” (Shahih, riwayat Abu Dawud (no. 4700), dalam Shahiih Abu Dawud (no. 3933), Tirmidzi (no. 2155, 3319), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), al-Ajurry dalam ­asy-Syari’ah (no.180), Ahmad (V/317), dari Shahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu)



Oleh karena itu, apa yang telah ditakdirkan menimpa manusia tidak akan meleset darinya, dan apa yang ditakdirkan tidak akan mengenainya, maka tidak akan mengenainya, sekalipun seluruh manusia dan golongan jin mencoba mencelakainya.



Tingkatan Ketiga: al-Iraadah dan Al Masyii-ah (Keinginan dan Kehendak)


Yaitu, bahwa segala sesuatu yang terjadi di langit dan di bumi adalah sesuai dengan keinginan dan kehendak (iraadah dan masyii-ah) Allah yang berputar di antara rahmat dan hikmah. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dengan rahmat-Nya, dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dengan hikmah-Nya. Dia tidak boleh ditanya mengenai apa yang diperbuat-Nya karena kesempurnaan hikmah dan kekuasaan-Nya, tetapi kita, sebagai makhluk-Nya yang akan ditanya tentang apa yang terjadi pada kita, sesuai dengan firman-Nya :



“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (Qs. Al-Anbiyaa’: 23)



Kehendak Allah itu pasti terlaksana, juga kekuasaan-Nya sempurna meliputi segala sesuatu. Apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi, meskipun manusia berupaya untuk menghindarinya, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, maka tidak akan terjadi, meskipun seluruh makhluk berupaya untuk mewujudkannya.



Allah Ta’ala berfirman :



“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.” (Qs. Al-An’aam: 125)



“Dan kamu tidak dapat menhendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (Qs. At-Takwir: 29)



Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :



“Sesungguhnya hati-hati manusia seluruhnya di antara dua jari dari jari jemari Ar-Rahmaan seperti satu hati; Dia memalingkannya kemana saja yang dikehendaki-Nya.”(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2654). Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 1689))



Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Para Imam Salaf dari kalangan umat Islam telah ijma’ (sepakat) bahwa wajib beriman kepada qadha’ dan qadar Allah yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit, yang sedikit maupun yang banyak. Tidak ada sesuatu pun terjadi kecuali atas kehendak Allah dan tidak terwujud segala kebaikan dan keburukan kecuali atas kehendak-Nya. Dia menciptakan siapa saja dalam keadaan sejahtera (baca: menjadi penghuni surga) dan ini merupakan anugrah yang Allah berikan kepadanya dan menjadikan siapa saja yang Dia kehendaki dalam keadaan sengsara (baca: menjadi penghuni neraka). Ini merupakan keadilan dari-Nya serta hak absolut-Nya dan ini merupakan ilmu yang disembunyikan-Nya dari seluruh makhluk-Nya.” (al-Iqtishaad fil I’tiqaad, hal. 15)



Tingkatan Keempat: al-Khalq (Penciptaan)


Yaitu, bahwa Allah adalah Pencipta (Khaliq) segala sesuatu yang tidak ada pencipta selain-Nya, dan tidak ada rabb selain-Nya, dan segala sesuatu selain Allah adalah makhluk.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala :



”Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (Qs. Az-Zumar: 62)



Meskipun Allah telah menentukan takdir atas seluruh hamba-Nya, bukan berarti bahwa hamba-Nya dibolehkan untuk meninggalkan usaha. Karena Allah telah memberikan qudrah (kemampuan) dan masyii-ah (keinginan) kepada hamba-hamba-Nya untuk mengusahakan takdirnya. Allah juga memberikan akal kepada manusia, sebagai tanda kesempurnaan manusia dibandingkan dengan makhluk-Nya yang lain, agar manusia dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. Allah tidak menghisab hamba-Nya kecuali terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukannya dengan kehendak dan usahanya sendiri. Manusialah yang benar-benar melakukan suatu amal perbuatan, yang baik dan yang buruk tanpa paksaan, sedangkan Allah-lah yang menciptakan perbuatan tersebut.


Hal ini berdasarkan firman-Nya :



“Padahal Allah-lah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Qs. Ash-Shaaffaat: 96)



Dan Allah Ta’ala juga berfirman, yang artinya :



“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (Qs. Al-Baqarah: 286)



Hikmah Beriman Kepada Takdir


Beriman kepada takdir akan mengantarkan kita kepada sebuah hikmah penciptaan yang mendalam, yaitu bahwasanya segala sesuatu telah ditentukan. Sesuatu tidak akan menimpa kita kecuali telah Allah tentukan kejadiannya, demikian pula sebaliknya. Apabila kita telah faham dengan hikmah penciptaan ini, maka kita akan mengetahui dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu yang datang dalam kehidupan kita tidak lain merupakan ketentuan Allah atas diri kita. Sehingga ketika musibah datang menerpa perjalanan hidup kita, kita akan lebih bijak dalam memandang dan menyikapinya. Demikian pula ketika kita mendapat giliran memperoleh kebahagiaan, kita tidak akan lupa untuk mensyukuri nikmat Allah yang tiada henti.



Manusia memiliki keinginan dan kehendak, tetapi keinginan dan kehendaknya mengikuti keinginan dan kehendak Rabbnya. Golongan Ahlus Sunnah menetapkan dan meyakini bahwa segala yang telah ditentukan, ditetapkan dan diperbuat oleh Allah memiliki hikmah dan segala usaha yang dilakukan manusia akan membawa hasil atas kehendak Allah.



Ingatlah saudariku, tidak setiap hal akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka hendaklah kita menyerahkan semuanya dan beriman kepada apa yang telah Allah tentukan. Jangan sampai hati kita menjadi goncang karena sedikit ’sentilan’, sehingga muncullah bisikan-bisikan dan pikiran-pikiran yang akan mengurangi nikmat iman kita.


Dengarlah sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam :



“Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan Allah dan janganlah sampai kamu lemah (semangat). Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata ’seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah ‘Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya).’ Karena sesungguhnya (kata) ’seandainya’ itu akan mengawali perbuatan syaithan.”(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2664))



Tidak ada seorang pun yang dapat bertindak untuk merubah apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Maka tidak ada seorang pun juga yang dapat mengurangi sesuatu dari ketentuan-Nya, juga tidak bisa menambahnya, untuk selamanya. Ini adalah perkara yang telah ditetapkan-Nya dan telah selesai penentuannya. Pena telah terangkat dan lembaran telah kering.



Berdalih dengan takdir diperbolehkan ketika mendapati musibah dan cobaan, namun jangan sekali-kali berdalih dengan takdir dalam hal perbuatan dosa dan kesalahan. Setiap manusia tidak boleh memasrahkan diri kepada takdir tanpa melakukan usaha apa pun, karena hal ini akan menyelisihi sunnatullah. Oleh karena itu berusahalah semampunya, kemudian bertawakkallah.



Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya :


“Dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Anfaal: 61)



“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (Qs. Ath-Thalaq: 3)



Dan jika kita mendapatkan musibah atau cobaan, janganlah berputus asa dari rahmat Allah dan janganlah bersungut-sungut, tetapi bersabarlah. Karena sabar adalah perisai seorang mukmin yang dia bersaudara kandung dengan kemenangan. Ingatlah bahwa musibah atau cobaan yang menimpa kita hanyalah musibah kecil, karena musibah dan cobaan terbesar adalah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam sabdanya :



“Jika salah seorang diantara kalian tertimpa musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku, sungguh ia merupakan musibah yang paling besar.”(Shahih li ghairih, riwayat Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat (II/375), Ad-Darimi (I/40))



Apabila hati kita telah yakin dengan setiap ketentuan Allah, maka segala urusan akan menjadi lebih ringan, dan tidak akan ada kegundahan maupun kegelisahan yang muncul dalam diri kita, sehingga kita akan lebih semangat lagi dalam melakukan segala urusan tanpa merasa khawatir mengenai apa yang akan terjadi kemudian. Karena kita akan menggenggam tawakkal sebagai perbekalan ketika menjalani urusan dan kita akan menghunus kesabaran kala ujian datang menghadang.



Wallahu Ta’ala a’lam wal musta’an.



Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar


MENUMBUHKAN SIFAT TAWADHU'

Makin berisi makin merunduk. Begitulah peribahasa 'ilmu padi' yang sering kita dengar. Dalam syari'at Islam yang mulia pun diajarkan hal yang serupa, sifat dan sikap tawadhu'.

Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyebutkan pujian bagi orang-orang yang tawadhu’ dan mengancam orang yang sombong. Tidak ada keutamaan seseorang terhadap yang lain kecuali nilai takwanya.


Alloh subhanahu wata'ala berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurot [49]: 13)


Maka yang menjadi ukuran adalah ketakwaan, bukan banyaknya harta, tingginya pangkat atau kemuliaan nasab. Takwa adalah barometer dalam segala perkara. Tidak akan bermanfaat harta, pangkat dan keturunan kecuali diiringi dengan takwa. Salah satu perangai ketakwaan yang dianjurkan dalam agama adalah sifat tawadhu’.


Definisi Tawadhu’


Tawadhu’ secara bahasa bermakna rendah terhadap sesuatu. Sedangkan secara istilah adalah menampakkan perendahan hati kepada sesuatu yang diagungkan. Ada juga yang mengatakan tawadhu’ adalah mengagungkan orang karena keutamaannya. Tawadhu’ adalah menerima kebenaran dan tidak menentang hukum.


Tidak ada yang mengingkari, tawadhu’ adalah akhlak yang mulia. Yang menjadi pertanyaan, kepada siapa kita merendahkan hati. Alloh menyifati hamba yang dicintai-Nya dalam firman-Nya;


“Yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (QS. al-Maidah [5]: 54).


Syarat Tawadhu’

Tawadhu’ adalah akhlak yang agung dan ia tidak sah kecuali dengan dua syarat;


Pertama: Ikhlas karena Alloh semata.

Rosululloh shollallohu alaihi wassalam bersabda;
“Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Alloh, kecuali Alloh akan angkat derajatnya.” (HR. Muslim: 2588)


Kedua: Kemampuan

Rosululloh shollallohu alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan pakaian karena tawadhu’ kepada Alloh padahal dia mampu, maka Alloh akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk hingga Alloh memberinya pilihan dari perhiasan penduduk surga, ia bisa memakainya sekehendaknya.”


Keutamaan Tawadhu’

Tidaklah sifat yang terpuji melainkan menyimpan keutamaan. Ini adalah sebagai pendorong bagi kita agar segera berhias dengan sifat tersebut.


Di antara keutamaan sifat tawadhu’ adalah;


1. Menjalankan perintah Alloh subhanahu wata'ala


Alloh berfirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (QS. asy-Syu’aro [26]: 215)


Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Maksudnya adalah tawadhu’, karena orang yang sombong melihat dirinya bagaikan burung yang terbang di angkasa, maka Alloh memerintahkan untuk merendahkan sayapnya dan merendahkan diri terhadap orang-orang beriman yang mengikuti Nabi.”


2. Alloh membenci orang yang sombong


Alloh berfirman: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman [31]: 18)


Sahabat mulia Ibnu Abbas rodhliyallohu anhu berkata: “Yaitu janganlah kamu sombong, sehingga membawa kalian merendahkan hamba Alloh dan berpaling dari mereka jika mereka berbicara kepadamu.”


3. Perangai hamba yang terpuji


Alloh berfirman:
“Dan hamba-hamba Alloh yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. al-Furqon [25]: 63)


Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh mengatakan: “Firman Alloh berjalan di atas bumi dengan rendah hati yaitu mereka berjalan dengan tenang, penuh dengan ketawadhu’an, tidak congkak dan sombong.”


4. Jalan menuju surga


Alloh berfirman:
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Qoshos [28]: 83)


5. Mengangkat derajat seorang hamba


Selayaknya bagi setiap muslim untuk berhias diri dengan sifat tawadhu’ karena dengan tawadhu’ tersebut Alloh akan meninggikan derajatnya.


Rosululloh shollallohu alaihi wassalam bersabda; “Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Alloh, kecuali Alloh mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim:2588)

Imam an-Nawawi rohimahulloh berkata: “Hadits ini mempunyai dua makna:

Pertama: Alloh akan meninggikan derajatnya di dunia, dan mengokohkan sifat tawadhu’nya dalam hati hingga Alloh mengangkat derajatnya di mata manusia.

Kedua: Pahala di akhirat, yakni Alloh akan mengangkat derajatnya di akhirat disebabkan tawadhu’nya di dunia.


6. Mendatangkan rasa cinta, persaudaraan dan menghilangkan kebencian


Rosululloh shollallohu alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya Alloh mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’, hingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya atas orang lain dan tidak ada lagi orang yang menyakiti atas yang lain.” (HR. Muslim: 2865)


Macam-macam Tawadhu’


Pertama: Tawadhu’ yang terpuji


Yaitu tawadhu’nya seorang hamba ketika melaksanakan perintah Alloh dan meninggalkan larangan-Nya. Karena jiwa ini secara tabiat akan mencari kesenangan dan rasa lapang serta tidak ingin terbebani sehingga akan menimbulkan keinginan lari dari peribadatan dan tetap dalam kesenangannya. Maka apabila seorang hamba mampu menundukan dirinya dengan melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya, sungguh ia telah tawadhu’ dalam peribadatan.


Kedua: Tawadhu’ yang tercela


Yaitu tawadhu’nya seseorang kepada orang yang mempunyai pangkat dunia karena berharap mendapat bagian dunia darinya.


Orang yang memiliki akal sehat dan selamat tentunya ia akan berusaha meninggalkan tawadhu’ tercela ini dan akan berusaha berhias dengan sifat tawadhu’ yang terpuji.


Tingkatan Tawadhu’


Pertama: Tawadhu’ di dalam agama


Yaitu patuh dan mengerjakan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shollallohu alaihi wassalam secara pasrah, tunduk dan taat. Hal itu tidak bisa terwujud kecuali dengan tiga perkara;


a. Tidak mempertentangkan ajaran yang dibawa oleh Nabi shollallohu alaihi wassalam dengan akal, analogi, perasaan, atau siasat.


b. Tidak menuduh bahwa dalil-dalil dalam agama ini adalah cacat dan jelek serta berprasangka bahwa dalil-dalil agama ada yang kurang, atau yang lainnya lebih utama. Barangsiapa yang terlintas dalam pikirannya hal seperti ini, maka salahkanlah pemahamannya.


c. Tidak menyelisihi nash dan dalil yang telah tetap.


Kedua: Menerima kebenaran dari orang yang dicintai atau yang dibenci


Tidak termasuk sikap tawadhu’ adalah menolak kebenaran dikarenakan ia berasal dari musuh.


Ketiga: Menjunjung al-haq


Yaitu menjadikan al-haq dan perintah sebagai dasar perbuatan dan menjalankan ibadah kepada Alloh semata-mata karena perintah dari Alloh dan bukan karena kebiasaan atau hawa nafsu.


Tawadhu’ Dan Menghinakan Diri


Kita sering mendengar istilah tawadhu’ dan menghinakan diri. Keduanya sangat berbeda. Sifat tawadhu’ muncul karena atas dasar ilmu dan pengetahuannya kepada Alloh dan karena pengagungan dan kecintaan kepadaNya serta kesadaran mengintropeksi terhadap aib pribadi.


Semua hal tersebut melahirkan sifat tawadhu’ dalam dirinya. Hatinya tunduk kepada Alloh, patuh dan berserah diri serta mempunyai sifat kasih sayang kepada manusia. Ia melihat tidak mempunyai keutamaan atas orang lain dan tidak merasa benar sendiri atas orang lain. Akhlak semacam ini hanyalah pemberian Alloh kepada hamba-Nya yang dicintai dan yang dimuliakan serta dekat kepadaNya.


Adapun menghinakan diri adalah merendahkan dan menghinakan dirinya kepada orang lain untuk meraih bagian dan kelezatan syahwatnya. Seperti perendahan diri karyawan karena ingin mendapat sesuatu yang diinginkan dari atasannya, kepatuhan orang yang diajak maksiat kepada orang yang mengajaknya, atau kepatuhan orang yang ingin meraih bagian dunia kepada orang yang ia harapkan.


Semua ini adalah bentuk penghinaan diri dan bukan tawadhu’. Alloh hanya mencintai orang-orang yang tawadhu’ dan membenci perendahan dan penghinaan diri.


Imam Ahmad bin Abdurrohman al-Maqdisi rohimahulloh mengatakan: “Sikap pertengahan adalah dengan tawadhu’ tanpa merendahkan diri, dan ini adalah terpuji. Sikap tawadhu’ yang terpuji adalah dengan berbuat adil, yaitu memberikan kepada setiap orang yang mempunyai kedudukan haknya.”


Kiat Menggapai Tawadhu’


1. Berfikirlah dari apa kita diciptakan


Jika seorang muslim bisa mengukur diri, dan menyadari siapa dirinya, dia akan menilai bahwa dirinya adalah insan yang rendah dan hina. Karena manusia bila dilihat dari asal penciptaan berasal dari setetes mani yang keluar dari saluran air kencing, kemudian menjadi segumpal darah, segumpal daging dan akhirnya menjadi seorang insan.


Berawal dari tidak bisa mendengar, tidak melihat dan lemah kemudian menjadi insan yang sempurna penciptaannya.


Alloh berfirman: “Dari apakah Alloh menciptakannya? dari setetes mani, Alloh menciptakannya lalu menentukannya. kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ’Abasa [80]: 18-20)


Alloh juga berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan ia mendengar dan melihat.” (QS. al-Insan [76]: 2)


Apabila kondisi manusia seperti ini, mengapa ia sombong dan tidak tawadhu’?!
Imam Ibnu Hibban mengatakan: “Bagaimana mungkin seseorang tidak tawadhu’ padahal ia diciptakan dari setetes mani yang hina dan akhir hidupnya ia akan kembali menjadi bangkai yang menjijikkan serta kehidupannya di dunia ia membawa kotoran?”


2. Kenalilah diri Anda


Alloh berfirman: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi inidengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. al-Isro’ [17]: 37)


Syaikh Muhammad Amin as-Syinqithi berkata: “Wahai orang yang sombong, engkau adalah orang yang lemah, hina dan terbatas di dunia ini. Bumi yang engkau berpijak di atasnya, engkau tidak bisa berbuat apapun walaupun engkau injak dengan sekuat tenaga. Jangan angkuh, jangan berjalan di muka bumi ini dengan sombong.”



Oleh: Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa