Thursday, September 24, 2009

Essay - KETEGASAN DAN KERAGUAN PRESIDEN SBY DALAM PELEMAHAN LEMBAGA KPK


Presiden SBY adalah tokoh yang tampak sangat bersemangat dalam menjalankan kebijakan yang populer. Di antara sekian banyak presiden Indonesia, mungkin ia adalah Presiden RI yang paling senang menggunakan jajak pendapat atau polling, untuk mengetahui pandangan masyarakat tentang isu-isu tertentu (dan tentu sekaligus untuk mengukur tingkat popularitas sang presiden).

Polling dianggap sebagai salah satu piranti politik modern, yang sudah digunakan secara meluas di negara-negara demokrasi maju, dan kini sudah diterapkan pula di Indonesia, terutama menjelang pilkada atau pemilu. Harus diakui, SBY dan para pembantu dekatnya telah berhasil memanfaatkan polling pada pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2009, untuk mendongkrak popularitas. Namun, penggunaan polling popularitas tampaknya tidak menjadi opsi, dalam cara SBY menangani perselisihan antara cicak (KPK) dan buaya (Polri) akhir-akhir ini.

Dengan segala kelemahan dan keterbatasannya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebetulnya sudah populer di mata masyarakat, sebagai lembaga yang dianggap cukup berhasil memberantas korupsi. Kinerja KPK memang belum sempurna. Ada yang menyebutnya masih “tebang pilih” dalam memberantas korupsi. Tetapi kinerja KPK dipandang jauh lebih baik dibandingkan kinerja kejaksaan dan polisi, dalam menangani kasus-kasus korupsi. Keberhasilan KPK pula yang diklaim oleh tim kampanye SBY pada pilpres 2009, sebagai bagian dari prestasi pemerintahan SBY memberantas korupsi.

Namun akhir-akhir ini, SBY seperti lupa pada “jasa-jasa KPK.” Ketika polisi menjadikan dua pimpinan KPK, Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto, sebagai tersangka tindak pidana dengan tuduhan yang sumir, SBY terkesan pasif atau mendiamkan saja. Padahal langkah-langkah polisi itu dipandang oleh banyak kalangan berusaha mempreteli kewenangan KPK dan melemahkan institusi KPK. Langkah polisi itu jelas tidak populer, dan dari segi pendekatan hukum juga lemah.

Bahkan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD hari Minggu (20 Sept) menegaskan, ia tidak melihat indikasi tindak pidana yang jelas dalam penangkapan kedua pimpinan KPK bidang penindakan tersebut. Apalagi kedua tindak pidana yang sebelumnya dilayangkan ke keduanya telah dibantah oleh pihak-pihak terkait.

"Katanya terima uang Rp 5,1 miliar, tapi yang kirim uang bilang enggak kirim uang ke Bibit dan Chandra. Lalu apa tuduhannya? Katanya memaksa mengeluarkan surat pencekalan, tapi Dirjen Imigrasi merasa tidak dipaksa keluarkan surat pencekalan karena sudah prosedural," tutur Mahfud. Menurut Mahfud, perkara yang terlihat sekarang justru tergolong sengketa administrasi dalam hukum. Pengajuan sengketa lazimnya ditujukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Jika memang tidak terbukti, Mahfud berharap Polri segera mengeluarkan Surat Pemberhentian Penyidikan Perkara (SP3). "Kalau tidak jelas (tindak pidananya), sistem hukum kita bisa rusak kalau ini diambangkan begitu saja," lanjutnya.

Dalam kasus KPK ini, tidak seperti gayanya yang biasa, SBY tampak memilih bertindak tidak populer dengan “berpihak” pada polisi, dengan membiarkannya melemahkan KPK. SBY malah sudah memutuskan membuat peraturan pemerintah pengganti undang-undang, untuk mengisi kekosongan pimpinan KPK lewat usulan tim khusus bentukan pemerintah. Padahal langkah ini diprotes, karena dipandang tidak ada kondisi kegentingan yang memaksa sebagai prasyarat dikeluarkannya Perppu, dan dikhawatirkan akan mempengaruhi independensi KPK.

Juga, jika diadakan polling saat ini tentang langkah polisi terhadap KPK, saya yakin bin percaya bahwa mayoritas rakyat akan berpihak pada KPK. Rakyat tidak ingin KPK dilemahkan. Rakyat tidak ingin kewenangan KPK untuk melakukan penyadapan dan penuntutan kasus-kasus korupsi dipreteli. Rakyat masih jauh lebih percaya pada KPK daripada polisi dan kejaksaan, untuk menangani kasus-kasus korupsi. Tetapi SBY ternyata memilih bertindak lain.

Apakah ini indikasi bahwa SBY telah menjadi Presiden yang makin percaya diri, bukan “jenderal peragu” lagi. Artinya, SBY berani mengambil langkah-langkah yang ia anggap benar (meskipun tidak populer di mata rakyat)?

Atau sebaliknya, langkah SBY ini justru menunjukkan ketidaktegasan dan keraguannya dalam kampanye pemberantasan korupsi? Artinya, SBY merasa ragu untuk berkonfrontasi dengan “pihak-pihak tertentu,” yang merasa kepentingannya terganggu oleh keberadaan lembaga KPK yang kuat? Silahkan jawab sendiri.

Jakarta, 24 September 2009

Satrio Arismunandar

Wednesday, September 23, 2009

Essay - PRESIDEN SBY DAN POLRI BISA MANFAATKAN NOORDIN M TOP SEBAGAI PENGALIH ISU PEMBERITAAN MEDIA

Penggerebekan persembunyian sejumlah tersangka teroris di Solo, mewarnai pemberitaan media hari Kamis (17 September 2009) ini. Aksi polisi itu diyakini telah menewaskan “gembong teroris” Noordin M. Top. Noordin selama ini dikabarkan selalu lolos dari incaran dan kepungan polisi. Ini memang berita besar, meski informasi yang bisa diakses publik sejauh ini hanya berasal dari satu versi. Yaitu, versi resmi polisi, sebagai satu-satunya sumber yang tersedia.

Tewasnya Noordin bisa dibilang suatu “berkah,” "kebetulan" dan "nasib baik," yang sangat menguntungkan Presiden dan Polri, persis ketika dua lembaga ini tengah disorot keras oleh masyarakat, LSM, dan media, dalam kasus “skandal bail-out Bank Century” dan "pengkerdilan wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)." Entah kenapa, momen timing-nya begitu tepat, persis ketika Presiden dan Polri sangat membutuhkannya.

Posisi panas SBY dan Polri

Beberapa minggu terakhir, situasi yang dialami Presiden SBY dan Polri memang seolah-olah seperti berada di wajan penggorengan yang panas. Kasus Bank Century telah menggoyang posisi Presiden SBY, Wapres terpilih Boediono, dan Menkeu Sri Mulyani. Ini isu panas, karena ada dugaan --yang segera dibantah oleh petinggi Partai Demokrat-- bahwa Bank Century sebenarnya di bail-out sampai Rp 6,7 trilyun, semata demi untuk menyelamatkan uang deposan kakap, yang menjadi penyumbang dana Partai Demokrat.

Jadi, penyelamatan Bank Century, yang dirampok oleh pemiliknya sendiri itu, ditengarai tidak sepenuhnya murni atas pertimbangan risiko sistemik terhadap perbankan nasional. Tetapi ada motif kepentingan politik, yang sialnya justru dilakukan dengan menggunakan uang rakyat. Boediono, yang waktu itu menjabat Gubenur BI, dituding ikut berperan dengan mengubah dan memudahkan ketentuan persyaratan, untuk memungkinkan penggelontoran dana ke Century. Polisi sendiri dituding terlibat, karena ada perwira tingginya yang membantu pencairan uang milik salah satu nasabah kakap.

Isu penting lain, yang juga tak boleh dilupakan, adalah nasib KPK yang kini di ujung tanduk, dengan tiga pimpinannya (Antasari Azhar, Chandra M. Hamzah, Bibit Samad Rianto) jadi tersangka, meski untuk kasus yang berbeda-beda. Di luar kasus Antasari yang dituduh terlibat pembunuhan, ada dugaan kuat bahwa penetapan status tersangka terhadap Chandra dan Bibit ini adalah bagian dari skenario besar untuk mempreteli kekuatan KPK. KPK dianggap sudah jadi superbody dan tindakannya membahayakan kepentingan sejumlah pihak.

Perkembangan di DPR juga tampak mengarah ke upaya menghambat atau melemahkan upaya pemberantasan korupsi. Buktinya, saat membahas RUU Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), pemerintah dan semua fraksi besar di DPR kompak melucuti kewenangan KPK, terutama soal kewenangan KPK melakukan penuntutan dan penyadapan.

Menimbulkan tanda tanya

Tindakan polisi yang menimbulkan tanda tanya adalah menjadikan dua Wakil Ketua KPK, Chandra dan Bibit, sebagai tersangka penyalahgunaan wewenang. Hal ini karena petinggi KPK tersebut mengeluarkan surat cegah-tangkal terhadap buron kasus korupsi, yakni bos PT. Era Giat Prima, Joko Sugiarto Tjandra, dan bos PT. Masaro, Anggoro Widjojo. Letak lucunya, di sini seolah-olah polisi justru mewakili kepentingan buron korupsi.

Sikap polisi terhadap KPK dianggap mewakili sikap pemerintah (Presiden SBY), meski resminya SBY selalu bilang tidak ingin ikut campur dalam kasus hukum. Tapi dengan mendiamkan saja kewenangan KPK dipreteli, itu bisa juga dipandang sebagai suatu sikap tersendiri dari Presiden. Atas tindakan ini, Koalisi Masyarakat Antikorupsi pada Rabu (16 September 2009) telah melaporkannya ke kantor PBB di Jakarta (United Nations Office of Drugs and Crime).

Dua kasus ini telah mengangkat dan menggugat kembali keseriusan dan komitmen pemerintah Presiden SBY serta Polri dalam pemberantasan korupsi. Bagaimana nasib pemberantasan korupsi di Indonesia jika KPK hancur? Sedangkan kinerja Polisi dan Kejaksaan di bidang pemberantasan korupsi itu justru dianggap masyarakat masih jadi persoalan.

Noordin M Top sebagai pengalih isu

Lantas, bagaimana hubungannya dengan Noordin M. Top?

Nah, terbunuhnya sejumlah tersangka teroris dalam penggerebekan, termasuk "Noordin M. Top," seolah menjadi angin segar, untuk mengurangi tekanan pemberitaan terhadap Presiden dan Polri dalam kasus Bank Century dan KPK. Karena sorotan yang terlalu keras, SBY dan Polri memang sangat membutuhkan pengalih perhatian di panggung pemberitaan nasional.

Dalam tulisan ini, saya tidak mengatakan bahwa SBY dan Polisi merekayasa peristiwa penggerebekan Solo. Tudingan semacam itu, sejak awal saya tahu, akan sangat sulit saya buktikan, kecuali sekedar dugaan/spekulasi. Tetapi, yang lebih masuk akal adalah, SBY dan Polisi bisa memanfaatkan real event penggerebekan Solo itu, untuk lebih dari sekedar mengangkat isu terorisme. Karena memang ada kebutuhan nyata untuk mengurangi pressure dari sorotan media, terkait kasus Bank Century dan pengamputasian wewenang KPK.

Di sini letak krusialnya. Jika kalangan media tidak waspada, kasus terorisme ini bisa diarahkan oleh penguasa, untuk menggalang opini dan mengalihkan isu pemberitaan. Taktik-taktik semacam ini bukan hal baru, karena juga sudah dilakukan oleh penguasa di zaman Orde Baru.

Dalam situasi sekarang, seandainya SBY dan Polisi berniat mengalihkan perhatian media dari kasus Bank Century dan KPK, mereka memang butuh "umpan kelas kakap" atau bahkan “kelas paus." Tidak cukup dengan sekadar umpan “kelas teri.” Seorang tersangka teroris tak terkenal semacam Ibrohim dan yang lain tidak cukup untuk mengalihkan perhatian.

Maka, dalam konteks semacam ini, "tewasnya Noordin M. Top" memang harus dihadirkan di panggung pemberitaan nasional. Bahkan harus digembar-gemborkan dan dibesar-besarkan terus. Mengapa? Persoalannya, polisi bukan sekadar butuh kompensasi dari “kekeliruan” penggerebekan Temanggung, yang --sesudah diidentifikasi-- ternyata yang tewas diberondong Densus 88 bukan Noordin.

Tetapi, yang lebih penting sekarang, karena hanya lewat tersangka teroris sekaliber Noordin M. Top- lah, yang dianggap mampu mengalihkan pemberitaan media serta sorotan masyarakat, dari “skandal Bank Century” dan “pengamputasian KPK.”

Dalam konferensi pers tentang penggerebekan Solo, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri menggarisbawahi bahwa berdasarkan “dokumen-dokumen teroris yang ditemukan,” para teroris itu adalah bukan orang sembarangan. Kapolri mengritik media, yang menyebut Ibrohim –tersangka pengebom Hotel Marriott yang sudah tewas—hanya sebagai “tukang bunga” atau “tukang kebun.”

Suara tepuk tangan gemuruh dari insan media, ketika Kapolri mengumumkan terbunuhnya Noordin yang dikonfirmasi lewat titik-titik sidik jarinya, mengisyaratkan, sejumlah wartawan tampaknya juga sudah mulai "syuurrr" dan “asyik” dengan isu baru yang dilontarkan polisi ini.

Saya hanya bisa berharap, semoga para jurnalis Indonesia bisa menjaga skeptisisme dan sikap kritisnya, serta tidak hanyut dalam arus pemberitaan dan wacana, yang sangat mungkin sengaja dikembangkan untuk pengalihan isu.

Kasus terorisme itu penting. Tetapi kasus Bank Century dan KPK tidak kalah penting. Cara penanganan kasus Bank Century dan KPK, jika dilepaskan tanpa kontrol memadai dari media, bisa menjadi preseden buruk, yang mempengaruhi nasib rakyat untuk jangka yang sangat panjang!

Jakarta, 18 September 2009

PERBEDAAN TERORIS DAN KORUPTOR DI INDONESIA

Oleh Satrio Arismunandar

Perbedaan teroris dan koruptor:

Teroris:

1. Diberitakan di media dan kejahatannya selalu diingat orang.
2. Sekolah tempat ia pernah menuntut ilmu sering dikait-kaitkan dengan kejahatannya. Maka banyak yang bicara perlunya perubahan kurikulum pesantren untuk meredam potensi teror.
3. Banyak orang takut dan menghindar jika disebut-sebut dekat dengan teroris besar.
4. Jika seorang teroris ditahan dan ditangkap tanpa prosedur hukum yang layak, atau dengan cara-cara yang melanggar HAM, dianggap wajar saja. Tidak ada yang mau repot-repot mempertanyakan, apalagi membela.
5. Jika teroris ditahan, pasti dengan tingkat keamanan maksimum. Sulit ditemui keluarga atau pengacara. Tidak bisa menelepon. Ruang tahanan tidak ada nyaman-nyamannya.
6. Teroris sering disebut pergaulannya terbatas, hanya di lingkungan pendukungnya saja. Tidak bergaul dengan tetangga kiri-kanan.
7. Jika sempat diadili, teroris tak pernah lolos dari hukuman. Bahkan bisa dihukum mati.
8. Seorang teroris, sesudah menjalani hukuman penjara, tak tahu mesti kerja apa. Sulit cari kantor yang mau mempekerjakan mantan teroris.
9. Sekali seseorang dicap teroris, ia kehilangan statusnya sebagai orang terhormat. Bahkan jika sudah mati pun, warga sekitar tempat ia berdomisili menolak ia dikuburkan di pemakaman setempat.
10. Dianggap menganut ideologi radikal dan ekstrem.
11. Jika berjenggot, bersurban atau berjubah, dianggap memang persis menunjukkan ciri-ciri teroris asal Timur Tengah.
12. Penampilan teroris tidak menimbulkan simpati, apalagi kekaguman. Busana pakaiannya terkesan murahan, bahannya berkualitas biasa, mungkin cuma buatan lokal.
13. Teroris tidak memberi sumbangan apa-apa pada masyarakat.
14. Tindakan teroris sudah pasti 100% melanggar hukum dan undang-undang. Tidak ada tawar-menawar, apalagi kompromi buat teroris.
15. Lembaga yang dianggap cukup sukses melawan teroris, Densus 88, mendapat suplai dana besar dan di-support habis.

Koruptor:

1. Sempat diberitakan di media, tetapi kejahatannya biasanya cepat dilupakan orang.
2. Sekolah tempat ia pernah menuntut ilmu tidak pernah dikait-kaitkan dengan kejahatannya.
3. Tidak ada yang repot-repot mengubah kurikulum universitas untuk meredam korupsi.
4. Banyak orang senang, bangga, dan bahkan ingin dekat dengan koruptor besar.
5. Jika koruptor besar, jangankan ditahan, tetapi hanya dicekal, puluhan lawyer siap membela, bahkan polisi pun siap mempersoalkan pencekalan yang dianggap “tidak sesuai prosedur.”
6. Jika koruptor ditahan, bisa ketemu atau menelepon siapa saja. Ruang tahanan sangat nyaman, karena lengkap fasilitasnya (ruang ber-AC dan ada kulkasnya).
7. Koruptor lingkup pergaulannya sangat luas, bahkan punya hubungan sangat baik dengan pejabat pemerintah, anggota DPR, jaksa, aparat keamanan, pengusaha, dan sebagainya.
8. Jika sempat diadili, koruptor lebih sering lolos dari hukuman. Kalau dihukum, juga sangat ringan. Belum pernah ada sejarahnya, koruptor di Indonesia dihukum mati
9. Seorang koruptor, sesudah menjalani hukuman penjara, tidak perlu kerja apa-apa. Karena hasil korupsinya masih aman dan cukup untuk dinikmati tujuh turunan.
10. Seorang koruptor tetap punya status terhormat. Di mana-mana, ia tetap diperlakukan dengan ramah dan hormat, diundang ke pesta perkawinan, diminta jadi pembicara di seminar, bahkan boleh berkhotbah soal moral. Kalau meninggal, bebas dimakamkan di mana saja.
11. Dianggap menganut ideologi pragmatis, moderat, lunak, bahkan mungkin tak punya ideologi sama sekali.
12. Jika berjenggot, bersurban atau berjubah, dianggap milyuner nyentrik (orang kaya raya ‘kan biasa berperilaku aneh-aneh!).
13. Penampilan koruptor sangat rapi dan menimbulkan decak kagum. Busana pakaiannya berkualitas nomor satu, desainnya terkini, bisa buatan Italia atau Perancis.
14. Koruptor sering dipandang dermawan, suka menyumbang uang ke berbagai kalangan, bahkan untuk kegiatan amal.
15. Koruptor sering kali dibebaskan dari tuntutan, karena semua perbuatannya dianggap sah dan sudah sesuai prosedur hukum dan undang-undang yang berlaku. Selalu terbuka ruang buat kompromi dan tawar-menawar.
17. Lembaga yang dianggap cukup sukses melawan korupsi, KPK, dipreteli wewenangnya dan dua komisionernya dijadikan tersangka kasus pidana, dengan tuduhan sumir. ***
Jakarta, 23 September 2009

Thursday, September 17, 2009

MENANTIKAN MALAM LAILATUL QODAR

Keutamaan Lailatul Qadar

Pertama, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1). Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya (yang artinya), “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5). Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga. Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar. (Zaadul Maysir, 6/179)

Kedua, lailatul qadar lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” Mujahid dan Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar.

Ketiga, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi?

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Lalu kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (Fathul Baari, 6/306, Mawqi’ Al Islam Asy Syamilah). Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)

Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.

Do’a di Malam Lailatul Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata, ”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun …” tidak terdapat satu dalam manuskrip pun. Lihat Tarooju’at no. 25)

Tanda Malam Lailatul Qadar

Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh/terpercaya)

Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim no. 1174)

Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari lailatul qadar, maka dia telah terluput dari seluruh kebaikan. Sungguh merugi seseorang yang luput dari malam tersebut. Seharusnya setiap muslim mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah. Seharusnya dia dapat mencontoh Nabinya yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketika itu, menjauhi istri-istrinya dari berjima’ dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksana kan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan bukan seluruh malam. Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/313, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Bagaimana Wanita Haidh Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian lailatul qadar. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah: (1) Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf, (2) Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya, (3) Memperbanyak istighfar, dan (4) Memperbanyak do’a. (Lihat pembahasan di “Al Islam Su-al wa Jawab” pada link http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753)

Beri’tikaf Demi Menanti Lailatul Qadar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Inilah penuturan ‘Aisyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim 1172)

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika ingin beri’tikaf.

Pertama, i’tikaf harus dilakukan di masjid dan boleh di masjid mana saja. I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.

Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”. Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, ”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid yaitu masjidil harom, masjid nabawi dan masjidil aqsho”. Perlu diketahui, hadits ini masih dipersilisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat).

Kedua, wanita juga boleh beri’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: (1) Diizinkan oleh suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki).

Ketiga, yang membatalkan i’tikaf adalah: (1) Keluar masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), (2) Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187 di atas.

Keempat, hal-hal yang dibolehkan ketika beri’tikaf di antaranya: (1) Keluar masjid disebabkan ada hajat seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid, (2) Melakukan hal-hal mubah seperti bercakap-cakap dengan orang lain, (3) Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya, (4) Mandi dan berwudhu di masjid, dan (5) Membawa kasur untuk tidur di masjid.

Kelima, jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 (sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan.

Keenam, hendaknya ketika beri’tikaf, sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. (pembahasan i’tikaf ini disarikan dari Shahih Fiqih Sunnah, 2/150-158)

Semoga Allah memudahkan kita menghidupkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan dengan amalan ketaatan. Hanya Allah-lah yang memberi taufik.

Thursday, September 10, 2009

Cerpen - PURI NIRWANA

Oleh Satrio Arismunandar

Hujan rintik-rintik mulai turun. Tipis seperti kabut dan ritmis seperti kelebatan selendang penari. Angin terasa berdesau lebih keras sekarang. Kulihat langit semakin kelam. Ini memang sudah malam, tetapi bahkan malam pun seharusnya mengenal langit cerah. Kali ini, tidak. Tak satu pun bintang yang tampak. Bulan pun tertutup awan pekat.

Langkahku pun mulai terasa berat karena kelelahan. Gerobak bakso yang kudorong bergerak lamban dan terseok-seok, menelusuri pinggiran jalan aspal yang sepi. Aku tak begitu mengenal daerah ini. Rasanya aku agak menjauh dari jalan umum. Aku ingin beristirahat sejenak, namun tak tahu harus berhenti di mana. Tak terlihat halte, warung, atau bangunan lain yang bisa kujadikan tempat mengaso sejenak.

Hari ini baru sedikit daganganku yang terjual. Padahal dua hari lagi aku harus melunasi uang masuk sekolah dasar --sebesar satu juta rupiah-- untuk anakku, Fawwaz. Entah, dari mana aku bisa memperoleh tambahan penghasilan dalam dua hari mendatang. Tanpa uang sejumlah itu, Fawwaz, anak tunggalku, tak akan bersekolah.

Dengan menahan malu, aku tadi pagi sudah meminta istriku untuk mengusahakan pinjaman dari kakaknya, yang relatif agak berkecukupan. Tapi tak ada jaminan permintaan itu akan dikabulkan. Bantuan dari saudara-saudara dan keluargaku sendiri juga tak bisa diharapkan.

Saat itu aku teringat ucapan Mang Karta, pemilik usaha bakso tempat aku bekerja sekarang. ”Pak Hari, kerja apa saja bagus, yang penting halal. Tak usah malu. Memang, kita harus sabar dalam kondisi keterbatasan. Saya dulu juga pernah mengalami jatuh-bangun, sebelum mencoba mandiri dengan berjualan bakso,” ujarnya.

Mang Karta mengucapkan hal itu ketika aku, yang lulusan akademi grafika, terpaksa harus melamar pekerjaan kepadanya sebagai tukang bakso. Aku tak punya pilihan setelah perusahaan percetakan tempatku bekerja bangkrut, dan aku sudah berbulan-bulan menganggur. Aku juga sudah melamar kerja ke beberapa kantor pemerintah dan swasta, namun sejauh ini tak ada hasil. Ini memang zaman krisis ekonomi. Zaman susah.

***
Suara musik sayup-sayup dan suara gelak tertawa menyadarkanku dari lamunan. Sekitar seratus meter di depanku, kulihat berkas cahaya dari sebuah rumah yang berdiri memencil dari rumah-rumah lain. Di sekitar rumah yang besar itu hanya tampak taman, padang ilalang dan tanah kosong. Mungkin pemiliknya seorang yang menikmati kesendirian dan tidak begitu suka tinggal di tengah keramaian.

Semakin aku mendekati rumah itu, suara musik dan nyanyian terdengar semakin keras. Cahaya lampu yang terang benderang memancar dari rumah itu dan menyinari lingkungan sekitar. Aku melihat banyak mobil diparkir di depan rumah itu. Rupanya sedang ada pesta atau resepsi perkawinan yang meriah di sana, jika melihat jumlah tamunya yang banyak. Kalau melihat jenis mobil-mobil mewah yang diparkir, para tamu ini jelas bukan dari kalangan bawah. Jika tamu-tamunya saja termasuk orang terpandang, sang tuan rumah sendiri tentunya juga bukan orang sembarangan.

Semula aku agak gembira, karena kubayangkan banyak sopir yang –sambil menunggu majikan mereka—akan berminat membeli bakso daganganku. Namun, kemudian kegembiraanku sirna karena kupikir para sopir tersebut tentunya juga akan kebagian hidangan dalam pesta semeriah ini.

Akhirnya aku pun sampai di depan rumah tersebut. Harus kuakui, rumah ini sebenarnya lebih tepat disebut istana daripada rumah biasa. Bangunannya luas, tinggi dan megah, serta terbuat dari bahan berkualitas terbaik. Pagarnya saja dari tembok tinggi dan kokoh. Pintu gerbangnya juga gagah, mentereng, berukir indah, dan tampaknya terbuat dari besi yang dipesan secara khusus. Pada pintu gerbang itu terdapat tulisan ”Puri Nirwana.” Dari bentuk bangunan dan pilihan nama tadi, kuduga pemilik rumah ini juga punya selera artistik yang tinggi.

Sejumlah petugas satpam dan penerima tamu yang berdiri di depan gerbang itu melihatku. Beberapa dari mereka menghampiriku. Aku tahu diri. Kupikir, mereka pasti akan segera menyuruhku pergi karena kehadiranku di situ dianggap mengganggu tamu-tamu yang akan datang.

Namun, dugaanku meleset. Mereka tidak mengusirku, tetapi malah mempersilahkanku masuk ke dalam. ”Silahkan masuk, pak! Jangan berdiri saja di situ,” ujar salah seorang yang berseragam khusus, yang tampaknya bertugas sebagai penyambut tamu.

”Lho, saya ini bukan tamu dan bukan undangan. Saya cuma berjualan bakso dan kebetulan lewat di depan rumah ini,” sahutku, terkejut oleh sambutan tiba-tiba itu.
”Oh, kami tidak keliru. Kami menjalankan instruksi dari Pak Subuh, pemilik rumah ini, bahwa siapa saja yang datang ke mari malam ini harus diperlakukan sebagai tamu terhormat. Siapapun orangnya. Bapak pun tidak terkecuali,” tegas mereka.

Wah, pemilik rumah ini rupanya adalah seorang kaya yang eksentrik. Aku seharusnya tak perlu heran karena memang banyak jutawan yang berperilaku nyentrik. Pernah kubaca, misalnya, ada pengusaha kaya yang suka memakai celana pendek butut ke mana-mana, bahkan ke acara-acara yang bersifat resmi. Padahal, kalau mau, ia mampu membeli seribu celana bermerek terkenal, yang jauh lebih layak dipakai.

Ada juga seorang direktur bank, bergaji hampir seratus juta rupiah per bulan, yang selalu bepergian dengan mobil tua. Jika naik kereta api atau pesawat terbang pun, ia selalu memilih kelas ekonomi. Padahal staf dan anak-anak buahnya duduk di kelas bisnis. Mungkin Pak Subuh adalah salah satu orang kaya nyentrik seperti itu.

***
Seorang tukang bakso rendahan seperti aku dipaksa menghadiri pesta yang serba mewah. Wow, yang benar saja! Tapi nyatanya, aku sudah ”digiring” masuk ke ruangan dalam. Gerobak baksoku tentu harus kutinggal di luar. ”Jangan khawatir! Kami akan menjaga barang milik Anda,” kata seorang petugas satpam, mengetahui apa yang kupikirkan.

Seperti sudah kubayangkan, ruangan dalam di rumah ini serba gemerlap. Di beberapa pojok, terpajang perhiasan dari kristal yang berkilau. Pasti mahal harganya. Ada beberapa meja untuk para tamu, yang tersebar di seluruh ruangan. Tamu-tamu, lelaki dan perempuan, duduk bercengkerama mengelilingi meja-meja yang penuh hidangan itu. Sejumlah pelayan hilir-mudik melayani tamu. Mereka membawa minuman dan berbagai macam makanan.

Di salah satu sudut ruangan ada panggung yang tak terlalu tinggi. Sejumlah pemain musik dan penyanyi tampil di sana. Bukan cuma suasananya yang meriah. Ruangan ini pun berbau harum menyegarkan, seolah-olah pesta ini diadakan di tengah taman yang penuh mawar, melati, dan bunga-bunga lain yang semerbak wanginya.

Saat aku sedang asyik mengamati suasana, seorang laki-laki berusia sekitar 65 tahun menyambutku. Rambutnya sudah memutih, tetapi wajahnya terlihat segar dan bersemangat. Mulutnya menyunggingkan senyum ramah dan sinar matanya terkesan bersahabat. Tanpa basa-basi, ia langsung menjabat tanganku erat-erat.

“Selamat datang di pesta kami! Nama saya Subuh, pemilik rumah ini. Saya tahu, Anda baru saja tiba dan masih merasa lelah. Jangan sungkan-sungkan di sini. Silahkan beristirahat sambil mendengarkan musik dan menikmati hidangan yang tersedia,” ucapnya.

“Maaf, Pak Subuh. Nama saya Hari. Saya sebenarnya hanya kebetulan lewat di depan rumah Anda, tetapi karyawan Anda mendesak saya masuk dan hadir di sini. Sejujurnya, saya tak mau merepotkan dan tak ingin mengganggu pesta Anda,” sahutku.

”Oh, sama sekali tidak merepotkan, dan juga tidak mengganggu. Saya malah senang jika kedatangan banyak tamu. Banyak tamu artinya banyak membawa berkah dan rezeki.”
”Syukurlah kalau Bapak beranggapan begitu. Kalau saya boleh tahu, ini pesta untuk perayaan apa, Pak?”

”Bukan untuk apa-apa, tetapi sekadar untuk mengucapkan rasa syukur pada Allah karena pada usia setua ini saya oleh Allah masih dianugerahi kesehatan yang baik, rezeki yang lancar, dan seorang putri yang solehah dan berbakti. Maka saya mengundang banyak teman dekat, serta siapa saja yang kebetulan lewat, untuk ikut berbagi rasa syukur tersebut.”

”Wah, saya amat jarang bertemu orang seperti Bapak. Mohon maaf kalau saya katakan, kekayaan dan kemakmuran biasanya justru membuat orang jadi lupa diri.”
”Ah, saya ini orang biasa saja seperti Anda,” sahut Pak Subuh, merendah. ”Tetapi saya sadar, usia saya sudah semakin tua. Orang bilang, sudah semakin dekat ke liang kubur. Karena itu, saya harus semakin banyak mengingat Tuhan, semakin banyak ingat akhirat dan semakin banyak beramal.”

”Omong-omong, saya kok tidak melihat istri dan anak Pak Subuh.”
”Oh, istri saya sudah meninggal tujuh tahun yang lalu karena sakit. Sedangkan anak tunggal saya, Syarifa, saat ini tinggal dan indekos di luar kota. Ia sedang melanjutkan kuliah ekonomi di sebuah universitas di sana, jadi tak bisa hadir di pesta. Saya di rumah ini jadi tinggal sendiri, hanya ditemani beberapa pembantu dan satpam.”

”Maafkan saya kalau terlalu ingin tahu, Pak.”
”Jangan khawatir. Anda tidak bersalah apa-apa kok,” Pak Subuh meredakan kegelisahanku. ”Sekarang giliran saya yang bertanya. Pak Hari bekerja di mana, ya?”

Entah karena terlalu lelah, atau mungkin karena sekadar ingin melepaskan beban pikiran, aku akhirnya bercerita apa adanya kepada Pak Subuh. Khususnya tentang pekerjaanku dan masalah yang sedang kuhadapi. Sikapnya yang ramah, akrab dan penuh pengertian membuat aku tidak merasa sungkan lagi. Kukatakan terus terang bahwa aku sedang butuh uang, untuk membayar biaya masuk sekolah bagi anakku, Fawwaz.

”Wah, kalau cuma itu masalahnya, saya rasa, saya bisa membantu. Berapa uang yang Pak Hari butuhkan untuk membayar biaya masuk sekolah Fawwaz itu?”
”Satu juta rupiah, Pak,” sahutku.

”Kalau begitu, terimalah uang ini, Pak,” ujar Pak Subuh, sambil menggenggamkan sepuluh lembaran uang seratus ribuan ke tanganku. ”Jumlahnya pas satu juta. Cukup untuk kebutuhan anak Pak Hari. Ini bukan utang, tetapi anggap saja pemberian dari saya. Jadi, Pak Hari tidak perlu mengembalikannya.”

Dengan terkejut, aku berusaha menolak pemberian itu. Aku benar-benar tak menyangka, laki-laki tua ini begitu murah hati. Ia mau memberikan uang sejuta rupiah begitu saja kepadaku, orang yang baru dikenalnya. Tanpa banyak tanya, ia percaya saja terhadap semua ceritaku. Orang kaya ini benar-benar dermawan dan polos.

Keseriusan Pak Subuh membuatku sulit berbasa-basi lagi. Akhirnya, karena aku memang betul-betul butuh, kumasukkan uang itu ke dompetku. ”Saya tak tahu bagaimana dapat membalas budi Bapak. Suatu saat, kalau saya sudah mampu, Insya Allah akan saya kembalikan uang ini,” kataku.

”Oh, itu sama sekali tidak perlu. Jika Pak Hari suatu saat sudah punya uang dan masih ingin mengembalikan uang ini, berikan saja uang itu kepada orang lain yang betul-betul membutuhkan. Misalnya, ke anak yatim piatu, korban bencana, atau orang kesusahan lainnya. Jadi rezeki itu berputar dan terdistribusi makin luas,” lanjut Pak Subuh.

”Maaf, saya tak bisa terus menemani Anda karena masih banyak tamu lain yang harus saya sambut. Silahkan menikmati hidangannya. Ayo, jangan sungkan-sungkan!” Pak Subuh memberi isyarat dengan tangannya ke arah berbagai hidangan mewah yang sudah tersedia di meja. Piring, sendok dan peralatan makan lainnya juga sudah ditata rapi di meja di depanku.

Aku merasa tidaklah sopan jika menolak keramahtamahan Pak Subuh ini. Kebetulan, perutku juga merasa amat lapar. Maka, tanpa ragu-ragu lagi, aku pun menyantap berbagai hidangan itu sesukanya. Hidangan yang disajikan di pesta ini, harus kuakui, memang bervariasi dan berkualitas kelas satu. Rasanya lezat dan jumlahnya berlimpah-limpah. Setiap ada pinggan yang kosong, langsung dipenuhi lagi oleh para pelayan dengan makanan, seolah-olah masih ada satu truk cadangan makanan di dapur.

Perut kenyang, suara musik yang mendayu-dayu, dan kelelahan fisik, membuat aku mengantuk. Sehabis makan, aku menggeser kursiku ke dinding dan menyandarkan kepalaku ke tembok. Tanpa sadar, aku jatuh tertidur. Tidur yang sangat lelap dan dalam. Rasanya lama sekali.

***
Akhirnya aku terbangun karena tubuhku terasa sangat gerah dan berkeringat. Pelan-pelan kubuka mataku. Sinar matahari pagi memancar, menghangatkan tubuhku yang tergolek di tanah. Pakaianku kotor dan lusuh karena rupanya semalaman aku berbaring di tanah, yang penuh debu dan puing kehitaman.

Sesudah benar-benar terjaga, aku kaget karena ternyata aku berada di tengah reruntuhan bangunan, yang hangus dan remuk redam seperti bekas terbakar hebat. Tidak ada rumah mewah seperti yang kulihat semalam. Tidak ada pagar, gerbang, panggung, mobil, satpam, pelayan, tamu, dan lain-lain.

Tidak ada seorang pun di sini kecuali aku sendiri. Apakah aku semalam ketiduran dan bermimpi di sini? Aneh! Jika semua yang kualami itu cuma mimpi, rasanya begitu nyata, seperti kejadian sebenarnya.

Aku pun bangkit. Gerobak baksoku masih teronggok di pinggir jalan, seperti semalam. Gerobak itu terlihat sangat kotor akibat lumpur dan terpaan hujan. Aku harus pulang. Pasti istriku sudah cemas menanti. Aku pun segera mendorong gerobak baksoku, meninggalkan reruntuhan bangunan yang hangus tersebut.

Baru sekitar dua ratus meter meninggalkan tempat itu, tak sengaja tanganku menyentuh saku celana. Ingat sesuatu, kukeluarkan dompetku. Jantungku berdebar keras ketika dalam dompet itu kutemukan uang satu juta rupiah. Uang yang diberikan Pak Subuh semalam! Jadi, kejadian semalam itu bukan mimpi biasa. Aku bergidik.

Tak jauh dari situ, akhirnya kutemukan perumahan penduduk. Sesudah bertanya ke warga di sana, aku diberitahu bahwa di tempat aku tertidur semalam memang pernah ada bangunan bernama Puri Nirwana, yang dimiliki Pak Subuh. Pak Subuh adalah hartawan yang amat dihormati warga sekitar karena kebaikan hati dan kedermawanannya.

Namun, suatu malam, sekitar tiga tahun yang lalu, terjadi musibah kebakaran hebat yang menghancurleburkan rumah itu. Penyebab kebakaran itu tak pernah diketahui pasti. Pak Subuh bersama beberapa pembantunya tewas dalam kebakaran itu. Namun, putrinya, Syarifa, selamat karena saat itu sedang kuliah di kota lain. Dari warga sekitar situ pula, aku mendapatkan alamat Syarifa dan berhasil menemuinya.

Syarifa ternyata tinggal tak jauh dari bekas rumah ayahnya. Ia sekarang sudah menikah, punya satu anak, dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Ketika bertemu dengan Syarifa di rumahnya, dari tampilannya kulihat ia adalah seorang perempuan terhormat. Wajahya teduh dan bersinar, mirip ayahnya. Syarifa mengaku, ia tidak membangun kembali Puri Nirwana yang lebur terbakar itu karena masih merasa trauma dengan musibah yang menewaskan ayahnya.

Kepada Syarifa kuceritakan semua kejadian misterius yang kualami di reruntuhan Puri Nirwana. Ia mendengarkan dengan tenang, seolah-olah kisah itu bukan hal baru baginya. Kemudian ia berkata, ”Pak Hari, Anda adalah orang ketiga yang pernah mengalami hal semacam itu. Sebelum ini, sudah ada dua orang yang menemui saya karena mengalami hal yang hampir serupa.”

”Apapun yang terjadi, meski di luar jangkauan akal yang bisa saya pahami, ayah Anda telah membantu saya dan saya merasa berutang budi pada almarhum. Tolong ceritakan, seperti apakah beliau itu, jika saya boleh tahu?” tanyaku.

”Ayah saya memang seorang yang sangat dermawan dan senang beramal. Ia suka menyantuni anak yatim piatu. Ada tiga puluh orang yang dijadikan anak asuhnya. Ayah membantu membiayai sekolah mereka, bahkan memberikan asuransi pendidikan AJB Bumiputera 1912 untuk menjamin kelangsungan pendidikan mereka,” tutur Syarifa.

”Ayah sangat cermat dalam menggunakan uang, tetapi tidak pelit. Ia mengikuti banyak program asuransi, mulai dari asuransi kecelakaan, asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, asuransi jiwa, dan hampir semuanya menggunakan layanan AJB Bumiputera 1912, yang sangat ia percayai. Sepeninggal beliau, saya bisa menyelesaikan kuliah dan tidak terganggu secara finansial juga berkat jasa asuransi yang disediakan ayah tersebut,” lanjutnya.

”Kebaikan itu ternyata abadi. Tak dinyana, meski sudah lama meninggal dunia, ternyata ayah –dengan cara yang tak bisa saya pahami—masih melakukan kebaikan-kebaikan juga. Ini mungkin anugerah dari Allah atas amal ibadah dan kebajikan yang telah dilakukannya kepada orang lain semasa hidupnya,” ujar Syarifa.

Aku tak bertamu berlama-lama. Sesaat kemudian, aku pamit pada Syarifa. Langit senja berpendar dengan warna kemerah-merahan, ketika aku meninggalkan rumah Syarifa.
Bertahun-tahun kemudian, kesejahteraan hidupku pun membaik. Kejadian misterius di reruntuhan Puri Nirwana telah membawa hikmah bagiku. Aku telah belajar dari almarhum Pak Subuh tentang cara hidup cermat dan penuh berkah. Rezeki kita tidak akan berkurang, tetapi justru akan melimpah karena banyak beramal dan memberi pada sesama. Percayalah! ***

Depok, Juni 2009

Thursday, September 3, 2009

MEDIA TV DAN DAMPAKNYA, SEBUAH PENDEKATAN TEORITIS KE ARAH MELEK MEDIA

Oleh Satrio Arismunandar

Secara umum, setidaknya ada empat fungsi media: Memberi informasi; Mendidik; Menghibur; dan Kritik Sosial

Konsep Inti Melek Media

Ada lima konsep inti dalam melek media (Thoman & Jolls, 2005) :
1. Semua pesan media dikonstruksi
2. Pesan-pesan media dikonstruksi menggunakan bahasa kreatif dengan aturan-aturannya sendiri
3. Orang yang berbeda mengalami pesan media yang sama secara berbeda
4. Media memiliki nilai-nilai dan sudut pandang yang melekat padanya
Sebagian besar pesan media dikonstruksi untuk memperoleh profit dan/atau kekuasaan

Semua pesan media dikonstruksi
Tayangan yang muncul di layar TV sudah melalui proses panjang, yang melibatkan aktor-aktor seperti: reporter, kamerawan, produser, presenter, editor, dsb. Hasil akhir yang dilihat penonton bukanlah sesuatu yang obyektif ataupun alamiah (apa adanya).

Pesan-pesan media dikonstruksi menggunakan bahasa kreatif dengan aturan-aturannya sendiri
Semua tayangan TV memiliki bahasanya sendiri, yang dapat dipahami dengan menganalisis secara seksama terhadap suara dan gambar, yang digunakan untuk menyampaikan pesan.

Orang yang berbeda mengalami pesan media yang sama secara berbeda
Setiap penonton memiliki latar belakang pendidikan, usia, pekerjaan, ras, agama, suku, jenis kelamin, dan lain-lainnya yang berbeda. Mereka juga punya pengalaman hidup yang berbeda. Maka mereka menafsirkan tayangan TV dengan cara yang berbeda, meskipun mungkin tayangan itu persis sama.

Media memiliki nilai-nilai dan sudut pandang yang melekat padanya
Teks atau tayangan media tidaklah obyektif. Tayangan tersebut mengandung nilai-nilai tertentu, dan dengan tayangan itu ia memberitahu kita para penonton tentang siapa atau isu apa yang penting. Sebaliknya, dengan tidak menayangkan orang atau isu lain tertentu, media TV menyatakan bahwa orang atau isu lain tersebut tidak penting.

Sebagian besar pesan media dikonstruksi untuk memperoleh profit dan/atau kekuasaan
Sebagian besar pesan media TV dibuat untuk memperoleh audience (penonton) tertentu, sehingga para pengiklan dapat memasarkan produk-produknya. Kita perlu memahami adanya motivasi uang/finansial di balik tayangan media TV.

Konsep tentang Audiens Media

Audiens media secara sederhana dan universal diartikan sebagai: sekumpulan orang yang menjadi pembaca, pendengar, pemirsa berbagai media atau komponen isinya.

Asal sejarahnya, audiens adalah sekumpulan penonton drama, permainan, dan tontonan. Yaitu, penonton ”pertunjukan.” Pengertian ”pertunjukan” ini tentu bervariasi di setiap zaman dan peradaban yang berbeda. Namun beberapa ciri penting audiens tetap sama.

Suasana lingkungan bagi audiens (teater, aula, gereja) seringkali dirancang dengan indikasi peringkat dan status.

Dengan ditemukannya mesin percetakan, audiens ini pun bertambah dengan ”publik pembaca.” Lalu muncul media elektronik, yang memisahkan audiens yang satu dengan yang lain, serta memisahkan audiens dari pemberi pesan.

Dualitas hakikat audiens:

1. Ia merupakan kolektivitas, yang terbentuk sebagai tanggapan terhadap isi media, dan didefinisikan berdasarkan perhatian pada isi media itu. Contoh: penggemar grup musik Slank, penggemar karya Pramoedya Ananta Toer, dan penggemar acara TV Extravaganza. Tapi para penggemar ini tidak mudah dipilah berdasarkan waktu dan tempat, dan mungkin tidak memiliki eksistensi lain sebagai kelompok sosial.

2. Ia merupakan sesuatu yang sudah ada dalam kehidupan sosial, dan kemudian ”dilayani” oleh provisi media tertentu. Misalnya: komunitas lokal kecil dengan bahasa tertentu, yang membutuhkan kehadiran media lokalnya sendiri dengan bahasa spesifik tersebut. Jadi, media melayani komunitas yang sudah ada sebelumnya.

Audiens sebagai pasar

Perkembangan ekonomi melahirkan konsep audiens sebagai pasar. Produk media merupakan komoditi atau jasa, yang ditawarkan untuk dijual kepada sekumpulan konsumen tertentu yang potensial, yang bersaing dengan produk media lainnya.

Audiens dalam perspektif pasar adalah: ”Sekumpulan calon konsumen dengan profil sosial-ekonomi yang diketahui, yang merupakan sasaran suatu medium atau pesan.”

Di Amerika, di mana hampir seluruh media bersifat komersial, konsep ini merupakan hal yang biasa. Di Indonesia, kecenderungan seperti ini juga semakin kuat. Khususnya pada media televisi swasta, yang hidupnya bisa dibilang hampir seluruhnya tergantung pada pemasukan iklan.

Audiens dipandang memiliki signifikansi rangkap bagi media:
· Sebagai perangkat calon konsumen produk media.
· Sebagai audiens jenis iklan tertentu, yang merupakan sumber pendapatan penting media lainnya.

Dengan demikian, pasar bagi produk media (misalnya, penonton program Extravaganza Trans TV) juga mungkin merupakan pasar bagi produk lainnya (pengguna shampoo Sunsilk, pasta gigi Close Up, dan sebagainya). Di sini, media menjadi wahana iklan dan sarana ”pengantaraan” calon pelanggan produk lain.

Konsekuensi konsep audiens sebagai pasar:

· Hubungan antara media dan audiensnya menjadi hubungan konsumen-produsen, yang karenanya bersifat ”kalkulatif” dari sudut pandang pengirim. Ini bukanlah hubungan moral dan sosial (seperti dalam perspektif audiens sebagai publik/komunitas sosial).

· Karakteristik audiens yang paling relevan dengan cara berpikir pasar ini adalah sosial-ekonomi. Stratifikasi sosial audiens mendapat perhatian yang sangat besar (golongan berpenghasilan rendah, menengah, dan tinggi).

· Dari perspektif pasar, fakta penting tentang audiens adalah perilaku pemerhatian mereka. Hal ini terutama terlihat dari tindakan pembelian atau pilihan memirsa atau mendengar.

(Disarikan dari McQuail, Denis. 1996. Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit Erlangga)

Beberapa Teori tentang Dampak Media

Bagaimana media TV mempengaruhi penonton? Ada beberapa teori tentang ini, antara lain:

Teori Peluru Ajaib (Magic Bullet) atau Jarum Suntik (Hypodermic Needle):
Teori yang populer pada awal abad ke-20 ini mengatakan, pesan media berdampak pada orang secara langsung, bisa diukur, dan dampak itu bersifat segera (immediate). Jadi, dampaknya seperti peluru yang menghantam tubuh, atau seperti tubuh yang ditusuk jarum suntik.
Namun, sekarang banyak ilmuwan berpendapat, dampak semacam ini jarang terjadi. Misalnya: Seseorang yang melihat iklan sepeda motor Honda dan dia langsung membeli motor Honda itu, persis dengan model yang diiklankan di TV. Atau ada orang yang melihat tayangan tentang teroris yang mengebom Hotel Marriott dan orang ini pun segera membuat bom untuk menyerang hotel.

Pudarnya Kepekaan (Desensitization):
Teori ini mengatakan, karena orang sudah terlalu banyak terekspos oleh kekerasan di media, misalnya, maka kekerasan tidak lagi memberi dampak emosional pada dirinya. Banyak orang tampaknya akan setuju dengan pandangan bahwa karena sering melihat tayangan kekerasan di TV, maka seseorang tidak akan terlalu terganggu jika disuruh melihat film yang mengandung adegan kekerasan.

Yang kini menjadi perdebatan, apakah orang juga akan kehilangan kepekaan terhadap kekerasan dalam kehidupan nyata. Jika seseorang meninggalkan gedung bioskop sehabis menonton film berisi adegan kekerasan, dan lalu melihat sesosok mayat nyata yang tergeletak di jalan, apakah dia tetap mengalami hilangnya kepekaan?

Pembudidayaan atau Kultivasi (Cultivation):
Teori Kultivasi atau Pembudidayaan lebih berfokus pada bagaimana sikap orang dipengaruhi oleh media, ketimbang sekadar perilaku orang tersebut. Walau sikap (attitude) dan perilaku (behavior) berkaitan erat, para penganut teori kultivasi berfokus pada bagaimana orang berpikir ketimbang pada apa yang diperbuat orang tersebut.
Banyak dari riset ini melibatkan perbandingan sikap dari para pengguna berat, pengguna menengah, dan pengguna ringan media.

Salah satu temuan riset ini adalah bahwa ketika orang terekspos oleh kekerasan yang sarat di media, mereka tampaknya akan memiliki salah konsepsi dalam penyikapan, yang dinamakan sindrom dunia yang ganas (mean world syndrome). Ini berarti mereka melebih-lebihkan besarnya tingkat kekerasan yang benar-benar terjadi dalam komunitasnya dan di bagian dunia lain. Orang yang kurang terekspos pada kekerasan di media memiliki rasa yang lebih realistis dalam memandang tingkat kekerasan di dunia nyata.

Pendekatan Sosiologis terhadap (kekerasan di) Media
Cara yang kurang umum dalam mempelajari kekerasan di media adalah pendekatan sosiologis. Teori-teori sosiologis tentang kekerasan di media mengeksplorasi cara-cara di mana media berdampak dan memperkuat ideologi-ideologi dan nilai-nilai yang dominan dalam sebuah budaya.

Misalnya, seorang peneliti mungkin melihat saling-hubungan (korelasi) antara kekerasan di media dan sikap-sikap tentang maskulinitas dalam sebuah budaya, atau bagaimana kekerasan media memperkuat dan mencerminkan kebijakan luar negeri yang kasar dari sebuah negara. Teori-teori sosiologis tentang media itu tidak bisa diukur. Namun, itu lebih merupakan cara-cara teoretis tentang bagaimana melihat hubungan media dengan budaya.

Teori Penetapan Agenda (Agenda Setting):
Menurut teori ini, media menetapkan agenda bagi opini publik, dengan cara mengangkat isu-isu tertentu. Sesudah mempelajari cara peliputan kampanye politik, ternyata dampak utama media berita adalah dalam penetapan agenda. Misalnya, dengan memberitahu masyarakat untuk berpikir tentang topik-topik tertentu.

Topik-topik yang tidak diangkat oleh media menjadi kurang atau tidak dianggap penting oleh publik. Jadi, pengaruh media bukanlah dalam persuasi (bujukan) atau perubahan sikap audiens. Penetapan agenda ini biasanya lebih sering dirujuk sebagai fungsi media, dan bukan teori.

Jakarta, 30 Agustus 2009

Penulis adalah Executive Producer, Divisi News Trans TV

MUKJIZAT SHODAQOH DI TRANS TV, TIAP HARI PUKUL 17.40 WIB SELAMA RAMADHAN

Program Mukjizat Shodaqoh di Trans TV
Tiap hari selama Ramadhan, pukul 17.40 WIB

Memberi Inspirasi untuk Beramal Bagi Sesama


Selama bulan Ramadhan 1430 H ini (2009), di Trans TV ditayangkan program Mukjizat Shodaqoh. Program berdurasi 15 menit ini ditayangkan tiap hari, sekitar pukul 17.40 WIB menjelang saat berbuka puasa. Program ini berformat drama yang didasarkan pada kisah nyata (testimoni) sejumlah orang, yang merasa telah mengalami dan membuktikan sendiri mukjizat shodaqoh tersebut.

Dalam episode-episode yang sudah dan akan ditayangkan Trans TV, testimoni atau kesaksian itu diberikan oleh mereka yang kebetulan menjadi anggota jamaah Ustadz Yusuf Mansur. Ustadz Yusuf Mansur dalam program ini bukan cuma berfungsi sebagai narasumber. Beliau juga membantu menyediakan orang-orang, yang telah terinspirasi untuk bershodaqoh dan mendapat manfaat nyata dari shodaqoh tersebut. Shodaqoh adalah amal ibadah yang bernilai sosial tinggi, dan semestinya sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, di mana kesulitan ekonomi dan kemiskinan rakyat masih terlihat di mana-mana.

Shodaqoh yang diberikan secara ikhlas, semata-mata karena Allah SWT, diyakini dapat memberikan banyak manfaat. Orang yang bershodaqoh tidak akan jadi miskin atau kekurangan, tetapi justru akan dipermudah rezekinya oleh Allah. Allah akan membalas shodaqoh yang diberikan seorang hamba Allah dengan pahala dan balasan yang berlipat ganda. Selain berpahala dan melancarkan jalannya rezeki, shodaqoh juga dapat menolak bala, penyakit, dan membantu terkabulnya doa.

Semoga tayangan sederhana ini dapat memberi manfaat pula bagi para penonton TV di Indonesia. Mereka mendambakan tayangan yang bukan sekadar menghibur, tetapi juga diharapkan dapat memberi pencerahan, menginspirasi, dan memberi dampak positif yang meluas bagi masyarakat lainnya. Silahkan menyaksikan!

Jakarta, 26 Agustus 2009
Satrio Arismunandar

EMPAT INDIKASI KITA SEMAKIN MIRIP DENGAN ORDE BARU?

Ada empat (dari beberapa) ciri pemerintahan Orde Baru:

1. Islam dicurigai, kotbah dan ceramah agama diawasi. Ada jargon Eka (ekstrem kanan = Islam) & Eki (ekstrem kiri = komunis).
2. Golkar dikuasai dan jadi alat kekuasaan oleh Soeharto.
3. Pers dibatasi jumlahnya dan dikontrol ketat pemberitaannya. Jika membandel/kritis, akan dibreidel.
4. Tidak ada oposisi. PDI-PPP-Golkar semua satu suara di parlemen (mendukung Soeharto).

Apakah kita sekarang juga bukan pelan-pelan menjurus ke sana? Ciri-ciri ini mungkin tidak persis betul, tetapi ada kemiripan.

Indikasinya:
- Islam kembali dicurigai.
- Golkar akan direbut kembali oleh keluarga Cendana (Tommi atau Tutut).
- Pers akan dikontrol lagi melalui UU Rahasia Negara.
- SBY berusaha merangkul semua partai (termasuk Golkar dan PDIP), sehingga praktis tidak ada oposisi di parlemen. Yang terjadi adalah SO-SBY (semua orang SBY).

Selamat berjuang!

Jakarta, 29 Agustus 2009

TENTANG TEKNIK PENULISAN OLEH KONTRIBUTOR DAN KORESPONDEN NEWS TRANS TV, YANG MASIH PERLU DIBENAHI

Oleh Satrio Arismunandar

Saya mendapat masukan dari sejumlah producer dan asprod Reportase, tentang cara penulisan berita oleh beberapa koresponden/kontributor yang dianggap masih bermasalah. Misalnya: naskah yang logika content-nya kurang jelas, strukturnya agak kacau (tidak jelas antara korban atau saksi), kurang akurat dalam fakta, dsb.

Hal ini telah meningkatkan beban kerja producer/asprod, karena suatu naskah harus dibongkar habis-habisan, atau asprod harus bolak-balik menelepon keresponden/kontributor untuk menjelaskan/mengkonfirmasikan hal-hal tertentu yang tidak jelas pada naskah bersangkutan. Kondisi ini tentu juga merugikan (kurang efisien) dari segi waktu dan biaya.

Tentu tidak semua koresponden/kontributor begitu. Ada juga yang sudah baik dalam penulisan naskahnya. Hal ini juga diakui oleh para producer/asprod sebagai user, yang tiap hari harus berurusan dengan naskah-naskah dari daerah.

Namun, untuk perbaikan dan penyempurnaan, saya mengusulkan, para produser/asprod memberi masukan singkat tentang siapa saja koresponden/kontributor yang sudah baik naskahnya, siapa yang sudah cukup memenuhi standar, dan siapa pula yang masih butuh pembinaan dan pembenahan. Karena masukan ini disarikan dari seluruh producer/asprod Reportase, diharapkan tentunya masukan kolektif itu akan cukup obyektif dan mengurangi unsur subyektivitas.

Buat rekan-rekan koresponden/kontributor, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena tujuan masukan ini adalah kebaikan kita bersama dan peningkatan kualitas produk yang dihasilkan program Reportase khususnya dan Divisi News umumnya. Kepada rekan-rekan yang dinilai masih perlu pembenahan, mungkin saja diberikan training penulisan naskah untuk menyegarkan kembali pemahaman tentang teknik-teknik penulisan berita yang baik.

Demikian sekedar usulan dari saya.
Jakarta, Agustus 2009

BERAPA GAJI CLEANING SERVICE (OUTSOURCING) YANG DITUGASKAN DI DIVISI NEWS TRANS TV?

Berapa gaji para Cleaning Service (outsourcing) berseragam biru, yang sering bertugas membesihkan ruang kerja Divisi News Trans TV, WC, atau mengepel di lobby dan membersihkan kaca-kaca jendela kantor kita?

Mereka dibayar bulanan, tetapi berdasarkan jumlah hari kerja. Upah per hari sekitar Rp 26.000. Jadi, jika dalam sebulan mereka bekerja 26 hari, penghasilan sebulan = 26 X Rp 26.000 = Rp 676.000. Kalau mereka sakit dan tak masuk kerja, jelas penghasilan berkurang drastis.

Mereka tidak dapat tunjangan uang makan, tidak ada asuransi kesehatan seperti karyawan Trans TV, juga tak ada tunjangan transportasi.

Jika mereka harus keluar Rp 5.000 per hari untuk transportasi (pulang-pergi) dan Rp 5.000 untuk satu kali makan + minum (ini sudah harga yang sangat mepet, dan bisa jadi pengeluaran mereka lebih dari ini), maka upah bersihnya per hari adalah tinggal = Rp 26.000 - Rp 5.000 - Rp 5.000 = Rp 16.000.

Jadi, penghasilannya per bulan menjadi = 26 X Rp 16.000 = Rp 416.000.

Jumlah yang sangat minimal dan hampir tak masuk akal untuk hidup di Jakarta, bahkan sebagai bujangan yang tinggal bersama orangtua (belum punya keluarga atau tanggungan lain).

Oleh karena itu, bagi teman-teman di News Trans TV yang mungkin punya kelebihan rezeki atau karena satu dan lain hal tidak memakan jatah nasi kotaknya, tolong serahkan atau sedekahkan saja pada mereka. Selain bisa membantu meringankan beban mereka, pasti ini berpahala dan akan dibalas oleh Allah SWT.

Jakarta, September 2009

MEDIA, PERANG, PROPAGANDA DAN JURNALISME DAMAI

Oleh Satrio Arismunandar

The first casualty when war comes is Truth
U.S. Senator Hiram Johnson, 1917

We must remember that in time of war what is said on the enemy’s side of the front is always propaganda, and what is said on our side of the front is truth and righteousness, the cause of humanity and a crusade for peace.
Walter Lippmann

Kemungkinan setiap konflik dipertarungkan sedikitnya pada dua tataran: medan tempur dan pikiran orang lewat propaganda. Kedua pihak yang berperang sering mengecoh orang dengan distorsi, melebih-lebihkan, subyektivitas, ketidakakuratan, dan bahkan fabrikasi, dengan tujuan memperoleh dukungan dan semacam legitimasi.

Unsur-unsur Propaganda

Propaganda dapat bermanfaat untuk menggalang orang di belakang tujuan perjuangan tertentu, namun sering dengan cara melebih-lebihkan, misrepresentasi, atau bahkan berbohong tentang isu-isu tertentu, guna meraih dukungan publik.

Sementara isu propaganda sering didiskusikan dalam konteks militerisme, perang, dan mempromosikan perang (war-mongering), propaganda sebenarnya hadir di sekitar kita dalam semua aspek kehidupan. Sebagaimana ditunjukkan pada berbagai contoh berikut ini, taktik-taktik yang umum dalam propaganda sering digunakan oleh masing-masing pihak, seperti:
1. Pengggunaan kisah-kisah selektif, yang ditampilkan seolah-olah sebagai sesuatu yang bercakupan luas dan obyektif.
2. Fakta-fakta parsial, atau konteks bersejarah.
3. Menambah alasan-alasan dan motivasi untuk bertindak karena adanya ancaman dan keamanan terhadap individu.
4. Sumber-sumber pakar yang sempit untuk memberikan wawasan terhadap situasi. Misalnya, media arus utama biasanya mewawancarai pensiunan personel militer untuk isu-isu yang banyak berhubungan dengan konflik. Bisa juga, dengan memperlakukan sumber pemerintah yang resmi sebagai fakta, ketimbang memperlakukannya sekadar sebagai sebuah perspektif yang masih perlu diverifikasi dan diteliti.
5. Demonisasi “musuh” yang tidak cocok/pas dengan gambaran tentang apa yang “benar”. Menyamakan pemimpin Irak Saddam Hussein dengan Hitler, misalnya, adalah contoh demonisasi.
6. Penggunaan cakupan wacana yang sempit, di mana penilaian sering dibuat ketika batasan wacana itu sendiri, atau kerangka di dalamnya --di mana opini-opini dibentuk-- sering tidak didiskusikan. Maka fokus yang sempit itu membantu melayani kepentingan-kepentingan si pembuat propaganda.
7. Dan lain-lain.

Mereka yang mempromosikan citra negatif terhadap “musuh” sering memperkuatnya dengan retorika tentang kebenaran dirinya sendiri. Upaya itu adalah untuk menggalang dukungan dan memupuk keyakinan bahwa apa yang akan dilakukan bersifat positif dan menguntungkan bagi kepentingan setiap orang.

Seringkali, prinsip-prinsip yang dipakai untuk mendemonisasi pihak lain, tidak digunakan untuk menilai diri sendiri, sehingga menjurus ke munculnya tuduhan tentang pemberlakuan standar ganda dan kemunafikan.

Daftar taktik yang digunakan dalam propaganda seperti tertera di atas juga diekspresikan dengan cara yang hampir sama oleh Johann Galtung, guru besar di bidang Studi Perdamaian, sebagaimana dirangkum oleh Danny Schechter.

Galtung menyampaikan 12 butir keprihatinan di mana jurnalisme sering menjurus ke arah yang menyimpang ketika menangani masalah kekerasan. Setiap butir di bawah ini menyarankan perlunya lebih banyak pembenahan yang bersifat eksplisit.

1. Dekontekstualisasi kekerasan: Berfokus pada hal-hal yang irasional tanpa melihat alasan-alasan bagi konflik-konflik yang tidak terpecahkan dan polarisasi.
2. Dualisme: Mengurangi jumlah pihak-pihak yang berkonflik jadi dua, ketika faktanya sering justru lebih banyak pihak yang terlibat. Berita-berita yang hanya berfokus pada perkembangan internal sering mengabaikan peran pihak yang di luar atau kekuatan “eksternal,” seperti pemerintah asing dan perusahaan transnasional.
3. Manicheanism: Menggambarkan satu pihak sebagai yang “baik” dan mendemonisasi yang lain sebagai “jahat.”
4. Armageddon: Menampilkan kekerasan sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, dengan menghilangkan alternatif-alternatif.
5. Berfokus pada tindakan-tindakan kekerasan individual, seraya menghindari sebab-sebab struktural, seperti kemiskinan, pengabaian oleh pemerintah, serta represi oleh militer atau polisi.
6. Kekisruhan (confusion): Berfokus hanya pada arena konflik (misalnya, medan tempur atau lokasi insiden kekerasan), namun tidak pada kekuatan-kekuatan atau faktor-faktor yang mempengaruhi kekerasan.
7. Menyisihkan dan menghapus pihak yang berduka/korban, sehingga tidak pernah menjelaskan mengapa ada tindakan pembalasan dan lingkaran kekerasan.
8. Kegagalan untuk mengeksplorasi sebab-sebab eskalasi dan dampak liputan media itu sendiri.
9. Kegagalan untuk mengeksplorasi tujuan-tujuan pihak yang campur tangan dari luar, khususnya kekuatan-kekuatan besar.
10. Kegagalan untuk mengeksplorasi usulan-usulan perdamaian dan menawarkan gambaran hasil-hasil yang bersifat perdamaian.
11. Mencampuradukkan gencatan senjata dan negosiasi dengan perdamaian yang sebenarnya.
12. Menghapus rekonsiliasi: Konflik-konflik cenderung untuk muncul kembali jika tidak ada perhatian terhadap upaya-upaya untuk menyembuhkan masyarakat yang terluka dan terpecah. Ketika berita tentang usaha penyelesaian konflik tidak muncul, fatalisme pun semakin kuat. Itu bahkan dapat menyebabkan lebih banyak kekerasan, yaitu ketika orang tidak memiliki gambaran atau informasi tentang kemungkinan hasil yang damai dan janji penyembuhan.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa liputan oleh media tentang konflik dan perang tidak selalu berdampak positif. Liputan media tak jarang justru “mengompori” perang atau “mengipas-ngipas” konflik, sehingga prospek ke arah perdamaian justru semakin kecil. Lebih buruk lagi, ada media yang malah menjadi bagian dari konflik atau berpihak pada kubu-kubu yang berkonflik.
Dari berbagai liputan media tradisional (seperti suratkabar dan TV) tentang sejumlah konflik/perang, banyak khalayak pembaca dan pemirsa yang tidak puas. Sehingga tidak heran jika banyak khalayak media ini berpaling ke media online (internet). Pertimbangan mereka tentang kelebihan media online, antara lain:
1. Ketersegeraan (Immediacy): Seperti TV yang bersiaran 24 jam per hari, web juga bisa diakses kapan saja kita mau.
2. Kejenuhan (Saturation): Liputan media televisi sering datar dan berulang: Perang mendominasi program berita utama, bahkan ketika hanya sedikit perkembangan yang perlu dilaporkan.
3. Sudut pandang yang lain: Web memiliki ruang bagi banyak suara yang berbeda, karena ia bebas dari pembatasan pemberitaan yang biasa diterapkan pada media suratkabar dan televisi.
4. Minimnya penyensoran: Gambar-gambar yang tak bisa ditayangkan di televisi, tersedia dan bisa diunduh di internet.
5. Patriotisme yang berlebihan (Jingoism): Terdapat perasaan anti-perang yang besar di masyarakat umum, yang tidak tercermin pada liputan suratkabar dan televisi. Media suratkabar dan TV justru mengobar-ngobarkan patriotisme yang berlebihan (right or wrong, my country).

Munculnya Jurnalisme Damai
Dari sini muncullah apa yang dinamakan Jurnalisme Damai (Peace Journalism).
Jurnalisme damai adalah jenis jurnalisme yang memposisikan berita-berita sebegitu rupa, yang mendorong analisis konflik dan tanggapan tanpa-kekerasasn (non-violent). Menurut teoretisi dan pendukung utamanya, Jake Lynch dan Annabel McGoldrick, jurnalisme damai adalah ketika para redaktur dan reporter membuat pilihan-pilihan – tentang apa yang akan dilaporkan, dan bagaimana cara melaporkannya – yang menciptakan peluang bagi sebagian besar masyarakat untuk mempertimbangkan dan menghargai tanggapan tanpa-kekerasan terhadap konflik bersangkutan.

Jurnalisme damai memberi perhatian pada sebab-sebab struktural dan kultural dari kekerasan, karena hal itu membebani kehidupan orang di daerah konflik, sebagai bagian dari eksplanasi kekerasan.

Jurnalisme damai bertujuan menempatkan konflik sebagai sesuatu yang melibatkan banyak pihak, dan mengejar banyak tujuan, ketimbang sekadar dikotomi sederhana. Tujuan eksplisit jurnalisme damai adalah untuk mempromosikan prakarsa perdamaian dari kubu manapun, dan untuk memungkinkan pembaca membedakan antara posisi-posisi yang dinyatakan dan tujuan-tujuan yang sebenarnya.

Jurnalisme damai merupakan tanggapan terhadap jurnalisme dan liputan perang yang biasa. Pendekatan tradisional ini umumnya menekankan pada konflik yang sedang berlangsung, seraya mengabaikan sebab-sebab atau hasil-hasilnya.

Pendekatan serupa juga bisa ditemukan pada Jurnalisme Preventif, yang memperluas prinsip-prinsip semacam itu pada problem-problem ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan (institusional).

Jakarta, 2 September 2009

TRANS STUDIO MAKASSAR: INDOOR THEME PARK TERBESAR DI DUNIA




Oleh Satrio Arismunandar

Jika semua berjalan sesuai rencana, Insya Allah, pada hari Rabu, 9 September 2009 ini, akan diresmikan kehadiran Trans Studio di Makassar. Trans Studio, yang merupakan bagian dari Para Group, adalah Indoor Theme Park terbesar di dunia. Ada rencana jangka panjang bahwa Theme Park semacam ini akan dibangun di 20 kota di Indonesia.

Trans Studio Theme Park berlokasi di jalur utama Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, sekitar 2 km baratdaya atau 3 menit dari kawasan Pantai Losari. Theme Park seluas 2,7 hektar ini dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dari pusat-pusat terpenting di kota Makassar. Ia juga dekat dengan rencana terminal kendaraan umum.

Trans Corp (Trans TV dan Trans7) merupakan stasiun televisi pertama di dunia yang memiliki Theme Park. Trans Studio, yang dikembangkan oleh PT. Trans Kalla Makassar, dibangun di atas lahan seluas lebih kurang 24 hektar di wilayah Tanjung Bunga. Di lokasi lapang ini akan hadir sebuah proyek pembangunan terpadu bertaraf dunia, yang mencakup pusat hiburan keluarga, pusat perbelanjaan, hotel dan pemukiman.

Setiap unit usaha saling melengkapi dan mampu merangkul pasar yang luas. Keberadaannya di kawasan pariwisata, yang dekat dengan wilayah pemukiman dan usaha, merupakan nilai tambah. Kawasan pemukiman kelas menengah dan kelas atas, serta kawasan bisnis di Kota Mandiri Tanjung Bunga yang berada dalam satu lokasi, adalah pasar potensial yang menjanjikan. Pantai Selat Makassar yang terdapat di sebelah utara dan barat lokasi menjadi daya tarik yang menguntungkan, dan akan menjadi bagian dari konsep pembangunan secara keseluruhan.

Karya Anak Bangsa

Kita patut berbangga karena Indoor Theme Park ini adalah karya putra-putri bangsa Indonesia yang sekelas dunia dan tidak kalah dari Disneyland. Lewat Trans Studio ini, terbukti bahwa sejumlah karyawan Trans Corp telah berkarya jauh melampaui sekadar mengoperasikan sebuah stasiun TV. Kehadiran Trans Studio tentunya juga akan bersinergi dengan unit-unit bisnis Para Group lainnya.

Di Trans Studio ini ada 21 wahana, seperti Dunia Lain, Si Bolang, Jelajah, Magic Thunder Coaster, Ayun Ombak, Angin Beliung, dan masih banyak lagi wahana yang menarik dan seru. Jika Anda perhatikan, beberapa wahana itu dinamai persis seperti nama program-program di Trans TV dan Trans7. Para pengunjung dapat merasakan bagaimana menjadi seorang bintang di depan kamera, serta menjadi orang-orang di balik layar dari tayangan-tayangan favorit Trans TV dan Trans7, seperti: Ceriwis, Dunia Lain, dan Jelajah.

Ada Studio Central, sebuah kawasan menakjubkan yang menampilkan gemerlap dunia layar lebar dan TV dalam tampilan a’la Hollywood era tahun 60-an. Zona ini menyingkap rahasia-rahasia di balik layar. Ada juga The Lost City, suatu kawasan super seru yang dikemas secara apik untuk dinikmati para petualang sejati.

Trans Studio juga memiliki toko-toko merchandise (Trans Studio Store) yang menjual barang-barang unik, bagus, dan menjadi ciri khas keberadaan pengunjung di Trans Studio, Trans TV, dan Trans7. Ada Fashion Hub yang menampilkan fashion items dari merek-merek ternama dunia, yang akan mengukuhkan Trans Studio Walk sebagai kawasan paling modis dan prestisius di kota Makassar.

Tak lupa, ada bioskop 4D yang memanfaatkan kecanggihan teknologi visual dan suara serta peralatan audio-visual termodern, untuk memberi kepuasan menonton yang maksimal bagi para penikmat layar lebar. Bagi penggemar barang elektronik dan gadget, juga disajikan produk inovasi terbaru di bidang IT, elektronik dan digital. Selain itu, ada Gourmet Emporium yang mempunyai banyak sekali tempat makanan (Food Chain), dari menu Nusantara sampai menu internasional, yang dijamin enak-enak dan pastinya menggugah selera.

Harga tiket di Trans Studio ini juga relatif murah. Hanya dengan uang Rp 10 ribu, Anda sudah mendapatkan tiket pass yang berlaku seumur hidup. Untuk menikmati wahananya, hanya dengan Rp 90 ribu, Anda dapat bermain di sebanyak 15 wahana dan masih ada 6 wahana lain di luar wahana tersebut.

Mengapa Memilih Makassar

Mungkin ada yang bertanya, mengapa Theme Park ini dipilih dibangun pertama di Makassar, bukan di Bandung, Surabaya, Medan, atau Denpasar, misalnya? Jawabannya: Coba lihat besarnya pasar yang jadi target. Jumlah penduduk di lingkungan Makassar ada 3,4 juta. Sedangkan penduduk di lingkungan Sulawesi Selatan ada 4,6 juta. Jika ditotalkan, ada 8 juta penduduk.

Kemudian, pertumbuhan ekonomi di kawasan ini sangat tinggi. GDP Makassar lebih tinggi dari GDP rata-rata Nasional, dan mengalami pertumbuhan yang signifikan, dari Rp 7,1 juta di tahun 2002 menjadi Rp 9,3 juta di tahun 2006.

Kini Makassar tidak sekadar menjadi pintu gerbang menuju wilayah timur Indonesia. Pertumbuhan ekonomi, sarana dan prasarana serta pariwisata yang demikian pesat beberapa tahun terakhir ini telah menjadikannya sebagai pusat perhatian dari berbagai pihak. Kehadiran mega proyek Trans Studio turut membentuk identitas baru kota ini, sebagai magnet di timur Indonesia.

Seperti dikatakan seorang pakar ekonomi dari AIM (Asian Institute of Management) Filipina, ketika mengomentari pilihan lokasi proyek ini: “Saya mengerti, Jawa adalah masa lalu, Sumatera adalah masa kini, dan Indonesia Timur adalah masa depan.”

Impian CT dan JK
Proyek ini bisa dibilang merupakan perwujudan dari impian dua tokoh, Chairman Para Group Chairul Tanjung dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, untuk mendirikan kawasan wisata terpadu, termasuk hiburan indoor Trans Studio tersebut. Untuk tahap awal, akan diresmikan Trans Studio Theme Park-nya dulu. Sementara Trans Studio Walk (pusat perbelanjaan) baru akan beroperasi mulai Juni 2010. Fasilitas berikutnya adalah Trans Studio Hotel dan Residential serta fasilitas rekreasi pantai.

Untuk proyek raksasa, yang secara keseluruhan menyedot investasi lebih dari Rp 3 triliun ini, Chairul bergandengan dengan Kalla mendirikan PT Trans Kalla Makassar (TKM) pada 2007. Di perusahaan patungan ini, Para Group menanggung pembiayaan proyek. Sementara Kalla Grup adalah penyedia lahan. Saham Para Group 55 persen, sedangkan Kalla 45 persen.

Pendanaan proyek ini berasal dari pinjaman BRI sebesar 50 persen. Sisanya dari utang dari bank lain serta kas internal perusahaan. Belanja yang terbesar mengalir ke proyek taman hiburan indoor Trans Studio Theme Park. Untuk wahana bermain itu, dihabiskan sekitar Rp 1 triliun.

Budiman Wijaya, Direktur TKM menjelaskan, di Theme Park tersebut tersedia sekitar 20 wahana permainan yang terbagi dalam empat zona. Dana untuk pengadaan alat permainan sendiri sudah mencapai sekitar Rp 300 miliar. Para Group sendiri bersikap optimistis bahwa proyek ini akan menguntungkan. ***

Jakarta, 4 September 2009