Saya terkejut mendengar kabar di milis AIPI bahwa seorang rekan dan mantan aktivis mahasiswa UI, Bram Zakir, telah meninggal dunia hari Sabtu dinihari, 31 Januari 2009, pukul 01.55 WIB di RS MMC Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.Berita tersebut disampaikan oleh Bu Yani, istri almarhum Bram Zakir, melalui beberapa orang, dan kemudian sampai ke saya melalui milis AIPI. Rumah duka: Jl. Buana Pesanggrahan I/20 Bukit Cinere Indah. Almarhum telah dimakamkan di TPU Tanah Kusir ba'da Dhuhur.
Pertama kali saya mengenal nama Bram Zakir adalah ketika saya masih mahasiswa yunior, yang baru mulai kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia tahun 1980. Saat itu di UI masih aktif lembaga kemahasiswaan IKM-UI, yang independen, aktif dan kritis terhadap pemerintah Orde Baru.
Di UI waktu itu banyak beredar penerbitan kritis, yang dikelola mahasiswa. Sebagai mahasiswa baru, yang penuh romantisme (Notes: Bung Karno mengatakan, revolusi juga membutuhkan romantisme) dan bersemangat mengeksplorasi dunia aktivis mahasiswa, saya dengan lahap mengkonsumsi banyak media itu.
Dalam salah satu penerbitan itulah, saya membaca sebuah ulasan yang sangat menarik dan cerdas dari seorang aktivis mahasiswa senior, yang bernama Bram Zakir. Saya saat itu hanya kenal Bram Zakir dari namanya, dan sebagai mahasiswa baru yang tak tahu apa-apa, saya menilai tulisan karya Bram Zakir itu sangat hebat.
Dalam artikel itu, Bram mengritik tajam pemikiran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef, tentang penerapan NKK-BKK di kampus-kampus Indonesia, serta konsep masyarakat teknostruktur, yang dijadikan landasan oleh Daoed Joesoef bagi penerapan NKK-BKK itu.
Baru pada pasca reformasi 1998, saya kenal Bram Zakir secara pribadi. Saat itu Bram –yang sudah tidak aktif lagi sebagai wartawan—mengaku sakit-sakitan, namun ia masih bersemangat aktif di kegiatan penelitian akademis. Saya kemudian jarang bertemu lagi karena dunia aktivitas yang berbeda.
Sampai akhirnya saya mendengar kabar yang mengejutkan, dengan meninggalnya Bram Zakir. Semoga Allah SWT berkenan memberi ampunan dan tempat yang layak di sisi-Nya pada almarhum Bram Zakir. Amin ya Rabbal Alamin.
Jakarta, 31 Januari 2009
Satrio Arismunandar
No comments:
Post a Comment