Wednesday, June 10, 2009

FENOMENOLOGI SEBAGAI SEBUAH METODE FILSAFAT

Pengantar

Fenomenologi adalah metode filosofis yang berkembang pada tahun-tahun pertama abad ke-20 oleh Edmund Husserl dan lingkaran pengikutnya di Universitas Göttingen dan Munich di Jerman. Setelah itu, tema-tema fenomenologis diangkat oleh para filsuf di Perancis, Amerika, dan bagian dunia lainnya, seringkali dalam konteks-konteks yang jauh dari karya Husserl.

“Fenomenologi” berasal dari kata Yunani phainómenon, yang berarti “yang tampak,” dan lógos, berarti “studi.” Dalam konsepsi Husserl, fenomenologi terutama berurusan dengan pembentukan struktur-struktur kesadaran, dan fenomena yang tampak dalam tindakan-tindakan kesadaran, obyek-obyek refleksi sistematis dan analisis.

Refleksi semacam itu akan terjadi dari sudut pandang “orang pertama” yang sangat dimodifikasi, yang mempelajari fenomena tidak seperti apa tampaknya pada kesadaran “saya”, tetapi terhadap tiap kesadaran apapun. Husserl percaya, fenomenologi dengan demikian dapat menyediakan landasan yang kokoh bagi seluruh pengetahuan manusia, termasuk pengetahuan ilmiah, dan dapat menetapkan filsafat sebagai sebuah “ilmu pengetahuan yang keras.”

Konsepsi Husserl tentang fenomenologi telah dikritisi dan dikembangkan bukan hanya oleh dirinya, tetapi juga oleh mahasiswa dan asistennya Martin Heidegger, oleh kaum eksistensialis, seperti Maurice Merleau-Ponty, Jean-Paul Sartre, dan para filsuf lain, seperti Paul Ricoeur, Emmanuel Levinas, dan Dietrich von Hildebrand.

Gagasan Fenomenologi

Dalam bentuknya yang paling dasar, fenomenologi berusaha menciptakan kondisi bagi studi obyektif tentang topik-topik yang biasanya dianggap subyektif: kesadaran dan isi dari pengalaman sadar. Seperti penilaian, persepsi dan emosi. Walaupun fenomenologi berusaha menjadi ilmiah, ia tidak berusaha mempelajari kesadaran dari perspektif psikologi klinis atau neurologi. Sebaliknya, ia berusaha melewati refleksi sistematis untuk menentukan milik esensial dan struktur-struktur kesadaran dan pengalaman sadar.

Husserl menurunkan banyak konsep-konsep penting yang bersifat sentral bagi fenomenologi dari karya dan kuliah para gurunya, filsuf dan psikolog Franz Brentano dan Carl Stumpf. Salah satu unsur penting fenomenologi yang dipinjam Husserl dari Brentano adalah intensionalitas (sering dijabarkan sebagai aboutness), yaitu pernyataan bahwa kesadaran selalu merupakan kesadaran terhadap sesuatu.

Obyek kesadaran itu disebut obyek intensional, dan obyek ini dibentuk bagi kesadaran dalam banyak cara yang berbeda, misalnya melalui persepsi, memori, protensi (protention), ingatan (retention), signifikasi, dan seterusnya.

Melalui intensionalitas yang berbeda-beda ini, walaupun mereka memiliki struktur-struktur yang berbeda dan cara-cara yang berbeda “tentang” suatu obyek, sebuah obyek tetap dibentuk sebagai obyek identik yang sama. Kesadaran diarahkan kepada obyek intensional yang sama dalam persepsi langsung sebagaimana adanya, dalam retensi menyusul segera dari obyek tersebut, dan pengingatan (remembering) akhirnya dari obyek itu.

Walaupun banyak metode fenomenologis melibatkan berbagai reduksi, fenomenologi pada dasarnya anti-reduksionistik. Reduksi-reduksi hanyalah sekadar alat untuk memahami dengan lebih baik dan menjabarkan bekerjanya kesadaran, tidak untuk mereduksi setiap fenomena ke deskripsi-deskripsi ini.

Menurut Husserl, kita pada dasarnya cenderung untuk bersikap natural dalam artian dengan diam-diam percaya akan adanya dunia. Untuk memulai fenomenologi, kita seharusnya meninggalkan sifat ini pada dunia real. Reduksi bukan merupakan kesangsian terhadap dunia, melainkan suatu netralisasi, yakni ada-idaknya dunia real tidak memiliki perannya lagi.

Ada-tidaknya dunia real tidak relevan dan persoalan ini dapat disisihkan tanpa merugikan. Dengan mempraktikkan reduksi ini, kita akan masuk pada “sikap fenomenologis”. Reduksi ini harus dilakukan lebih dikarenakan Husserl menginginkan fenomenologi menjadi suatu ilmu keras (rigorous). Ilmu seperti ini tidak boleh mengandung keraguan, atau ketidak pastian apapun juga. Ucapan yang dikemukakan pada ilmu keras harus bersifat “apodiktis” (tidak mengizinkan keraguan).

Kita menyadari bahwa reduksi hanyalah sekadar alat. Maka, dengan kata lain, ketika sebuah acuan terhadap esensi atau gagasan (ide) tentang sesuatu diciptakan, atau ketika kita merinci konstitusi (pembentukan) sesuatu yang koheren-identik dengan menjabarkan apa yang “benar-benar” kita lihat hanya sebagai sisi-sisi, aspek-aspek, dan permukaan-permukaan ini, hal ini bukan berarti bahwa sesuatu itu hanya semata-mata apa yang digambarkan di sini:

Tujuan puncak reduksi-reduksi ini adalah untuk memahami bagaimana aspek-aspek yang berbeda ini dikonstitusi (dibentuk) ke dalam sesuatu yang aktual, sebagaimana dialami oleh orang yang mengalaminya. Fenomenologi adalah reaksi langsung terhadap psikologisme dan fisikalisme yang ada di zaman Husserl.

Alternatif terhadap Teori Representasi

Walau pendekatan itu sebelumnya sudah digunakan oleh Hegel, adalah Husserl yang mendorongnya menjadi penandaan sebuah aliran filsafat. Sebagai sebuah perspektif filsafat, fenomenologi adalah metodenya, walau arti spesifik istilah itu bervariasi tergantung pada bagaimana istilah itu ditangkap oleh seorang filsuf.

Sebagaimana dicanangkan oleh Husserl, fenomenologi adalah metode penyelidikan filosofis yang menolak bias rasionalis. Bias rasionalis ini telah mendominasi pemikiran Barat sejak Plato condong ke metode perhatian reflektif, yang mengungkapkan “pengalaman yang dijalani” individu.

Fenomenologi ini berakar secara longgar pada piranti epistemologis dengan akar-akar kaum Skeptik, yang dinamai epoché. Sementara itu, metode Husserl --yang meredam penilaian seraya mengandalkan pada rengkuhan intuitif terhadap pengetahuan—ini bebas dari persangkaan dan pengintelektualan. Kadang-kadang digambarkan sebagai “sains pengalaman,” metode fenomenologis ini berakar pada intensionalitas, teori Husserl tentang kesadaran (yang dikembangkan dari Brentano).

Intensionalitas menghadirkan sebuah alternatif terhadap teori representasional tentang kesadaran, yang menyatakan bahwa realitas tidak bisa direngkuh secara langsung, karena realitas itu hanya tersedia melalui persepsi terhadap realitas, yang merupakan representasi-representasi dari realitas di dalam pikiran.

Husserl membantah anggapan ini dengan mengatakan bahwa kesadaran tidaklah berada “di dalam” pikiran, namun kesadaran lebih merupakan sadar terhadap sesuatu yang selain dirinya sendiri (obyek intensional). Jadi, terlepas dari apakah obyek itu adalah substansi atau kelebatan imajinasi (sebagai contoh, proses nyata yang diasosiasikan dengan dan melandasi kelebatan imajinasi tersebut). Maka metode fenomenologis mengandalkan pada deskripsi fenomena, ketika fenomena itu diberikan pada kesadaran, di dalam ketersegeraan mereka.

Metode fenomenologi mendukung penghapusan dunia spekulasi pada momen tertentu dengan mengembalikan subyek ke pengalaman primordialnya tentang materi, terlepas dari apakah obyek penyelidikan itu sebuah perasaan, gagasan, atau persepsi.

Menurut Husserl, penghentian atas kepercayaan di mana kita biasanya main percaya saja (take for granted) atau menduga dengan terkaan-- menghilangkan kekuatan yang biasanya kita sambut sebagai realitas obyektif.

Heidegger memodifikasi konsepsi Husserl tentang fenomenologi dengan alasan karena (apa yang dipandang Heidegger sebagai) kecenderungan subyektivis Husserl. Di mana Husserl memahami manusia dibentuk oleh keadaan kesadarannya, Heidegger membantah dengan mengatakan bahwa kesadaran itu bersifat pinggiran bagi keutamaan eksistensi seseorang (sebagai contoh, being - mengada) yang tak bisa direduksi ke kesadaran seseorang terhadapnya.

Dari sudut ini, kondisi pikiran seseorang adalah “dampak” ketimbang sebagai penentu eksistensi, termasuk aspek-aspek eksistensi yang tak disadari. Dengan menggeser pusat gravitasi dari kesadaran (psikologi) ke eksistensi (ontologi), Heidegger mengganti arah fenomenologi, dan menjadikannya bersifat personal dan sekaligus misterius.

Intensionalitas dan Intuisi

Intensionalitas mengacu ke pernyataan bahwa kesadaran itu selalu merupakan kesadaran terhadap sesuatu. Kata intensionalitas itu sendiri jangan disalahartikan dengan penggunaan “biasa” dari kata intensional, namun harus diambil sebagai sarana bermain pada akar-akar etimologis kata tersebut.

Pada awalnya, intensi mengacu ke “in tension” (dalam ketegangan), atau kata latin intendere, dan dalam konteks ini mengacu ke kesadaran “ketegangan” terhadap obyeknya. Intensionalitas terkadang dirangkum sebagai “ke-tentang-an” (aboutness).

Tentang apakah sesuatu yang sadar ini di dalam persepsi langsung atau fantasi, ini bukanlah konsekuensi dari konsep intensionalitas itu sendiri; kepada apapun kesadaran itu diarahkan, itulah bahwa kesadaran (pada dasarnya) adalah kesadaran-tentang. Ini berarti obyek kesadaran tidak harus bersifat obyek fisik yang dipahami dalam persepsi: itu bisa jadi sebuah fantasi atau memori. Konsekuensinya, “struktur-struktur” kesadaran –seperti persepsi, memori, fantasi, dan sebagainya—disebut intensionalitas-intensionalitas.

Prinsip utama fenomenologi, istilah intensionalitas berasal dari kaum Skolastik di periode abad pertengahan dan dimunculkan lagi oleh Brentano, yang pada gilirannya mempengaruhi konsep Husserl tentang fenomenologi. Arti istilah itu rumit dan tergantung sepenuhnya pada bagaimana itu dipahami oleh seorang filsuf yang menerimanya. Istilah itu tidak boleh disalahartikan dengan ”intensi” (maksud, niat) atau konsep psikoanalitis tentang ketidaksadaran ”motif” atau ”perolehan” (gain).

Sedangkan, intuisi dalam fenomenologi merujuk ke kasus-kasus di mana obyek intensional secara langsung hadir pada intensionalitas pada permainan. Jika intensi “diisi” dengan penangkapan langsung terhadap obyek, kita memiliki obyek hasil intuisi (intuited object). Keberadaan secangkir kopi di depan kita, misalnya, melihatnya, merasainya, atau bahkan membayangkannya – semua itu adalah intensi-intensi yang diisikan, dan obyek itu dengan demikian diintuisikan (intuited).

Hal yang sama terjadi pada pemahaman rumus matematika atau sebuah angka. Jika kita tidak memiliki sebuah obyek yang bisa dirujuk secara langsung, maka obyek itu tidak diintuisikan, namun tetap dimaksudkan (intended), namun dengan demikian bersifat kosong. Contoh-contoh intensi kosong boleh menjadi intensi-intensi signitif (signitive intentions)– intensi yang hanya berdampak (imply) atau merujuk pada (refer to) obyek-obyeknya.

Menurut Husserl “prinsip segala prinsip” ialah bahwa hanya intuisi langsung (dengan tidak menggunakan pengantara apapun juga) yang dapat dipakai sebagai kriteria terakhir di bidang filsafat. Hanya apa yang secara langsung diberikan kepada kita dalam pengalaman dapat dianggap benar dan dapat dianggap benar “sejauh diberikan”.

Kesadaran sebagai Dasar Filsafat

Dari situ Husserl menyimpulkan bahwa kesadaran harus menjadi dasar filsafat. Alasannya ialah bahwa hanya kesadaran yang diberikan secara langsung kepada kita sebagai subjek. Fenomenologi merupakan ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phainomenon). Jadi, fenomenologi mempelajari suatu yang tampak atau apa yang menampakkan diri.

“Fenomen” merupakan realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung yang memisahkan realitas dari kita. Realitas itu sendiri tampak bagi kita. Kesadaran menurut kodratnya mengarah pada realitas. Kesadaran selalu berarti kesadaran akan sesuatu. Kesadaran menurut kodratnya bersifat intensionalitas. Intensionalitas merupakan unsur hakiki kesadaran. Dan justru karena kesadaran ditandai oleh intensionalitas, fenomen harus dimengerti sebagai sesuatu hal yang menampakkan diri.

“Konstitusi” merupakan proses tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran. Fenomen mengkonstitusi diri dalam kesadaran. Karena terdapat korelasi antara kesadaran dan realitas, maka dapat dikatakan konstitusi adalah aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas.

Tidak ada kebenaran pada dirinya lepas dari kesadaran. Kebenaran hanya mungkin ada dalam korelasi dengan kesadaran. Dan karena yang disebut realitas itu tidak lain daripada dunia sejauh dianggap benar, maka realitas harus dikonstitusi oleh kesadaran. Konstitusi ini berlangsung dalam proses penampakan yang dialami oleh dunia ketika menjadi fenomen bagi kesadaran intensional.

Sebagai contoh dari konstitusi: “Saya melihat suatu gelas, tetapi sebenarnya yang saya lihat merupakan suatu perspektif dari gelas tersebut, saya melihat gelas itu dari depan, belakang, kanan, kiri, atas dan seterusnya”. Tetapi bagi persepsi, gelas adalah sintesa semua perspektif itu. Dalam prespektif objek telah dikonstitusi.

Pada akhirnya Husserl selalu mementingkan dimensi historis dalam kesadaran dan dalam realitas. Suatu fenomen tidak pernah merupakan suatu yang statis, arti suatu fenomen tergantung pada sejarahnya. Ini berlaku bagi sejarah pribadi umat manusia, maupun bagi keseluruhan sejarah umat manusia. Sejarah kita selalu hadir dalam cara kita menghadapi realitas. Karena itu konstitusi dalam filsafat Husserl selalu diartikan sebagai “konstitusi genetis”. Proses yang mengakibatkan suatu fenomen menjadi real dalam kesadaran adalah merupakan suatu aspek historis.

Secara singkat, fenomenologi adalah metode yang baik digunakan untuk menerangkan sesuatu. Dengan metode fenomenologi, kita akan mendapat gambaran umum dan mendalam dari obyek yang ingin kita teliti atau ketahui berdasarkan penampakan-penampakan pada diri obyek.

Penampakan-penampakan yang dimaksudkan dalam metode fenomenologi merupakan penampakan yang sama sekali baru. Dalam arti tidak ada tirai yang menghalangi suatu realitas itu untuk menampakkan diri. Dan kerana realitas yang muncul itulah maka kita berkesadaran. Jadi metode ini merupakan metode yang signifikan untuk meneliti obyek yang akan dikaji. ***

Depok, Mei 2009

Daftar Pustaka

Adian, Donny Gahral. 2006. Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.
Bertens. 1983. Filsafat Barat Abad XX, Inggris-Jerman. Jakarta : Gramedia.
Goldstein, Laurence. 1990. The Philosopher’s Habitat: An Introduction to Investigations in, and Applications of, Modern Philosophy. New York: Routledge.
Hadiwijono, Harun. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Kanisius.
Honderich, Ted. 1995. The Oxford Companion to Philosophy. Oxford/New York: Oxford University Press.
Kearney, Richard (ed.). 2006. Twentieth-Century Continental Philosophy. Knowledge History of Philosophy Volume VIII. New York: Routledge.
Lubis, Akhyar Yusuf. 2006. Dekonstruksi Epistemologi Modern: Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme, Hingga Cultural Studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.
Russell, Bertrand. 1948. History of Western Philosophy and Its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to the Present Day. London: George Allen and Unwin Ltd.

No comments:

Post a Comment