Sesudah pagi tanggal 20 Oktober 2009, tanggal Pelantikan Presiden RI dan Wapres Terpilih di gedung DPR/MPR, akan banyak kandidat menteri berdebar-debar menunggu pengumuman oleh Presiden SBY. Diperkirakan pada 21 Oktober, SBY akan mengumumkan susunan kabinet. sejumlah menteri lama akan digeser, dan sejumlah nama baru akan masuk.Jika tidak ada perubahan konstitusi, maka SBY tidak akan jadi presiden lagi sejak 2014. Maka pertarungan ke kursi Presiden akan terbuka lebar bagi kandidat-kandidat baru, termasuk tokoh-tokoh pimpinan parpol.
Nah, bagi tokoh-tokoh baru yang potensial --namun belum cukup terkenal di pentas nasional-- menjadi penting untuk meraih "posisi/jabatan antara", sebelum maju jadi kandidat RI-1 pada 2014. Apakah "jabatan antara" itu? Jawabannya: Menteri.
Saya melihatnya dari sudut public relations dan promosi. Jika Anda terpilih jadi menteri, Anda akan punya peluang untuk dipublikasikan (baca: diiklankan atau kampanye) secara gratis oleh media selama lima tahun ke depan. Apalagi, jika selama lima tahun ke depan Anda bisa membuat beberapa kebijakan gebrakan, ditambah lagi kunjungan-kunjungan yang cukup sering ke daerah (kunjungan gratis karena difasilitasi anggaran menteri).
Oleh karena itu, dalam perspektif demikian, jabatan menteri 2009-2014 bukanlah sekadar "pembantu presiden." Ya, ia memang pembantu presiden, tetapi jabatan pembantu presiden yang bisa menjadi batu tumpuan ke posisi RI-1 (atau minimal RI-2).
Maka jabatan menteri saat ini punya arti strategis. Bukan jabatan ecek-ecek. Maka, menjadi makin menarik menyaksikan nama-nama yang akan bertengger di susunan kabinet SBY-Boediono. Dadu baru saja diputar, dan permainan akan bergulir makin menarik.
Masalahnya, apakah permainan ini punya implikasi positif pada kepentingan dan nasib rakyat banyak, atau sekadar hanya jadi pemainan untuk kepentingan sempit atau kepentingan kelompok kecil elite saja di tampuk kekuasaan, itu akan menjadi persoalan kita semua.
Selamat berjuang!
Satrio Arismunandar
No comments:
Post a Comment