Wednesday, June 30, 2010

JURNALIS PERANG, DARI RADEN MAS SOSROKARTONO SAMPAI PETER ARNETT


Oleh Satrio Arismunandar

Masih ingat drama Perang Teluk 1991, antara Irak melawan pasukan koalisi yang dipimpin Amerika? Nah, bagi Anda yang rajin mengikuti perkembangan perang lewat layar kaca saat itu, mungkin ingat wajah jurnalis yang sering melaporkan langsung dari daerah perang di Baghdad, Irak. Jurnalis pemberani itu adalah Peter Arnett, koresponden perang dari CNN (Cable News Network).

Laporan langsung Arnett bersama CNN saat itu telah memelopori jurnalisme perang kontemporer. Yaitu, liputan langsung di mana penonton dari seluruh dunia bisa menyaksikan dentuman bom, pemandangan kota terbakar, dan korban-korban perang yang menangis, langsung dari pesawat televisi di rumah. Kini menonton berita langsung dari medan perang bukan lagi hal baru.

Jurnalis peliput perang bisa menjadi “selebritis dadakan,” ketika liputannya disaksikan jutaan orang dan memberi dampak besar. Popularitas Arnett dan CNN melonjak tinggi. Namun, itu baru sisi enaknya dari seorang jurnalis.

Diakui atau tidak, profesi jurnalis adalah profesi penuh risiko. Bukan cuma risiko dibreidel atau dilarang terbit, tetapi juga risiko langsung kehilangan nyawa. Tidak percaya? Lihat saja laporan Komite untuk Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalists) atau CPJ, tentang kondisi keselamatan jurnalis dunia selama delapan tahun terakhir.

Organisasi jurnalis internasional ini melaporkan, dari tahun 1992 sampai April 2010, sudah 805 jurnalis terbunuh di seluruh dunia, ketika sedang menjalankan tugas profesinya. Umumnya mereka adalah jurnalis yang meliput masalah politik (38 persen), perang (35 persen), korupsi (21 persen), hak asasi manusia (14 persen), kriminalitas (14 persen), budaya (8 persen), bisnis (4 persen), dan olahraga (3 persen).

Ladang Pembantaian

Ada negara-negara tertentu yang sangat rawan, dan bisa dibilang merupakan “ladang pembantaian” buat jurnalis. Dari total yang tewas itu, sebagian besar atau 141 jurnalis terbunuh di Irak, yang saat ini diduduki pasukan Amerika dan koalisinya.

Sejak invasi Amerika yang menjatuhkan Presiden Irak saddam Hussein tahun 2003, “negeri seribu satu malam” itu memang selalu bergolak, baik karena gerakan rakyat melawan penjajahan asing, maupun karena konflik di antara sesama warga Irak. Ledakan bom yang menewaskan banyak warga sipil bisa dibilang sudah jadi santapan sehari-hari.

Di Asia, tetangga kita Filipina ternyata adalah negeri paling berbahaya bagi jurnalis. Sejak tahun 1992, sudah 68 jurnalis terbunuh karena tugas profesinya di sana. Disusul oleh negara seperti Aljazair (60 jurnalis terbunuh), Rusia (52 jurnalis), Kolombia (42 jurnalis), Somalia (32 jurnalis), Pakistan (27 jurnalis), India (26 jurnalis), Afganistan (21 jurnalis), Turki (20 jurnalis), dan Meksiko (19 jurnalis). Masih ada puluhan jurnalis lain tewas di berbagai negara, yang tak bisa disebut satu-persatu.

Dari seluruh jurnalis yang terbunuh ini, yang terbanyak bekerja untuk media cetak (57 persen), disusul televisi (26 persen), radio (20 persen), dan Internet (2 persen). Sedangkan dari jenis kerjanya, yang terbanyak tewas adalah reporter/penulis di media cetak (32 persen), reporter media siaran (22 persen), editor atau redaktur (16 persen), juru kamera TV (10 persen), kolumnis/komentator (9 persen), juru potret (7 persen), produser (6 persen), penerbit/pemilik media (4 persen), teknisi (2 persen), dan reporter media online (1 persen).

Di Indonesia sendiri ada enam jurnalis yang tewas dalam menjalankan tugas sejak 1992. Mereka adalah: Fuad Muhammad Syafruddin (Bernas, 1996),Muhammad Sayuti Bochari (Pos Makasar, 1997), Naimullah (Sinar Pagi, 1997), Ersa Siregar ( Rajawali Citra Televisi, RCTI, 2003), Herliyanto (Radar Surabaya dan Jimber News Visioner, 2006), dan Anak Agung Gede Bagus Narendra Prabangsa (Radar Bali, 2009).

Penyebab tewasnya mereka juga beragam. Ada yang secara tak sengaja terjebak di tengah baku tembak antara pasukan TNI dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka), seperti dialami juru kamera Ersa Siregar pada 29 Desember 2003. Ada juga yang dibunuh karena tulisan-tulisannya yang kritis, seperti yang menimpa Fuad Muhammad Syafruddin, di Yogyakarta, 16 Agustus 1996.

Kasus terakhir adalah tewasnya Prabangsa, wartawan harian Radar Bali. Ia dibunuh pada 11 Februari 2009 di Kabupaten Bangli, Bali, karena pemberitaannya yang kritis. Prabangsa menulis tentang korupsi dan penyimpangan pada proyek Dinas Pendidikan, yang merugikan negara milyaran rupiah. Mayat Prabangsa dibuang oleh pembunuhnya ke pantai Padangbai, Karangasem, dan ditemukan lima hari kemudian di Teluk Bungsil sekitar perairan Padangbai.

Pelaku dan aktor intelektual pembunuhan berencana ini adalah I Nyoman Susrama, anggota legislatif terpilih DPRD II Bangli, yang sekaligus adik Bupati Bangli. Susrama, yang menjadi pengawas proyek Dinas Pendidikan Bangli ini, akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar, 15 Februari 2010.

Sosrokartono, Perintis Jurnalis Perang

Profesi jurnalis yang idealis mungkin memang menyerempet-nyerempet bahaya. Terutama, jurnalis yang meliput momen-momen kemanusiaan luar biasa, seperti bencana alam dan perang. Indonesia patut berbangga, bahwa kita juga punya tradisi jurnalistik yang cukup tua, dan punya tokoh-tokoh jurnalis yang berkelas.

Perintis “wartawan perang” Indonesia adalah Raden Mas Panji Sosrokartono. Tokoh jurnalis, intelektual, dan sekaligus spiritualis ini selama 29 tahun, sejak 1897, mengembara ke Eropa. Kaum bangsawan di Belanda biasa menjulukinya Pangeran dari Tanah Jawa. Sosrokartono adalah kakak Raden Ajeng Kartini, tokoh pejuang emansipasi perempuan Indonesia.

Selama bermukim di Eropa, Sosrokartono banyak bergaul dengan kalangan intelektual dan bangsawan di sana. Ia kuliah di Belanda sebagai mahasiswa Universitas Leiden dan kemudian menjadi wartawan perang IndonesiaThe New York Herald, cikal bakal The New York Herald Tribune. pertama. Waktu itu, ia menjadi koresponden liputan Perang Dunia I untuk koran

Uniknya lagi, agar mendapat akses dan bisa lebih leluasa meliput perang, ia menerima pangkat mayor dari militer Sekutu, tapi ia menolak dipersenjatai.
Pada momen itu, itu Sosrokartono berhasil memuat hasil perjanjian rahasia antara tentara Jerman yang menyerah dan tentara Prancis yang menang perang

Tokoh proklamasi kemerdekaan RI, Mohammad Hatta, dalam bukunya Memoir, sempat menyinggung kiprah Sosrokartono. Sebagai koresponden perang, Sosrokartono saat itu bergaji US$ 1.250 sebulan. “Dengan gaji sebanyak itu, ia dapat hidup sebagai seorang miliuner di Wina. Menurut cerita ia bergaul dalam lingkungan bangsawan,” tulis Hatta.

Yang patut dicatat, Sosrokartono yang berwajah tampan ini bukan jurnalis sembarangan. Ia termasuk jenius karena menguasai 17 bahasa asing. Itu sebabnya ia mudah diterima kalangan elite di Belanda, Belgia, Austria, dan bahkan Prancis. Sosrokartono fasih bercakap dalam bahasa Inggris, Belanda, India, Cina, Jepang, Arab, Sanskerta, Rusia, Yunani, dan Latin. Bahkan, ditambahkan oleh Hatta, “Ia juga pandai berbahasa Basken (Basque), suatu suku bangsa Spanyol.”

Sosrokartono adalah pribadi yang luar biasa. Hingga saat ini, sulit ditemukan atau mungkin bahkan belum ada jurnalis Indonesia lain, yang mempunyai bakat dan keterampilan berbahasa secanggih Sosrokartono. Kelebihannya bukan cuma dalam kemampuan teknis jurnalistik, tetapi juga komitmennya untuk membela nasib rakyat kecil pribumi di Hindia Belanda.

Sesudah 29 tahun di Eropa, Sosrokartono pulang ke Jawa untuk membangun sekolah. “Tidak ada yang lebih saya inginkan daripada bekerja untuk pendidikan mental sesama bangsa saya, dalam artian yang telah dimaksudkan oleh Kartini,” ucap Sosrokartono, dalam suratnya kepada seorang teman Belanda. Berkat dukungan tokoh pergerakan yang juga bapak pendidikan, Ki Hajar Dewantara, Sosrokartono dapat membangun perpustakaan di gedung Taman Siswa Bandung. Sebelum wafatnya, ia diangkat menjadi kepala Sekolah Menengah Nasional di kota “Paris van Java” ini.

Rudal meledak di Hotel Al-Rasheed

Di era sekarang, cukup banyak jurnalis Indonesia yang layak disebut “jurnalis perang.” Hendro Subroto, salah satunya. Sebagai juru kamera TVRI, ia meliput konfrontasi Malaysia-RI di Serawak, perang awal integrasi di Timor Timur, Kamboja, dan Vietnam. Ia pernah menderita luka parah akibat tertembak dalam pertempuran, ketika meliput di Fatularan, Timor Timur.

Masih banyak lagi jurnalis Indonesia peliput konflik bersenjata, yang tak bisa saya sebutkan satu-persatu. Saya sendiri pernah meliput perang di Irak dan Bosnia-Herzegovina. Hal paling berkesan adalah ketika saya melihat rudal dari pihak pasukan koalisi pimpinan Amerika meluncur, hanya sekitar 15 meter di atas kepala saya di Baghdad, Irak, pada hari-hari pertama pecahnya perang Teluk, Januari 1991.

Sebuah rudal antirudal, yang saya duga milik tentara Irak, meluncur dan menghantam rudal pertama. Akibatnya, terjadilah ledakan hebat yang menggetarkan gedung-gedung sekitar. Saat itu, menyadari bahaya yang nyata di depan mata, saya agak cemas. Segera saya berlindung di bunker di bawah Hotel Al-Rasheed tempat saya menginap, bergabung dengan para pengungsi dari kalangan warga Irak. Untunglah saya sukses meliput perang Teluk tanpa cedera apapun.

Saya juga sudah meliput di Israel/Palestina, Iran,Yordania, Mesir, Libya, Rusia, India, Kroasia, dan Slovenia. Tetapi saya kurang yakin, apakah sudah layak disebut “jurnalis perang” karena banyak jurnalis lain yang –saya tahu-- jauh lebih berdedikasi dan berani di medan perang.

Jurnalis Perang yang Manipulatif

Ada jurnalis hebat, yang berani mengambil risiko, dan siap mempertaruhkan nyawa demi idealisme. Tetapi, ada juga jurnalis yang bersedia “berkompromi” demi sekadar aksi, agar dianggap hebat, dipuji oleh atasan, atau memenangkan persaingan bisnis antarmedia.

Ketika meliput perang Teluk di Baghdad, Irak, Januari 1991, saya pernah menemui kasus semacam itu. Sesudah malam pemboman pertama di ibukota Irak itu, banyak jurnalis buru-buru pergi meninggalkan Irak ke negara tetangga Yordania, yang merupakan daerah aman. Saya, yang waktu itu menjadi wartawan Harian Kompas, masih bertahan di Irak bersama dua jurnalis asal Indonesia, Rizal Mallarangeng dan Taufik Rahzen.

Saat itu ada dua jurnalis lain asal Indonesia, YI dan IN, yang bergegas naik taksi dari Baghdad ke Yordania. Dari Amman, ibukota Yordania, IN yang bekerja untuk sebuah suratkabar terbitan Jawa Timur dengan lancar mengirim berita, yang ketika dimuat selalu dinyatakan sebagai “laporan wartawan kami dari Baghdad, Irak.” Hal itu jelas penipuan terhadap pembaca, apapun motifnya. Saya yang bertahan di Irak justru tidak bisa mengirim berita, karena di tengah pemboman hebat waktu itu tidak ada sarana listrik, fax, apalagi internet.

Gara-gara pemberitaan IN itu, saya sempat ditegur redaktur Kompas, karena dianggap tidak aktif mengirim berita. Ketika akhirnya sempat bertemu IN, saya tanyai dia, mengapa selalu menulis laporan dari “Baghdad”, padahal saya tahu betul dia berada di Yordania. Jawab IN, “Maaf, Sat. Aku selalu menulis jujur: laporan dari Amman, Yordania. Tetapi oleh redakturku, selalu diganti dengan: laporan dari Baghdad, Irak!”

Nah, mau omong apa, kalau sudah begitu?

Depok, April 2010

No comments:

Post a Comment