Thursday, November 3, 2011

RUDY HARTONO, Sang Maestro Bulutangkis - Riwayat, Trans TV, Sabtu 5 Nov 2011 pkl.7.00 WIB



RUDY HARTONO – Sang Maestro Bulutangkis
Saksikan di RIWAYAT, Trans TV, Sabtu, 5 November 2011, pukul 7.00 WIB

Siapa tak kenal mestro bulutangkis ini? Rudy Hartono Kurniawan mencengangkan publik Indonesia, lewat debut pertamanya di Istora Senayan pada ajang Piala Thomas 1967. Sebagai remaja 17 tahun pada waktu itu, Rudy menaklukkan dua jagoan butangkis Malaysia, Tan Aik Huang dan Yew Cheng Hou. Tahun itu, tim Indonesia memang gagal merebut kembali Piala Thomas. Namun, keindahan permainan Rudy Hartono, yang mengalahkan dua pemain kelas dunia, menjadi penawar kekecewaan.

Ajang All England kemudian menjadi singgasana kesuksesan Rudy Hartono. Sejak tahun 1968, tujuh kali berturut-turut, Rudy meraih gelar juara di turnamen prestisius itu. Pada tahun 1976, ia menggenapi kemenangannya yang kedelapan. Sungguh prestasi yang fantastis, dan rekornya itu hingga kini belum tertandingi.

Lahir di Surabaya pada 18 Agustus 1949, pemilik nama asli Nio Hap Liang ini sejak kecil memang berminat besar pada olahraga. Ayahnya, Zulkarnain Kurniawan, adalah yang memperkenalkan olahraga bulutangkis pada Rudy kecil. Zulkarnain, yang pebulutangkis profesional dan memiliki klub bulutangkis ”PB OKE” di Surabaya, turun langsung melatih Rudy.

Disiplin tinggi, fokus dan tekun, adalah tiga hal yang diterapkan sang ayah saat melatih Rudy. Rudy rela menghabiskan masa kecil dan remajanya untuk melatih kekuatan fisik dan stamina, serta teknik permainan bulutangkisnya. Ia berlatih dengan fasilitas yang amat minim. Jalan raya, tempat parkir mobil, hingga bengkel kereta api di sekitar kawasan Kaliasin, Surabaya, menjadi saksi perjuangan dan ambisi Rudy untuk meraih prestasi.

Di usia 15 tahun, Rudy berhasil menyandang juara junior Indonesia. Setahun kemudian, Rudy memutuskan hijrah ke Pelatnas Thomas Cup di Jakarta, meski keputusan ini sempat ditentang ayahnya. Rudy meyakinkan sang ayah bahwa ia akan tetap berdisiplin tinggi, fokus, dan tekun. Ternyata janji Rudy terbukti. Bersama tim bulutangkis Indonesia, anak ketiga dari sembilan bersaudara ini berhasil memboyong Piala Thomas empat kali, yakni tahun 1970, 1973, 1976 dan 1978.

Namun, sebagai manusia biasa, Rudy juga sempat mengalami saat-saat pahit. Pada final Piala Thomas 1973 di Jakarta, Rudy dikalahkan Svend Pri, pemain asal Denmark. Masyarakat pun menghujat dan berbagai tuduhan berkembang, sehingga Rudy merasa terpuruk.

Tahun 1982, saat final Piala Thomas di London, Inggris, Rudy sekali lagi menelan pil pahit. Meski semula diunggulkan, Rudy ditaklukkan oleh Luan Jin, pemain tunggal andalan China. Tim Indonesia kalah, dan Piala Thomas --yang selama 21 tahun berada di tangan Indonesia-- berpindah tangan ke pendatang baru, China.

Pasca kekalahan 1982, Rudy memilih gantung raket. Namun, ia tak sepenuhnya meninggalkan dunia bulutangkis. Ia sempat menjabat Ketua Bidang Pembinaan PB-PBSI. Bersama sejumlah mantan pemain bulutangkis, Rudy juga mendirikan klub Jaya Raya, yang melahirkan pemain-pemain tingkat dunia. Antara lain: Susy Susanti, Alan Budi Kusuma, serta Chandra Wijaya dan Tony Gunawan.

Kini, di usianya yang ke-62, Rudy menjadi presiden komisaris di sebuah perusahaan oli terkemuka. Ia juga menjadi staf penasehat di perusahaan perlengkapan dan peralatan olahraga. Meski bukan lagi pemain bulutangkis, Rudy tetap menjalani hidup yang disiplin. Operasi jantung yang dijalaninya tahun 1988 membuat Rudy berusaha terus menjaga kesehatan.

Sang Maestro ini berharap, sisa hidupnya masih bisa berguna bagi lingkungan sekitar dan keluarga tercinta. Yaitu, istrinya Jane, anaknya Christopher Hartono Kurniawan, dan Christine Hartini Kurniawan. Impian lain yang ingin ia wujudkan adalah menjadikan cucu pertamanya, Gwen, sebagai penerus karirnya di dunia bulutangkis.


Jakarta, 3 November 2011

Satrio Arismunandar
Eksekutif Producer, Divisi News Trans TV
HP: 0819 0819 9163

No comments:

Post a Comment