Tuesday, August 9, 2011

Sinopsis Episode 19-24 PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV



SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV
untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)
Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB

Episode 19


Gara-gara salah paham, mengira ibunya meninggal, Fahmi sempat menangis keras. Ningrum memang jatuh sakit, mual, dan muntah-muntah. Nadya, yang sedang mengikuti program Pesantren Kilat (sanlat), juga merasakan firasat tentang sakitnya Ningrum. Di rumah, Satrio dan Fahmi harus bergantian merawat Ningrum.
Sementara itu, Alim menempatkan istrinya Anggi yang menderita lumpuh di rumah ibu Anggi. Dengan demikian, ada yang menjaga Anggi dan ada yang menemani anak perempuannya, Putri. Alim tetap merasakan pertentangan batin, antara cintanya pada istri dan dorongan dari saudaranya untuk menikah lagi.
Di pasar, Tini, Bang Mamat, dan sejumlah pedagang lain kesal, karena para pedagang tradisional ternyata tidak kompak. Ada sejumlah pedagang yang terhasut mendukung relokasi pasar secepatnya. Sedangkan, Alim didesak oleh atasannya untuk segera membereskan proyek renovasi pasar.
Satrio memutuskan berhenti bekerja pada Edo, karena merasa kerja menagih utang secara paksa itu tak sesuai dengan suara hatinya. Gara-gara pilihanya itu nyaris Satrio jadi korban aksi brutal Edo.

Episode 20

Nengsi dan Maeng yang berjalan tak tentu arah, terdampar di sebuah masjid. Maeng merasa tersentuh mendengar tausiah Ustadz Zaqi di masjid itu. Seusai tausiah, Ustadz Zaqi secara khusus menasehati Maeng agar kembali menjadi ”laki-laki sejati,” karena haram hukumnya lelaki berpenampilan seperti perempuan.
Sementara itu, Satrio berlatih orasi, untuk persiapan pekerjaan barunya sebagai koordinator demo. Kerja ini adalah order dari temannya, Yura.
Dalam perjalanan, Satrio kecopetan. Pencopet dompet itu adalah Ayu, si copet cantik. Karena dompet itu ternyata kosong, Ayu punya ide untuk mengembalikan dengan harapan mendapat upah. Tetapi apa lacur, justru Satrio bisa menebak taktiknya dan membuka kedok Ayu. Ayu dinasehati supaya insyaf dan berhenti mencopet.
Alim, yang tertarik pada Ningrum, mengajak anaknya Putri untuk menjenguk Ningrum yang sedang sakit. Di rumah Ningrum, Putri jadi bertemu lagi dengan Fahmi dan Adam.

Episode 21

Kepala sekolah minta Bu Ida memberitahu para siswa peserta Pesantren Kilat (sanlat), bahwa mereka harus memakai pakaian biasa lagi (tidak berjilbab) ketika masuk sekolah lagi nanti. Bu Ida yang sedang menuju pesantren dibuntuti oleh Bondang, sehingga ketakutan melihat gaya preman tanggung itu. Bondang yang ugal-ugalan malah jatuh dari motor.
Satrio menjenguk Nadya di pesantren, dan tak sengaja bertemu Bu Ida di pesantren. Bondang yang mau mendekati Bu Ida jadi batal, karena melihat Satrio. Ustadz Zaqi yang menaruh hati pada Ningrum sempat was-was, karena mengira Satrio itu suami Ningrum. Sedangkan Bondang, sesudah gagal mendekati Bu Ida, kini berbalik merayu Tini.
Di pesantren, terjadi kesalahpahaman karena surat Damar, yang sedianya ditujukan ke Nadya, malah jatuh ke tangan Rini. Rini yang naksir Reyhan, anak pemilik pesantren, mengira surat cinta itu berasal dari Reyhan.
Selain itu, terjadi kehebohan karena ulah orang bertopeng, yang berkeliaran di pesantren pada waktu malam, dan diduga maling. Orang itu sempat berkelahi dengan Nadya.

Episode 22

Tini dan Bondang kini berpacaran mesra, sehingga perilaku Tini menjadi tidak seperti biasanya di pasar. Alim menyambangi Ningrum di pasar, dan memberikan hadiah obat dari Cina. Tanpa disadari, Ningrum mulai menunjukkan rasa suka dikunjungi Alim, sehingga ia digodai oleh Tini.
Ustadz Zaqi, yang berbelanja beras untuk keperluan pesantren, juga ke pasar sehingga bertemu Ningrum.
Pak Bimo, tukang kredit yang juga ada hati pada Ningrum, tidak mendapat perlakuan manis dari Ningrum. Bimo mengira, ini pasti karena pengaruh adanya Alim.
Gara-gara Alim terlambat menjemput anaknya, Putri pulang sendiri. Tasnya dijambret dua anak bandel. Tetapi Putri ditolong oleh Adam dan Fahmi, yang berhasil merebut lagi tas itu. Adam, Fahmi, dan Putri lalu jadi bermain dan mengamen bersama.
Alim didamprat ibu mertuanya karena lalai menjemput Putri. Apalagi, sepulang sekolah, Putri jadi demam. Ibu mertuanya juga menuding, Alim mungkin ada main dengan wanita lain.

Episode 23

Gara-gara bertemu seorang pencari bakat alias koordinator artis figuran, Maeng dan Nengsi mengikuti audisi di sebuah stasiun TV, untuk memilih beberapa pemain sinetron. Tak terduga, justru karena tampilan apa adanya, keluguan, dan kekikukannya, mereka berdua terpilih. Maeng malah ditawari ikut pergelaran musik Ramadan, dengan syarat harus mengubah penampilan jadi macho dan jantan.
Ayu, si copet cantik, mencopet dompet milik seorang karyawan stasiun TV. Tetapi, ingat pesan dan nasehat Satrio, ia insyaf dan mengembalikan dompet itu ke si pemiliknya. Tak terduga, Ayu malah ditawari ikut casting untuk jadi pemain sinetron juga.
Di pesantren, para peserta Pesantren Kilat (sanlat) menyiapkan masakan berbuka puasa dengan memasak sendiri. Putra kyai, Reyhan, diam-diam selalu memperhatikan Nadya. Di sisi lain, Damar mencari-cari kesempatan untuk melihat Nadya, tetapi ia malah kepergok Gita. Damar terpaksa pura-pura. Ia bilang ingin melihat Gita memasak.

Episode 24

Satrio merasa resah dengan pekerjaan barunya sebagai koordinator demo. Dulu ia disuruh menggelar demo anti-pemerintah, tetapi kini ia diminta menggelar demo yang pro-pemerintah. Ini tak sesuai dengan suara hati nuraninya, meski ia dibayar mahal.
Karena sering menunggak SPP, Adam dan Fahmi diberi surat peringatan oleh Tata Usaha untuk diserahkan ke orangtua.
Ningrum mulai mengharapkan dikunjungi Alim. Tetapi Ningrum kecewa ketika mendengar bahwa Alim sudah beristri, sehingga merasa bersalah dengan perasaan itu. Alim sendiri, meski mulai ada hati pada Ningrum, selalu terbayang pada peristiwa kecelakaan yang membuat istrinya Anggi menderita lumpuh. Alim merasa berdosa.
Karena ingin bertemu Ningrum, Ustadz Zaqi mencari alasan untuk bisa ke pasar. Tetapi Nyai tidak merasa ada kebutuhan pesantren yang harus dibeli di pasar. Gara-gara salah paham, mengira Ustadz Zaqi mau mendekati Tini, Bondang melabrak Ustasdz Zaqi. Sementara itu, ketika Alim sibuk dengan urusan keluarga, anak buah Alim –Ratno dan Joni—mengintimidasi pedagang agar segera pindah lokasi.

(BERSAMBUNG)

Penyusun: Satrio Arismunandar

No comments:

Post a Comment