Monday, August 1, 2011

Sinopsis Episode 1-7 PINTU SURGA, Drama Ramadhan 2011 Trans TV



SINOPSIS PER EPISODE - PROGRAM PINTU SURGA, TRANS TV
untuk diupload ke detik.com selama bulan Ramadhan (1 – 29 Agustus 2011)
Pintu Surga tayang tiap hari pkl. 16.30 – 17.30 WIB

Episode 1


Nadya, putri dari Ningrum, adalah siswa SMP dan gadis tomboy yang pemberani. Sejak ayahnya, Pak Deden, meninggal dunia, Nadya dan adik lelakinya, Fahmi, tinggal bersama ibu di sebuah rumah sederhana. Gara-gara Fahmi terluka akibat ditabrak seorang pencopet di pasar, Nadya sempat berkelahi dengan copet itu.
Sesuai pesan almarhum ayahnya, Nadya ingin meneruskan sekolah ke pesantren. Tapi ia menghadapi persoalan lain di sekolah, dan sempat ditegur kepala sekolah, karena menunggak SPP sampai tiga bulan. Untuk bisa membayar SPP Nadya itu, Ningrum berkorban dengan menggadaikan cincin kawinnya.
Sementara itu, Satrio, adik Ningrum yang sarjana tapi penganguran, mulai menumpang tinggal di rumah Ningrum sambil mencari pekerjaan. Ningrum, yang bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional, menghadapi persoalan rencana relokasi pasar, yang bisa menggusur pedagang kecil. Ningrum masih suka terkenang pada mendiang suaminya. Sedangkan Fahmi masih merasa kehilangan atas wafatnya sang ayah, sehingga sering terbawa mimpi.

Episode 2

Maeng dan Nengsi adalah pengamen, yang sering mengamen di pasar tradisional tempat Ningrum berdagang. Maeng, pria yang penampilannya feminin, adalah keponakan Nengsi. Nengsi suka menyanyi dangdut. Tapi penghasilan dari mengamen tidak memadai sehingga bikin mereka kecut. Maeng, yang jadi banci akibat salah sosialisasi sejak kecil, juga merasa sedih karena krisis identitas.
Bimo, tukang kredit yang biasa menarik tagihan, jatuh hati pada Ningrum yang masih cantik, meski berstatus janda. Bahkan Bimo sempat menyambangi Ningrum ke rumah, tapi tak diacuhkan oleh Ningrum. Sementara itu, para pedagang pasar yang gelisah karena akan tergusur oleh proyek relokasi, urunan uang untuk menyelenggarakan aksi demonstrasi, guna menentang renovasi.
Untuk menebus cincin ibunya yang tergadai, Nadya ikut lomba karya tulis. Temanya tentang nasib pedagang kecil di pasar tradisional, yang terancam tergusur oleh renovasi tanpa mendapat lokasi pengganti yang memadai. Di sekolah, Nadya sering direndahkan oleh Gita, yang anak orang kaya, tetapi Nadya selalu didukung oleh sahabatnya, Rini.

Episode 3

Karena mau masuk bulan Ramadhan, Ningrum mencoba menambah penghasilan dengan berjualan makanan untuk berbuka puasa di dekat rumahnya.
Di sisi lain, rencana renovasi pasar tradisional akan segera dilakukan, tetapi banyak pedagang yang enggan direlokasi. Oknum pelaksana proyek renovasi pasar diam-diam melakukan cara-cara kotor, dengan merusak kios para pedagang yang dianggap enggan disuruh pindah.
Sementara itu, Nadya dan sahabat-sahabatnya digelisahkan oleh rencana pimpinan sekolahnya untuk melarang pemakaian jilbab oleh siswa di sekolah. Tetapi keinginan Nadya untuk berjilbab malah diejek oleh Gita dan teman-temannya.
Menyadari kesulitan keuangan yang dihadapi keluarganya, Fahmi ingin ikut berjualan koran dengan Adam, untuk tidak menambah beban ibunya.
Satrio masih sibuk mencari lowongan pekerjaan, tetapi tidak mudah rupanya mencari lowongan yang cocok dengan kualifikasinya.

Episode 4


Ibu Ida kecopetan di angkutan umum, tetapi si copet tak sempat membawa lari isi dompet itu, karena secara tak sengaja dompet yang dicopet itu jatuh dan sampai ke tangan Satrio. Satrio menghadapi pertentangan batin, antara kebutuhan nyata untuk menggunakan uang di dalam dompet itu, dan rasa kejujurannya yang ingin mengembalikan dompet itu ke tangan pemiliknya yang berhak.
Fahmi akhirnya mencari uang dengan cara mengamen bersama Adam. Ini dilakukan diam-diam agar tidak diketahui ibunya, Ningrum. Tetapi karena kecapekan mengamen, Fahmi sempat sakit.
Alim, kepala proyek renovasi pasar, mendapat tekanan dari kliennya untuk segera melakukan renovasi, meski banyak pedagang masih enggan direlokasi. Alim ingin menjalankan proyek secara jujur, tanpa terlalu menyusahkan para pedagang kecil, meskipun anak buahnya sendiri ingin menghalalkan segala cara untuk menyelesaikan proyek itu.

Episode 5

Kehidupan jalanan yang keras dijalani Fahmi bersama Adam, sebagai pengamen cilik. Mereka harus berkonflik dengan sesama pengamen, yang dikoordinir preman penguasa wilayah. Karena Fahmi lama mengamen dan pulang terlambat, Ningrum sempat khawatir terhadap Fahmi.
Sementara itu, Nadya dan Satrio membantu Ningrum, berjualan penganan untuk berbuka puasa di dekat rumah. Untuk meningkatkan omzet penjualan, Nadya berinisiatif menawarkan dagangannya dengan cara berkeliling menggunakan sepeda.
Satrio tahu bahwa pemilik dompet yang kini ada di tangannya itu adalah Ibu Ida, guru Nadya. Satrio akhirnya memutuskan untuk mengembalikan dompet itu ke Ibu Ida, dengan langsung mendatangi rumah Ibu Ida.
Di saat lain, Ningrum mengikuti pengajian di masjid yang dipimpin oleh Nyai, istri pemilik pesantren.

Episode 6

Memasuki bulan puasa, Ningrum tiba-tiba merasa kangen sekali dengan almarhum suaminya. Dulu –saat suaminya masih ada- dia tidak merasa begitu susah sebab dia punya tempat untuk curhat dari segala permasalahan yang dia hadapi. Dia juga punya tempat berbagi sehingga persoalan apapun menjadi tak begitu berat, seperti dalam menangani anak-anak, atau urusan rumah tangga lainnya.
Satrio yang masih mencari-cari pekerjaan, kini punya kesibukan baru yakni melakukan pendekatan ke Bu Ida, guru sekolah Nadya. Salah satu yang dilakukannya adalah dengan berpura-pura menjemput Nadya di sekolahnya.
Alim, orang yang diserahi tanggung jawab mengurus relokasi pasar, ternyata memiliki masalah pribadi. Ia harus mengurus putrinya sendiri, karena istrinya lumpuh akibat kecelakaan mobil. Alim datang ke pasar untuk mengetahui kondisi sebenarnya, kenapa relokasi pasar begitu sulit dilakukan. Saat itulah dia bertemu Ningrum. .
Nadya mendapat masalah baru, sebab dagangan kelilingnya tanpa sengaja ditabrak oleh Bondang, preman pengangguran yang sering membawa motor secara ugal-ugalan.

Episode 7

Kerena dagangannya ditabrak Bondang, kaki Nadya terluka dan berdarah. Alim yang kebetulan lewat menolong Nadya, mengantarkannya ke rumah, dan bertemu Ningrum lagi. Simpati Alim bertambah setelah tahu kehidupan Ningrum dan perjuangannya menghidupi anak-anak setelah suaminya meninggal. Namun, kehadiran Alim di rumah Ningrum menimbulkan praduga dan bisik-bisik tetangga. Apalagi mengingat status Ningrum sebagai janda yang masih cantik.
Untuk memulai hubungan baru dengan perempuan lain, Alim sendiri masih merasa berat karena dihantui rasa bersalah akibat kecelakaan yang menimpa istrinya, Anggi. Namun, Putri, anak perempuan Alim, tidak menyalahkan ayahnya atas kecelakaan itu.
Di waktu lain, untuk membalas perlakuan Bondang, Nadya dan kawan-kawan mengerjai Bondang ketika preman tanggung itu sedang petantang-petenteng di sekolah. Bondang, yang kebetulan juga alumnus sekolah itu, terkecoh oleh jebakan Nadya dan terpaksa harus mengantarkan Kepala Sekolah pulang.
Pada suatu kesempatan, Adam dan Fahmi bertemu dengan Maeng dan Nengsi yang barusan mengamen. Lewat percakapan mereka, Maeng merasa diingatkan untuk insyaf dan kembali menjalani kehidupan sebagai laki-laki normal, bukan banci.

(BERSAMBUNG)

Satrio Arismunandar

No comments:

Post a Comment