Tuesday, October 18, 2011
KONSEP INTI MELEK MEDIA (MEDIA LITERACY)
Menurut Center for Literacy Media di Santa Monica, California, AS, ada lima konsep inti dalam melek media:
1.Semua pesan media dikonstruksi
2.Pesan-pesan media dikonstruksi menggunakan bahasa kreatif dengan aturan-aturannya sendiri
3.Orang yang berbeda mengalami pesan media yang sama secara berbeda
4.Media memiliki nilai-nilai dan sudut pandang yang melekat padanya
5.Sebagian besar pesan media dikonstruksi untuk memperoleh profit dan/atau kekuasaan
Semua pesan media dikonstruksi
Tayangan yang muncul di layar TV sudah melalui proses panjang, yang melibatkan aktor-aktor seperti: reporter, kamerawan, produser, presenter, editor, dsb. Hasil akhir yang dilihat penonton bukanlah sesuatu teks yang obyektif ataupun alamiah (apa adanya). Banyak keputusan terkait dengan proses penciptaan sebuah teks, dan audiens hanya melihat hasil akhirnya. Audiens tidak mengetahui ide atau gagasan-gagasan yang tertolak dalam proses penciptaan tersebut, yang mungkin bisa menghasilkan variasi yang tak terhingga terhadap teks media.
(Pertanyaan: Siapa yang menciptakan pesan ini?)
Pesan-pesan media dikonstruksi menggunakan bahasa kreatif dengan aturan-aturannya sendiri
Semua tayangan TV memiliki bahasanya sendiri, yang dapat dipahami dengan menganalisis secara seksama terhadap berbagai suara (audio) dan gambar (visual), yang digunakan untuk menyampaikan pesan.
(Pertanyaan: Teknik-teknik kreatif apa yang digunakan untuk menarik perhatian saya?)
Orang yang berbeda mengalami pesan media yang sama secara berbeda
Setiap penonton memiliki latar belakang pendidikan, usia, pekerjaan, ras, agama, suku, jenis kelamin, dan lain-lainnya yang berbeda. Mereka juga punya pengalaman hidup yang berbeda. Dua orang yang mengkonsumsi teks media yang persis sama, mungkin akan memperoleh pemaknaan yang sangat berbeda.
(Pertanyaan: Bagaimana kiranya orang yang berbeda memahami pesan media ini secara berbeda dengan saya?)
Media memiliki nilai-nilai dan sudut pandang yang melekat padanya
Teks atau tayangan media tidaklah obyektif. Tayangan tersebut mengandung nilai-nilai tertentu, dan dengan tayangan itu ia memberitahu kita para penonton tentang siapa atau isu apa yang penting. Sebaliknya, dengan tidak menayangkan orang atau isu lain tertentu, media TV menyatakan bahwa orang atau isu lain tersebut tidaklah penting.
(Pertanyaan: Gaya hidup, nilai-nilai, dan sudut pandang apa yang diwakilkan, atau dihapus, dari pesan ini?)
Sebagian besar pesan media dikonstruksi untuk memperoleh profit dan/atau kekuasaan
Sebagian besar pesan media TV dibuat untuk memperoleh audience (penonton) tertentu, sehingga para pengiklan dapat memasarkan produk-produknya. Kita perlu memahami adanya motivasi uang/finansial tersebut, untuk mengetahui kepentingan-kepentingan siapa sebenarnya yang dilayani oleh media.
(Pertanyaan: Mengapa pesan ini dikirimkan?)
Satrio Arismunandar
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment