Tuesday, October 4, 2011

The Ascent of Man - Karya J. Bronowski (Rangkuman Bab 5 dan 6)


Secara umum, buku ini merupakan versi cetak dari gagasan dasar, yang telah dituangkan dalam program televisi hasil produksi BBC (British Broadcasting Corporation) oleh Bronowski. Program serial TV itu memaparkan perkembangan sains di dunia, yang terus meningkat melalui pemahaman rasional manusia. Perkembangan sains itu sendiri menunjukkan tahapan-tahapan kenaikan (ascent) atau menanjaknya posisi manusia melalui anak-anak tangga suatu evolusi kebudayaan.

Meskipun menjabarkan sejumlah temuan sains dari peradaban masa lalu, buku ini lebih luas dari sekadar uraian tentang perkembangan sains. Buku ini lebih tepat menggambarkan filsafat ketimbang sejarah, menjelaskan filsafat tentang alam ketimbang sains. Subyek buku ini adalah versi kontemporer dari apa yang biasa disebut Filsafat Alam (Nature Philosophy).

Kita berada dalam kerangka pikir yang lebih baik dewasa ini untuk memahami filsafat alam, karena temuan-temuan baru dalam biologi manusia telah memberi arah baru pada pemikiran ilmah. Yakni, suatu pergeseran dari yang umum kepada yang individual. Ini adalah yang pertama kalinya sejak zaman Pencerahan (Renaisans) membuka pintu pemikiran ke arah dunia alamiah (bukan lagi pola pikir kuno yang penuh sihir dan tahyul).

Tidak ada filsafat, bahkan tidak ada sains yang bermartabat, tanpa kemanusiaan (humanity). Penegasan ini terlihat dalam isi buku The Ascent of Man. Pemahaman tentang alam adalah langkah menuju pemahaman tentang hakikat manusia itu sendiri, serta kondisi manusia di dalam alam.

Dalam bab 5, The Music of the Spheres, Bronowski menunjukkan perkembangan ilmu matematika, yang menurutnya merupakan sains yang paling canggih dan terelaborasi. Matematika merupakan tangga bagi pemikiran mistik maupun rasional dalam peningkatan intelektual manusia.

Ada beberapa konsep yang harus dicakup dalam setiap pembahasan matematika. Yaitu: gagasan logis tentang bukti (proof), gagasan empiris tentang hukum pasti alam (khususnya tentang ruang), munculnya konsep operasi dan gerakan dalam matematika, dari deskripsi tentang alam yang statis ke dinamis.

Bahkan masyarakat yang paling primitif pun memiliki sistem angka. Dari tahap fundamental tersebut, banyak kebudayaan telah membangun sistem angka mereka sendiri, biasanya sebagai bahasa tertulis dengan konvensi yang mirip. Orang Babilon, Maya, dan India, misalnya, menemukan penulisan angka-angka besar dengan cara yang pada dasarnya sama, seperti urutan digit yang kita gunakan, walau mereka hidup terpisah jauh dalam ruang dan waktu.

Pengetahuan tentang angka-angka –tentang aritmatika, matematika, geometri-- ini berkembang sejak dari peradaban kuno seperti Babilon, Mesir, India, Yunani. Kita kenal tokoh-tokohnya, seperti Pythagoras, Euclid, dan Ptolemy. Peradaban Islam adalah peradaban yang berjasa menterjemahkan, menyerap, dan menyelamatkan warisan dari peradaban Yunani ini, yang diperkaya kemudian oleh para ilmuwan Muslim. Ketika itu Eropa masih dalam zaman kegelapan. Benua Amerika malah belum ditemukan.

Italia sering dipandang sebagai tempat kelahiran zaman Pencerahan. Namun, konsepsi pencerahan itu sebetulnya berasal dari Spanyol pada abad ke-12, sesudah persentuhan dengan imperium dan kebudayaan Islam. Hal itu dilambangkan dengan adanya sekolah penterjemahan terkenal di Toledo, di mana teks-teks kuno diubah dari bahasa Yunani (yang sudah dilupakan oleh Eropa) melalui bahasa Arab dan Ibrani (Hebrew) ke bahasa Latin.

Di Toledo, di tengah kemajuan-kemajuan intelektual lain, sebuah perangkat awal tabel astronomi dibuat, sebagai ensiklopedia posisi bintang-bintang. Karakteristik kota dan waktu menumjukan tabel itu dari Kristen, namun angka-angka yang digunakan adalah karakter Arab, dan sampai sekarang karakter angka-angka itu bisa dianggap modern.

Pada bab 6, yang berjudul The Starry Messenger, Bronowski menyatakan, sains pertama dalam pengertian modern yang tumbuh di peradaban Laut Tengah (Mediterania) adalah astronomi. Adalah wajar, untuk membahas astronomi langsung dari matematika, mengingat astronomi adalah sains yang berkembang pertama kali dan menjadi model bagi seluruh sains lainnya. Hal ini karena astronomi dapat diubah ke angka-angka pasti.

Dasar permulaan astronomi terdapat di semua kebudayaan, dan astronomi terbukti penting bagi manusia-manusia pertama di seluruh bagian dunia. Salah satu alasannya sangat jelas, yaitu karena astronomi adalah pengetahuan yang membimbing kita melalui siklus pergantian musim. Misalnya, dengan melihat pergerakan matahari.

Dengan cara ini, bisa ditentukan waktu yang pasti kapan orang harus menanam benih, memanen, menggembala ternaknya, dan sebagainya. Maka di semua kebudayaan yang sudah mapan, mereka memiliki kalender untuk membimbing perencanaan, dan hal ini terbukti di Dunia Baru (New World) maupun di lembah sungai, seperti Babilon dan Mesir.

Astronomi tidak cuma berarti kalender. Ada bentuk penggunaan lain di antara manusia-manusia pertama yang, bagaimanapun juga, saat itu tidaklah universal. Pergerakan bintang di langit malam juga bisa menjadi penuntun arah pada pejalan, khususnya penjelajah di laut, yang tidak bisa melihat tanda-tanda jalan seperti di darat.

Tanpa astronomi, tak mungkin manusia saat itu bisa melakukan perjalanan jarak jauh. Bahkan, tanpa astronomi kita juga tidak bisa memiliki teori tentang bentuk bumi dan daratan serta laut di atasnya.

Astronomi bukanlah titik puncak sains atau penemuan. Namun, ia merupakan ujian bagi pancaran perangai dan pikiran yang melandasi suatu kebudayaan. Para pelaut dari kawasan Laut Tengah sejak zaman Yunani memiliki hasrat penyelidik yang aneh, yang mengkombinasikan petualangan dengan logika –yang empiris dengan yang rasional—menjadi mode tunggal penyelidikan.

Dalam semangat semacam ini, kita kenal dua nama astronom, yakni Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei. Copernicus, intelektual humanis Polandia yang lahir pada 1473, membuat terobosan pemikiran. Ia mengungkapkan bahwa matahari adalah pusat dari tata surya. Jadi bukan bumi yang menjadi pusat, seperti keyakinan yang banyak dianut orang pada zaman itu.

Temuan-temuan baru itu bertepatan dengan datangnya zaman Pencerahan, yang berdampak pada agama, seni, sastra, musik, dan ilmu matematika. Ide-ide baru semacam ini berbenturan langsung dengan keseluruhan sistem abad pertengahan, yang dipegang kukuh oleh otoritas yang berkuasa.

Perbenturan pemikiran seperti ini juga terlihat pada kasus Galileo Galilei, ilmuwan cemerlang yang lahir di Italia pada 1564. Galileo adalah pencipta metode ilmiah modern. Ia membuat alat pemantau bintang, melakukan eksperimen, dan mempublikasikan hasil pengamatan astronominya pada 1610, dalam buku berjudul Sidereus Nuncius atau The Starry Messenger (Utusan Bintang).

Galileo membenarkan hasil temuan Copernicus, bahwa matahari adalah pusat tata surya, bukan bumi. Ia juga percaya bahwa kebenaran ilmiah seharusnya bisa ditegakkan. Namun, hasil temuan ilmiah Galileo bertentangan dengan sikap otoritas kekuasaan gereja pada waktu itu, yang meyakini bahwa kepercayaan harus di atas segalanya, meskipun bertentangan dengan sains. Maka Galileo pun diadili dan dibungkam. Ilmu pengetahuan yang diyakininya baru tersebar kemudian setelah ia tua.

Dalam mengulas beberapa bab ini, terlihat bahwa buku The Ascent of Man telah menunjukkan kelasnya. Buku ini secara populer bisa menggambarkan sejarah ilmu pengetahuan, meski Bronowski berharap, buku ini lebih dihargai sebagai Filsafat Alam. ***

Jakarta, 4 Oktober 2011

Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA

Sumber: The Ascent of Man, karya J. Bronowski (1973). Boston/Toronto: Little, Brown and Company.

No comments:

Post a Comment